Tasijawa yang diterbitkan di Harian Kompas pada tanggal 22 Maret 1981. Sepenuhnya menggunakan sumber-sumber Barat, diharapkan kehati-hatian dari Pembaca, terutama dari Alam Melayu karena data-data Barat cenderung menyesatkan dan mengkerdilkan peranan Islam dan awal mula kehadirannya di Alam Melayu.

Ofir[1]: Sumatera-kah? 

Dimana etnis atau Puak Melayu[2] dapat ditemukan dalam keadaan cukup menakjubkan? Penemuan benda-benda kuno dalam bentuk emas belum pernah "mengagumkan" bila dinilai dari harga emasnya an sich.[3]

Dalam Ramayana disebutkan agar orang menyelidiki dengan seksama Jawa Dwipa, Pulau Emas dan Perak, dengan tujuh kerajaan, kaya akan tambang emas. Dalam sebuah piagam Sansekerta bertarikh 654 C atau 732 Masehi disebutkan, bahwa Jawa kaya akan tambang emas.[4] Sumatera sendiri, bukankah sejak masa purba dinamai Swarna Dwipa alias Pulau Emas? Menurut cerita-cerita Arab daerah sekitar Nias dianggap kaya akan emas. Sedangkan orang-orang Portugis mencari "Pulau Emas" itu di sekitar Nias. Demikian secuil dari Encyclopedia van Nederlandsch-Indie hlm. 807.

Tetapi berita yang tidak kurang mengagetkan ialah yang terjadi pada tahun 1405 waktu terjadi insiden dalam permusuhan antara Majapahit dengan Bhre Wirabhumi. Pada waktu peperangan Paregreg ini mencapai puncak kesengitannya, perutusan Cina sedang mendarat di Majapahit. Pasukan Wirakremawardhana Majapahit yang menyerbu pasar telah menyerang rombongan perutusan Cina yang berjumlah 170 orang sampai tewas. Wirakramawardhana terpaksa mengirimkan perutusan ke Peking untuk minta maaf. Walhasil, Majapahit didenda 60.000 tahil emas yang pada tahun 1403 baru dibayarnya seperenam bagian. Sisanya dihapus oleh Kaisar Cina.

Dari berita tersebut timbul pertanyaan; apakah emas pada waktu itu sudah mulai langka? Atau kekuasaan Majapahit setelah Hayam Wuruk yang notabenenya mewarisi Angkatan Laut terkuat di belahan bumi Asia Tenggara, karena Perang Paregreg, sudah kehilangan pelabuhan-pelabuhan emasnya di Sumatera? Ataukah pada waktu itu Pupuh XIII Negarakertagama yang menyebutkan tentang wilayah Majapahit di Sumatera sudah tidak berlaku lagi?[5] Sedang berita seabad kemudian dari pihak Portugis masih menyatakan antara lain; Barus, Pedir, Tiku, Indragiri, Pariaman, Kampar, merupakan pelabuhan-pelabuhan pengekspor emas, terutama ke Melaka Portugis. Ataukah perairan Nan Yang atau Daerah Selatan setelah Hayam Wuruk, kembali dikuasai oleh Cina seperti masa Kublai Khan yang menyebabkan dalam sejarah Kertanegara merebut Melayu untuk mematahkan supremasi Cina di sana?[6] Dan bukankah semasa Kertanegara, Melayu yang memiliki pelabuhan-pelabuhan emas itu sudah disebut Swarna-bhumi alias Negeri Emas?

Nampaknya setelah wafat Hayam Wuruk dan Majapahit diperintah oleh Wikranawardhana-Kusumawardhani, supremasi atas perairan Asia Tenggara telah kembali berada di tangan Cina. Dan nampaknya cerita ini akan berhenti di sini kalau B.N. Teensman tidak menuliskan karyanya "De Roep van Ophir"(Leiden 1880)  yang diterbitkan oleh Vakgroep Spaans Leiden. Karya yang dicetak 300 exp tersebut justeru menghimpun materi Portugis dan Belanda tentang Sumatera sebagai Pulau Emas.

Emas Sumatera dan Portugis 

Orang Portugis untuk pertama kalinya muncul di Sumatera pada 1509 sebagaimana ditulis oleh Fernando Lopes de Castanbeda dalam bab 111 buku kedua tentang 'Pulau Besar Sumatera'. Sudah dalam tulisan tersebut dinyatakan bahwa Minangkabau[7] adalah pemilik tambang-tambang emas dan juga tempat-tempat pendulangan emas. Dalam pelayaran ini panglima tertinggi Portugis, Diogo Lopez de Sequeira telah membuat perjanjian perdagangan dengan raja-raja Pedir dan Pasei.

