Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Tradisi Menulis Bangsa Melayu

[caption id="" align="aligncenter" width="1200"] Gambar: https://mir-s3-cdn-cf.behance.net [/caption] Pemakaian puisi, khususnya syair, membedakan masukan Minangkabau ke Poetri Hindia. Tidak ada usaha untuk meniru bentuk-bentuk prosa Eropa. Perempuan-perempuan Minangkabau – terlatih dalam silat lidah – percaya diri dan nyaman dengan gaya puisi Melayu Tradisional. Mereka menulis dalam sajak dan menyiratkan maksud mereka secara akrostik dan dalam metafora. Perempuan-perempuan ini sangat sadar bahwa masyarakat mereka secara mendasar berbeda dengan masyarakat Jawa. [Jeffrey Hadler. Sengketa Tiada Putus. Freedom Institut. Jakarta, 2010. Hal.252-253] Dunia kepenulisan sudah lama menjadi bagian dari jiwa dan kepandaian orang Melayu, terutama sekali di Minangkabau. Banyak pujangga (sastrawan) yang dilahirkan oleh negeri ini pada masa dahulu. Namun kini agaknya Minangkabau mulai mengalami proses kemandulan karena anak-anaknya tak lagi dibesarkan oleh dirinya mela...

Tuan, Engku, Rangkayo, & Encik

[caption id="" align="aligncenter" width="720"] Gambar:  http://3.bp.blogspot.com/ [/caption] Sitti atau Siti pernah digunakan sebagai panggilan kehormatan yang padanannya sama dengan “Nona” oleh sebagian masyarakat Minangkabau. [Catatan Kaki No. 30 dalam Jeffrey Hadler. Sengketa Tiada Putus. Freedom Institut. Jakarta, 2010. Hal.252] Kemungkinan digunakan oleh masyarakat Minangkabau di pesisir hal mana panggilan ini sangat lazim pada masa dahulunya di Bandar Padang. Mungkin ada diantara tuan nan bertanya kenapa kami kerap menggunakan kata  tuan, engku, rangkayo, serta encik.  Bagi orang tua kita nan hidup di masa-masa sesudah kemerdekaan maka mereka akan tiada asing dengan sebutan tersebut sedangkan bagi kita sekarang sudah terbiasa dengan panggilan  Bapak & Ibu. Tuan  merupakan kata panggilan resmi untuk para pembesar kerajaan dan pada masa kolonial digunakan untuk memanggil para pejabat kolonial. Namun dalam keseharian kata  Tuan menjadi kata ganti...

Bung Hatta Diperkarakan

[caption id="" align="aligncenter" width="495"] Gambar: https://niadilova.files.wordpress.com [/caption] Rubrik  Minang   saisuak  kali ini menurunkan foto Mohammad Hatta dan tiga kawannya yang baru dibebasakan dari penahanan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda terkait dengan aktifitas mereka dalam Perhimpunan Indonesia ( De Indonesische Vereeniging ). Seperti telah diuraikan oleh Harry Poeze dalam bukunya,  Di Negeri Penjajah (2008:207-213), setelah Perhimpunan Indonesia (PI) berada di bawah kepengurusan Hatta dan kawan-kawan sejak awal 1923, perkumpulan pelajar Indonesia di Negeri Belanda itu makin radikal. Mereka makin tegas menuntut kemerdekaan Indonesia. Hal ini telah membuat Penasihat Pelajar Indonesia, L.C.Westenenk, yang diberi otoritas oleh Menteri Daerah Jajahan untuk mengawasi para pelajar Indonesia di Belanda, merasa khawatir. Westenenk terus memata-matai Hatta dan kawan-kawannya. Hal itu menuai kritik dari banyak pihak, antara lain dari ma...

Perihal Kanak-kanak Perempuan

[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Gambar: https://sunnahedu.wordpress.com* [/caption] Diluar waktu mengaji, dari pukul 9 pagi sampai 6 sanjo, ia menolong ibunya tentang pekerjaan rumah tangga, seperti membeli ini, itu ka pasar, atau kalau sepertinya ia orang miskin, maka ibunya menyuruh akan dia pergi menjual kue-kue, akan penambah (penyisik-nyisik) belanja ayahnya; lagi uang belanja ka surau atau uang iyuran, sekepeng siang, sekepeng malam, pembeli minyak dan sebagainya (dari laba kue yang dijualnya itu). Malam hari ia tidur di surau atau di rumah Rubiah itu; kadang-kadang kalau rumah orang tuanya dekat, pulang ia ka rumah orang tuanya. Pagi-pagi pukul 5 ia bangun, terus berlari ka surau, akan mendapati sembahyang subuh bersama-sama gurunya dan kawan-kawannya; pagi itu dari pukul 6 sampai 8 ia belajar mengaji Kur’an; pada malam ia belajar sakutika dari hal ilmu sambayang, berzikir menurut lagu perempuan Arab. [ Koleksi Naskah, Perpustakaan ...

Tarikh

[caption id="" align="aligncenter" width="830"] Gambar: http://static.republika.co.id [/caption] Kata ahli sejarah, sejarah itu tak melulu berkisah perihal orang-orang besar, para pemimpin negeri, panglima perang, ataupun kemenangan dan kekalahan. Melainkan sejarah itu juga mengisahkan kehidupan orang-orang kecil yang selama ini dipandang tak memberikan dampak pada jalannya sejarah suatu negeri. Sebut saja para pegawai, kuli dan pesuruh, para perempuan biasa yang kerjanya hanya di rumah, dapur, dan mengasuh anak, para petani yang setiap hari hilir-mudik ke sawah dan ladang mereka, dan bermacam ragam lainnya. Sejarah juga berbicara perihal gaya hidup orang pada masa dahulu, seperti apa makanan yang mereka makan, seperti apapula gaya mereka berpakaian, apa kendaraan yang mereka pakai pada masa dahulu, serupa apa cara mereka menjalin perhubungan (komunikasi), serupa apa pula bahasa yang mereka pakai, dan lain sebagainya.

Perempuan Minangkabau awal abad 20

[caption id="" align="aligncenter" width="790"] Gambar: http://1.bp.blogspot.com [/caption] Oleh karena itu berbangkitlah kami perempuan Hindia meusahakan diri sendiri hendak menuntut apa yang berguna dan wajib bagi kami perempuan, sebagai menjaga rumah tangga dan lain ikhtiar untuk pencari jalan penghidupan, seperti pada sebelah desa kecil yang ta’berapa jauhnya dari Fort de Kock (Koto Gadang) adalah kami mengadakan perkumpulan perempuan-perempuan saja, yakni untuk mempelajari kepandaian tangan, memegang rumah tangga, dan belajar bermacam-macam kepandaian; yang mana perkumpulan itu kami namai “Kerajinan Amai Setia” [K.A.S; Kas] ertinya peti tempat simpanan uang; karena kalau leden dari perkumpulan itu sudah pandai bekerja sebagai yang dimaksud itu, niscayalah perkumpulan itu mengeluarkan uang yang banyak ya’ni hasil penjualan kepandaian tangan yang hendak dipelajari itu bukan? [Rohana. Gerakan Perempuan Hindia. Saudara Hindia 1.7, 1913, h.101] Lain masa ...

Anggota Dewan Minangkabau yang pertama

[caption id="" align="aligncenter" width="356"] Sumber: https://niadilova.files.wordpress.com [/caption] Berikut disenaraikan nama-nama anggota  Minangkabau Raad  (Dewan Minangkabau) yang terpilih  dalam pemilihan awal menyusul didirikannya Dewan itu pada tahun 1938 yang disalin dari sumber yang disebutkan di bawah.

Rumah Gadang

[caption id="" align="aligncenter" width="605"] Gambar: http://3.bp.blogspot.com [/caption] Di Hari Rayo Anam ini perkenankan kami membawa tuan pesiar ke masa silam. Berikut ini kami lampirkan pandangan seorang pejabat pada Departemen Pertanian Amerika Serikat yang bernama David G. Fairchild dimana ia diundang untuk menjelajahi Dataran Tinggi Minangkabau pada abad ke-19. Berikut kutipannya: Interior rumah-rumah ini bukan tanpa kenyamanan-kenyamanan moderen dalam hal ranjang yang nyaman, dengan bantal dan kanopi, yang bagus diantaranya sering kali dihias dengan ornamen-ornamen gantung yang menarik dan mencolok yang seluruhnya terbuat dari  inti batang semacam tanaman tropis. Rumah-rumah ini lebih nyaman dari pada rumah-rumah ras-ras lain di Hindia Timur Belanda, dan tampak mewah bila dibandingkan dengan gubuk-gubuk kumuh orang Maori atau rumah-rumah berlantai kerikil orang Samoa.[1] Demikian pandangan seorang bule yang menganggap bahwa orang pribumi (Minan...