Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Hikmah Musibah Sumbar 2024

  Picture: antara “Sesungguhnya pahala besar itu sebanding dengan ujian yang berat. Apabila Allah Ta’ala mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Siapa yang ridha terhadapnya maka dia akan mendapatkan ridha Allah SWT. Dan sebaliknya barang siapa yang tidak suka, maka Allah Ta’ala pun akan murka ”. (HR Ibn Majah) Silih berganti musibah menghampiri Ranah Minang, Gunuang Marapi meletus mengeluarkan abu yang tak tanggung banyaknya. Kemudian diikuti dengan galodo [1]  beberapa bulan selepasnya, membawa turun apa-apa yang telah dimuntahkan oleh gunung bertuah itu. Banjirpun terjadi pula di beberapa wilayah di ranah ini, merendam pemukiman, menghanyutkan tak hanya orang melainkan juga rumah. Kejadian terakhir ini (4/5/24) yakni galodo yang menimpa Lembah Anai dan beberapa wilayah di Tanah Data, Agam, Limo Puluah Koto, dan daerah pesisir barat. Salah seorang yang tinggal di Luhak Lima Puluah Koto mengatkan di akun medsos miliknya "Belum pernah selama ini rum...

Galodo Sumbar 2024

  Pict: Agura Forest Tray FB Herman Moechtar | Hampir semua lokasi galodo [1] berlangsung di hulu zona transporting sungai . Disitulah tempat maksimum dari kecepatan arus aliran sungai yang menyatu dari ordo ordo sungai yang lebih kecil. Sebagian besar wilayah Sumbar ditutupi oleh hasil erupsi Singgalang dan Marapi berupa material piroklastik berukuran pasit hingga bongkah. Ketika musim penghujan tiba ....... energi aliran *meninggi* membawa material dari *zona erosional*, maka terjadilah *banjir bandang*. Energi aliran vs Suplai sedimen. *BELAJAR MENGENAL BUDAYA SUNGAI* Herman Moechtar Pemerhati Lingkungan Dasar Pemikiran Proses alam yang terjadi dipermukaan bumi, semestinya dijadikan pedoman dan dikawal agar supaya lingkungan menjadi bersahabat. Juga dapat dijadikan sebagai pempelajaran dalam menjalani kehidupan yang bertahan tanpa mengusik lingkungan alam. Dikalangan masyarakat geologi, *sungai* merupakan tempat perburuan dan sebagai fokus utama mencari *rahasia proses bumi...

BAJAK LAUT TOBELO

  FB Edi Kurniawan | Orang Tobelo asli dikenal sangat pemberani dan patuh. Mereka memiliki budaya canga atau merantau jauh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di lautan walaupun menghadapi berbagai tantangan (Djawa 2013; Djurubasa, 2013). Jika diserukan perang, maka seluruh orang Tobelo ambil bagian dalam perang tersebut. A.B. Lapian (1983) dalam tulisannya Pelayaran Orang Tobelo dalam abad ke XVIII dan XIX, menulis bahwa sekitar pertengahan abad ke-19, gerombolan perompak Filipina mendapat saingan baru: gerombolan perompak Tobelo. Pada 1850, Angkatan Laut Belanda melaporkan bahwa di pantai utara Jawa Timur, mereka diserang oleh tidak kurang dari 15 perahu bajak laut Tobelo. Perahu-perahu yang digunakan para perompak cukup besar, didayung puluhan orang, dan setiap perahu memuat sekitar 60 orang lengkap dengan meriam, senjata api, dan amunisi.

Kisah Komunis di Ranah Minangkabau

  dari kiri ke kanan, adalah: Arif Fadillah (baju putih), Natar Zainuddin, Ahmad Khatib Dt. Batuah (tanda x) dan A.Wahab (baju putih). (Foto: Suryadi) Abdullah Kamil, Komunis yang Disadarkan Menantu Haji Rasul Red:  Muhammad Subarkah  | Oleh: Fikrul Hanif Sufyan (Periset, Pemerhati, & Pengajar Sejarah) Nama Abdullah Kamil, memang tidak familiar dalam lembaran sejarah Minangkabau. Namun, ia dikenang menjadi bagian dari historiografi–terutama yang ditulis oleh sejarawan luar. Sebut saja Schrieke (1929), Harry J. Benda (1960), Akira Oki (1985), dan Joel S.Khan . Nama lainnya yang kerap mengabadikan namanya adalah Haji Abdul Karim Amrullah  (Hamka) , dalam dua karyanya, Muhammadiyah di Minangkabau, Tafsir Al-Azhar, dan Kenang-kenangan Hidup. Kisah laki-laki kelahiran 1907 di Padang Panjang itu, memang menarik untuk disimak. Padang Panjang dalam tulisan Audrey Kahin (1996), selalu ditulis sebagai pintu penghubung antara Pesisir Pantai Barat Sumatra, dan pedalaman Mina...

Malangnya Nasib Si Minang, Hanyut Dalam Fatamorgana: Satu Lagi Otokritik

Pict: republika online Singgalang.id | Benar,  belakangan ini saya sering mengkritisi Minangkabau, hingga ada orang yang menganggap saya benci dan punya dendam terhadap Minangkabau, malah ada seorang tokoh yang marah-marah saja. Tapi kebanyakannya mendukung, dan dampak dari tulisan itu di antara sesama pembaca bahkan banyak terjadi debat panas, terutama di media sosial. Semisal di group-group Whatsapp atau Facebook. Dalam salah satu debat; Si A bertanya, “ …apak bangih-bangih ko, alah apak baco sadonyo tulisan tu? ” [Engku marah-marah sahaja, sudahkah engku baca keseluruhan tulisan itu?] Jawab si B: “ …maleh den, panjang amek, mambaco judulnyo se lah sakik hati den ”. Kata si A lagi: [Malas kami, panjang betul tulisannya, membaca judulnya sahaja sudah sakit hati kami] “ …itu namonyo apak basumbu pendek, baco lah dulu, pahami, baru apak ngecek ”. [Itu namanya engku itu 'sumbu pendek', bacalah dahulu, fahami, baru engku berpendapat] Tapi yang namanya orang Minang, jangankan kala...

ARTEFAK MAJAPAHIT DI TUMASEK.

  Pict Wikipedia FB KIsah Ulama & Sejarah Nusantara | Tumasek atawa Singapore adalah sebuah kerajaan yang didirikankan oleh Wong Palembang. Sang Nila Utama sumber mereferensi Kitab Sulalatus Salatin. Menurut Richard O. Winstedt dalam artikel Gold Ornaments Dug Up at Fort Canning, Singapore yang diterbitkan Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society di 1928 silam Disebutkan bahwa artefak yang terbuat dari emas . Perhiasan emas dengan style Majapahit itu kemungkinan sengaja disembunyikan ketika serangan Ayutthaya di Tumasik, nama lama Singapura, pada akhir abad ke-14 Masehi.

Pandangan positif Terhadap Melayu pada Sisi Pandangan Penjajah

  Pict: Shahimages FB Siti Zulaikha | Sangat cerdik, bijak, suka buat lawak, nakal, ceria, suka mempelajari bahasa asing, bangsa yang paling bersopan santun di Timur. Walaupun tercatat dalam sejarah Melayu penjajah sebagai perosak kepada sejarah Melayu, budaya, bahasa, pemikiran dan sosial, namun kita masih boleh mengambil sisi positif, iaitu hasil kajian sociologi dan anthropologi mereka terhadap orang Melayu yang ditulis mengikut pemerhatian terus mereka, bukan penilaian ye, itu bahaya. Antara sisi yang positif dan dikagumi mereka adalah Melayu dikatakan sebagai bangsa yang cerdik, ceria, suka buat lawak, dan sangat nakal, walaupun ada yang suka berfoya-foya, namun ramai dikalangan mereka yang menjadi pemerintah, ahli matematik dan ahli astrologi, sejarawan dan sebagainya. Ini dakwaan De Eredia sewaktu beliau berada di Melaka pada abad ke-16;