Orang-orang Portugis dan Spanyol menjelajahi dunia memang untuk mencari emas. Berita-berita tentang Negeri Emas alias El Dorado menjadi petunjuk bagi arah pelayaran mereka. Sedang kedatangannya ke Sumatera juga dengan petunjuk-petunjuk tersebut. (Masih dari karya BN Teensman, Prof. Dr. Ing. Heinrich Quiring dalam karya Die GoldInseldes Isicor von Sevilla. Agypterder 20 Dinastie als Entdecker und Kulturhringer in Ostaslen. Dimuat dalam majalah Petermanas Geographische Mittellangen menyebutkan bahwa dalam abad 12 s.l semasa Tutmosis III dan Ramses III orang-orang Mesir purba mengeksploitasi emas, timah, dan tembaga sampai  di tanah-tanah selingkaran Kutub Selatan.

Sebagaimana disebutkan dalam teks-teks papyrus mereka menjelajahi lautan dengan kapal-kapal dari kayu araz sepanjang sampai 67 meter. Ekspedisi-ekspedisi diikuti sampai sejumlah 10.000 orang. Metode penambangan mereka bergerak di negeri-negeri orang sekarang dikenal sebagai Rhodesia, Afrika Selatan, dan Katango. Dan metoda Mesir purba itu ternyata juga tertinggal di Sumatera yang ia nyatakan berasal dari masa antara 1200 dan 500 tahuan sebelum Isa [Sebelum Masehi]. Dalam Bahasa Mesir, Zam berarti emas sungai, kata Quiring. Unsur kata ini terdapat dalam nama sungai Zambesi, tapi juga dalam nama Pulau Sumatera yang baru jauh dikemudian hari berubah jadi Sumatra. Maka ia juga yakin bahwa Sumatra adalah pulau emas legendaris dari masa purba itu, lagi pula Sumatera pulalah satu-satunya tempat di Asia dimana ditemukan bekas-bekas tambang emasi antik ala Mesir.

 

Sumatera dan Soleman[8]

Dalam Perjanjian Lama (Old Testament)[9] Surat Raja-raja IX dan X disebutkan tentang Raja Soleman yang membangun kapal-kapal, dan bersama Raja Hiram[10] mengirimkan ekspedisi ke Ofir, dan membawa dari sana empat ratus duapuluh talenta emas. (Ukuran talenta macam-macam: Attica 26 pon: talenta besar Attica hampir 281/4 pon [tulisan tidak jelas]; Talenta Mesir atau Corinthe sekitar 43 1/2pon. Demikian menurut Van Dale Groot Woordenboek de Nederlandse Taal.) Emas tersebut dipersembahkan kepada Raja Soleman. Kapal-kapal Hiram membawa juga dari Ofir kayu almuggirm dan batu-batuan mulia.

Pada 945 sebelum Isa, Raja Soleman mengirimkan armada Phunisia[11] ke Ofir. Tetapi di mana tempatnya tidak diketahui sampai sekarang. Orang hanya menduga negeri-negeri penghasil emas di Afrika dan Asia. Gabriel Ferrand dalam karyanya L'empire Sumatranals de Crivijaya mengutarakan semasa Criwijaya Pulau Sumatra dalam Sansekerta disebut sebagai Savarnadvip, Savarnabhumi, dan Savarnapura, yang berarti; Pulau Emas, Negeri Emas, dan Kota Emas. Sedangkan orang Cina menamainya juga Kiteheoa (Pulau Emas). Maka pada waktu awal abad 16 orang Portugis datang di India dan mendengar tentang Ilha de Ouro (Pulau Emas) itu segera mereka angkat jangkar dan menuju Sumatra. Peta dunia mereka pada 1502 yang kini masih tersimpan di Biblioteca Estense di Medena telah memasukkan Sumatra di dalamnya.

Jojo de Barros melukiskan ekspedisi Portugis pada 1520 dan 1521 dimana Diogo Pacheco sebagai orang Eropa pertama memasuki Sumatra mencari Pulau Emas itu. Sedang menurut bekas arsivaris [tulisan tidak jelas] Lekkerkerker [tulisan tidak jelas] dalam bukunya Land en Volk van Java ekspedisi itu diperlengkapi untuk pencarian Ofir, Negeri Emas Soleman, yang diperkirakan salah sebuah dari gunung-gunung Sumatra.

Bahkan sampai dalam Penjajahan Belanda, gunung tersebut masih bernama Ofir, yakni di sebelah barat Lubuk Sikaping,[12] puncaknya Talamau, 2912 m, berdiri di atas puncak dataran dari Pasaman, 2190 m, puncak lainnya adalah Nilam.

Penduduk Sumatra tak sudi menunjukkan dimana emas itu terdapat. Mereka malah menunjukkan Pulau Enggano di tentang Bengkulu, yang sangat berbahaya perairannya. Tidak begitu mengherankan bila dalam [bahasa] Portugis, Engano berarti: tipu. Pada 1540 Fernio Mender Panto membuat petualangan di Sumatra Barat. Pada panglima Pero de Farita ia memberikan laporan tertulis bahwa Pulau Emas itu - menurut kata orang - berada di tentang muara sungai Calandor pada 5 derajat Lintang Selatan, ditebari oleh kedangkalan-kedangkalan dan arus-arus deras, dan kira-kira 100 mil dari titik Sumatra ini. Seda emas dari Minangkabau mencapai Kerajaan Kampar melalui sungai Jambi. Malah menurut cerita setempat di Kerajaan Kampar dahulu terdapat Kantor Dagang Ratu Sheba,[13] sedang Kepala Kantor tersebut, Nausers [tulisan tidak jelas] mengirimkan sejumlah besar emas kepada ratu tersebut, yang pada gilirannya membawanya ke Kuil[14] Jerusalem waktu ia menghadap Soleman.

