dr.ALIS MARAJO Dt.SORI MARAJO DALAM CATATAN MEMORI
Ciloteh Sejarah- Assalamulaikum Engku Saiful Guci Dt. Rajo Sampono, perkenalkan nama kami Muhammad Jefri, kami berasal dari Nagari Guguak Salapan Koto, Kecamatan Guguak, kebetulan sedang kuliah di Unand. Mohon maaf sebelumnya, kami izin untuk wawancara tentang pengalaman engku bersama almarhun Tuan dr Alis Marajo Dt. Sori Marajo, beliau sebagai tokoh hendak kami angkat untuk tesis kami “ Tulis Muhammad Jefri.
“Datanglah engku, saya siap menunggu di Lapau eSPe Kasiah Bundo “ Tulis kami.
Setelah kami bertemu terjadi beberapa percakapan, terdapat sekitar 20 pertanyaan yang saya jawab.
Muhamad Jefri (MJ): Seingat engku, bagaimana sistem pemilihan Bupati Lima Puluh Kota oleh DPRD pada tahun 2000?
Dt. Rajo Sampono (RS) “Pada tahun 2000, saya bertugas sebagai Penyuluh Pertanian pada Sekretariat Satuan Pelaksana Harian Bimas Lima Puluh Kota dan juga mengampu sebagai dosen Sososiologi Pedesaan dan Dasar-dasar Agronomi di Fakultas Pertanian UMSB Payakumbuh. Dan di kampus mendapat informasi akan ada Pemilhan Bupati Lima Puluh Kota.
Pada masa itu, sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, yang menetapkan bahwa kepala daerah (Gubernur, Bupati, Walikota) dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hasil Pemilu 1999 merupakan pemilu multipartai pertama setelah era Orde Baru yang diikuti oleh 48 partai politik. Jika tidak salah di Lima Puluh Kota beberapa partai besar yang mendominasi, seperti: Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, PKB,dan PAN. Adapun Golkar mendapat 22 Kursi.
Pada bulan April dan Mei tahun 2000, orang telah sibuk membicarakan calon Bupati Lima Puluh Kota, antara lain nama yang mengapung adalah : 1) dr Alis Marajo dt Sori Marajo, 2) Fahmi Rasyad, 3) Idrus Iskandar, dan 4) Yusri HI. Dan dr Alis Marajo Dt Sori Marajo tidak meleset dapat dukungan suara penuh dari Golkar yaitu 22 Kursi yang berpasangan dengan Amri Darwis.
MJ: “Kapan engku kenal pertama kali dengan Tuan Bupati dr. Alis Marajo Dt.Sori Marajo?
RS:“Saya kenal pertama kali dengan Tuan Bupati dr. Alis Marajo Dt.Sori Marajo, saat mengikuti Tes Calon Camat bulan Januari 2002, dan dipercaya memangku jabatan Camat Harau dilantik bulan Februari 2002.
MJ:Sangat menarik, kenapa engku bisa dipilih dan dipercaya jadi camat, jadi camat Harau lagi, padahal latar belakang engku sekolah pertanian?
RS:“Karena kemungkinan antara garis tangan dan ratak tangan sejalan, dimana salah seorang mahasiswa saya, Syahrisman Dt Iyang Bosa adalah anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota dari Partai PPP kuliah di Fakultas Pertanian UMSB, saat saya mengajarkan mata kuliah Sosiolog Pedesaan di akhir tahun 2000, dia memberikan konsep Rancangan Peraturan Daerah tentang Pemerintahan Nagari, dan karena dia mau diskusi dengan Pemerintah Daerah tentang Ranperda ini, diharapkan saya memberikan masukan.
Setelah saya baca naskah rancangan, terdapat 10 pasal yang saya beri catatan dan koreksi, misalkan tentang Pasal 13. Keangotaan Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN), yang terdiri dari unsur pemangku adat, alim ulama, cerdik pandai, perempuan dan pemuda yang berasal dari utusan suku (suduik). Maka saya berpikir saat itu, ini tidak sesuai dengan kondisi kekinian di Lima Puluh Kota, karena terdapat masayarakat transmigrasi di Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Halaban di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Gunuang Malintang Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan beberapa nagari di Kecamatan Kapur Sambilan yang telah membaur dengan masyarakat sekitarnya. Maka saya koreksi menjadi “terdiri dari unsur pemangku adat, alim ulama, cerdik pandai, perempuan dan pemuda sesuai potensi nagari yang bersangkutan”. Koreksi lain tentang syarat pemekaran nagari, cara pembentukan Lembaga Adat Nagari (LAN) dan lainnya.
Sejak sekolah saya malas menghafal tetapi setiap pertanyaan dapat saya selesaikan dengan baik, apa yang saya hafal biasanya itu yang keluar. Setiap menghafal dan pergi ujian, saya terlebih dahulu memdi baca doa: "Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah", artinya: "Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diri kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".
Kemudian dilanjutkan membaca tiga (3) buah Asmaul Husna merupakan cara untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT: Asmahulhusna, Ya Latifu, Ya Hafidhu ,Ya Hakimu, Ya Allah kemudian ditutup dengan kalimat syahadatain “Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah," artinya: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah,"
Asmaul husna :Ya Latifu (Yang Maha Lembut/Halus):Allah SWT adalah Zat yang Maha Lembut, yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan rahasia [1]. Dia menyampaikan kebaikan dan kemaslahatan kepada hamba-Nya dengan cara yang tidak terduga dan penuh kelembutan, bahkan dalam urusan yang paling pelik sekalipun .
Ya Hafidhu (Yang Maha Memelihara/Penjaga).Allah SWT adalah satu-satunya pelindung dan penjaga bagi makhluk-Nya [1]. Dia memelihara segala sesuatu di langit dan di bumi, menjaga hamba-hamba-Nya dari bahaya, musibah, dan kejahatan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat.
Ya Hakimu (Yang Maha Bijaksana). Allah SWT adalah Zat yang Maha Bijaksana dalam segala penciptaan, perintah, dan takdir-Nya. Kebijaksanaan-Nya sempurna, tidak ada kesalahan dalam hukum-hukum-Nya, dan semua ketetapan-Nya pasti mengandung kebaikan dan keadilan yang mutlak.
Alhamdulilah , saat dilakukan tes tertulis dengan 10 pertanyaan esai 7 soal diantaranya berasal dari 10 kasus yang saya koreksi, tambah tiga soal lain tentang Undang-Undang Nomor 22 Tahun yang saya hafal.
Apa itu Desentralisasi, dan apa itu Desentralisasi dan Otonomi Daerah? Teman lain susah menjawabnya saya lancar saja menjawabnya, begitu juga saat wawancara yang lain ditanyakan masalah dan potensi 13 Kecamatan, pada saya ditanyakan: Seandainya Anda jadi Camat Harau, berapa Nagari yang akan anda kooordinasikan.
Kebetulan saya adalah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) 1985-1990 dengan wilayah kerjanya Kecamatan Harau dan Satpel Bimas Lima puluh Kota tentu sangat mudah saya menjawabnya, Saya jawab “Jika sekarang ada 8 Nagari yang berasal 23 Desa, maka bisa dimekarkan menjadi 11 Nagari, yaitu Nagari Tiga Batur menjadi 3 Nagari (Koto Tuo, Lubuak Batingkok dan Gurun ) begitu juga memekarkan Nagari Bukik Limbuku Pilubang menjadi dua Nagari (Bukik Limbuku Dan Pilubang), sehingga Kecamatan Harau dari 8 Nagari menjadi 11 Nagari, itulah yang saya sebut “antara garih tangan dan ratak tangan sajalan.”
MJ: Program apa yang menjadi prioritas Tuan Alis Marajo sebagai Bupati Lima Puluh Kota periode pertama?
RS: ”Sejalan dengan periode pertama Tuan Bupati dr Alis Marajo, 2000-20025, tatkala saya jadi Camat Harau 2002-2004, maka yang fundamental adalah pemindahan Kantor Bupati sekaliagus pemindahan Ibu Kota Kabupaten Lima Puluh Kota dari Kota Payakumbuh ke Wilayah Sarilamak Kecamatan Harau.
Pada bulan pertama saya jadi Camat Harau, Tuan Alis Marajo bercerita, bahwa gagasan pemindahan Kantor Bupati yang sekaligus ibu kota Kabupaten Lima Puluh Kota dari Kota Payakumbuh telah dimulai pada tahun 1970 bersamaan dengan terbentuknya Kotamadya Payakumbuh pada Desember 1970 dimasa pemerintahan Bupati Kol.Inf. A. Syahdin Dt. Bandaro. Kemudian baru ditindak lanjuti oleh Bupati Kol.CZI Djofri (1985-1990) yang dilanjutkan oleh Bupati Drs. Aziz Hayli,MA.Dt. Bandaro Kayo dua periode (1990-1995 dan 1995-2000), telah mencanangkan kantor Bupati di Desa Ketinggian Sarilamak. Tetapi sampai tahun 2000, pembangunan kantor bupati ke Ketingian-Sarilamak belum juga terealisai, maka pada pemilihan Bupati untuk periode 2000-2005 lalu menjadi issue sentral dan bahkan ada yang menyatakan akan berkemah di Ketinggian Sarilamak apabila nanti dipilih oleh anggota DPRD sebagai Bupati Lima Puluh Kota. Calon Bupati waktu itu adalah: Alis Marajo, Idrus Iskandar, Fahmi Rasyad dan Yusri HI.
Maka dalam periode selama saya memegang amanah menjadi kepala daerah bersama Tuan Amri Darwis, saya mengharapkan dapat terealisasi minimal telah ditetapkan lokasi untuk pembangunan pusat pemerintahannya agar dapat di usulkan kepada pemerintah untuk dibuatkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pemindahan ibukota Limapuluh Kota. Maka pertanyaan untuk tuan jawab dimana yang bagus dibangun kantor pusat pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota?
Kemudian saya jawab “Yang paling tepat adalah di atas Bukit Limau di depan pasar Sarilamak kita lewat disamping kantor Koramil 05/0306 Harau dan tepat lokasi SDN 15 dan SDN 33 berdiri sekarang” jawab Saya singkat.
Tuan Alis Marajo menanyakan alasannya, kenapa di Bukit Limau yang baik?
Saya berargumen “Sebagai orang teknis pertanian, bahwa di Ketinggian Sarilamak pada saat itu tanahnya masih rawa dengan jenis tanah Payau atau Payo yang disebut dengan jenis tanah alluvial dengan ciri-ciri; lapisan gambut yang tebalnya 50 cm, berwarna coklat tua, jenuh air dengan pH 5-6. Jika kering mengkerut sampai 50 % secara irevesible (dalam bahasa Indonesia berarti tidak dapat dibalikkan atau tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula), untuk mengeringkannya kita harus membuat parit penguras dan apabila di zondir baru sekitar 15 sampai 30 meter baru bertemu lapisan cadas dan lokasi ini tidak kuat untuk struktur kantor bertingkat, tetapi apabila kita bangun pusat perkantaron di Bukit Limau dimana lapisan tanahnya adalah cadas dan kuat untuk areal perkantoran bertingkat dan dapat kita buat model tiga tungku sajarangan “ terang saya.
Diputuskan pada hari Sabtu 23 Februari 2002 pada hari kedua Hari Raya Idhul Adha 1422 H untuk melihat calon lokasi kantor Bupati yang bersamaan dengan acara doa membuka Kapalo Banda Sarasah Tanggo dengan kegiatan memotong seekor sapi sehingga masyarakat Sarilamak tumpah ruah saat itu dan tampak juga hadir Mantan Bupati Tuan Drs. Aziz Hayli,MA.Dt. Bandaro Kayo bersama Istri.
Sejak saat itu Bupati Alis Marajo Dt.Sori Marajo menyetujui lokasi pembangunan kantor bupati di Bukit Limau Sarilamak. Dan ditugaskanlah Saiful.SP Camat Harau bersama Walinagari Sarilamak H. Jasri Bermawi Dt. Kali Nan Putiah untuk menjajaki dan membebaskan tanah tersebut yang di atasnya berdiri SDN 15 dan SDN 33, rumah penduduk, pondok batu bata dan sekitar 50 buah perkuburan masyarakat.
Kemudian pada tahun 2004 keluarlah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2004 mengatur tentang pemindahan ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota dari Kota Payakumbuh ke Sarilamak, yang terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. PP ini mulai berlaku pada tanggal 18 Oktober 2004 dan tahun 2005 di mulailah pembangunan Kantor Bupati sehingga dapat diresmikan pada tahun 2008 sehingga kawasan Sarilamak sebagai Ibukota Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota.
MJ:”Apa faktor utama yang menyebabkan pasangan Alis Marajo-Zagly Bross kalah dengan pasangan Amri Darwis-Irfendi Arbi?
Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota pada PEMILU 2005 diikuti empat pasangan calon. Yakni, Benny Muchtar-Manggul Malik yang diusung PPP. Kemudian, Profesor Ardi- Yusri HI yang diusung PBR, Partai Demokrat, PPD, PKB, PPIB, Partai Patriot Pancasila, Partai Merdeka, dan PNBK). Selanjutnya, Amri Darwis- Irfendi Arbi yang diusung PBB, PPP, PNI-Marhaenisme dan didukung PKS). Serta, pasangan Alis Marajo-Zagrly Bros yang diusung Golkar, dan didukung sebagian PAN.
Sebelum dan saat pemungutan suara dalam Pilkada Lima Puluh Kota 2005 itu digelar, Alis Marajo tercatat sebagai bupati. Sedangkan Amri Darwis menjadi wakilnya. Mereka terpilih melalui pemilihan di DPRD. Namun, saat Pilkada dilakukan langsung oleh rakyat, pasangan petahana ini pecah kongsi.
Alis Marajo memilih berpasangan dengan Zagly Bros yang saat itu Wakil Ketua DPRD dari PAN. Sedangkan Amri Darwis memilih berpasangan dengan Irfendi Arbi, seorang birokrat pertanian yang pernah menjadi anggota DPRD Padang dari Partai Golkar.
Pada tahun 2004 saat orang sibuk mengodok pencalonan, saya pernah berucap. Karena adalah Pemilu pemilhan langsung pertama, maka yang akan terpilih jadi Bupati periode mendatang (2005-2010) ada pada BUPATI itu sendiri, karena BUPATI adalah akronim dari:
Basis suara Kecamatan Harau dan Payakumbuh yang terbesar.
U ang atau Ulama (Uang ada pada prof Ardi dan Ulama ada pada Amri Darwis)
Partai pengusung
Andalan tokoh non partai
Tiem Sukses
Ilmu
Dengan analisa seperti ini, ada yang membisikan bahwa saya tidak ada keberpihakan kepada pak Alis Marajo, sehingga saya diberhentikan jadi Camat Harau dan dimutasikan jadi Kabid Pendidikan dan Pelatihan pada Badan Kepegawaian Daerah Lima Puluh Kota akhir tahun 2004 sebelum Pemilu 2005.
Sewaktu kampanye Pilkada 2005 digelar, sejumlah pemerhati politik di Sumatera Barat memperkirakan, Pilkada Limapuluh Kota akan menjadi arena kompetisi yang ketat antara Alis Marajo-Zagly Bros dengan Profesor Ardi-Yusri HI. Logikanya, Alis Marajo saat itu bupati petahana dan punya pengalaman politik panjang. Sedangkan Profesor Ardi didukung dengan suprastruktur dan infrastruktur politik yang kuat. Apalagi, pengusaha nasional Emil Abbas yang merupakan saudara kandung Profesor Ardi, saat itu juga ikut "turun gunung".
