Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

The First Indonesian Police Woman

[caption id="" align="aligncenter" width="480"] Sumber Gambar: Disini [/caption] The History of Police Woman in Indonesia begin in Bukit Tinggi. On this city for the first time Indonesia Police Woman were recruited. The are six woman from Middle Sumatera were recruit and the date of the first education become the date of birth Indonesia Police Woman. There are September 1, 1948. ____________________________________ Ternyata tidak disangka Kota Bukit Tinggi merupakan kota tempat lahirnya Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia dan tentu saja Sekolah Polisi Negara (SPN) yang ada di Kota Bukit Tinggi merupakan sekolah kepolisian pertama yang membuka Pendidikan Inspektur Polisi untuk perempuan. Pendidikan pertama dilalui oleh enam orang perempuan asal Propinsi Sumatera Tengah[1] yang tanggal mereka memulai pendidikan yakni tanggal 1 September tahun 1948 dijadikan sebagai Hari Lahirnya Korps Polisi Wanita Republik Indonesia.

Sekolah Sambungan di Gaduik

Minang Saisuak #267 –Vervolgschool (Sekolah Sambungan) di Gaduik, Fort de Kock (Bukittinggi) Tulisan ini disalin dari tulisan Engku Dr. Suryadi Sunuri di blog niadilova.wordpress.com This picture told us about one of school near Bukit Tinggi, this school is never heard before. Located in Gadut Village which is directly adjacent to Bukit Tinggi. ________________________________________

Sabai Nan Aluih Park

This is picture of Sabai Nan Aluih Park where Jam Gadang located inside. Many people have wrong perseption that the name of the park was Jam Gadang Park. __________________________________________________ Foto udara ini memperlihatkan kepada kita Taman Sabai Nan Aluih yang acap disalah-fahami orang sebagai Taman Jam Gadang. Jam Gadang memang terletak di dalam kawasan taman tersebut dan menjadi primadona di seantero kota, tak hanya itu kami yakin seantero Minangkabaupun termasyhur ia.

Societeit dari dekat_1948

[caption id="" align="aligncenter" width="1280"] PIcture: Minangkabau Heritage [/caption] This picture show us the close up of National Building or Societeit from the front. Now this building has rebuild become Regional Assembly of Bukit Tinggi. ________________________________ Sudah semenjak lama rasa penasaran ini menghantui kami "Serupa apakah bentuk Gedung Nasional atau yang dimasa Belanda bernama Societeit itu rupanya?" Banyak gambar nan kami dapati memperlihatkan gedung ini dari jauh, kebanyakan gambar diambil dari arah Jam Gadang. Jadinya, hanya dapat mereka-reka saja serupa apa bentuk persisnya. Namun penantian panjang itu bermuara jua, tengoklah gambar ini, terima kasih kepada Engku Admin Grup Minangkabau Heritage yang telah menampilkan gambar ini, sangat besar jasa Engku kepada kami. Tampaknya gambar ini diambil dimasa Agresi Belanda pada tahun 1948, tampak trukc militer Belanda sedang parkir di hadapan Gedung Nasional dan satu buah ta...

Bengkel di Sungai Pua

[caption id="" align="aligncenter" width="720"] Picture: Jumaidil Firdaus [/caption] This is atmoshere one of Blacksmith workshop in Nagari (Village) Sungai Pua. This village located 10 Km from Bukit Tinggi City, in the foot of Mount Marapi. ________________________ Para pengrajin logam dari Nagari Sungai Pua, begini rupanya suasana bengkel tempat mereka bekerja. Dari tangan para seniman Sungai Pua inilah kemudian lahir berbagai produk yang indah-indah. Pada keterangan gambar tertulis Kopergiterij  te Soengai Poear yang merupakan Bahasa Belanda. Apabila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (Melayu) akan menjadi  Karya Kuningan dari Sungai Puar.

Chevrolet Viking

[caption id="" align="aligncenter" width="453"] Picture: Jon Fidra [/caption] This is Chevrolet Viking 1957/1958, this vendor from America. In the past, many car from Europe and America here but after that Japanese take ofer and now the Chinese try to make the same things. Oh dear, from generation to generation the Indonesian taste become lower. ________________________ Tampaknya mobil Chevrolet Viking 1957/1958 ini banyak dijadikan sebagai kendaraan transportasi pada masa dahulu di negeri kita ini. Sampai kepada tahun 1960-70an masih banyak kendaraan asal negara barat yang dipakai di negeri kita. Namun zamanpun berganti, Jepang mengambil alih, dan kini tampaknya Cina mencoba hendak menguasai pula. Lama-lama kualitas selera kita orang Indonesia ini semakin menurun saja.

Medan Nan Bapaneh di Kabun Binatang

[caption id="" align="aligncenter" width="1000"] Amphitheatre [ Picture: Here][/caption] This is amphithetre were located in front of Rumah Adat Nan Baanjuang Museum in Kinantan Zoo. Built on 1984's and now has backfilled, this amphitheatre was so popular on 1990's. _______________________________ Ini merupakan gambar langka, gambar yang sangat langka serta sangat payah mencarinya. Sungguh kami kesal sekali betapa sulitnya untuk mendapatkan gambar ini. Sungguh suatu pemandangan nan indah yang kini telah hilang. Entah kenapa sehingga ditimbuni orang dan diganti dengan kolam antah-barantah.

Dari Plein van Rome ke Lapangan Imam Bonjol

Tulisan berikut tiada berhubnngan dengan Peninggalan Bersejarah (Heritage) di Kota Bukit Tinggi. Namun kami merasa perlu untuk menampilkannya sebab berkaitan dengan salah seorang yang terlibat dalam Perang Paderi yang terkenal dengan kekejamannya semasa perang tersebut. Dia adalah Komandan Militer untuk Sumatera Barat yang kemudian menjadi Gubernur Sipil dan Militer Sumaetra Barat, namanya ialah Mayor Jenderal Andries Victor Michiels. Dimasanyalah Tuanku Imam Bonjol ditangkap. Monumen atau Tugu yang dibuat oleh orang-orang senegaranya guna dipersembahkan untuk dirinya ini dibuat sangat megah. Dimasa Kemerdekaanm, tugu tersebut dihancurkan oleh pejuang kita. Hal ini karena mereka mengetahui sejarah kekejaman Si Michiels ini, melestarikan tugu tersebut sama kiranya dengan melestarikan penjajahan serta menyunggingi para pejuang (mujahid) kita yang telah syahid dimasa Perang Paderi.

Transfer of sovereignty over Indonesia 1949

[caption id="" align="aligncenter" width="3655"]Bung Hatta tiba di Belanda untuk menghadiri Konfrensi Meja Bundar [ Pict: Disini ][/caption] Pernahkah kita mendengar suara Bung Hatta? Melihat beliau berjalan dan beraktifitas tentulah pernah, ada di video arsip lama yang sebagian ada beredar di Youtube. Namun apabila kita bandingkan dengan Soekarno, sangatlah sedikit video Bung Hatta ini. Dan tiada pernah kami mendapat video nan menampilkan beliau sedang berpidato. Mungkin ada namun kami tiada mendapatkannya. Adakah kita tahun dengan Konfrensi Meja Bunda (KMB)? Siapakah yang memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di Hague (nama Inggris untuk Den Haag)? Kenapa beliau nan memimpin, bukan pemimpin besar revolusi?

Jalan Presidentslaan, Fort de Kock

[caption id="" align="aligncenter" width="609"] [Jalan Presidentslaan di Fort de Kock] Gambar: Disini [/caption] Tulisan ini disalin dari tulisan Suryadi Sunuri di blognya niadilova.wordpress.com . One of street in Bukit Tinggi on colonial time, the name of this street was President Street. This picture taken from front of Bukittinggi Local Regional Assembly building.   Minang Saisuak #266 –Jalan Presidentslaan, Fort de Kock   Fort de Kock (sekarang: Bukittinggi) adalah tempat pelesiran. Kota ini dibangun Belanda untuk para pegawainya yang ingin menghirup udara dingin Eropa setelah kepanasan bekerja di ibukota Sumatra’s Westkust, Padang, yang menurut Parada Harahap dalam bukunya  Dari Pantai ke Pantai  (1926) panasnya minta ampun. Foto ini dimuat di salah satu edisi 1928 majalah  Pandji   Poestaka . Mengutip keterangan pada foto kiriman Zakaria ini, dikatakan: “ Inilah salah satoe dari pada djalan di Fort de Kock jang amat bagoes kelihatannya. Djalan-djal...

Mengenang Kiprah dr. A. Halim di RSCM

Tulisan ini disalin dari blog;  aswilblog.wordpress.com [caption id="" align="alignright" width="480"] RSCM Dahulu [Pict: Disini ][/caption]Artikel ini disusun untuk mengenang salah satu diantara tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang agak terlupakan selama ini dan telah meninggalkan kita 22 tahun yang lalu. Nama dr. Abdul Halim mungkin tidak terlalu dikenal oleh generasi muda sekarang. Dokter spesialis THT ini disebut oleh Rosihan Anwar sebagai politikus kesasar . Betapa tidak? Tahu-tahu karena situasi dan panggilan perjuangan kemerdekaan, ia terlontar ke gelanggang politik dan berperan sebagai anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dari Oktober 1945 hingga Juli 1950. Lalu Januari 1950 hingga September 1950 menjadi Perdana Menteri RI di Jogjakarta (era RIS) dan setelah itu diangkat menjadi Menteri Pertahanan NKRI yang pertama (di masa Perdana Menteri Natsir). Namun ternyata beliau lebih mencintai profesinya sebagai dokter sehi...

Sekilas tentang Uztad Djinan Taib, asal Sarik Bukittinggi

[caption id="" align="aligncenter" width="640"] PIcture: Internet[/caption] Tulisan ini disalin dari postingan di blog;  aswilblog.wordpress.com .  Ini satu lagi tokoh pejuang bangsa Indonesia yang luput dari perhatian kita. Agar lebih mudah membacanya, artikel diatas saya ketik ulang dibawah ini. 

Punahnya Bahasa Minang? Tinggal Menunggu Waktu!

  Picture: KITLV.NL Tulisan ini disalin dari blog Habib Al Fatih, salah seorang mahasiswa asal Minangkabau di Kairo. Lagi-lagi saya terlibat diskusi tentang kontroversi penyelamatan bahasa daerah dengan salah seorang kawan saya. Saya, lelaki Minang tulen, dianggap terlalu kuat mempertahankan Bahasa Minang sehingga bahasa keliru yang digunakan oleh kawan-kawan sering saya koreksi. Sedangkan mereka, entah mengapa sejak puber, mulai menggunakan bahasa rusak. Mungkin karena faktor 'gengsi', pikir saya. [1] Alasan logis namun apatis selalu dikemukakan, “Yang penting paham, bukan?” Ah, ya! Tentu saja bahasa digunakan agar lawan bicara memahami apa yang dimaksudkan oleh penggunanya. Namun, alasan ini bagi saya hanya bisa diterima jika bahasa hanya digunakan untuk berkomunikasi. Dan jika bahasa hanya berpatokan pada paham-tak paham, berarti bahasa manusia itu sama saja dengan bahasa lumba-lumba, bahasa koala, bahasa harimau sumatera, bahasa kerbau yang pasrah saja saat dicucuk hidung...

Mengenang Kabinet Halim (1950): Pergumulan diantara dua raksasa

[caption id="" align="alignright" width="500"] Picture: Here [/caption] Hari ini 27 Desember 2009, RNW (Radio Nederland Wereld Omroep) Hilversum akan mengadakan acara 60 tahun Peringatan Penyerahan Kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat . Wartawan senior Rosihan Anwar telah bertolak ke Belanda atas undangan RNW untuk menghadiri beberapa acara yang sudah dipersiapkan seperti seminar dan siaran radio. Untuk Rosihan, ini merupakan napak tilas dalam kesaksiannya baik Konperensi Meja Bundar (Agustus – November 1949) maupun penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana kepada Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta (27 Desember 1949).Bagi Indonesia, karena Sukarno dan Hatta telah diangkat menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka kekosongan kursi Presiden RI diisi oleh Mr. Assaat, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (KNIP) sebagai Pemangku Jabatan (Acting) Presiden RI. Sementara dr. Abdul Halim terpilih untuk mengisi kursi Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri RI d...

Jail Building & Surrounding

[caption id="" align="aligncenter" width="1280"] Picture: Minangkabau Tempo Dulu [/caption] Bukit Tinggi City when Agressie The Second of  the Nederland Army in the year of 1948. We can see the Jail Building, the wide road, and the house in the right side of road. Far there we can see the Bukittinggi Railways Station with rice fields. [caption id="" align="aligncenter" width="526"] Picture: Minangkabau Tempo Dulu [/caption] On this second picture we can see the military truck toward Pasa Ateh. This picture taken from Simpang Kangkuang, Jam Gadang (Clock Tower) has covered by few of tree there. ________________________________________

Kenang-kenangan Abdul Halim X

[caption id="" align="aligncenter" width="492"] Picture: Minangkabau Tempo Dulu [/caption] MENJADI MENTERI PERTAHANAN T: Kami ingin menanyakan kepada Bapak, sekitar masalah-masalah ketika Bapak menjadi Perdana Menteri R.I. di Yogyakarta. Masa-masa itu mung­kin sangat menarik, tapi belum pernah diungkapkan di mass media, atau katakanlah tidak pernah ditulis. Masalah itu mungkin saja sangat lucu bagi Bapak, atau sebaliknya Bapak tidak begitu senang atau malah men­dongkol dengan adanya masalah itu. Untuk permulaan, bagaimana approach Bapak terhadap para menteri yang terdiri dari berbagai macam kekuatan politik itu, sehingga di dalam mengambil keputusan keputusan bisa dilaksanakan dengan lancar. J: Apa yang saudara katakan bahwa menteri-menteri saya banyak warna-­warninya, artinya aliran politiknya, itu memang benar. Dan memang ke­tika kabinet terbentuk saya telah membuat program pemerintah untuk disampaikan kepada Badan Pekerja. Saya sebagai bekas anggota...

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab IX

[caption id="" align="alignleft" width="448"] Picture: Tropen Museum [/caption] MEMBENTUK KABINET HALIM T: Kali ini kami mohonkan dr. A. Halim dapat menceritakan beberapa masalah sekitar terbentuknya Kabinet Halim di Yogya pada tahun 1950, dan persoalan-persoalan yang terjadi sebelum terbentuk Kabinet itu. J: Ya. Sebenarnya pada waktu itu saya tidak pernah impikan akan jadi Per­dana Menteri. Juga [saya] tidak pernah menginginkannya. Saya malahan sudah siap-slap untuk kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia . Dan kembali ke profesi saya sebagai dokter ahli THT, bekerja di rumah sakit umum pusat. Tapi apa mau dikata. Rupa-rupanya antara Masyumi dan PNI, dua partai terbesar pada waktu itu, tidak dapat kata sepakat, siapa dari mereka yang akan menjadi Perdana Menteri. Sedangkan soal Pejabat Presiden tidak menjadi masalah, sebab Mr.Assaat sebelum menjadi pejabat itu adalah Ketua Badan Pekerja dan Ketua KNIP. Presiden [Suka...

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab VIII

[caption id="" align="alignleft" width="259"] Picture: Here [/caption] VIII. MENJEMPUT TOKOH-TOKOH PDRI T : (Pada) pertemuan-pertemuan kita yang telah lalu, mulai dari yang pertama sampai yang ke enam Bapak telah menceritakan kepada saya berbagai masalah yang Bapak alami sejak tahun 1942; sejak Jepang masuk, sampai ke Indonesia Merdeka dan kemudian tahun 1947. Sebelum Bapak menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia di Yogya, ada masalah-masalah yang sangat penting yang kiranya dapat Bapak ceritakan, umpamanya saja menjelang penyerahan kedaulatan. J : Baik. Yang antara lain masih terasa pada tahun 1949, yaitu Peristiwa Serangan 1 Maret 1949 di Yogya, [yang] mempunyai efek politis sangat besar ke luar. Itu berarti bahwa perlawanan kita belum padam. Walaupun juga kita merasa [kemudian] ada side effect ataupun kick back dari Belanda, bagi kami yang tetap tanggal di dalam kota Yogyakarta . Tentara kita setelah menyerang mengundurkan diri ke luar kota .

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab VII

[caption id="" align="aligncenter" width="600"] Map of Luhak Agam but Tanjuang Mutiara is not part of Luhak Agam. This map originally take from Agam Regency Map [/caption] VII. BERKENALAN DENGAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX. T: Bapak menyebutkan banyak tokoh dalam wawancara-wawancara terdahulu, Dua yang sangat menonjol adalah Sutan Sjahrir dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. J: Dimana itu. T: Dalam cerita-cerita Bapak sebelumnya. J: Ooooo Ya. T: Bapak menyebutkan, bertemu buat pertama kali dengan Sutan Sjahrir pada jaman Jepang, tetapi Bapak barangkali terlupa menyebutkan, kapan sebetulnya Bapak pertama kali berkenalan dengan Sri Sultan Hemengku Buwono IX. J: [dengan] Hamengku Buwono [sebelumnya] saya sudah sering dengar dengar tentang beliau. Pertemuan saya pertama kali yang membawa rasa yang mendalam bagi saya ( bangkit dari duduk sambil mengambil foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan pengkisah di kamar kerja ) adalah sebelum Aksi Militer [Belanda] ...

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab VI

KOMISARIS PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DI JAKARTA T: Pada pertermuan yang lalu Bapak bercerita bahwa Bapak akan mencerita­ kan tentang tugas Bapak sebagai Komisaris Pemerintah Republik Indone­ sia di kota Jakarta yang langsung bertanggung jawab kepada Dewan Mente­ ri. Hal ini menurut Bapak terjadi tanggal 7 Juni 1947. Kemudian Bapak waktu itu akan menceritakan pengalaman Bapak ketika bertemu dengan Komisi Jenderal Belanda di Istana Merdeka sekarang. J: Istana Merdeka Utara, Het Paleis dulu. T: Bagaimana itu ceritanya, asal mulanya dan kenapa Bapak yang ditunjuk. J: S audara akan kecewa, apa yang akan saya kemukakan. Yang jelas saya di jadikan Komisaris Pemerintah Republik Indonesia oleh sidang kabinet yang diadakan di Magelang, tanpa saya ditanya lebih dahulu [oleh] Kabinet Sjahrir III, di mana Roem [menjabat Menteri] Dalam Negeri, Moh. Natsir [Menteri] Penerangan. Kita belum bisa mengatakan bahwa secara juridis kota Jakarta diduduki. Tapi de facto [Sekutu] memang kuat.