
Catatan Delapan Puluh Satu Tahun Berdiri Negeri
§ I: Hulu Zaman dan
Tikaman Sauh Mulanya Alam
Wabakdu, maka
tersebutlah suatu kalam yang tersurat di dalam lipatan azali, sebuah renungan
syahdu tatkala genaplah bilangan angka lapan puluh satu tegaknya
perhimpunan Negeri Sumatra Barat di bawah payung daulat Minangkabau di dalam
Alam Melayu yang luas terbentang. Inilah hikayat sebuah tanah yang dikurniai
berkat oleh Yang Maha Rahim, pancuran mulia tempat bermulanya tuah dan marwah
yang tiada kunjung padam.
Alkisah, tatkala
laut belum bertepi dan alam belum berbilang, bumi baru setampuk pinang,
tumpak ranah belum bersisi. Pada masa itulah berlayar bahtera agung dari
hulu zaman, bertolak dari Tanah Basa (Benua Rum). Adalah Sri Paduka Datuak
Maharajo Dirajo, putera mulia daripada keturunan suci Sulthan Iskandar
Zulkarnain, berlayar membawa segenap kaum puaknya. Mereka membelah alun
menghempas ombak, mencari tanah harapan, hingga terhunjamlah sauh di puncak
Gunung Marapi yang kala itu bagai sebesar telur itik di tengah samudera.
Di sanalah, di Pulau Perca yang rimbun oleh pohon Andalas, mereka mula
membina taratak, meretas rimba membuat kampung, menyusun batu pertama bagi
peradaban yang diredai Allah.
§ II: Dua Datuak dan
Asal Mula Adat
Waktu beredar laksana
falak langit, maka lahirlah dua bersaudara yang arif lagi bijaksana: Datuak
Katumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Atas berkat ilham dan
ketajaman mata hati yang dianugerahkan oleh Al-Khalik, kedua datuak
duduk bersila, bulat air dek pembuluh, bulat kata dek mufakat,
merumuskan dasar-dasar falsafah adat dan hukum. Lahirlah titah yang pantang
diubah, undang-undang yang adil, menjadi suluh yang menerangi seluruh puak
Melayu di hamparan alam Minangkabau.
Adat bersendikan
syarak, syarak bersendikan Kitabullah—adat yang kawi, syarak yang lazim.
Itulah dia keselarasan hidup tempat budi diletakkan di tempat yang tinggi, di
mana kebenaran berdiri dengan sendirinya laksana syariat yang menyatakan,
adat yang memakai.
§ III: Kabut Masygul
dan Ujian Marwah
Namun, alam laksana
roda pedati, sekali ke atas sekali ke bawah, kesenangan di atas dunia tiada
selamanya kekal. Datanglah masa yang kelam, hari-hari yang penuh dengan kabut
masygul. Angin buritan membawa ancaman dari bangsa seberang lautan, bala
tentara yang serakah datang menghentak ranah pusaka. Marwah negeri yang suci
serasa diinjak-injak; dua orang Puti yang jelita, lambang marwah tanah Melayu,
ditawan dan dibawa pergi ke istana penjajah yang angkuh. Ratap dan tangis
gaung-mengaung di lembah-lembah, laksana ombak memukul tebing, tebing runtuh
pasir berderai, menguji keteguhan iman dan kesabaran anak negeri.
Tetapi, sejarah
Minangkabau bukanlah catatan kekalahan. Di masa berkerajaan, alam Minangkabau
kembali tegak berdiri. Hubungan yang erat dan karib dijalin bersama sapih
belahan, kudung karatan, puak-puak Melayu lainnya di sepanjang pesisir dan
semenanjung tanah seberang. Hubungan ini berdiri kokoh, bukan karena ujung
pedang atau taklukan pedang, laksana yang difitnahkan oleh para pendusta.
