Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Kisah ketika KMB

Disalin dari blog Dr. Suryadi; niadilova.wordpress.com Kilas balik: “Anecdotes” K.M.B. Oleh: Johnny Senduk Politik pecah-belah Belanda di Indonesia telah mengakibatkan beberapa pertentangan pendirian di antara penduduk Indonesia. Sebahagian ingin mencapai kemerdekaan Indonesia dengan jalan evolusi, sebaliknya ada pula yang menghendakinya dengan memasang “R” di muka evolusi, sebab kata mereka, lebih cepat mendapat kemajuan – buat apa menunggang pedati jikalau mobil (biarpun pakai dorong-dorongan) telah sedia dan siap. Akibatnya evolusi dan revolusi di Indonesia menjalar sampai ke luar negeri. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Pro dan tidak pro terlihat waktu anggota-anggota Indonesia berangkat ke negeri Belanda untuk sidang K.M.B. Rupa-rupanya lebih banyak orang menaruh penghargaan kepada mereka yang memilih jalan yang susah dan payah untuk mencapai tujuannya daripada mereka yang hanya mau goyang kaki di Hotel Indes. Bagaimana bedanya penghargaan orang asing terhadap kaum Republik ...

Pandangan Haji Agus Salim

Dr. Suryadi: Dalam satu interview dengan wartawan “Vrij Nederland”, Bob Vuyk, Menteri Luar Negeri kita Haji Agus Salim telah menyatakan buah pikirannya tentang keadaan di Indonesia. Tentu saja dengan tak lupa berkelakar. Sewaktu itu anaknya yang berumur 8 tahun sedang berdiri dekat beliau. “Anak inilah”, kata beliau sambil memulai pembicaraaannya, “[yang] menjadi sebab saya tetap terus campur [dalam]  politik. Sebenarnya saya telah muak dengan politik, akan tetapi setelah Mansur [anak Haji Agus Salim itu] lahir di tahun 1939 saya mengerti bahasa [bahwa] Tuhan telah memberikan tanda kepada saya bahwa saya tidak boleh tinggal diam di dunia ini. Dan ketika di bulan Mei 1940 pemerintah Hindia Belanda meminta kepada saya untuk turut bekerja sama supaya merapatkan pihak-pihak yang ada di negeri ini, maka saya pun masuklah bekerja pada Dinas Penerangan Pemerintah. Perjalanan saya sekali ini telah membikin saya merasa lebih muda, dan merasa lebih lega. Di mana-mana saya menjumpai good will ter...

Bintang Penghargaan bagi Asisten Demang Tilatang

[caption id="" align="aligncenter" width="500"] Dari Kiri: Dt. Bandharo (Kp. Nagari Sungai Tua), Dt. Bandharo (Kp. Nagari Nan Tujuah), Dt. Batoeah (Kp. Nagari Kapau), Dt. Radjo Digadoet (Kp. Nagari Gadut), Dt. Radjo Intan (Asisten Demang Tilatang) [/caption] Dr. Suryadi: Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan sebuah foto klasik yang terkait dengan Nagari Tilatang dan sekitarnya, yang  sekarang masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Foto yang dibuat sekitar 1926  ini mengabadikan pemberian tanda jasa (bintang perunggu) kepada Asisten Demang Tilatang, Datoek Radja Intan (Datuak Rajo Intan) yang dalam foto ini kelihatan duduk di tengah. Mudah-mudahan masih ada keturunan Datuak Rajo Intan ini yang tinggal di Tilatang sekarang, juga keturunan empat orang kepala nagari yang menyertai Datuak Rajo Intan dalam foto ini. Keterangan ( caption ) yang menyertai foto ini adalah sebagai berikut: “ Di...