Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Bung Hatta & Sang Bunda (1949)

Bila kita membolak-balik majalah dan koran-koran lama di Leiden University Library, sering ditemukan foto-foto yang unik yang jarang, bahkan tidak pernah terlihat sebelumnya. Kali ini kami turunkan lagi satu foto yang mungkin belum pernah dilihat oleh pembaca setia rubrik ‘Minang saisuak’: Bung Hatta dan bundanya,  Salecha binti Hadji Iljas gelar Bagindo Marah . Kiranya tidak salah komentar sumber yang memuat foto ini: “ Sungguhpun gambar W.P. [Wakil Presiden] Hatta telah lebih dari sekali dimuat pada halaman depan madjallah ini, beliau bergambar bersama Ibunja tidak sering dilihat orang. Dalam lima hari Drs. Moh. Hatta berada dikota Djakarta dari pengasingan di Bangka, Ibunja sengadja didatangkan dari Sumedang supaja dapat bersama dengan anaknja ” ( Madjallah Merdeka , No. 9, Th. II, 7 Mei 1949:2).  

Muballigh muda Minang ber-blangkon Jawa (1931)

[caption id="" align="aligncenter" width="450"] Picture: https://niadilova.wordpress.com [/caption] Konteks foto klasik yang kami turunkan kali ini adalah Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta (1931). Dalam foto ini kelihatan Buya Hamka (duduk, kedua dari kiri) yang memakai pakaian Jawa, lengkap dengan  blangkon -nya, bersama beberapa rekannya dari Minangkabau. Jarang-jarang, bahkan mungkin belum pernah orang Minang melihat Buya Hamka tampil dalam pakaian Jawa. Dalam sumber rujukan ini Hamka menulis bahwa dalam Kongres Muhammadiyah ke-20 itu, utusan Sumatera Barat datang ke Yogyakarta dengan beberapa orang muballigh mudanya yang penuh semangat. Mereka adalah Hamka (waktu itu masih berusia 23 tahun), M. Zain Djambek, Radjab Ghani, H.M. Chatib dan Kari Maradjo. Utusan Surakarta diwakili oleh muballigh-muballigh mudanya juga: Muljadi Djojomartono, Sjamsul Hadiwijoto, Siswosudarmo, Asnawi Hadisiswojo, dll. Dalam kongres itu utusan dari berbagai daerah mema...

Djamin Abdul Moerad

[caption id="" align="aligncenter" width="322"] Djamin Abddoel Moerad[/caption] Rubrik   Minang saisuak  kali ini menurunkan foto seorang jurnalis Minangkabau di tahun 1920an. Namanya  Djamain Abdul Moerad . Beliau adalah Redaktur  Pewarta   Islam , sebuah bulanan ( monthly ) yang diterbitkan dengan maksud ‘ Oentoek   keperloean Oemoem ’. Haluan  Pewarta Islam  adalah ‘Agama Islam dan tafsir Quran’. Di sampul dalam belakang buku Djamin (lihat keretangan di bawah) disebutkan:  Warta   Islam adalah “soerat chabar boelanan jang mementingkan Islam”. Merujuk kepada catatan Ahmad Adam dalam bukunya  Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat, 1900-1941  (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2012:167),  Pewarta   Islam  mungkin terbit pada 1923 dan bertahan sampai sekitar tahun 1926.