Mengikuti tulisan Jojo de Barros penyair Portugis dari abad 16, Canders dalam Lusiaden menamakan Sumatra, Samatra, dan dua baris dari Canto 10 menyanyi: Beberapa menduga disini terletakk Ofir yang lengkapi [tulisan tidak jelas] Soleman dengan Kuil emasnya.

Sementara itu Portugis tetap tidak dapat menemukan emas di Sumatra. Sedang penduduk Sumatra sendiri sampai abad-17 tetap merahasiakan tempat sesungguhnya dari tambang-tambang emas itu. Dan petualangan mencari Pulau Emas berjalan terus. Emas sebagaimana diimpikan itu tidak diperoleh tetapi petualangan-petualangan itu mendatangkan berbagai informasi penting tentang Pulau Sumatra, penduduk, kerajan-kerajaan, hasil bumi, adat istiadat, dan perdagangannya.

Lokasi Emas dan Tambang-Tambang

Pada 1515 waktu Melaka Portugis[15] dilanda kelaparan, Jorge Betellio mendapat perintah memudiki Singai Siak untuk mendapatkan bahan makanan. Kisah pengalaman itu yang diceritakan oleh Castanheda [tulisan tidak jelas] dalam karyanya "Sejarah Penemuan dan Penguasaan India oleh Portugis" tersebut menerangkan, bahwa setelah Jorge Botellio berhasil mencapai Siak ia hendak meneruskan pelayarannya ke hulu untuk menemui raja tambang-tambang emas Minangkabau dengan harapan persetujuan perdagangan akan mengakibatkan emas dan bahan makanan mengalir ke Malaka. Dengan melalui berbagai kesulitan ia berhasil mencapai Minangkabau yang waktu itu masih diperintah oleh seorang raja yang belum memeluk Islam.[16] Di kapalnya orang-orang Portugis menjual tektstil dengan emas "Sehingga pada akhirnya orang-orang kita tidak memiliki lagi kemeja atau celana dalam lagi, karena semuanya ditukarkannya dengan emas.[17]

Fernado Mendes Pinta (+1583) dalam bukunya "Peregrinaedo" dalam memoir pelayaran dan perjalannya pribadi bercerita tentang Sumatra dalam Bab 13 sampai dengan 32. Ia ikut terlibat dalam perang besar antara Aceh dan Batak yang menjatuhkan kurban pada kedua belah pihak. Waktu minta diri untuk kembali ke Malaka dari Raja Batak ia mendapat hadiah untuk Gubernur Malaka, Pero de Faris, enam buah assagasi (lembing) berhias emas, dua belas kati (1 kati = 617,5 gram) damar, kotak kulit penyu berhiaskan emas mutiara, dan enam belas mutiara. Fernao de Mendes Pinto sendiri mendapat hadiah 2 kati emas, sebatang keris kecil bersalut emas.

Memasuki Sumatra untuk kedua kalinya ia membawa tugas membantu kerajaan Aru terhadap invasi Aceh. Dalam petualangan sekali ini ia mengalami sial. Kapalnya tenggelam, menjadi tangkapan berkelana sebagai pengemis sampai akhirnya dipelihara oleh seorang Muslimin Palembang pedagang ikan asin yang bersedia membawanya kembali ke Malaka dengan biaya 1.400 real mas. Dan sekarang kebalikannya yang terjadi: Portugis yang kehilangan emasnya, Fernao Mendes Pinto selamat diantarkan ke Malaka. 

Sementara itu lokasi emas dan tambang-tambangnya lebih jelas terdapat dalam karya opothekor [tulisan tidak jelas] Tome Pires yang pada 1511 berangkat ke India kemudian ke Malaka. Dalam karyanya yang berjudul 'Suma Oriental' antaranya bercerita tentang 3 Kerajaan Pariaman, Tiku, dan Pancur atau Barus. Tiga-tiganya terletak di Pantai Barat Sumatra, sejahtera dan setiap tahun dikunjungi  kapal-kapal dagang dari Gujarat. Pariaman menghasilkan banyak kuda, yang diekspor ke Kerajaan Sunda, Aloe, dua macam kapur barus, kemenyan, sutra, Islin [tulisan tidak jelas] dan madu, dan emas. Barus yang oleh orang Parsi, Gujarat, Arab, Keling, dan Benggala dinamai ‘Pancur’, ditulisnya sebagai pelabuhan pengekspor mas. Ketiga kerajaan tersebut di pedalaman berbatasan dengan Kerajaan Minangkabau yang oleh Tuhan dikaruniai dengan logam emas yang terpilih itu. Negeri di tentang Malaka, antara Aceh [tulisan tidak jelas] dan Jambi juga dinamai Minangkabau, mengikut nama pedalamannya. Semua emas dari Minangkabau diekspor melalui pelabuhan emas Pariaman, Tiku, dan Pancur, dan tak salah lagi di Minangkabau ini dimana emas didapatkan merupakan bagian terpenting dari seluruh pulau.

Pusat pertambangan emas terpenting dan terbesar adalah di daerah alur Sungai Ninje [Tulisan tidak jelas] dan yang kedua, terutama terdapat emas urai adalah Muara Palangi. Tambang-tambang ini dikuasai oleh tiga raja Minangkabau yang masih 'kapir'[18] dan hasilnya dibagi antara mereka bertiga. Diberitakan juga bahwa tiga orang raja tersebut mengeluarkan Undang Undang setempat, mereka boleh mengusahkan emas di dua daerah emas tersebut, tetapi bahwa tidak dibenarkan daerah tersebut dimasuki oleh orang Islam.[19] Hasil tambang-tambang tersebut, menurut berita adalah dua bahar(?) setiap tahun, tetapi orang-orang Islam mengatakan lebih.

Duarte Barbosa dalama laporannya tentang negeri-negeri tepian Lautan Hindia dan penduduknya yang diselesaikannya pada 1518 Masehi juga menyebutkan tentang Minangkabau dimana banyak didapatkan emas urai, yang diekspor ke Malaka. Minangkabau dipandang sebagai Negeri Emas terpenting dari Pulau Sumatra. Orang bisa mendapatkan begit saja tepian sungai kecil dan besar.

Henrique Dias menulis laporan tentang pelayaran dan karamnya kapal Sao Paulo di bawah komando kapten Ruis de Melo da Camara dan juru mudi Joao Luis dan pandu Antonia Dias yang karam pada 1561 di tentang pantai barat Sumatra. Seorang yang selamat diantara 200 orang penumpang, Henrique Dias tersebut, dalam laporanya menyebut-nyebut tentang Sumatra. Tulisannya mengandung banya detail yang tidak didapatkan pada tulisan-tulisan lain. Tentang Sumatra ia bercerita bahwa disana terdapat banyak raja, tetapi yang terpenting adalah Raja Aceh. Semua harta yang dapat dibayangkan manusia dan diharapkannya terdapat di Sumatra banyak emas klas satu dari Minangkabau yang mana Malaka setiap tahunnya menerima antara 12 dan 15 kuintal. Dari sinilah beberapa orang menganggap bahwa emas yang diperintahkan oleh Soleman untuk mencarinya, dan bahwa kapal-kapalnya berlayar untuk mendapatkannya buat pembangunan kuilnya.

Pelukisan yang paling mashur, dan juga klasik tentang Sumatra adalah karya Jode de Barros t 1496-1570. Setelah menggambarkan kedudukan geografis Pulau Sumatra, kerajaan-kerajaan yang ada, ia menulis bahwa di pulau ini selain terdapat banyak emas juga timah, besi, tembaga sekedarnya, salpeter, belerang, bahwan pewarna, dan di kerajaan Passei terdapat sebuah sumber yang mengeluarkan minyak yang oleh penduduk dinamai 'napta'[20].

Jan Huygen van Lanschoten (1563-1611) sekembalinya ke Eropa dari pelayarannya dalam karyanya yang mashur Itinerario, Voyage oite Schipvaert naer Oost ofte Portugaleelss Indien, dalam bab 19 tentang Sumatra yang dahulu dinamai Taprobana,[21] menulis bahwa pulau itu kaya sekali tambang, emas, perak, dan logam yang dengannya mereka mengecor meriam, dan batu-batuan mulia, dan logam-logam lainnya.

Lebih terperinci lagi adalah tulisan Manuel Godinho de Eredia (1563-1623) anak seorang bapak POrtugis dan ibu seorang putri Bugis dalam karyanya Informacao de Aurea Chersoneso ou Peninsula e das Ilhas Auriferas, Carbunculas e Aromatieas (Setelah diingriskan oleh J.V.Mile pada 1930 dengan karya-karya lain Eredia dalam Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Siciety vol.8, Singapore 1930, halaman 228-255). Pada halaman 237-242 khusus tentang Sumatra.

Setelah menceritakan tentang Aceh yang membawahi kerajaan Pedir, Passei, Gori, Ancacan, Rokan, Tiku, Barus, dan Pariaman, dan menceritakan tentang tanah Parist [tulisan tidak jelas] mengandung minyak bumi, sehingga tuanya dengan ganco dan galian itu akan mengeluarkan 'minyak tanah', ia menulis tentang Minangkabau.

