BERCILOTEH TENTANG PILADANG DAN AKABILURU
Ciloteh Nagari | Luthfi Razzaq Alvechena dari Piladang berkunjung ke Lapau eSPe bersama SA Sutan Palindih. Kemudian saya katakan "Ada satu syarat untuk pembuka percakapan di Lapau eSPe ini, pertama harus membawa sebuah buku boleh dalam bentuk apa saja, buku cetak, foto copy atau dalam bentuk pdf. Lepas itu baru boleh mengajukan pertanyaan.”
Kemudian Luthfi Razzaq Alvechena memberikan foto copy buku “Piladang 1949”yang ditulis oleh Nasrun Thahar Dt. Mangindo Nan Kuniang.
Diwaktu saya tanyakan maksud kedatangannya supaya bisa difokuskan terhadap Sumber Percakapan (SP), maka dia menyatakan mencari data, apakah benar Piladang pernah menjadi Kewalian di Kecamatan Akabiluru. "Keterangan ini sangat berguna bagi saya sebagai anak muda di Kecamatan Aka Biluru serta menambah pengetahuan terhadap adat kepada mamanda Saiful Guci Dt Rajo Sampono, karena saya juga bersuku Guci dari Piladang “ Ujar Lufthfi
Kemudian sambil membuka arsip Tambo Nagari Luhak Nan Tigo, saya berciloteh “Ada dua kewalian yang pernah ada setelah kemerdekaan di Kecamatan Aka Biluru yang hilang, pertama kewalian Piladang Tigo Alur dan Kewalian Tigo Baririk.
Dalam catatan monografi nagari pada 6 Juni 1951 Wali Nagari Piladang Tigo Alur adalah Dt. Sindo Nan Bagonjong dan Wali Nagari Tigo Baririk, dari catatan Monografi 20 Februari 1952 adalah A.M.S. Dt. Majo Indo Basa.
Kenapa disebut Piladang, ada tiga versi: banyaknya tumbuh tanaman Piladang, penduduknya suka berladang dan ada suatu tempat berkaul-kaul (tempat berjanji/bernazar jika permohonan atau keinginan sudah tercapai)
Yang disebutkan Piladang Tigo Alur adalah: Tigo alur, terdiri dari : Pesandiang, Guguak Malintang, dan Guguak Nunang
Pesandiang: Yaitu Batu nan Besanding Tigo, dahulunya terletak belakang rumah orang Guci, tugas kemenakan mencari dimana lokasinya, kalau belum bertemu coba tanyakan kepada kemenakan rang Guci Ghio Vani Debrian Soares
Guguak Malintang: Yaitu batu nan membelintang letaknya yaitu Guguak Bukit Cempago
Guguak Nunang berasal dari Batang Limau Sakun yaitu sebuah kayu besar yang dinamakan orang Kayu Nunang yang tumbuhnya di atas Guguak.
Kewalian Piladang Tigo Alur mempunyai hubungan pertalian adat pada Negeri sekelilingnya, menurut adat nan dipacik, waris nan dijawek, baurek maka berpucuak dengan:
a.Batu Tanyuh, Tambun Ijuk, dan Subarang Parik. Pucuknya di Tambun Ijuak yaitu: Dt. Basa Nan Bungkuak.
b.Di Batu Hampa, dan Koto Baru pucuaknya : Dt. Rajo Malano
c. Durian Gadang. Pucuknya Dt. Parisai Nan Batungkek Ameh.
Di Sidang Nan 3 (tigo) terdiri dari : Piladang Tigo Alur, Sungai Cubadak dan Koto Tangah (tigo jurai). pucuknya, Dt. Paduko Marajo.
Kalau Basalisiah menurut adat (bersilisih satu dengan yang satu) Nan bakato baiyo, bajalan batolan, orang yang berempat tertulis di atas itulah. Bakato basudah, mambiang cabiak, gantiang putuih, kalau tidak putuih bagi orang yang berempat, dibawa ke Aka Biluru.
Banyak perkauman dalam Negeri Piladang (tigo alur: Bodi, Caniago, Kutianyia, Sikumbang, Pagar Cancang, Melayu, Sipisang, Guci, Piliang dan Dalimo.
Kewalian Tigo Baririk
Sementara catatan tentang Kewalian Tigo Baririk, bersumber dari pertemuan orang dan empat jenis pada tanggal 20 Desember 1951 bertempat di Balai Adat Negeri Tambuk Ijuk, adalah sebagai berikut:
2. Dahulu kewalian Tigo Baririk ini termasuk dalam Negeri Koto Tangah Batu Hampa, satu kepala menurutI. G.O semasa Pemerintahan Belanda sampai pada saat permulaan Agresi Ke II (1948-1949) di waktu darurat, berhubung dengan jalan besar Payakumbuh-Bukittinggi, dikuasai oleh tentara Belanda sedang jalan ini membagi dua antara Negeri Koto Tengah dan Tigo Baririk ini dan untuk memudahkan lancarnya sesuatu terutama melanjutkan perjuangan menentang aksi tentara Belanda, atas sepakat orang dan empat jenis serta semua rakyat di Tigo Baririk dijadikanlah Tigo Beririk satu negeri. Kebulatan ini disampaikan kepada Pemerintah Darurat dengan berjanjang naik bertanggo turun. Yang mana kebulatan ini disetujui oleh Pemerintah darurat.
Maka dengan secara demikian batas-batas Negeri Tigo Baririk sekarang adalah sebelah:
Barat : Dengan Negeri Padang Tarab Kabupaten Agam
Timur : Dengan Negeri Situjuh dan Limbukan Wilayah Luak.
Utara : Negeri Koto Tangah dan Piladang menurut jalan besar Payakumbuh-Bukittinggi Selatan: Dengan negeri Tanjung Alam Barulak Kabupaten Tanah Datar, dan Negeri Tungka wilayah Luak menurut aliran Batang Agam sehingga puncak bidiang Bukit Duo.
Kewalian Tigo Baririk ini terdiri dari tiga negeri: Tambun Ijuak, Batu Tanjuh dan Subarang Parik. Kenapa dinamakan Tigo Baririk, karena letaknya negeri ini Beririk [berderet] memanjang dari barat ke timur. Di barat terletak negeri Batu Tanyuah, di tengah terletak negeri Tambun Ijuak, di timur terletak negeri Subarang Parik (parit).
a. Tambun Ijuak berasal dari " tempat tambunan ijuk" karena demikianlah suatu hal yang luar biasa didapati oleh orang-orang tua yang mula menjumpai tanah negeri ini untuk tempat tinggal.
b. Batu Tanyuah, berasal dari “batu tanyuah", karena beratnya tiap-tiap diangkat dengan tangan, dianyukannya (ditariknya tangan ke bawah kembali).
c. Subarang Parik kebetulan masa dahulu tiap-tiap orang yang akan masuk negeri ini, meski melewati sebuah parit, karena letak negeri itu di lingkungi [dikelilingi] oleh parik.
5. Bagaimana sejarah negeri ini?
Sebagaimana dapat diketahui keturunan orang-orang tua dari Pariangan Padang Panjang, melalui negeri Tanjung Alam, Barulak sampai ke Padang Siontah, dari sana berdusun, bakoto, sampai banagari di Tambun Ijuk. Sekarang sebahagian ke Batu Tanyuh dan ke Subarang Parik. Negeri ini mempunyai pertalian, menurut adat; ayam diberi bainduk sirih diberi bajunjung, bapucuk bulek baurek tunggang.
Negeri ini mempunyai empat buah suku: Suku Sembilan, Suku Empat Ibu (Koto Piliang), Suku Melayu, Mandahiling, dan Suku Bodi Caniago.
Pucuk bulek urek tunggang dalam negeri Tigo Beririk bergelar Dt. Penghulu Hasa Nan Bungkuk, bersuku Piliang terletak dalam negeri T. Ijuk. Di negeri T. Ijuk .” Terang saya tentang ciloteh Nagari Piladang dan Tigo Baririk.
Kemudian saya tanyakan apa hobbi Lufthfi ?
Lufthfi menjawab “Saya suka kesenian tradisional Minangkabau terutama musik tradisonal Sampelong yang telah mulai langka “ ujar nya.
“Kalau memang hobbi sampelong, tolong lanjutkan dan nyanyikan pantun ini :
Ketek-ketek daun potai;
Panjang panjang daun padi…
Lufthfi langsung bernyanyi dengan irama sedih percintaan dengan ketukan sampelong dan melanjutkan pantun :
Ketek-ketek daun potai;
Panjang panjang daun padi;
Dari ketek dek baintai;
Sampai gadang…nojih kok jadi.
Diskusi kami a lot dan menyenangkan, sampai kenapa bernama Aka Biluru
Ditulis oleh H.Saiful.SP Dt Rajo Sampono di Lapau eSpe Kasiah Bundo,14 Desember 2025
Tags: limo puluah koto
, nagari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar