Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Seorang Pejabat berhaluan Ahmadiyah

[caption id="" align="aligncenter" width="504"] Gambar: https://syaiful64.wordpress.com [/caption] “ Haram melawan pendjajah Inggris? Datoek Poetih, seorang jang berasal dari Sumatra Barat, doloenja pernah djadi Demang, dan sekarang soedah masoek partij Ahmadi[j]ah Qadian, baroe [2]  ini soedah sampai di Makkah. Disitoe dia dikoendjoengi oleh beberapa pemoeda 2  Indonesia jang bertanja kepadanja tentang pergerakan Ahmadijah.  Waktoe satoe dari jang hadlir bertanja (lihat s[oerat] ch[abar] ‘Radio’28 Aug[ustus): “Adakah engkoe tahoe gerakan Gandhi?” (Djawabnja): Ada orang Hindoe sepakat bersama-sama memboycot barang-barang Inggris. Di Lahore ada djoega gerakan itoe, tetapi orang Ahmadijah tidak masoek karena, haram melawan pemerintah Inggris. Comentar tidak ada! Boleh fikirkan! ”

Tentang Pakaian

[caption id="" align="aligncenter" width="960"] Gambar: http://blogminangkabau.wordpress.com/ [/caption] Pakaian adalah salah satu indikator tingkat keberadaban dan keadaban manusia. Tentu kita ingat istilah ‘bangsa yang masih telanjang’ yang merujuk kepada kelompok manusia yang masih hidup dalam zaman batu. Pakaian juga merupakan lambang penting yang melaluinya orang merefleksikan identitas kelompoknya. Demikianlah umpamanya, di Indonesia yang terdiri dari berbagai puak, budaya, dan agama, pakaian juga merupakan produk budaya material yang menjadi penanda etnisitas yang jelas. Dalam konteks negara-bangsa ( nation – state ), pakaian melambangkan identitas nasional. Pakaian dan politik memang sudah sejak dulu berkelit kelindan. Kita mengenal ‘Hari Batik Nasional’ karena politik pakaian dan politik identitas Orde Baru.Di zaman baheula hanya kalangan ningrat yang boleh memakai belundru dan satin.

Nasionalisme Sesungguhnya

[caption id="" align="aligncenter" width="600"] Gambar: http://kisahikmah.com [/caption] “H. A. Salim soeka doedoek. Waktoe kapal (“J. P. Coen”) maoe berangkat dari pelaboehan Port Said, penoempang 2 mengadakan pesta. Pada ketika itoe pemimpin jang terdeboet (Kjai H. A. Salim) doedoek [sadja] dan lain 2  penoempang sama mengenal dia.  Mereka itoe mengadjak dia akan mengikoeti pesta itoe. – kata correspondents.Moesik memboenjikan lagoe “Wilhelmus”. Sekaliannja kaoem pesta sama berdiri boeat menghormat lagoe itoe, ketjoeali H. A. Salim jang tetap doedoek. Mereka laloe mengadoekan hal jang kedjadian itoe kepada kapiten kapal. Atas pertanjaan, mengapakah Kjai H. A. Salim tidak toeroet berdiri, maka didjawabnja: “Tempat itoe tempat kesenangan dan pesta-pestaan; siapa soeka boleh toeroet, jang tidak soeka boleh tinggal diam!” Sekianlah verslag interview correspondent s. k. ‘Al-Ahram’di Cairo (F[adjar] Asia.]