Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Kurangi yang Rendah agar Sama Tinggi dengan Yang Tinggi

  Pict: kato kato KURANGI NAN RANDAH NAK SAMO TINGGI JO NAN TINGGI OLeh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #33 | “Apa judul ciloteh hari ko pak Saiful Guci, karena mintak di foto dakek timbangan ini?" Tanya Junaidi Mungkin Junaidi belum mengetahu arti dari sebuah mamangan yang berbunyi “ Kurangi nan randah nak samo tinggi jo nan tinggi, tambah nan tinggi nak samo randahi jo nan randah ." (kurangi yang rendah agar sama tinggi dengan yang tinggi, tambah yang tinggi agar sama rendah dengan yang rendah). Apabila dengan logika bahasa biasa, tidak mungkin bisa dipahami arti mamangan itu karena terdapat ketidak serasian konstruksi makna kata yang membentuk mamangan itu. Menurut logika biasa, sesuatu yang berada dalam keadaan rendah tidak mungkin dikurangi lagi untuk bisa sama dengan yang tinggi. Demikian juga dengan penggalan kedua, sesuatu yang sudah berada dalam keadaan tinggi tidak mungkin lagi ditambah untuk bisa sama dengan yang rendah.

DIMANA PULAU LANGKAPURI DALAM TAMBO DARAH?

  Oleh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #31 | Pak Eri Yusmi dalam sebuah komentarnya bersama pak Afrion Sulasmantri dalam status CTS #27: BILO ADO SUKU, SASUKU, SAPASUKUAN ?. “Iko juo Tambo Tuo Gunuag Marapi ko sebagai Bantahan dari Tambo Tulisan Darah yang di Robah oleh Kaum penjajah yang tersimpan di Maseum Nasional sekarang ini. Katanya Nenek Moyang orang Minang dan Minangkabau asal muasalnya di Pulau #LangkahPuri perbatasan #Palembang dan #Jambi . Asal muasalnya #DapuntaHyang .. Perbaikan yang sebenarnya adalah Bukan #PulauLangkapuri tapi yg Benar itu adalah #PulauLanggapuri itulah yang dikatakan Puncak Gunung Marapi itu. Buktinya aslinya ada pada Tulisan Arab Pegonnya. Bukan Tulisan dari bahasa Belanda Robahan.. “ Tulis Eri Yusmi

NAGARI KOTO TUO DALAM RANGKAIAN SEJARAH PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI)

  Pict: indonesia kaya indonesia kaya Melalui Tulisan Kita Mengenal Sejarah Oleh: Saiful. SP Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #33 | Sejak tahun 2010 Nagari Koto Tuo Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota memperingati sebuah rangkaian sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dari 19 Desember 1948 – Juli 1949. Pada tahun 2024 ini, kembali anak Nagari Koto Tuo bersama pelajar melaksanakan kegiatan napak tilas terhadap tempat-tempat yang bersejarah di nagarinya. Peristiwa ini merupakan rangkaian sejarah pada zaman PDRI 75 tahun silam, dimana setelah Kota Payakumbuh di bumi hanguskan 23 Desember 1948 dan Belanda membuat posnya di rumah engku guru Saidi di Simpang Jalan ke Rumah Sakit Umum Payakumbuh, pos lain di rumah Dt. Patiah Baringek Balai Baru (sekarang Rumah Adat H.Marlius). Sebuah peristiwa yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Kenagarian Koto Nan Gadang adalah, pada hari Jumat tanggal 11 Februari 1949 dimana sebelum shalat Jum'at serdadu Belanda mengepu...

PEMEKARAN SUKU KOTO PILIANG

  Pict: integritas media integritas media Oleh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #29 – “Apakah benar Koto Piliang itu adalah sebuah suku ?” tanya Junaidi. Kemudian saya jawab “ untuk menjawab pertanyaan ini Junaidi harus mengetahui dulu perbedaan “Koto Pilang” sebagai kelarasan dengan “Koto Piliang” sebagai suku. Koto Piliang Sebagai Kelarasan Minangkabau dari dulu hingga sekarang mempercayai bahwa ada dua tokoh yang menjadi pendiri dari dua kekuasaan di Minangkabau. Beliau adalah Datuk Ketumanggungan yang mencetuskan Keselarasan Koto Piliang dan Datuk Perpatih Nan Sabatang yang mencetuskan Keselarasan Bodi Caniago. Koto Piliang merupakan sebuah keselarasan yang dicetuskan oleh Datuk Ketumanggungan yang merupakan keturunan langsung dari Sultan Sri Maharajo Dirajo. Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang adalah dua bersaudara satu ibu berlainan ayah. Ayah Datuk Katumanggungan adalau suami pertama ibunya (Indo Jati) yang berasal dari keturunan raja, Land...

Kapan ada Suku, Sasuku, Sapasukuan?

  Pict: kato BILO ADO SUKU, SASUKU, SAPASUKUAN? Oleh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #27 | “Saya sangat suka membaca catatan pak Saiful Guci, dan ada pertanyaan kami. Kapan adanya suku di Minangkabau? dan apakah benar awal suku itu dari Nagari Pariangan yang terdiri dari empat buah suku, yaitu: Koto, Piliang, Bodi, dan Caniago ?” Tanya Junaidi “Nah pertanyaan Junaidi, apakah akan saya jawab dengan sabana carito [Kisah yang benar], atau dengan carito sabananyo [Kisah yang sesungguhnya]. Jikok sabana carito harus kita ikuti cerita dongeng,[1] tapi bila dijawab dengan Carito sabananyo harus dengan data dan keterangan yang jelas “jawab saya. “Saya maunya cerita yang benar dengan keterangan jelas “ ujar Junaidi. “Jika kita jawab asal suku di Minangkabau adalah Koto, Piliang, Bodi dan Caniago, itu berarti Junaidi membaca buku Tambo atau buku Budaya Alam Minangkabau (BAM) terbitan tahun 80an yang dipelajari dulu, apalagi dikaitkan dengan cerita Tambo Datuk Katumanggung...

PERANAN ORANG MINANGKABAU DARI BAHASA MELAYU KE BAHASA INDONESIA

  Pict: Murni Taher Oleh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #25 | Penggemar Berat Saiful Guci engku Eri Yusmi , menulis dalam komentar “Kata Sumando ini memang Bahasa #Melayu Kuno atau #BahasaMinangAsli engku Haji.. Sebab Melayu ini tidak punya pembedaharaan kata dan Bahasa.. Orang Minang Asli saja Mengaku #Melayu ngimana tu engku Haji mau meluruskan sejarah engku Haji.. Batambah kacau jadi nyo sejarah tu pak Haji., dalam status CTS #23 : SUMANDO - ORANG YANG MENUMPANG . Perkenalan pertama adanya pemakaian bahasa Melayu adalah dengan ditemuinya inskripsi-inskripsi disekitar Kota Palembang, di Pulau Bangka pertengahan abad ke-7. Inskripsi tua itu ditulis dalam bahasa yang dekat sekali dengan bahasa Melayu bila dibandingkan dengan pelbagai bahasa lain rumpun bahasa Austronesia. Oleh para ahli bahasa disebut sebagai bahasa Melayu Kuno (Andries Teeuw, 1979). Ini dipegang sebagai petunjuk bahwa bahasa Melayu telah dipergunakan pada daerah yang tersebar luas. Waktu p...

MARAWA TIGA WARNA SIAPA YANG PUNYA?

  Pict: pasbana pasbana Oleh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #24 | Penggemar Berat Saiful Guci engku Eri Yusmi , menulis dalam komentar “ Iko tigo warna iko siapo punyo? nan Hitam sebagai sipangka, Si pokok, asa mulo. Merah Siapo nan punyo sebagai nan di Tongah dan nan Kuniang Siapo nan punyo sebagai Nan Bonsu, Ujung, Ekor, Kocik, Ketek, ," Warna hitam, merah dan kuning, orang Minang mengenalnya dengan “Marawa”. Marawa adalah bendera tiga warna di Alam Minangkabau terdiri tiga bagan vertikal yang menampilkan warna: hitam, merah dan kuning. Bagaimana penempatan warnanya? Apabila warna hitam ada di pangkal tiang, kemudian merah di tengah dan kuning di pinggir itu menandakan marawa rang Luhak Tanah Datar. Bila susunannya warna hitam, kuning ditengah dan merah di pinggirnya menandakan marawa rang Luhak Agam. Bila susunannya warna kuning, merah ditengah dan hitam di pinggirnya menandakan marawa rang Luhak Limo Puluah, namun sudah lama saya berdinas di Luhak Limo Pul...

SUMANDO - ORANG YANG MENUMPANG

  Pict: etnis etnis Oleh: Saiful Guci Dt. Rajo Sampono Ciloteh Tanpa Suara #23 | “Saya berasal dari Jawa, orangtua Jawa, akan menikah dengan orang Minang. Apakah saya disebut Sumando juga?.” Tanya Wagiman kepada saya. “Tentu saja Wagiman, setelah beristri orang Minang akan menjadi Sumando dalam persukuan di Minang. Karena Sumando, dalam bahasa Minang artinya menantu laki-laki. Kata Sumando berasal dari bahasa Malayu Kuno ( su = badan, mando dari kata mandah = menumpang sementara). Bukan lelaki dari Jawa saja yang memperistri orang Minang yang disebut menumpang, saya saja yang orang Minang asli asal Nagari Pandai Sikek juga dianggap menumpang dalam kaum Istri saya Suku Koto di Jorong Pulutan Nagari Koto Tuo, Limo Puluah Koto. Karena dalam struktur adat Minang, kedudukan suami sebagai orang menumpang di rumah istrinya (Sumando), perempuan tempat menumpang di sebut “ mandan ” dan keluarga pihak lelaki menyebut istri dari saudara lelakinya “ pasumandan ”. Sebagai seorang Sumando le...

SIAPAKAH MAHARAJO DIRAJO MENURUT TAMBO

  Pict: the asian parent the asian parent Oleh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #22 – Tambo adalah semacam sejarah lama tentang Minangkabau yang diwariskan secara lisan dan turun temurun dari mamak kepada kemenakan secara berkesinambungan. Tambo sebagai warisan lisan tak mungkin sempurna, karena tidak dapat mengatasi ruang dan waktu secara objektif. Disamping itu data dan fakta sejarah yang diturunkan secara lisan sudah barang tentu akan mengalami perubahan sedikit demi sedikit. Perubahan itu dapat terjadi oleh si pewaris atau sipenerima warisan itu yang pada gilirannya nanti akan mewariskan pula kepada penerusnya. Didalam Tambo diceritakan tentang asal-usul Minangkabau, asal usul orang Minangkabau, adat yang berlaku di Minangkabau, sistem pemerintahan Nagari, aturan kehidupan sehari-hari. Pendek kata seluruh yang berhubungan dengan kehidupan orang Minangkabau diceritakan di dalam Tambo Minangkabau. Tambo, berbeda dengan kitab Negarakertagama dan Paraton, jumlahnya sangat banyak. ...

MALAKOK DIMINANGKABAU

  Pict: tarbiahsentap tarbiahsentap Oleh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #20 - Kemarin saya kedatangan tamu kawan lama bernama Hermon, seorang Penghulu Adat dan orang berpangkat, kami berdiskusi dan berciloteh bersuara, topiknya adalah dia akan berminantu di bulan Agustus, istrinya orang Sunda dan dibawa kekampung halamannya. Dan anak perempuanya akan berumah tangga, calon menantunya orang Palembang. Dan bagaimana caranya supaya Istri dan anak menantunya di akui sebagai orang Minangkabau. Kemudian saya mulai bercerita sesuai dengan latar belakang ilmu saya sarjana pertanian, kita ambil dalam “ alam takambang jadi guru ” kita pakai ilmu menempel atau yang juga dikenal dengan sebutan okulasi ialah sebuah metode untuk menghasilkan tanaman baru dengan cara menempelkan tunas muda pada ranting atau batang tanaman induk. Tujuan dari okulasi ialah untuk menggabungkan dua sifat tanaman yang berbeda dari dua jenis tanaman. Di Minangkabau disebutkan dengan “malakok”. Definisi malakok dalam...

MASA PURBA MINANGKABAU DI TEROPONG DARI LUHAK LIMOPULUAH KOTO

  Pict: ketik news ketik news Oleh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #19 - Jika saya menulis topik sejarah, ada saja yang bertanya. “ Iko carito sabananyo atau sabana carito ” (ini cerita sebenarnya atau hanya cerita) hal ini, mereka tau saya bukan orang sejarah tetapi berlatar Sarjana Pertanian, tetapi sering membuatkan bahan untuk bapak dr. Alismarajo Dt.Sorimarajo Mantan Bupati Limapuluh Kota. Kali ini saya ingin menulis Masa Purba Minangkabau di teropong dari Luhak Limo Puluah Koto, barangkali meliputi kurun waktu terpanjang dalam sejarah Minangkabau, tetapi justru merupakan sejarah Minangkabau yang paling kabur gambarnya. Kekaburan gambar zaman purba Minangkabau ini bukan saja disebabkan kurangnya bukti peninggalan sejarahnya, melainkan juga bukti sejarah yang sampai kepada kita belum banyak yang dapat diceritakan tentang sejarah Minangkabau secara menyeluruh. Dimaksudkan dengan zaman purba Minangkabau adalah sejarah Minangkabau “dahulu” atau” zaman dahulu”, yaitu zaman sejara...

BERAKHIRNYA KERAJAAN PAGARUYUANG

  Pict: kepingan minangkabau kepingan minangkabau Oleh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #18 - Waktu kubuka FB dalam kotak percakapan tertulis “Engku Saiful Guci, bapak mempunyai buku Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang (Sinar Harapan, Jakarta 1981) yang ditulis Rusli Amran. Kalau punya saya pinjam mau difoto copy” tulis Juniwal. “Saya memang mempunyai buku Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, silakan datanglah ke rumah. Oh..ya apa yang Juniwal cari dengan buku Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang itu“ tulis saya. “Saya butuh untuk tugas sejarah, mencari informasi tentang apakah peristiwa Koto Tangah yang melibatkan keluarga Raja Minangkabau itu yang bapak tulis dalam status “ CTS # 15: Nagari Dibari Barajo CTS # 15: Nagari Dibari Barajo “ kemarin apakah pernah terjadi? Dan tahun berapa sebenarnya terjadinya?“

RANTAU KUANTAN DAN ADITYAWARMAN

  Pict: kompas kompas Oleh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #17 – Dalam postingan saya “ Minang Hanyuik ” Engku Datok Amri Marzali Pensiunan Prof Antropologi Universitas Indonesia, dalam sebuah komentarnya menyebutkan “Sahaya berminat dengan tulisan Angku Saiful Guci zaman Pagaruyung dan sebelumnya. Asumsi/dugaan saya, sampai pertengahan abad ke-14 (awal kedatangan Adityawarman ke Saruaso), migrasi penduduk adalah dari Timur ke Barat. Dari Jambi atau Riau ke Sumbar”. Hal ini juga senada dengan diskusi kami dengan Engku Syntal , dimana bermula masuknya migrasi dari luar melalui pintu timur ke pedalaman Minangkabau yang membawa Dara Petak dan Dara Jingga . Dan Galatiak Balam menanyakan Dimana kerajaan awal Minangkabau ?. Untuk menjawab ini tentu kita harus membongkar arsip-arsip catatan lama tentang Pagaruyuang dan Adityawarman.

BENARKAH NAGARI SIMAWANG MASUK LUHAK AGAM ?

  Pict: wikipedia wikipedia OLeh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #16 – Dalam postingan saya sebelumnya “ Minang Hanyuik ” ada muncul pertanyaan dari Parak Lalank " … maaf engku.. baa kok bisa Nagari Simawang masuak Luhak Agam dahulu? Soal iko nagari Simawang hulu Batang Ombilin, yaitu Danau Singkarak, nan talatak di Kacamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Data… tolong pencerahannyo.. " [Maaf pak, kenapa kok bisa Nagari Simawang masuk ke dalam Luhak Agam dahulunya? Soalnya Nagari Simawang merupakan hulu dari Sungai Ombilin, yaitu Danau Singkarak, yang terletak di Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Tolong pencerahannya..] Daerah Minangkabau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari daerah administratif Sumatra Barat, sebuah nama yang diperkenalkan pertama kali oleh kolonialis Belanda. Pada masa VOC, Minangkabau atau sebagian dari daerah budaya Minangkabau, menjadi bagian dari Hoofdcomptoir van Sumatra’s Westkust . Pada masa Hindia Belanda, Minangkabau menjadi bagian dar...

NAGARI DIBARI BARAJO

  Pict: wikipedia * Negeri diberi raja Oleh: Saiful Guci Ciloteh Tanpa Suara #15 - Lama saya mencari pengertian dalam batang pasambahan (persembahan) yang ada di nagari saya Pandai Sikek tentang sebuah kalimat “Nagari Dibari Barajo”. Batang pasambahan tersebut adalah: “ sambah ambo sambah baririk diparirikan di ateh rumah gadang nangko. Pulang pasambahan bakeh ipa bisan kami. Manyo ipa bisan kami. Aratinyo lah pituah di nan tuo, sajak samulo rantiang bapatah, sumua bakali, aia basauak, pangulu badiri dalam nagari. Jalan duo nan baturuik, kato duo nan bapakai. Kok dikaji jalan nan duo, partamu Jalan Adaik, kaduo Jalan Syarak. Mangaji kito sapanjang jalan adaik iyolah babarih babalabeh bacupak, bagantang, basuri batauladan, bajanjang naiak batango turun. Magaji kito sapanjang jalan syarak iyolah mangatahui Iman, Islam, Tauhid, Makrifah, sah jo bata, halal jo haram, sunaik jo paralu, haruih jo mukaruah. Manyo kato nan duo, partamu Kato Buek, kaduo Kato Pusako. Buek bana kadipakai, ...