IGootd_balqishumaira77 | Kami acap bingung dengan orang Indonesia, negara ini memiliki kebiasaan yang menakjubkan; jika muncul masalah besar, mereka semua pura-pura tak melihat. Serupa dengan kanak-kanak yang menutup matanya sembari berseru " Aku hilang.. aku hilang.." padahal badannya sebesar lemari pendingin.
Dan Morowali - yang katanya jantung ekonomi baru itu - adalah lemari pendingin paling besar yang kita pura-pura tak melihatnya.
Sekarang kami hendak membawa tuan-tuan melihatnya, sudah siapkah tuan, atau tidak? Kami akan buka tirainya hari ini..
Karena di balik asap pabrik, bandara misterius, Pekerja Kerja Asing (Cina) berlalu-lalang, dan kecelakaan kerja yang sudah macam lotre tiap pekan, terdapat satu bintang yang sinarnya gelap, Bintang 8 (Delapan).[1] Dan Penjaga bintang itu bukan sembarang manusia, Penjaganya adalah mantan Danjen Kopassus yang di negara ini, gelar 'mantan' hanya berlaku di KTP, bukan di jaringan kekuasaan. Namanya: Sintong Panjaitan.
Dan kalau tuan fikir, Dia hanyalah seorang Komisaris Utama Biasa yang datang rapat tiap tiga bulan sekali. Oh.. sungguh sayang, tuan salah besar, kalian salah sampai ke sumsum tulang belakang tuan.
Kenapa Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bisa congkak macam negara dalam negara?
Kami hendak bertanya hal sederhana?
- Kenapa IMIP dapat membuat Bandara Internasional tanpa imigrasi?
- Kenapa bisa ada ribuan Orang Asing keluar masuk macam terminal mall?
- Kenapa kecelakaan kerja yang memakan korban puluhan orang, macam angin lalu?
- Kenapa Pejabat Daerah kalau buka mulut sedikit, langsung masam "Eh,. ya sudahlah, awak diam sahaja.."
Jawabnnya mudah sekali kawan:
Karena IMIP tak berdiri sendiri, dia berdiri di atas bayang-bayang orang-orang yang tuan takkan berani salah bercakap kalau berjumpa di dunia nyata.
Kelompok Bintang Delapan itu bukan sekadar pengusaha pemegang saham. Mereka itu pintu gerbang. Dan pintu itu dijaga oleh orang yang namanya masih difahal oleh setiap prajurit Kopassus.
Tuan tahu tidak? di tubuh TNI, ada satu nama yang kalau disebut, maka satu ruangan akan langsung hening? Itulah yang bernama Sintong.
Tuan fikir aparat daerah berani macam-macam? Fikir ulang..
Mantan Danjen, itu bukan Pangkat, itu Kasta.
Kami muak sekali kalau dengar orang berujar "Dia itu cuma Mantan.."
Mantan? Di negara macam Indonesia? Yang budaya militernya masih menempel sampai ke Tukang Parkir?
Mantan Danjen, bukan pangkat, itu kasta. Dia itu Legitimasi.
Dan itulah sejarahnya yang membuat Perwira Aktifpun kalau bersua masih otomatis berdiri tegak. Sintong bukan cuma pernah menjabat, dia pernah memimpin Operasi Paling Brutal di masa negara ini masih berantakan.
Dia pernah masuk pesawat yang dibajak teroris, memimpin pembebasan Sandra Woyla (Operasi yang ditulis buku sejarah sebagai salah satu aksi paling gila yang dilakukan Pasukan Khusus). Dan sekarang?
Orang yang punya sejarah macam begitu, duduk sebagai penjaga sebuah perusahaan yang memiliki seperempat saham IMP. Kalian kira itu hanya kebetulan?
Aduhai, bukan.. Itu rancangan (Disaign)
Kenapa proyek triliunan rupiah memerlukan pengawal? IMIP itu bukan pabrik kecil, ia merupakan sebuah kerajaan. Ada bandara, kota, pemukiman, sistem keamanan, dan aturan yang mereka buat sendiri.
Adapun negara ada, apabila terdapat acara foto-foto, tuan bayangkan kalau proyek segedang itu tak memiliki 'pengawal', apa gerangan yang akan terjadi?
Pertikaian perkara lahan, gesekan aparat, pencurian lahan tambang, permainan kelompok preman, tekanan politik, pengawasan ketat kementrian, perlawanan dari rakyat, dimana itu semua dapat membuat proyek besar itu jatuh.
Maka dari itu mereka memerlukan orang begak, orang yang jika namanya muncul, maka semua tekanan langsung tiarap, dan orang itu ialah Sintong Panjaitan.
Kami tak perlu mengungkapkan dia memainkan apa, kami tak bilang kesalahan apa yang telah diperbuatnya, kami hanya bercakap; kehadirannya sahaja sudah menjadi senjata.
Jaringan yang membuat IMIP kebal terhadap kritik. Coba tuan bayangkan sahaja; Ada dua hal yang paling ditakuti pejabat di Indonesia: 1) Jenderal Aktif, 2) Jenderal Legendaris.
Nah, Sintong ada di nomor (2). Dan tahukah tuan apa yang menakutkan? Jenderal Legendaris itu tak dapat diberhentikan, tak bisa dimutasi, tak mempan diberi Surat Peringatan (SP) 1, 2, sampai 4. Karena dia bukan bagian dari struktur negara, melainkan merupakan bagian dari struktur kekuasaan.
Tuan faham perbedaannya?
Struktur sebuah negara dapat berubah apabila terjadi pergantian presiden. Sedangkan Struktur Kekuasaan itu hidup dibawahnya, di ruang gelap yang tak tersentuh pemilu. Itulah mengapa IMIP seperti punya aura "Jangan Macam Macam".
Yang membuat kami semakin gelak berderai adalah kenyataan bahwa Sintong Panjaitan merupakan sepupu dari Luhut Binsar Panjaitan, dua mantan Danjen, dua orang arsitek Detasemen 81, dua orang yang masih dipandang 'Pilar Kekuatan' oleh para perwira. Dua orang yang kalau bercakap, membuat pejabat sipil mendadak teringat bahwa negara ini pernah dipimpin oleh tangan-tangan tentara.
Yang membuat kami semakin gelak berderai adalah kenyataan bahwa Sintong Panjaitan merupakan sepupu dari Luhut Binsar Panjaitan, dua mantan Danjen, dua orang arsitek Detasemen 81, dua orang yang masih dipandang 'Pilar Kekuatan' oleh para perwira. Dua orang yang kalau bercakap, membuat pejabat sipil mendadak teringat bahwa negara ini pernah dipimpin oleh tangan-tangan tentara.
Kini, tuan bayangkan posisi IMIP, di satu sisi terdapat kelompok bisnis triliunan, di satu sisi ada Tsingshan, raksasa dari Cina, dimana didalamnya ada Bintang Delapan yang memegang pintu izin. Dan di belakang Bintang Delapan itu terdapat dua nama yang membuat pihak Istana tidak bisa sembarang berkeras hati.
Tuan kira ini proyek?
Ini merupakan persekongkolan kepentingan besar yang ditopang hubungan panjang dari era Operasi Militer. Kami hanya hendak berkata; Kalau IMIP itu kapal, maka Sintong adalah jangkar yang membuat kapal itu tak dapat disentuh ombak.
Kelamnya IMIP yang dijaga dengan sunyi, terkadang kami berfikir "Kenapa setiap ada isu mengenai IMIP, reaksinya selalu lambat,, lunak, atau tiba-tiba hilang dari pemberitaan?
Ada yang kecelakaan kerja? Hening
Ada ledakan smelter? Diam
Ada polusi parah? Sunyi
Terdapat bandara yang berjalan tanpa imigrasi? Rusuh sekejap, lalu hilang..
Ada ribuan Cina Pekerja Asing? Rusuh sedikit, lalu dilupakan
Kenapa? Karena IMIP itu bukan sekadar industri, melainkan Wilayah Kekuasaan. Dan ia dijaga bukan oleh hukum melainkan oleh reputasi orang yang tak perlu muncul untuk membuat orang diam.
Kalau kami boleh jujur, IMIP itu bukan negara dalam negara melainkan sebuah benteng. Di luar benteng ialah rakyat, pemerintah, dan kritik sedangkan di dalam bentang terdapat Kepentingan Global dan Jaringan Militer-Bisnis. Sedangkan penjaga benteng itu bukan tentara aktif. Penjaganya ialah sosok yang namanya sahaja cukup untuk membuat semua jalur kendali negara tiba-tiba tersendat.
Kenapa Sintong dibutuhkan? Karena Tsingshan butuh seseorang yang mengerti Bahasa Negeri ini, Bahasa Kekuasaan bukan Bahasa Hukum. Orang asing tak faham Indonesia, mereka cuma mengerti: Kalau ada masalah, Bayar, Kalau muncul konflik, Negosiasi. Kalau ada Pemerintah, Undang Makan Malam.
Indonesia tak macam itu, Indonesia itu negara dimana "Engkau Siapa?" lebih penting dari "Mana dokumennya..?"
Jadi begini ya tuan, Kalau Tshingshan ingin berhasil, mereka butuh wajah pribumi yang dapat membuat aparat hormat dahulu sebelum berbicara. Itulah dia Sintong, demikianlah kenapa IMIP dapat beroperasi seolah semua aturan negara adalah pilihan, bukan kewajiban.
Kenapa pejabat pusat banyak yang diam? Kami beritahu satu fakta pahit: Di negara ini, Pejabat Sipil itu sering kalah aura sama Jenderal Berpengalaman. Kenapa? Karena Pejabat Sipil berganti setiap lima tahun, Jenderal? jaringannya dapat hidup selama 40 tahun.
Pejabat Sipil takut salah langkah, Jenderal Senior? Dia sudah melihat lebih banyak darah dari pada yang dapat tuan bayangkan. Dan itu membuat aura mereka berbeda.
Sintong itu Aura Jalan Sunyi. Aura, kami tak perlu bicara dengan keras, tapi tuan faham akibatnya.
Jadi ya, wajar kalau sebahagian besar pejabat lebih memilih pura-pura dungu. Kalau IMIP hendak bikin bandara sendiri? Ya sudah. Kalau masuk Pekerja Cina Asing ilegal? Ya sudah. Kalau negara kepayahan mengatur? Ya sudah. Karena mereka tahu siapa yang duduk di belakang Bintang Delapan.
Kesimpulan pahit yang mesti tuan telan mentah-mentah:
- IMIP itu bukan masalah tambang, bukan hanya Pabrik Nikel. IMIP itu perlambang bagaimana jaringan militer lama, modal asing, Oligarki Lokal bersatu dalam satu lingkaran yang tak dapat ditembus regulasi biasa
- Sintong Panjaitan adalah penjaga lingkaran (benteng) tersebut. Sahaya tak bilang dia kriminal atau jahat. Yang hendak sahaya sampaikan; Dia itu Penjaga yang kekuatannya bukan senjata, melainkan 'reputasi'. Seorang penjaga yang bahkan pemerintahpun hari berhati-hati kalau hendak bergesekan. Penjaga yang keberadaannya membuat IMIP seperti benteng kokoh meski kritik datang dari mana-mana. Dan selama ada sosok sekuat itu dibalik Bintang Delapan, sampai kapanpun IMIP tak akan dapat disentuh publik secara utuh. Tuan hendak membongkar IMIP? Tuan harus tahu siapa penjaganya, dan sekarang tuan tahu.
Catatan: Mungkin tuan salah sangka, bahwa Bintang Delapan itu nama perusahaan Dia
==========
Catatan Kaki:
[1] Bintang Delapan merujuk pada Bintang Delapan Group, sebuah entitas bisnis besar di Indonesia yang bergerak di sektor pertambangan (terutama nikel) dan menjadi "founding father" atau cikal bakal dari Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebuah kawasan industri terintegrasi yang signifikan. Perusahaan ini memiliki berbagai anak perusahaan seperti PT BintangDelapan Mineral (BDM) yang fokus pada operasi nikel di Morowali, serta memiliki portofolio beragam di berbagai sektor industri.
============
Postingan asli:
Gue tuh kadang bingung sama Indonesia. Negara ini tuh punya kebiasaan unik: kalau ada masalah gede, semua pura-pura nggak liat. Kayak anak kecil yang nutup mata sambil bilang “aku hilang, aku hilang,” padahal badannya segede kulkas.
Dan Morowali—yang katanya jantung ekonomi baru itu—adalah kulkas paling gede yang kita pura-pura nggak liat.
Sekarang gue mau ajak lo lihat. Mau lo siap atau nggak, gue buka tirainya hari ini.
Karena di balik asap pabrik, bandara misterius, TKA seliweran, dan kecelakaan kerja yang kayak angka lotre tiap minggu, ada satu bintang yang sinarnya gelap: Bintang 8.
Dan penjaga bintang itu bukan sembarang manusia.
Penjaganya adalah seorang mantan Danjen Kopassus yang di negara ini pangkat “mantan”-nya cuma berlaku di KTP, bukan di jaringan kuasa.
Namanya Sintong Panjaitan.
Dan kalau lo pikir dia cuma Komisaris Utama biasa yang datang rapat tiga bulan sekali, oh sayang… Lo salah besar.
Lo salah sampai ke sumsum tulang.
Kenapa IMIP itu bisa congkak kayak negara dalam negara?
Gue mau tanya hal simpel:
Kenapa IMIP bisa bikin bandara internasional tanpa imigrasi?
Kenapa bisa ada ribuan orang asing keluar masuk kayak terminal mall?
Kenapa kecelakaan kerja puluhan orang kayak angin lalu?
Kenapa pejabat daerah kalau buka mulut sedikit langsung kayak “eh… yaudah deh saya diem aja”?
Jawabannya gampang banget:
karena IMIP nggak berdiri sendiri. Dia berdiri di atas bayangan orang-orang yang lo nggak bakal berani salah bicara kalau ketemu di dunia nyata.
Bintang Delapan Group itu bukan sekadar perusahaan pemegang saham. Mereka itu pintu gerbang. Dan pintu itu dijaga sama orang yang namanya masih dihafal setiap prajurit Kopassus.
Lo tau nggak, di tubuh TNI, ada nama yang kalau disebut, ruangan langsung hening?
Itu nama Sintong.
Lo pikir aparat lokal berani macam-macam?
Pikir ulang.
“Mantan Danjen” bukan pangkat. Itu kasta.
Gue muak banget kalau denger orang ngomong, “Dia itu cuma mantan.”
MANTAN? Di negara kayak Indonesia? Yang budaya militernya masih nempel sampai ke tukang parkir?
“Mantan Danjen” bukan pangkat. Itu kasta.
Gue muak banget kalau denger orang ngomong, “Dia itu cuma mantan.”
MANTAN? Di negara kayak Indonesia? Yang budaya militernya masih nempel sampai ke tukang parkir?
Mantan Danjen Kopassus itu bukan “ex”.
Dia itu kasta.
Dia itu legitimasi.
Dia itu sejarah yang bikin perwira aktif pun kalau ketemu masih otomatis berdiri tegak.
Sintong bukan cuma pernah menjabat.
Dia pernah memimpin operasi paling brutal di masa negara ini masih berantakan.
Dia pernah masuk pesawat dibajak teroris, memimpin pembebasan sandera Woyla—operasi yang ditulis di buku sejarah sebagai salah satu aksi paling gila pasukan khusus.
Dan sekarang?
Orang yang punya sejarah kayak begitu duduk sebagai penjaga perusahaan yang punya seperempat saham IMIP.
Lo kira itu kebetulan?
Nggak, sayang.
Itu desain.
Lanjut
--------------
-----------


Tidak ada komentar:
Posting Komentar