Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2024

Iskandar Zulkarnain Nenek Moyang Bangsa Melayu

  Kisah tentang Sultan Iskandar Zulkarnain, sebagaimana diceritakan dalam Alquran (QS. Al-Kahfi: 83-98) sudah banyak dikaji dan ditulis orang. Cerita heroik sang penakluk yang menguasai wilayah dari ujung Timur hingga ujung Barat itu, tak hanya popular di kalangan umat Islam saja, tapi juga terkenal di kalangan non-muslim baik di Timur maupun Barat. Banyak ahli dan peneliti sejarah sepakat bahwa kisah tentang Iskandar Zulkarnain sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Alquran itu memang benar adanya. Ini real history, real story; bukan dongeng, bukan pula fiksi. Meski demikian, satu hal yang sampai sekarang masih berbalut misteri dan terus dipertanyakan dan kerap mengundang perdebatan sengit adalah terkait sosok Iskandar Zulkarnain itu sendiri. Apakah sosok Zulkarnain yang disebutkan dalam Alquran sama-dengan Alexander the Great (Alexander yang Agung) seperti kerap dipahami oleh kalangan Barat? Soalnya, dalam penjelasannya dan peninggalan sejarahnya, meninggalkan jejak dan bukti-bu...

𝗥𝗨𝗥𝗨𝗔𝗛𝗡𝗬𝗢 𝗜𝗟𝗜𝗠𝗨 𝗔𝗠𝗕𝗨𝗜𝗛 𝗠𝗔 𝗔𝗠𝗕𝗨𝗜𝗛 𝗭𝗔𝗠𝗔𝗡 𝗦𝗔𝗜𝗦𝗨𝗔𝗞...

Pict: Pinterest oleh: Rita Desfitri Lukman Dulu bana... Samaso urang tuo-tuo awak di Minangkabau masih ba konco palangkin jo alam takambang, katiko udaro di iruik masih mambuek dado taraso lapang, katiko aia di banda-banda masih janiah tarang, katiko rimbo masih labek dan binatang hutan hiduik tanang. Karano katiko itu... Urang masih babaju kain goni, masih manyasah jo buah karikia (atau kudian nan agak moderen manyasah jo sabun tombak), di malam hari masih basuluah daun karambia, ba lampu masih jo dama sumbu kain, main di tanah masih jo kaki ayam, manenteng aia dari pincuran masih jo parian , rang gaek-gaek masih maisok jo daun anau, amak-amak masih mambungkuih sagalonyo jo daun taleh atau daun pisang, apak-apak masih mangabek jo tali nan diambiak dari sapiahan palapah pisang, nenek-nenek masih manyimpan barang-barang di tampek dari anyaman rotan, uni-uni masih manareka jo galuak nan ba baka, katiko uda-uda nan ka main kasti manyuruah adiak-adiak padusinyo ma anyam bola dari daun kar...

Tiga Masa Dalam Kehidupan

Pict: laughingsquid 𝗥𝗔𝗦𝗢 𝗝𝗢 𝗣𝗔𝗥𝗘𝗦𝗢: 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗚𝘂𝗿𝗶𝗻𝗱𝗮𝗺 𝗧𝗶𝗴𝗼 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻 ( 𝘀𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 ) balai lamo | Sebelum masyarakat Minangkabau mengenal dan menganut agama Islam, banyak nagari yang berdiri, kerajaan yang mencari kuasa, makna dari filsafah adatnya adalah: 𝘈𝘥𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘥𝘰 𝘢𝘭𝘶𝘢. 𝘈𝘭𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘥𝘰 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘪𝘬 𝘫𝘰 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯. 𝘙𝘢𝘴𝘰 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘰 𝘯𝘢𝘪𝘢𝘬 – 𝘗𝘢𝘳𝘦𝘴𝘰 𝘣𝘢𝘸𝘰 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 Kemudian pada awal abad ke 19 [1] sesuai dengan perkembangan, maka dibuatlah kesepakatan yang sangat mendasar sekali antara ninik mamak (kaum Adat) dengan alim ulama ( kaum paderi) di bukit Marapalam. Dibukit Marapalam inilah terpatri dimaklumkan: 𝘈𝘥𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘚𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬. 𝘚𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘣𝘶𝘭𝘢𝘩 Namun adat tetap bersandarkan: 𝘙𝘢𝘴𝘰 𝘣𝘢𝘰 𝘯𝘢𝘪𝘢𝘬 𝘗𝘢𝘳𝘦𝘴𝘰 𝘣𝘢𝘰 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘛𝘢𝘳𝘪𝘮𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘰 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘢 𝘗𝘢𝘳𝘦𝘴𝘰 𝘣𝘢𝘯𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘰 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮...

Aneuk Jamee: TAPAK TUAN, ACEH SELATAN

  Pict: serambi news FB Buyuang Mudo | Tapak Tuan, Aceh Selatan, ialah salah satu wilayah asimilasi orang Minangkabau dengan Aceh yang kemudian membentuk etnis/suku Aneuk Jamee. Dalam Adat Aceh disebutkan mengenai kedatangan orang-orang Minangkabau ke pantai barat Aceh. Mereka pada umumnya datang dari Pariaman, Pasaman, dan Lubuk Sikaping. Tatkala timbulnya perang Padri di Minangkabau (Sumatera Barat) pada 1805- 1836, orang-orang Minangkabau yang menghindarkan diri dari malapetaka perang saudara itu, datang ke pesisir barat Aceh (Pasir Karam), berdiam di situ dengan membuka perkebunan lada. Mereka umumnya berdiam di sepanjang pantai seperti ditemui di Tapak Tuan dan Meulaboh.

Kisah Orang Rantai Dari Jawa di Aceh_1

  Pict: tengku puteh ASPEK.ID, JAKARTA   – Perang tidak hanya melibatkan pertempuran para serdadu di medan laga. Ada kubu lain yang mempersiapkan logistik untuk bertempur. Mereka adalah orang-orang yang tidak hadir di laga pertempuran. Namun tanpa orang-orang yang pikul logistik, perang di mana pun akan kalah. Perang butuh logistik peluru atau makanan. Begitulah dalam perang Aceh-Belanda  (1873-1904), Belanda mengikutsertakan 2.100 tentara pribumi dari Jawa, 1.000 orang hukuman sebagai pekerja, dan 220 di antarnya wanita. Keberadaan mereka di Aceh adalah sebagai tukang masak, tukang bawa alat perang dan sebagainya. Di Aceh, orang tahanan itu bekerja dengan kaki dirantai. Maka disebut lah manusia rantai (orang rantai). Belanda menyebutnya  beer  atau  beeren . Orang Aceh memanggilnya simeuranté . Orang-orang yang dirantai. Orang-orang Jawa yang dirantai ini disebut juga TPO (Tenaga Pembantu Operasi). Kuli-kuli yang diberangkatkan ke...

Kisah Orang Rantai Dari Jawa di Aceh_2

Picture: afzan yusuf Baca Bagian Pertama DISINI ASPEK.ID, JAKARTA – Zentgraaff mencatat, pekerja paksa (Beer) dari Jawa di Aceh, kadang bersikap licik dan culas untuk sedikit mengurangi beban kerjanya. Mereka diadu domba dengan mengangkat seorang mandor dari kalangan beer itu sendiri untuk mengawasi dan menghukum mereka-mereka yang licik. Hal ini kerap terjadi pada pekerja paksa rombongan transport yang mengusung logistik Marsose ke pedalaman Aceh. Suatu ketika, Letnan Jenae pada 1905 memimpin dua pasukan infantri bersenjata 40 karaben dengan bayonet, mengawasi 400 pekerja paksa dari Kuala Simpang Aceh Timur ke Penampaan, Blang Kejeren Aceh Tenggara. Barisan pekerja paksa memikul barang-barang yang panjangnya melebihi satu kilometer dan diawasi oleh 40 tentara. Jeane menyebutkan 10 pekerja paksa diawasi oleh seorang tentara bersenjata.

Mengenal Raja Sulaeman Perantau Muslim asal Minang, Pendiri Kota Manila

  Siapa sangka Islam pernah berjaya di Filipina selama beberap dekade, bahkan sempat menjadi agama mayoritas dinegara bekas koloni bangsa Spanyol itu. indonesia.go | Namun berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 menyebutkan penduduk Filipina pemeluk agam Islam hanya tersisa sekitar 5,1 juta Muslim atau 11 persen dari total keseluruhan populasi negara tersebut.  Ternyata tidak banyak yang tahu jika tersebarnya agama Islam di Filipina dibawa oleh putera Indonesia asal Minangkabau, Raja Sulaeman. Catatan sejarah menyebut sebelum kedatangan bangsa Spanyol, Filipina berada di bawah kekuasaan Raja Sulaeman dari Minangkabau yang merupakan pendiri Filipina. Di sana, ia telah menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok negeri. Seperti yang diungkapakan Mochtar Naim dalam disertasinya, 'Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau' tahun 1974, Mochtar Naim menemukan jejak rantau orang Minangkabau di Filipina.

Tempat Pendaratan Nenek Moyang Cina di Malaya

  Yang ini saya sokong 100%. FB Mohd Luttfi | Sejarah pendaratan nenek moyang ‘warganegara’ ini perlu sentiasa diingati dan diberi peringatan. Supaya cucu cicit yang datang kemudian kenal dan faham asal usul mereka. Maklumat mengenai tapak ini perlu dimasukkan dalam sukatan pelajaran sekolah menengah Malaysia. Sebab ia berkait rapat dengan salah satu tuntutan yang dipaksakan oleh penjajah British sebagai syarat meng‘anugerah’kan kemerdekaan kepada negara.

Mohammad Syarif: Pencetus Gagasan Pembentukan Korps Marsose

Pada tanggal 6 Agustus 1897, sebuah unit Korps Marechaussee menyerang bentang kota Soekoen (dekat Sigli) dan membunuh lebih dari 57 orang Aceh. Hanya beberapa menit kemudian setelah aksi mereka berpose seraya menginjak mayat para syuhada Aceh untuk fotografer Christiaan Benjamin Nieuwenhuis. Berita kemenangan segera dikirim ke Batavia dan Belanda.   KORPS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA tengkuputeh | Korps Marechaussee te Voet , di Indonesia dikenal sebagai Marsose, adalah satuan militer yang dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda oleh KNIL (tentara kolonial) sebagai tanggapan taktis terhadap perlawanan gerilya di Aceh. Korps ini tidak ada ikatan dengan  Koninklijke Marechaussee  di Belanda. Marsose ditugaskan di Hindia Belanda, antara lain dalam pertempuran melawan Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara, yang pada tahun 1907 berhasil mengalahkan dan menewaskan Sisingamangaraja XII. Pada Pe...

𝗔𝗕𝗗𝗢𝗘𝗟 𝗖𝗛𝗔𝗟𝗜𝗗 𝗦𝗔𝗟𝗜𝗠 (𝟭𝟵𝟬𝟮-𝟭𝟵𝟴𝟱): 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗦𝗶𝗺𝗽𝗮𝘁𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗣𝗞𝗜 𝗸𝗲 𝗣𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗯

  FB Wedia Purnama | Koto Gadang mungkin nagari yang penuh rahasia, karena orang-orang keturunan warga nagari di tubir Ngarai Sianok itu bermacam ragam kulikat intelektuilnya. Salah seorang di antaranya adalah 𝗔𝗯𝗱𝗼𝗲𝗹 𝗖𝗵𝗮𝗹𝗶𝗱 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗺, adik Haji Agus Salim. Chalid lahir di Tanjung Pinang pada 24 November 1902. Saat itu ayahnya, Sutan Muhammad Salim, sedang bertugas di kota ‘dollar’ Kepulauan Riau itu. Pria asal Koto Gadang itu adalah seorang 𝘩𝘰𝘰𝘧𝘥𝘥𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢 dalam jajaran Departemen BB Belanda yang sudah ditugaskan di banyak tempat, termasuk di Padang dan Medan. Chalid tidak sempat mengenal ibunya karena sang ibu meninggal ketika ia masih bayi. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Widna Roemaniah. Chalid 13 orang bersaudara, tapi hanya 7 orang yang berumur panjang, yang tertua adalah Haji Agus Salim yang kemudian menjadi diplomat kawakan Indonesia, republik balita yang baru lepas dari hisapan mencucut ‘𝘱𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘬 𝘬𝘶𝘥𝘶𝘢𝘯𝘨’ Belanda. Chalid mengatakan dal...

sɪ ᴘᴀᴛᴀɪ, ʙᴀɴᴅɪᴛ ʙᴇʀʜᴀᴛɪ ᴍᴜʟɪᴀ ᴅᴀʀɪ ᴘᴀᴅᴀɴɢ

  Pict: topsumbar 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗶 𝗣𝗔𝗧𝗔𝗜 (𝘀𝗶 𝗣𝗜𝗧𝗨𝗡𝗚) 𝗡𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗴𝗮𝗹𝗮 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗥𝗔𝗝𝗢 𝗝𝗔𝗠𝗕𝗜 FB Wedia Purnama | Jauh sebelum zaman pergerakan kemerdekaan, kota Padang pernah dihebohkan dengan keberadaan tokoh yang dianggap menjadi pahlawan bagi rakyat kecil, namun penjahat bagi kalangan bangsawan dan penjajah. Namanya adalah 𝘀𝗶 𝗣𝗮𝘁𝗮𝗶. Sejarawan, Rusli Amran (1922-1996) dalam 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘸𝘢𝘺𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘋𝘶𝘭𝘶 mengatakan, si Patai adalah bandit paling ditakuti dan paling dicari oleh penjajah Belanda pada awal abad 20 an. Si Patai, juga merupakan pimpinan gangster bernama 𝘚𝘢𝘳𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘋𝘫𝘪𝘯 yang sangat ditakuti oleh masyarakat dan juga pemerintah kolonial yang berkuasa waktu itu. Dalam rombongan Si Patai ini terdapat sejumlah nama-nama bandit tenar yang ada di Padang, sebut saja namanya Si Sampan, Palalok dan Buyuang Tupang.

Revolusi Fisik 1947: Gelombang Pengungsi Sumatera Timur ke Aceh

  Mengapa ratusan ribu penduduk Sumatera pindah ke Aceh pada masa revolusi? Oleh Iskandar Norman. FB Benny Blis | Untuk menjawab pertanyaan ini saya gunakan referesi buku Modal Perjuangan Kemerdekaan. Buku ini ditulis oleh jurnalis dan pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasjah Talsya, yang setelah Indonesia merdeka menjabat sebagai Kepala Seksi Publikasi Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Dalam buku itu Talsya menjelaskan, gelombang pengungsi dari beberapa daerah di Sumatera sudah memasuki Aceh sejak pertengahan tahun 1947. Namun puncaknya terjadi pada akhir tahun 1947 dan awal tahun 1948. Pada 31 Desember 1947, rakyat dari beberapa daerah di Sumatera yang sudah dikuasi oleh Sekutu/NICA, mengungsi ke Aceh untuk menghindari perang. Para penduduk yang mengungsi tersebut berasal dari beberapa daerah, diantaranya dari Binjai, Tanjung Pura, Stabat, Pangkalan Brandan, Pancur Batu, Tanjung Morawa, Lubuk Pakam, Simpang Tiga, Tebing Tinggi, Pemantang Siantar, Berastagi, d...

Baju Kuruang Minangkabau

  Baju Kurung (Min. Baju Kuruang) merupakan pakaian perempuan Melayu. Bagi masyarakat Melayu yang egaliter pakaian ini dikenakan oleh semua perempuan Melayu tak memandang status sosial. Yang membedakan hanyalah pada bahan, corak, motif, tenunan, sulaman, serta pasangannya ( kodek /sarung). Baju kurung merupakan pakaian yang longgar sehingga menyembunyikan bentuk tubuh perempuan yang menggenakannya. Lengannya ada yang panjang sampai ke tangan ada yang singkat hanya sampai pergelangan tangan. Panjangnya sampai ke bawah lutut, dipadukan dengan  kodek  (ada juga yang mengatakan  lambak )  berupa kain sarung. Pada kegiatan perhelatan (kenduri/pesta/ritual) sarung yang dipakai ialah Songket. Selain dipadu padankan dengan sarung, kelengkapan baju kurung yang lain ialah Selendang. Selendang digunakan sebagai tingkuluak atau kerudung (hijab) untuk menutupi aurat pada bagian kepala. Namun terdapat beberapa perempuan yang hanya menggantungkan selendang tersebut di leh...

Nasi Kandar: Hidangan Halal

  FB Sarah Zakaria | Bila kita tak pulihara dan perkasa sejarah kita sendiri, maka senanglah pihak lain memanipulasi sejarah kita dan membodohkan kita. Konon Francis Light yang buka Pulau Pinanglah, konon Yap Ah Loy yang buka Kuala Lumpurlah, konon Melayu pendatang di Tanah Melayulah. Asal orang putih atau yang bukan Melayu yang cakap, kita julang kata-kata dia tu. Kalau orang Melayu yang cakap, terus kau pandang lekeh konon tak ada kredibiliti. Kita jadi 'inferiority complex'. Ok, sekarang masuk bab perihal gambar ni. Gambar ni diambil pada tahun 1936 di Pelabuhan Pulau Pinang. Ada pemandangan orang meniaga nasi kandar, dan kapal layar dekat situ. Aku cukup tak setuju nasi kandar dibabikan.

Agama Nabi Muhammad Sebelum Menjadi Nabi

  Sebaik-baik manusia ialah Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul oleh Allah SWT, beliau sudah memberikan contoh keteladanan yang sangat baik di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang pun memberinya julukan "Al-Amin", yang artinya adalah orang yang dapat dipercaya.' Kebaikannya tidak hanya diperlihatkan kepada sesama, tetapi juga memperlihatkan hubungannya kepada Sang pencipta yakni hubungannya kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW hanya menyembah kepada Allah SWT. Sebelum beliau menerima wahyu pun, beliau sudah membenci perbuatan yang berkaitan dengan kesyirikan.

Perjanjian Pangkor-Perak

  FB Sarah Zakaria | Hari ini (20/01/24) 150 tahun yang lalu, termeterainya Perjanjian Pangkor yang menjadi pembuka jalan kepada penjajahan British di semenanjung Tanah Melayu. Sejak sekian lama, Perak dikenali sebagai ‘lubuk’ terbesar bijih timah di Alam Melayu. Namun di kurun ke-19, perniagaan bijih timahnya terjejas dek pertelingkahan kumpulan kongsi Cina, Ghee Hin & Haisan hingga tercetus Perang Larut bermula 1861. Ketidak stabilan dirumitkan lagi dengan kemelut perebutan kuasa. Apabila Sultan Ali mangkat pada 1871, Raja Muda Abdullah yang sepatutnya naik takhta tidak hadir ke upacara pengkebumian Sultan Perak ke-24 itu. Raja Bendahara Ismail, yang memiliki alat-alat kebesaran diraja, diangkat menjadi Sultan Perak yang baharu. Raja Abdullah tidak puas hati, ketika sama mahu menamatkan kemelut kumpulan kongsi, baginda meminta bantuan British.

Wilayah Minangkabau

  RANAH MINANGKABAU, adalah: Nan salilik Gunuang Marapi, artinya luhak nan tigo, yakni Luhak Tanah Data, Luhak Agam, Luhak 50 Kota Saedaran Gunuang Pasaman, artinya daerah sekeliling Gunung Pasaman Sajajaran Sago jo Singgalang, artinya seputaran daerah dan nagari yang terletak disekeliling Gunung Singgalang dan Gunung Sago.