Hubungan itu adalah pertalian nasab yang suci, ikatan darah, perkawinan mulia,
dan sumpah setia yang terpatri dalam sanubari. Sakarung bak kain, setepak
bak sirih, kami mengikat persaudaraan dengan kalimah-kalimah kebaikan,
bukan dengan penindasan.
§ IV: Jihad dan
Pelita di Atas Surau
Lapan puluh satu tahun
sudah ranah ini berhimpun dalam sebuah nama resmi, namun hayatnya telah
membenih sejak beribu tahun lampau. Tanah Minangkabau ialah tanah tempat para
pendahulu, datuk, dan ulama mencurahkan segenap daya demi menegakkan Syariat
Allah. Sejak titah Islam memeluk bumi ini, adat dan kitab suci telah dijalin
erat, tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas, dialih tidak bertukar,
dibasuh tidak luntur.
Ketika kaum berbaju
putih bangkit memurnikan ibadah, mereka tak sekadar bersujud di atas lapik
sembahyang, tetapi juga mengangkat senjata. Jihad berkobar menentang kaum kafir
Wolanda dari Eropa yang hendak menjajah tanah dan mengusik akidah. Darah para
syuhada tumpah di celah bukit dan lembah, menjadi saksi bahwa ranah ini pantang
tunduk pada kehendak asing, biar putus leher di pancungan, asal iman tak
tergadaikan. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin
bangkai.
Zaman berganti, cara
bertarung pun beralih runtunan pikiran. Dari surau-surau kecil, lahirlah para
pemikir muda yang gelisah melihat keterbelakangan insan. Mereka berbalas usul,
menyalakan pelita kemajuan, dan memimpin gerakan pembaharu. Pemikiran mereka
melompati batas wilayah, memicu i'lam kesadaran untuk bersatu melepaskan
belenggu kekuasaan asing.
§ V: Menjaga Daulat
Republik di Kala Mendung
Saat i'lam kemerdekaan
dilaungkan, ujian belum selesai. Tubuh daulat yang masih bayi diguncang badai.
Ketika ibu negeri jatuh, dari pedalaman Sumatra Barat memancar cahaya
penyelamat. Pemerintah Darurat berdiri di tengah hutan dan ngarai, menyambung
urat nadi daulat agar tak mati di mata dunia. Senjata menyalak, tubuh berdarah,
namun marwah negeri tetap dipertahankan dengan taruhan nyawa. Biar dada kena
timah, asal daulat jangan punah.
Namun, mendung gelap
kembali menggelayut. Ketika paham yang menolak Tuhan mulai mencengkeram pusat
kekuasaan, para tokoh di ranah ini tak tinggal diam. Mereka memilih
berseberangan, menyatakan keteguhan sikap menentang kuasa kaum tak bertuhan.
Akibat pilihan itu, ranah ini menerima getah yang amat pahit. Ranah Minang
kalah secara lahir, diinjak di bawah tumit penguasa. Bak nagari dialahkan
garudo.
Hari pun berganti
datanglah kuasa yang memaksa tunduk pada aturan serba seragam yang mematikan
sendi-sendi asli pemerintahan nagari. Puluhan tahun lamanya, anak negeri hidup
dalam tekanan, menyembunyikan jatidiri demi kelangsungan hidup. Laksana
meniti buih di tengah laut, cemas hanyut cemas tenggelam.
§ VI: Fajar
Kebangkitan dan Musuh yang Tiada Berwujud
Fajar pembebasan
akhirnya tiba lewat gerakan perubahan di penghujung abad lalu. Ranah ini
kembali bangkit, memungut serpihan jati diri yang sempat terkikis dan hilang
dimakan waktu. Nagari dibangun kembali, adat dipulihkan, dan surau kembali
dinyalakan. Mambangkik batang tarandam.
Kini, di usia yang
ke-81, musuh tak lagi berwujud serdadu asing dengan senapan di tangan atau
kuasa sepihak dari pusat. Musuh nyata hadir di kamar-kamar anak kemenakan kita.
Arus penyeragaman cara hidup dari luar, pendangkalan iman, serta kebebasan
tanpa batas telah menjangkiti generasi muda. Sungguh meramang bulu roma melihat
kenyataan hari ini, ketika syariat Islam dan kehormatan diri kerap dijadikan
bahan mainan dan gurauan di ruang-ruang maya. Kamanakan di bawah aluang
bunian.
Adat dan syariat tak
lagi didengar sebagai kompas penuntun jalan hidup, melainkan sekadar pajangan
dan pemanis bibir belaka. Adat hanya di ujung lidah, syarak hanya di atas
kitab. Sungguh memilukan hati melihat tanah-tanah pusaka, rumpun kehidupan
kaum, kini mulai dilepas dan dijual oleh segelintir orang yang mengaku diri
berilmu tinggi dan cerdik cendikia. Cadiak mambuang Kawan, gapuak mambuang
dagiang.
Mereka lupa pada petuah
moyang bahwa adat itu lambat laun akan usang jika hanya disimpan, ia akan
tetap baru jika terus dipakai. Tak tahu mereka dengan sumpah yang tertanam:
“Harta pusaka tinggi, tak boleh dijual tak boleh digadaikan. Jikalau dijual
dimakan sumpah, jikalau digadaikan dimakan bisa. Ke atas tidak berpucuk, ke
bawah tidak berakar, di tengah-tengah digirik kumbang.” Kariang lapiak tampek
duduak.
§ VII: Penjajah Gaya
Baru dan Kemajuan Tanpa Ruh
Lebih daripada itu, para
penjajah gaya baru kini datang berselimut nama orang budiman. Mereka disambut
hangat, diberi alas karpet merah oleh para Orang Besar dalam negeri dengan
dalih demi memajukan negeri dan membuka lapangan kerja. Bagai menjual marwah
di pasar, membeli racun dalam madu.
Atas nama itu pula, arti
kemajuan telah dijungkir-balikkan. Negeri ini latah memaknai kehebatan hanya
sekadar dari bangunan bertingkat menjulang langit, bentangan jalan tol yang
membelah bumi, deretan kendaraan mewah, serta tempat-tempat elok yang dipoles
agar sedap dipandang mata. Lupa mereka pada mamangan: “Gadang rancak di nan
rami, kokoh adat di nan bathin.” Kemajuan tanpa ruh adat dan syarak
hanyalah rumah megah di atas pasir, menanti waktu untuk runtuh diterjang ombak
zaman. Rancak labuah rusak nagari – gadang cando sarang tabuan.
Semua kemewahan ragawi
dan gaya hidup serba baru itu sesungguhnya adalah racun kehidupan masa kini. Di
balik gemerlapnya, arus penyeragaman cara hidup dari luar, pendangkalan iman,
serta kebebasan tanpa batas telah menjangkiti anak kemenakan di kamar-kamar
mereka. Mereka tak lagi tahu pada jalan yang lurus dan aturan yang patut.
Sungguh menyedihkan melihat kenyataan hari ini, ketika syariat Islam dan
kehormatan diri kerap dijadikan bahan mainan dan gurauan di ruang-ruang maya. Bak
cando mamacik raso di ujuang lidah, manuruikkan cando kain di tapak tangan.
Hari jadi ini bukanlah
pesta pora tanpa makna. Ini adalah saatnya menilik diri. Apakah kita akan
membiarkan benteng akidah yang didirikan dengan darah niniak-niniak nan dahulu
runtuh begitu saja oleh kelalaian anak cucu? Sumatra Barat harus tetap
menjadi tanah yang bertaji, tempat Islam dan adat menjadi penuntun jalan hidup,
bukan sekadar riwayat masa lalu yang tergusur oleh keseragaman semu. Tak
lapuk dek hujan, lekang dek panas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar