Mengapa “Islam + Liberal” dianggap MENYIMPANG dari pandangan Syari'at.

Kritik dan penyimpangan terhadap paham Islam Liberal di Indonesia:

Inti liberalisme adalah kebebasan berpikir/ijtihad yang sangat luas, penekanan pada rasionalitas dan interpretasi kontekstual atas teks suci — al-Qur’an dan hadits — daripada penerimaan literal dan tradisional.

Komitmen terhadap pluralisme agama dan sekularisme pada masyarakat, dapat membawa pada relativisme:[1] bahwa kebenaran agama tidak tunggal, atau bahwa hukum syariat dapat dikompromikan demi “toleransi” dan “kesesuaian zaman.”

Pendekatan ini sangat mengkerdilkan Hukum Syariat dan hukum Islam klasik (fikih/ushul), karena mereka menggantikan ijtihad dan ijmaʿ ulama dengan “pemikiran individu + konteks modern.”

Akibatnya, batas halal-haram, akidah, dan norma syariat bisa menjadi kabur dan tidak jelas— sehingga apa yang dulu dianggap pelanggaran syariat bisa dibenarkan dengan alasan “konteks zaman” sehingga syariat islam menjadi rancu dan tidak cocok untuk semua zaman, maka ini adalah kesesatan aqidah yang sangat jelas!!!

Dalam banyak tulisan kritis, dikemukakan bahwa tujuan Islam adalah tunduk kepada Allah dan menjalankan syariat-Nya; kalau “liberal” berarti kebebasan dan relativisme, maka konsep “Islam liberal” itu sendiri kontradiktif (bertentangan)

Dengan demikian, dari perspektif Syari'at, Islam Liberal adalah sebagai bentuk reinterpretasi yang berbahaya — karena menukar kepastian syariat dan teks dengan “nilai-nilai modern” yang berubah-ubah.

Prinsip Syari'at yang Menjadi Tolak Ukur

Menurut para ulama, berikut prinsip-prinsip dasar yang tidak bisa dilanggar — dan menjadi tolok ukur bahwa pemikiran Islam harus tetap sesuai syariat:

Ketaatan pada teks suci — Al-Qur’an dan Sunnah ditafsir dan dipahami sesuai metode Ulama Islam, bukan semata berdasarkan akal akalan.

Kepastian hukum dan moral — Syariat memberi pedoman yang jelas (halal/haram, wajib/sunnah), bukan aturan fleksibel berdasarkan konteks dan kebutuhan zaman.

Keutuhan akidah dan keunikan Islam — Islam adalah agama yang final dan benar; kebenaran ini tidak bisa digoyahkan dengan konsep pluralisme agama atau relativisme keyakinan.

==========

Catatan Kaki oleh Admin:

[1] Relativisme adalah pandangan filosofis yang menyatakan bahwa kebenaran, moralitas, dan pengetahuan bersifat relatif, tidak absolut, dan bergantung pada perspektif individu, budaya, atau konteks tertentu, bukan pada standar universal yang tetap. Ini berarti apa yang dianggap benar atau salah bisa berbeda bagi orang yang berbeda atau masyarakat yang berbeda, karena tidak ada kebenaran tunggal yang berlaku untuk semua. 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar