Langsung ke konten utama

Satu Pintu di Istana

 


Pertanyaannya siapa yang menugaskan?

Kalau tuan perhatikan belakangan ini, ada satu perasaan aneh yang semakin sering muncul setiap melihat Paduka Raja di TV. Bukan soal pidatonya, bukan soal gaya bicaranya, tapi soal auranya, macam jauh sahaja. Serupa orang yang tinggal di ruangan ber-AC, namun tak pernah merasakan panasnya matahari. Pada hal diluar, rakyat sedang dibakar bermacam ragam masalah.

Apabila ditarik benang merahnya, ada satu nama yang selalu muncul di sekitar Paduka Raja. Lengket, kemana-mana menempel, mengatur siapa yang boleh dekat dan siapa yang tidak. Mengatur jadwal, mengatur tamu, mengatur alur. Nama orang itu Tuan Menteri Muda.

Ini bukan perkara benci atau suka dengan orangnya, ini soal peran, fungsi, dan posisi. Karena di dunia kekuasaan, yang berbahaya itu bukan hanya orang jahat. Orang yang berbahaya itu ialah orang yang memegang pintu.

Coba tuan bayangkan sahaja, tuan punya rumah, tapi semua yang hendak masuk ke rumah tuan mesti melalui hulubalang. Apakah itu keluarga tuan sendiri, kawan sejawat, handai taulan, ataupun rekan lainnya. Apakah yang datang itu membawa kabar penting atau tidak, semuanya mesti melalui Sang Hulubalang. Dia yang menentukan siapa yang boleh masuk, siapa yang disuruh menunggu, siapa yang disuruh balik pulang, atau siapa yang disuruh datang besok. Lama-lama, rumah itu bukan tuan lagi yang punya, melainkan Si Hulubalang.

Sekarang, coba tuan ganti rumah itu dengan Istana, ganti tuan dengan Paduka Raja, dan ganti hulubalang itu dengan satu nama; Tuan Mentri Muda.

Ini bukan karangan semata, bukan pula melebih-lebihkan, melainkan ini soal mekanisme, perkara sistem Satu Pintu. Hari ini, apakah itu menteri atau pejabat lainnya, tokoh politik, atau sesiapapun, jalur ke Paduka Raja itu rumitnya minta ampun. Bukan cuma rakyat biasa, menteripun bisa tak berdaya. Dan di dunia kekuasaan, kalau jalur ke pemimpin semakin sempit, ada dua kemungkinannya: 1) Pemimpin memang hendak menutup diri, atau 2) Ada orang yang menutup dunia atas dirinya.

Tuan Mentri Muda bukan hanya ajudan, kalau sekadar ajudan, tugasnya mesti menerima perintah, menyiapkan, dan melindungi raja. Tapi yang ini lebih dari itu, di memegang jadwal, agenda, dokumen, dan menentukan siapa bicara apa, dia pegang urutan isu, dia pegang pintu fisik dan pintu informasi. Kalau dia bilang 'Belum Sekarang', berarti 'belum'. Kalau dia kata "Tak perlu berjumpa.." itu artinya tak perlu, selesai urusan.

Ini yang kebanyakan orang tak sadar: yang paling berkuasa di sekitar raja itu bukan yang duduk di singasana, tapi yang memegang pintu singasana. Dan dampaknya secara perlahan mulai kelihatan, Paduka Raja jarang bertemu dengan orang secara spontan, sidak menjadi jarang, berbagai laporan yang sampai ke raja itu sudah segeh, halus, dan sudah disisir. Macam nasi kotak untuk para pejabat: terlihat bersih namun tuan tak tahu dapurnya serupa apa.

Bahkan ada kisah seorang menteri dapat kena seterap. Bayangkan tuan, menteri diseterap, oleh yang secara adat kekuasaan hanyalah seorang Menteri Muda. Pesannya jelas kepada semua menteri: usah macam-macam, jangan berlagak, tak usah langsung ke raja, mesti lewat pintu yang telah disediakan.

Jika hal ini dibiarkan, apa gerangan yang akan berlaku, tuan?

Yang akan berlaku, bukan hanya Paduka Raja yang payah dijumpai, maka terjadilah semua Orang Besar (Menteri dan Pejabat Tinggi atau elit kekuasaan) dalam kerajaan akan main aman. Seorang menteri tidak akan berfikir apakah kebijakannya baik atau penting untuk rakyat, tapi yang menjadi landasan ialah: aman tidak buat saya. Laporan bukan lagi soal kejadian sebenar, melainkan soal apakah yang merdu didengar. Yang buruk ditahan, yang pahit dipermanis, dan busuk dibungkus.

Lama-lama Paduka Raja hidup di dunia yang disunting.

Kini pertanyaannya, kenapa Paduka Raja memakai sistem macam ini? Bukankah hal ini sama artinya dengan mengurung diri sendiri?

Jawapannya pahit namun sederhana: Paduka Raja takut dikhianati oleh para Orang Besar dibadingkan salah membaca keinginan rakyat.

Tuan mesti faham satu hal: Paduka Raja bukanlah orang lugu, raja sekarang merupakan didikan dunia yang keras, dunia yang penuh tipu muslihat, dunia yang pada tahun 1998[1] meninggalkannya seorang diri, dunia yang menunjukkan kalau kekuasaan itu bukan perkara Benar atau salah, melainkan perkara siapa yang menikam lebih dahulu.

Di kepala orang macam Paduka Raja, musuh utama bukanlah rakyat, melainkan orang dari dalam. Kelompok-kelompok di lingkaran kekuasaan, oligarki, ataupun partai. Orang-orang yang pura-pura setia tetapi menyiapkan pisau. Oleh karena itu raja membangun sistem yang sangat ketat, Satu Pintu, Satu Jalur, Satu Lingkar, semua melalui orang yang ia percayai sampai mati.

Dalam kepala raja: Lebih baik beta mendengarkan sedikit sahaja, tapi aman. Daripada mendengar banyak tapi disusupi.

Masalahnya raja lupa satu hal: Kalau tuan hanya melihat dari satu sudut pandang, maka tuan tidak lagi aman, tuan sedang dibutakan. Ditambah lagi, Paduka Raja dari Asykar, di dunia asykar, banyak suara itu bahaya, banyak jalur rawan bocor, banyak pendapat dipandang pembangkangan. Yang penting itu: kepemipinan jelas, barisan rapi, dan sasaran tercapai. Masalahnya negara bukan Satuan Asykar, rakyat bukan pasukan, dan kenyataan kehidupan kerajaan tak dapat diperlakukan macam peta peperangan.

Selain itu juga ada penyabab lain, umur. Jujur sahaja tuan, mengurus negara itu penatnya minta ampun, mendengarkan semua orang itu melelahkan. Lebih mudah memiliki satu orang kepercayaan yang menyaring semuanya. Secara manusiawi, hal tersebut masuk akal, namun secara politik itu sama dengan bunuh diri secara perlahan.

Karena begitu tuan menyerahkan semua pintu ke satu lingkar kecil. Tuan bukan hanya mengamankan diri dari musuh, tuan juga mengunci diri dari kenyataan. Dan sejarah itu kejam tapi konsisten, polanya selalu sama. Mulanya kelihatan segeh, tenang, stabil, raja terlihat tegas, kritik ditekan, unjuk rasa dipandang sebagai gangguan, media dikatakan berlebihan, semuanya terlihat sentosa.

Namun dibawah, kebusukan menumpuk. Menteri menjadi tukang ambil muka, pejabat menjadi tukang lapor yang mencari aman, masalah tak diselesaikan melainkan cukup disembunyikan sahaja. Rakyat semakin tak puas, demikian pula suara mereka tak didengar, ekonomi goyah namun dilaporkan masih kuat, ranah bernegara panas namun dikatakan 'hanya provokator'.

Sampai pada suatu hari, semuanya meledak, biasanya dalam bentuk krisis, dapat di bidang ekonomi, sosial, ataupun politik. Dan yang menyakitkan, orang yang duduk disingasana acap 'terkejut'

"Duhai, kenapa bisa serupa ini? Kata laporan aman..?"

"Tentulah aman paduka, laporan yang paduka baca sudah dipilih." Hal ini berlaku di banyak negara, para pemimpin yang hidup dalam 'gelembung' itu selalu terkejut dengan kenyataan.

Dan apabila sudah terkejut, maka biasanya ada dua reaksi, pertama: Semakin keras, mulai menyalahkan rakyat, asing, provokator. Kemudian aparat diturunkan, aturan diperketat, kritikan dipandang sebagai ancaman kerajaan. Kerajaan terlihat kuat namun pada kenyataannya semakin rapuh, karena masalah tak diselesaikan melainkan hanya ditekan.

Reaksi Kedua: yaitu yang paling menyakitkan yakni ditinggalkan oleh orang dekatnya sendiri. Karena dalam sistem satu pintu, semua kekuasaan itu menumpuk di sekitar raja, di tangan orang-orang yang mengatur akses, dokumen, aparat, dan administrasi. Di satu titik, mereka dapat sampai ke kesimpulan dingin; Paduka Raja itu sekarang beban.

Kalau raja mulai sakit, melakukan kecerobohan, tak disukai, atau membuat masalah terlalu besar, maka lingkaran dalam memiliki semua alat untuk 'mengamankan keadaan.' Dan sejarah penuh dengan pemimpin yang jatuh bukan karena rakyat, tetapi karena orang-orang terdekatnya sendiri secara perlahan mulai angkat tangan.

Yang paling mengenaskan, hampir semua pemimpin yang jatuh disebabkan hal ini selalu merasa 'dikhianati'. Padahal mereka sendiri yang membuat sistem yang memungkinkan pengkhianatan itu terjadi.

Kini balik ke judul kita, duhai tuan..

Apakah Paduka Raja orang jahat? belum tentu

Apakah dia berniat merusak kerajaan? Juga belum terang bagi kita

Namun satu hal yang jelas: sistem yang dia pilih hari ini adalah sistem yang mengurung dia dari kenyataan. Dan kalau tuan bertanya "Siapa yang diuntungkan dari raja yang hidup di dalam gelembung macam ini?"

Jawabannya bukan Tuan Mentri Muda, bukan pula Hulubalang, mereka cuma mandor. Yang diuntungkan itu ialah:

  1. Mereka yang punya akses khusus
  2. Mereka yang faham alur untuk masuk
  3. Mereka yang dapat berbisik dengan lancar
  4. Mereka yang bisa mengatur kabar berita sebelum kabar itu sampai ke telinga raja

Adapun dengan rakyat kita, hanya dapat menonton di TV atau media lainnya.

Masalahnya, kerajaan ini terlalu besar dan terlalu rumit jika dipimpin dari balik kaca tebal. Tuan boleh membangun tembok setinggi apapun. Tuan boleh pasang pintu seketat apapun. Namun kenyataan yang berlaku, selalu ada cara untuk masuk. Kalau bukan melalui laporan maka ia akan masuk melalui malapetaka. Dan malapetaka itu tidak dapat ditutup oleh ajudan manapun.

Jadi judul "Paduka di Kurung" bukan berarti beliau ditahan secara zahir, melain lebih jahat dari itu, dia dikurung oleh sistem yang ia buat sendiri.

Dikurung oleh ketakutannya Dikurung oleh syahwatnya pada kendali penuh Dikurung oleh pandangannya bahwa dunia ini lebih berbahaya daripada yang sebenarnya.

Sesungguhnya yang berbahaya bagi seorang pemimpin itu bukanlah musuh dari luar. Karena yang paling berbahaya itu ialah apabila seorang pemimpin berhenti mendengar kenyataan. Dan sejarah selalu menagih harga yang mahal untuk itu.


======

Disunting dari kiriman FB Kata Kita, kiriman asli oleh IG Balqis Humaira.

======

Catatan kaki oleh Admin:

[1] Pada tahun 1998 terjadi kerusuhan yang berujung mengundurkan diri Sang Raja Gaek, raja itu ialah mertua dari raja sekarang. Ia dipersalahkan oleh sang mertua, dikeluarkan dari keasykaran, dijauhi oleh para Orang Besar, dan dengan susah payah membangun usaha perniagaan bersama adik, keluarga, dan kawan-kawannya yang tersisa. Kenaikannya ke tampuk kekuasaan merupakan perjuangan dan penantian yang panjang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...