Begitu pemungutan suara dalam Pilkada 2005 selesai digelar, pasangan Alis Marajo-Zagly Bros dan Profesor Ardi-Yusri HI, justru kalah oleh Amri Darwis-Irfendi yang didukung Andalan tokoh non Partai yakni dari kelompok Yasin dan petugas Penyuluh Pertanian yang mendaftar ke kantor KPU Lima Puluh Kota pada menit-menit akhir.
Kontan saja, kemenangan Amri Darwis-Irfendi Arbi ini menjadi sejarah dalam Pilkada langsung pertama di Lima Puluh Kota, karena bupati “incumbent” bisa kalah oleh wakil bupati “incumbent”. Koalisi partai politik besar dapat kalah oleh koalisi "partai gurem".
Berdasarkan rekapitulasi hasil perolehan suara Pilkada 2005 itu, pasangan Amri Darwis-Irfendi Arbi meraup 48.819 suara. Disusul, pasangan Profesor Ardi-Yusri HI dengan 45.862 suara. Kemudian, pasangan Alis Marajo-Zagly Bros dengan 43.004 suara, dan pasangan Benny Muchtar-Manggul Malik dengan 21.890 suara.
MJ:”.Apa strategi Alis Marajo pada pemilihan bakalan calon Bupati 2010 sehingga dia terpilih kembali jadi Bupati Lima Puluh Kota periode tahun 2010-2015 ?
RJ: ”Pada tahun 2010 Calon Bupati Kabupaten Limapuluh Kota ada 7 (tujuh )Pasangan:
1.H. Zahirman Zabir, SH, MH - Ir. H. Novyan Burano (PDIP, PBB, PKB dan P.Hanura)
2.Ir. Irfendi Arbi, MP - Ir. Zadry Hamzah, MS Dt. Musaid (P. Demokrat)
3.Eka Kurniawan Sago Indra, SH - Arfi Bastian Kamil, SE (Perseorangan)
4.Endrijon Dt Rajo Junjungan - Usni Adri AK. Adam Nan Bagadiang (Perseorangan)
5.Dr. Alis Marajo - Drs. Asyirwan Yunus (Golkar)
6.H. Ekos Albar, SE - Adib Mastur, SE (Koalisi (PAN, PKPB, Patriot, PPI, PDK, PNBKI)
7.H. Rifayendi - Syafri Jalinus (PPP, Gerindra)
Tahun 2010 jabatan saya adalah Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Lima Puluh Kota, berdasarkan kedekatan saya membantu membuatkan visi dan misi 2 (dua ) Calon:
1.dr. Alis Marajo - Drs. Asyirwan Yunus (Golkar).
2.Ir. Irfendi Arbi, MP - Ir. Zadry Hamzah, MS Dt. Musaid (P. Demokrat).
Tak mau kalah untuk kedua kalinya, dan Tuan Alis Marajo bertanya kepada saya “ Apa strategi yang bisa di pakai untuk bisa menang ?” tanya beliau
Saya jawab “ada pada BUPATI itu sendiri, karena BUPATI adalah akronim dari: Basis suara Kecamatan Harau dan payakumbuh ditambah dengan basis suara Kecamatan Pangkalan dan Kapur Sambilan karena Tuan Asyiwan Yunus berasal dari Pangkalan.
- Usung program lama dengan jargon “manyudahan nan tabangkalai dan membangun dari pinggir ibaratkan obat nyamuk dengan pusat simpulnya Sarilamak“ untuk menarik suara pemilihan dari Kapur Sambilan dan Pangkalan.
- Perkuat koordinasi partai pengusung ( Golkar, Demokrat, Hanura, PKS, dan PBB)
- Andalkan tokoh non partai niniak mamak dengan program babaliak banagari..
- Tiem Sukses di lapangan di perkuat
- Ilmu bertanya diperbanyak, untuk menyerap aspirasi masyarakat “maa nan bukik makanan tarah,maa nan lakuak makanan timbun “.
Pemenang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2010 adalah pasangan Alis Marajo dan Asyirwan Yunus. Pasangan ini diusung oleh Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Hanura, PKS, dan PBB.
MJ: ”.Bagaimana sejarah proses pembangunan Monumen PDRI di Koto Tinggi Gunuang Omeh?
RS: Tahun 2009, saya menjabat Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lima Puluh Kota, dan ada rapat di Bukittinggi, terdapat gagasan di Sumatera Barat akan diusulkan pembangunan Monumen Nasional Bela Negara dan membuat film dokumenter tentang Pemerintah Darurat Republik Indonesia 1948-1949 (PDRI). atas saran Bapak almarhum H. Thamrin Manan SH (Ketua Yayasan Peduli Pejuang ( YPP-PDRI) 1948-1949, saya disuruh membuat buku “Luhak Limo Puluah Kota basisnya PDRI” dengan tujuan waktu itu untuk diberikan kepada bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai bahan oleh YPP-PDRI dapat mengusulkan ke pusat supaya didirikan sebuah Monumen Nasional di Luhak Limapuluh Kota dan para pejuang PDRI dapat diakui sebagai pahlawan nasional karena bapak Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai hari Bela Negara sejak tahun 2006.
Diawal pemerintahan Tuan Alis Marajo saya menjabat Kabag Humas Lima Puluh Kota, dan pada bulan Januari di suruh Pak Alis Marajo membuatkan presentasi tentang rencana pembangunan Monumen Bela Negara untuk presentasi di Kantor Gubernur Sumatera Barat dihadapan bapak Irwan Prayitno dan Muslim Kasim (Gubernur dan Wakil Gubernur),
Tak lama kemudian dilanjutkan peninjauan lapangan ke Lima Puluh Kota oleh bapak Muslim Kasim, lokasi pertama ditinjau adalah lokasi teh Sosro Halaban tempat deklarasi, kemudian dilanjutkan ke Koto Tinggi Gunuang Omeh, sebelum tim provinsi datang yang ikut rombongan Tuanku Bagindo H. Muhammad Leter bersama Wakil Gubernur.
Kepada tokoh masyarakat dan niniak mamak saya pesankan agar meminta dibangunnya Monumen Nasional Bela Negara di koto Tinggi dengan alasan di Koto Tinggilah tempat tinggal Pimpinan PDRI yang berjuang bersama rakyat selama 7 bulan. Sementara di Bukittinggi hanya baru embrio dan di Halaban hanya hari deklarasi PDRI, dan kami bersedia menyerahkan tanah sekitar 30 -50 hektar tanpa ganti rugi. Alasan ini saya tulis untuk berita, sebagai wartawan dan kabag Humas, saya buat berita berjudul ”Masyarakat Koto Tinggi Siap meyerahkan tanahnya seluas 50 ha untuk mendukung pembangunan Monumen Bela Negara"
Dengan harapan dengan adanya Monumen Nasional Bela Negara, akan terbukanya potensi nilai sejarah, ekonomi dan pembangunan infrastruktur jalan dari Bonjol ke Pua Data Koto Tinggi melewati Aie Angek, Baruah Gunuang dan Mungka dari Mungka dilanjutkan ke Kubang Balambak Landai dan Hulu air yang bertemu dengan jalan Nasional dengan tujuan ke Pekan baru atau ke Padang.
Alhamdulilah. Pembangunan Monumen Bela Negara (Monumen PDRI) di Koto Tinggi, Gunuang Omeh, dimulai tahun 2012, dengan biaya awal sekitar Rp43 miliar dari APBN. Kelanjutan Pembangunan: Dilanjutkan kembali pada akhir tahun 2019 setelah ada kepastian dana Rp32 miliar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kemudian Tuan Fadli Zon, sebagai Menteri Kebudayaan, meresmikan Museum PDRI, pada 19 Desember 2024, bertepatan dengan Hari Bela Negara. Peresmian ini bertujuan untuk memperkuat semangat Bela Negara dan membangun ekosistem sejarah serta ekonomi di lokasi bersejarah tersebut, yang sebelumnya sempat terbengkalai.
Mj: Dapatkah engku ceritakan kenapa Logo Porprov 2012 di Lima puluh Kota mascotnya Kambing?
RS” di tahun 2011 saya masih menjabat Kabag Humas Setda Lima Puluh Kota,, kemudian ada undangan rapat di kantor Gubernur yang dihadiri oleh Tifatul Sembiring Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), saya minta izin kepada Tuan Bupati Alis Marajo untuk bisa menghadirinya, saya tidak dizinkan dengan alasan pertanyaan “Apakah bung putih?"
Pada awalnya saya tidak tahu maksud pertanyaannya, dengan bung putih, setelah saya berpikir sejenak bahwa Tifatul Sembiring dan Gubernur Irwan Prayitno partainya PKS, sementara Alis Marajo Golkar adalah kuning. Saya jawab "Ambo ‘kuniang” tuan, ambo urang Tanah Datar”. mendengar jawabannya hilang matanya menahan senyum.[maksud kuning pada jawaban Dt. Rajo Sampono merujuk kepada warna kebesaran Luhak Tanah Data, bukan partai politik]
“Bung tidak boleh pergi ke Padang, tugas bung adalah membuatkan mascot Pekan Olah Raga Provinsi Sumatera Barat yang akan kita rencanakan diadakan pada tanggan 12 bulan 12 tahun 2022, cari apa hewan jadi mascotnya “ Ujar Tuan Alis Marajo.
Saya jawab dengan spontan” kenapa kita susah-susah mencari mascotnya, sebab Lima Puluh Kota sejak dahulu telah punya mascot “kambing” atlit panjat tebing. Mungkin Tuan Bupati belum pernah melihat “Kambiang main kalereang “ di Gunuang Bungsu “ Ujar saya.
“Bung jangan main-main, saya ini anak asli Taeh Bukik, memang selama hidup belum pernah melihat “Kambiang Main Kalereang” ujar Tuan Alis Marajo.
Setelah saya jelaskan “main Kalreang” yang saya maksud bukan kelereng (gundu) yang ada dalam pikiranya, beliau saat bermain waktu kecil, tetapi lokasi lereng tabiang di Gunung Bungsu tempat kambing mencari makan”. Kamipun tertawa bersama sampai matanya tak kelihatan, maka jadilah mascot Porprov Sumatera Barat dengan hewan Kambing.
Banyak lagi pertanyaan yang akan saya tulis, sebab bersama almarhum tuan dr. Alis Marajo dt Sori Marajo tiada tempat yang tidak bisa ditulis, tiada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, karena pengalaman selalu membuatkan pidato dan bahan kemana dia pergi. Karena dia mengatakan “memimpin itu adalah seni bertanya, maka di ruang kerjanya selalu ada papan tulis, dan menjawab pertanyaan Kenapa? yang selalu ditakuti oleh para pejabat disekitar Tuan Alis Marajo.
dr. Alis Marajo Datuak Sori Marajo lahir 23 Juni 1946 dan meninggal 28 Maret 2023. Almarhum adalah politikus senior Partai Golongan Karya, dokter, dan mantan dosen Indonesia yang menjabat Bupati Lima Puluh Kota dua periode yakni 2000–2005 dan 2010–2015. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota periode 2009–2010. Sebelum terjun ke politik, ia merupakan dosen tetap Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sejak 1977 hingga 2000. Marilah kita hadiahkan Alfatihah buat almarhum.
Ditulis kembali oleh H.Saiful Guci Dt. Rajo Sampono di Lapau Sumber Percakapan (eSPe) Kasiah Bundo, 9 Desember 2025
Tags: kabupaten
, limo puluah koto
, sumatera barat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar