Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Kampar, Antara Melayu dan Minangkabau

[caption id="" align="aligncenter" width="640"] Gambar: http://tambahwawasanmubukajendeladunia.blogspot.com [/caption] Letaknya yang berdekatan, bahasa dan budaya yang sama, serta perang yang tak kasat mata.  Itu bermula ketika Minangkabau dan Melayu mulai dipisah penyebutannya dengan latar belakang politik yang mendasarinya. Meredam kekuatan PRRI. Setelah sebelumnya, Tanah Melayu dibagi-bagi menjadi beberapa provinsi lagi. Oleh:  Yuppan* APRIL 20, 2017 Ranah Minangkabau yang merupakan inti kebudayaan Suku Melayu sejak ratusan tahun lalu, kini mendapat identitas baru sebagai Suku Minangkabau, sebagian malu-malu mengaku Melayu, sebagian lain merasa tidak Melayu sama sekali. Seiring waktu, makna Melayu menyempit dan kerdil lalu makna Minangkabau mengalami perluasan Minangkabau yang dulu adalah nama tempat, tak lebih, kini telah menjadi nama sebuah bahasa, sebuah suku bangsa. Dengan mengabaikan fakta bahwa di tempat ini dahulu terdapat kota melayu dengan nam...

Bung Hatta Mundur dari P.I

Kilas balik: “SCHORSING” MOHAMMAD HATTA (1931) D oea berita tilgram Aneta Holland tentang schorsing Mohammad Hatta, tentoe ta’ loepoet menggoentjangkan doenia politiek di Indonesia. Soepaja berita tilgram itoe djangan sampai menimboelkan keliroe didalam kalangan ra’jat kita, saja merasa perloe, mentjoba menerangkan hal ini sebagai “insider” (orang jang mengetahoei doedoeknja perkara). Bagi Ra’jat Indonesia nama Perhimpoenan Indonesia telah tak asing lagi. Perhompoenan Indonesia itoe oemoem dianggap soeatoe factor politiek. Orang ingat process Perhimpoenan Indonesia didalam mana terseboet nama Mr. Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojodiningrat, Nazir Pamoentjak dan Mohammad Hatta. Proces inilah jang amat menaikkan “tjolok” Perhimpoenan Indonesia di dalam mata ra’jat Indonesia dan djoega di negeri Belanda.