Bahwa kerajaan ini dinamai juga Daerah Emas; meliputi seluruh Sumatera Selatan, bermula dari pelabuhan Pariaman, pada sebelah barat, melingkar ke selatan sampai kepelabuhan Palembang di sebelah timur. Negeri ini dinamai Daerah Emas karena terdapat banyak tambang emas, karena wilayah ini mengandung emas. Seluruh Daerah Emas ini bergunung-gunung dan kebetulan penuh dengan barisan gunung dengan puncak-puncaknya yang tinggi. Di tempat-tempat itu selalu didapat lebih banyak emas daripada tempat-tempat rendah.

Katanya selanjutnya; bahwa Raja Minangkabau pertama adalah 'Manancumbin', ditasbihkan jadi kaisar pada 1039 s.l,, pada masa pemerintahan Soleman yang waktu itu sedang membangun kuil di Jerusalem. Pergantian selalu terjadi di antara keluarga sendiri sampai dengan Raja Garo yang saat ini memerintah, sekalipun tidak begitu berkuasa lagi sebagaimana halnya dengan Syahbandarnya yang dalam masa jabatannya menjadi kaya raya karena perdagangan emas. Sehingga di rumahnya Emas Urai diukur dengan ukuran padi dan disimpan dalam martaban-martaban (+bayung). Istana kerajaan berada di tengah-tengah Daerah Emas, di tempat yang bernama 'Galian Mas'.

Selanjutnya ia menyebut-nyebut pelabuhan emas; Kampar yang terletak pada tepian sungai dahsyat yang mengalir dari Daerah Emas, bersumber di Palan Kapas, sebuah tempat yang termasuk Minangkabau, atau lebih tepat dikatakan Sunetrat (Sungai Daras) di mana berdiri Kantor Syahbandar Kiat Chetin [tulisan kurang jelas] yang di Daerah Emas mengawasi transaksi-transaksi perdagangan logam inti. Raja Kampar menikmati hasil beberapa tambang emas di dua tepian sungai daerahnya di samping juga dari emat yang berasal dari tepian SUnetrat.

Pelabuhan emas lainnya adalah Indragiri, Pariaman, Tiku, Barus, Pidir. Yang terakhir ini disebutnya sebagai pelabuhan tertua Sumatra, yang selain mengekspor emas juga gading ke Malaka.

Cara Mencari Emas

Manuel Godianho de Ereda, yang karyanya tersebut diterbitkan baru pada 1807 di Lissabon, bercerita juga bagaiman emas didapatkan. Ia mengambil contoh dari praktek Raja Kampar. Setiap hari datang serombongan kawula[22] membawa saringan yang dibuat sesuai dengan keperluan itu, halus, dan yang dengannya menyaring pasir di tepian Sungai Sunaterat, Kampar. Dalam saringan itu mereka dapatkan emas yang selalu bercampur pasir. Dengan cara demikian raja mendapatkan emas dalam bentuk Urai sebesar biji sawi atau sisik ikan. Emas sebesar sisik ikan besar didapatkan dengan menggali di lapangan.

Para kawula itu menggali tanah dan tanah itu kemudian dijemur di atas meja. Panas matahari menyebabkan gumpalan-gumpalan tanah menjadi retak-retak dan muncullah sang emas. Tanah itu kemudian diremas dengan tangan, dan dengan demikian emaspun terpisah dari tanah.

V.O.C[23] Kurang Bernafsu Memburu Emas

Portugis dan Spanyol menjelajahi dunia untuk mencari emas, baik dengan kasar ataupun halus. Emas telah dianggap sebagai sumber segala kekayaan dan kekuasaan. Memang pada suatu waktu tertentu Portugal dan Spanyol merupakan gudang emas dunia. Ternyata hanya dengan emas kesejahteraan tidak dapat dibangun. Pada mulanya banyak bangsa tergiur juga hendak mengikuti jejak Spanyol dan Portugis dalam memindahkan emas dunia, terutama dari Amerika Latin ke negeri masing-masing. 

Francis Daken, orang Inggris itu, telah melakukan pembajakan di perairan Amerika dan melakukan perompakan di pantainya untuk mendapatkan logam mulia. Ia berhasil mendapatkan kapal-kapal emas dan perak dan menyerangnya mengelilingi dunia, singgah ke Ternate dan berlayar ke Inggris. Di perairan negeri-negeri Melayu juga di daratan, ia tidak menambah emas dan perak dengan jalan pembajakan ataupun perompakan. Mungkin dari informasi yang dikumpulkannya ia tahu negeri-negeri Melayu sudah sepi akan mas dan perak. Dan bahwa dengan hasil berkapal-kapal yang dibawanya ke Inggris ia mendapat karunia gelar 'Sir'[24] menunjukkan, bahwa logam mulia itu pada masa itu telah membenarkan tindak pembajakan dan perompakan. Keadaan perang? Bisa jadi. Tetapi perang itu sendiri diadakan justeru atas nama Sang Emas.

Berbeda dari Spanyol dan Portugis, V.O.C tidak banyak terangsang oleh pemburuan emas. Sudah sejak semula berdirinya pada 1602 ia berusaha di bidang perdagangan rempah-rempah, yang ternyata mendatangkan keuntungan lumintu [tulisan kurang jelas] ketimbang pemburuan emas. Dari perdagangan rempah-rempah ia menjadi penguasa laut, dan kekuasaan laut menjadi tulang belakang monopoli perdagangan yang menghalau pedagang-pedagang Pribumi ke pedalaman menjadi petani, dan dengannya juga melumpuhkan kekuatan dan kekuasaan raja-raja Pribumi, untuk kemudian mengambil alih kekuasaan dan wilayah mereka.

Sampai dengan runtuhnya pada 1800, V.O.C terlalu sedikit mencatat tentang emas dalam sejarahnya. Namun emas datang padanya melalui perdagangan hasil bumi negeri-negeri Melayu di pasar dunia, yang pada gilirannya mengubah Jazirah Melayu jadi negeri yang sepenuhnya dibuat tergantung pada Pasar Dunia, Negeri Kolonial, negeri dengan struktur ekonomi komoditi.

Tentang Emas Sejak Hindia Belanda sampai R.I

Tentang emas sejak Hindia Belanda sampai Republik Indonesia (RI), terdapat tidak kurang dari 60 buah laporan yang ditulis oleh para ahli dan Sarjana Barat, meliputi penyidikan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Tetapi rasanya akan terlalu membosankan bila diselesaikan dalam satu tulisan ini (M. Tasijawa).

Sumber: IG @hilmarfarid

==========

Baca Juga: Perihal Ophir

==========

Catatan Kaki oleh Admin:


[1] Ofir atau Ophir (/ˈoʊ.fɜːr/;[1] bahasa Ibrani: אוֹפִיר, Modern Ofir Tiberias ʼÔp̄îr; bahasa Inggris: Ophir) adalah suatu negeri atau wilayah yang kaya emas, yang merupakan negeri asal dari emas yang diterima Raja Sulaiman dari Raja Hiram, yang bernama Tirus. Dalam kitab Yahudi, Kitab 1 Raja-raja pasal 9, diterangkan bahwa Raja Salomo (Nabi Sulaiman), raja bangsa Israel menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus, yang merupakan raja bawahannya. Diceritakan bahwa emas upeti tersebut didapatkan dari negeri Ofir, suatu negeri yang diberkati Tuhan dengan kekayaan emas dan kesuburan tanahnya.

Nama ini ditemui dalam teologi Kristen yang bersumber dari tradisi Yahudi (Israiliat), dalam Islam sendiri nama ini tidak pernah muncul, kecuali pada kitab-kitab karangan para sarjana yang membahas kehidupan Nabi Sulaiman

[2] Douwes Dekker (Ernest François Eugène Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi) adalah tokoh pergerakan nasionalis Indo-Belanda yang sangat erat kaitannya dengan gagasan "Nusantara", yaitu ia adalah penggagas nama tersebut sebagai pengganti Hindia Belanda. Kata ini tidak ada dalam sumber-sumber asli Orang Melayu, kata ini hanya ada dalam naskah-naskah Jawa. Orang Melayu mengenal jajaran kepulauan ini dengan nama "Alam Melayu' atau ada juga yang menamainya dengan 'Jazirah Melayu'. Ditulisan ini kami kembalikan ke bahasa asli Bangsa Melayu, karena sebagian besar tulisan ini mengisahkan negeri-negeri Melayu bukan Jawa.

[3] An sich adalah istilah dari bahasa Jerman yang berarti "pada dirinya sendiri," "pada hakikatnya," atau "sesuatu yang objektif" (independen dari persepsi manusia), yang sering digunakan dalam filsafat, khususnya oleh Kant, untuk merujuk pada "benda pada dirinya sendiri" (das Ding an sich atau noumenon), yaitu realitas sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kita pahami (fenomena).

[4] Kalau memang terdapat teks Sansekerta seperti yang disebutkan oleh penulis maka setidaknya penulis juga menjelaskan bahwa terdapat Dua Jenis Jawa yang dikenal orang pada masa itu yakni Jawa Besar dan Jawa Kecil. Jawa Besar merujuk pada Pulau Jawa yang kita fahami sekarang atau sumber lain meneyebutkan Benua Australia. Sedangkan Jawa Kecil merujuk pada Pulau Sumatera. Mungkin karena faktor masa itu, dimana Pulau Jawa dianggap lebih besar dari Pulau Sumatera. Dan kenapa digunakan nama Jawa? Apakah nama Sumatra belum dikenal pada masa itu? Kita dapat menjadikan fenomena serupa tapi tak sama yang berlaku pada masa sekarang, dimana semua orang Minang atau Sumatera Barat dinamai dengan Orang Padang, padahal Padang sendiri hanya sebagian kecil dari Minangkabau. Walau banyak orang Minang yang keberatan, namun penamaan tersebut masih melekat pada masa sekarang. Hal tersebut bukan berarti Padang lebih besar, lebih unggul, lebih maju, lebih beradat, atau lebih dari segalanya apabila dibandingkan wilayah lain di Minangkabau.

[5] Tulisan ini menegaskan bahwa wilayah Majapahit berada di Pulau Jawa, sedangkan wilayah di luar pulau tersebut yang mereka akui sebagai wilayah mereka (Majapahit) merupakan daerah Jajahan. Namun hal ini masih dapat diperdebatkan, karena perkembangan masa sekarang, Kerajaan Majapahit yang sangat dipuja-puja oleh orang Jawa dinafikan oleh orang-orang diluar pulau tersebut. Tak lebih sekedar dongeng yang mereka karang untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka sebagai bangsa besar. Padahal bangsa besar, bangsa pelaut, tidak hanya Jawa. Budaya Maritim justeru lebih kental di Sumatera dan pulau-pulau lainnya.

[6] Pada masa sekarang terjadi pembelokan sejarah, dimana para aparat pemerintah dari pusat yang berlatar arkeolog dan sejarah memepropagandakan bahwa Pamalayu bukan 'penaklukan' melainkan 'persahabatan', tulisan ini membuktikan sebaliknya, sebuah tulisan dari salah seorang 'Dewa' mereka yang pada masa sekarang memiliki banyak pemuja. Pembelokan sejarah ini, bertujuan untuk mengurangi kebencian orang Melayu di Sumatera kepada orang Jawa, dan mereka sadar bahwa posisi mereka pada masa sekarang sudah semakin terjepit. Namun argumentasi mereka lemah, karena pengiriman dua orang Putri Melayu, menunjukkan keterpaksaan dan keterancaman dari Penjajah Jawa kepada Raja Melayu saat itu.

[7] Kita perlu berhati-hati dalam memaknai Minangkabau seperti yang disebutkan dalam sumber-sumber sejarah (Barat, India, Cina, atau yang lainnya) karena wilayah Minangkabau pada sumber-sumber ini merujuk kepada wilayah yang sama sekali berbeda dengan yang kita fahami sekarang. Hal ini guna menghindari kesalah fahaman, karena dalam memahami suatu sumber sejarah, kita mesti mendalami perspektif zaman (Zeitgest) pada masa itu.

[8] Soleman atau Sulaiman, Pramoedya merupakan seorang yang berideologi Komunis, sangat alergi dengan hal-hal yang berbau Islam. Tidak mengherankan kalau semua sumber tulisannya menggunakan sumber-sumber Barat, atau dalam kasus ini menggunakan sumber dan istilah dalam Agama Kristen yang juga berlawanan dengan Islam, baik dalam hal penggambaran karekter, alur sejarah, dan terutama teologi. Dalam Agama Kristen Sulaiman dinamai dengan Solomon atau Raja Sulaiman.

[9] Kitab Umat Kristen sekarang yang dikenal dengan nama Barat Bible atau di Indonesia bernama resmi Alkitab atau oleh umat Islam dikenal dengan nama Injil, terdiri atas dua bagian yakni Perjanjian Lama & Perjanjian Baru. Perjanjian Lama adalah bagian pertama dari Alkitab Kristen dan juga merupakan salah satu Kitab Suci Umat Yahudi (dalam Yahudi dikenal sebagai Tanakh), berisi tulisan-tulisan sejarah, hukum, nabi, dan hikmat bangsa Israel kuno, yang mendahului kehidupan Isa Al Masih versi Kristen (Yesus Kristus) dan menanti-nantikan kedatangan Juru Selamat (Mesias). Kitab-kitab ini mencakup kisah penciptaan, hukum Taurat, perjalanan bangsa Israel, serta nubuat (ramalan) tentang Mesias (Juru Selamat/ Nabi Terakhir), yang menjadi fondasi bagi iman Yahudi dan Kristen.

Perjanjian Baru adalah bagian kedua dari Alkitab Kristen yang berisi 27 kitab, berfokus pada kehidupan, ajaran, kematian, kebangkitan Yesus Kristus, sejarah gereja mula-mula, serta surat-surat para rasul, yang menawarkan janji pengampunan dan pemulihan hubungan Allah dengan manusia melalui Yesus sebagai penggenapan dari Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini mencakup Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), Kisah Para Rasul, Surat-surat (Paulus, Yakobus, Petrus, dll.), dan Wahyu, menjadi dasar utama kekristenan.

[10] Hiram adalah nama tokoh sejarah penting dalam Alkitab (Raja Tirus yang membantu Raja Daud dan Sulaiman membangun Bait Suci). Hiram I dari Tirus: Raja Fenisia yang terkenal pada abad ke-10 SM, dikenal sebagai sekutu Raja Daud dan Raja Sulaiman dalam pembangunan Bait Suci di Yerusalem. Ia memasok kayu cedar dan pengrajin terampil.

[11] Bangsa Fenisia atau Funisia (bahasa Fenisia: 𐤐𐤕 translit. Pūt; bahasa Yunani Kuno: Φοινίκη, translit. Phoiníkē; bahasa Latin: Phoenices) adalah bangsa kuno yang pernah menguasai pesisir Laut Tengah. Mereka berasal dari wilayah Timur Tengah, atau sekarang di Lebanon & Suriah yang merupakan daerah pesisir laut.

[12] Ibu Negeri Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat

[13] Sheba dalam agama Kristen merujuk kepada Ratu Balqis dalam Islam. Namun kisah-kisah yang diutarakan disini bukan berasal dari sumber Islam, melainkan sumber Israiliat.

[14] Orang Kristen dan Yahudi percaya bahwa Nabi Sulaiman membangun Kuil Pemujaan di Kota Yerussalem. Kuil itulah yang hancur dan berusaha dibangun ulang orang Yahudi Zionis pada masa sekarang. Sedangkan dalam Islam, diyakini bahwa Nabi Sulaiman bersama ayahnya Nabi Daud membang Masjidil Aqsa yang masa sekarang masih dapat kita saksikan keberadaannya.

[15] Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 15 Agusuts 1511, atas pengkhianatan seorang pembesarnya berkebangsaan Jawa. Selengkapnya baca DISINI

[16] Sekali lagi kita mesti faham bahwa tulisan ini sepenuhnya mengandalkan sumber Barat yang memiliki sifat antipati yang sangat tinggi kepada Islam. Para sarjana Barat membuat teori mengecilkan peranan Islam di Alam Melayu dengan mengemukakan Islam baru masuk di abad ke-13. Buya Hamka sendiri sudah menjawab dan membalas teori orang kafir ini dengan Teori Islam sudah masuk ke Alam Melayu sejak abad pertama Hijriyah (7 masehi)

[17] Suatu narasi yang sangat berlebihan dalam menunjukkan superioritas Ras Kulit Putih dan merendahkan Bangsa Timur, Bangsa Melayu yang Islam, bahkan celana dalam mereka sahaja orang Melayu yang barbar dan terbelakang suka menukarkannya dengan emas. Mengingat budaya orang Eropa masa itu yang belum mengenal kebersihan tubuh, dimana mereka tidak pernah membasuh kemaluan mereka selepas buang air besar ataupun kecil. Kebiasaan mandi baru mereka kenal setelah diperkenalkan oleh Peradaban Islam yang telah maju, demikian juga menggunakan parfum.

[18] Defenisi ‘Kafir’ dari sudut pandang Portugis, yang berarti ketiga raja itu bukanlah seorang Kristen

[19] Sekali lagi kita perlu mengkritisi setiap sumber dari Penjajah Barat yang dikutip dengan bebas sebagai sumber tulisan.

[20] Minyak Napta (Naphtha) adalah produk distilasi minyak mentah berupa cairan hidrokarbon mudah menguap, berfungsi utama sebagai bahan baku penting industri petrokimia untuk membuat plastik, serat sintetis, karet, pelarut, serta bahan campuran bensin oktan tinggi, mirip bensin tetapi memiliki titik didih yang lebih spesifik, dan juga digunakan sebagai pelarut umum.

[21] Taprobana adalah nama kuno yang diberikan oleh orang Yunani dan Romawi Kuno untuk pulau-pulau di Asia Tenggara, sering kali merujuk pada Sri Lanka, tetapi juga kadang-kadang untuk Sumatra atau bahkan Kalimantan (Borneo), karena deskripsi geografisnya yang samar dan berubah seiring waktu, berasal dari kata Sanskerta Tamraparni (daun tembaga). Nama ini mencerminkan misteri dan kebesaran pulau-pulau di 'dunia seberang' (Antichthones) di Samudra Hindia bagi penjelajah Eropa.

[22] Kawula berasal dari bahasa Jawa yang berarti budak atau rakyat. Kata ini tidak ada dalam perbendaharaan Bahasa Melayu. Kata ini murni berasal dari si penulis yang merupakan seorang Jawa. Padanan dalam Bahasa Melayu dalam konteks ini ialah ‘rakyat’ atau ‘penduduk’.

[23] VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah kongsi dagang Belanda yang didirikan tahun 1602, menjadi perusahaan dagang Eropa terbesar yang memonopoli perdagangan antara Eropa dan Asia (terutama rempah-rempah) selama hampir dua abad, memiliki hak istimewa seperti membangun tentara dan mencetak uang, serta menjadi cikal bakal kolonialisme Belanda di sebagian besar Jazirah Melayu (Indonesia), yang membawa dampak besar bagi sejarah Indonesia. Organisasi ini dikendalikan oleh Tuan Yang Tujuh Belas, yang sebagian besar dari mereka ialah Yahudi.

[24] Gelar "Sir" di Inggris adalah gelar kehormatan ksatria (knighthood) yang diberikan oleh monarki Inggris kepada pria atas kontribusi luar biasa mereka di bidang tertentu (pada masa sekarang kebanyakan penerima gelar berasal dari bidang non militer; seperti seni, olahraga, atau pelayanan publik), menjadikannya "Sir" diikuti nama depan (contoh: Sir David Beckham, Sir Paul McCartney). Ini adalah bentuk penghargaan tertinggi dari Kerajaan Inggris, setara dengan gelar "Dame" untuk wanita, dan seringkali diberikan dalam bingkai Ordo Ksatria seperti Order of the British Empire (CBE).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar