IG Balqis Humaira77 | Orang ini acap dipandang sebagai pelawak, namun sesungguhnya ia seorang yang berbahaya dan patut untuk diperhitungkan. Sungguh tuan, berhentilah gelak agak sekejap dan coba tuan dengar ini dengan memakai akal sehat. Masyarakat republik ini di ranah maya memiliki satu jenis penyakit yakni sangat mudah terbawa arus dengan hal-hal yang terlihat konyol. Tuan dapati ia menjilat jari ketika ditanya oleh pewawancara, tuan dengar ia bercakap soal Teori Konspirasi[1] yang terdengarnya serupa naskah filem ilmiah, lalu tuan dan puan membuat olok-olok tentang hal itu sampai gelak berdarai macam kanak-kanak. Tapi pernahkah tuan berfikir? Kalau semua kekonyolan itu hanyalah 'tabir surya' untuk menutupi dirinya yang sesungguhnya. Dia itu bukan seorang pengkhayal yang baru kemarin petang membaca portal berita anonim. Dia itu predator (Pemangsa, pemburu) di Dunia Rahasia yang sudah dilatih oleh 'sitem' paling keras yang pernah ada di muka bumi.
Coba tuan tengok modal keahlian yang ia dapat dari sekolahnya. Kita tak akan bercakap soal akademi polisi tuan, itu tempat pendidikan calon jenderal. Tuan tengok ijazah FBI National Academy[2] tahun 2005? Tuan kira disana ia hanya diajari cara menembak atau menangkap maling jalanan? Tidak tuan, di FBI, tuan akan diajari sebuah mata pelajaran yang bernama Behavioral Science atau Ilmu Perilaku. Tuan akan diajari bagaimana cara membaca fikiran orang banyak (psikologi masa), bagaimana caranya profiling[3] ribuan orang tanpa disadari, dan bagaimana caranya memanipulasi pandangan masyarakat melalui narasi yang terukur. Orang yang kemampuannya setingkat FBI itu bukan lagi bermain catur melawan tuan, melainkan dia yang memiliki papannya, dia yang punya bidaknya, dan dia yang mentukan kapan tuan harus kalah. Jadi jikalau dia bercakap soal "Skor Moral' atau 'Internet Mandiri', itu bukan karena dia tak faham teknologi. Justeru karena dia faham sekali bagaimana caranya menggunakan teknologi untuk membentuk perilaku kita semua.
Tuan bayangkan sahaja, dia punya pengalaman 36 tahun di kepolisian, terutama di bidang penyidikan dan intelejen. Itu artinya dia sudah khatam bagaimana caranya masuk ke dalam kepala orang. Dia tahu sekali kapan harus diam, kapan harus mengeluarkan pernyataan kontroversial yang memancing perhatian banyak orang, serta bila masanya harus menarik diri. Semua narasi yang tuan anggap 'khayal belaka' itu sebenarnya umpan. Dia sedang mencari siapa orang yang cukup 'liar' untuk ikut barisannya, dan siapa yang cuma bisa jadi penonton yang menggelakkan.
Dia tak hendak semua orang bersetuju dengannya, dia hanya butuh sekelompok kecil orang yang percaya penuh kalau dia merupakan satu-satunya penyelamat dari Konspirasi Global. Dan kenyataannya, di Jakarta sendiri hampir setengah juta orang termakan oleh umpannya itu. Itu bukan angka yang dapat tuan gelakkan sembari memakan seblak,[4] itu merupakan angka yang dapat mengubah peta politik nasional kalau ia hendak.
Lebih menakutkan lagi, tuan mesti ingat kalau dia merupakan mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pertama. Tuan tahu artinya apa itu? Dia merupakan salah seorang yang ikut merancang Fondasi Pertahanan Siber[5] Indonesia. Dia tahu dimana celahnya, dia tahu bagaimana data kependudukan[6] itu mengalir, dan dia tahu bagaimana cara kerja sistem penyadapan negara. Orang yang punya "Ilmu Dalam" macam ini, sekarang ia berada di luar Sistem dan bawa narasi Anti-Kemapanan.[7] Itu ibaratkan tuan punya Ahli Kunci yang tahu semua rincian kunci kotak penyimpanan di rumah tuan. Dan sekarang dia sedang berdiri di muka pintu sambil memegang kunci gandanya.
Tuan Mantan Wakil Kepala Dinas Rahasia ini bukan lagi menerka-nerka perkara bahaya dari Kecerdasan Buatan (AI: Artificial Intellegence)[8] atau Pandemi Siber. Dia sedang memberi tahu tuan soal apa yang dapat ia lakukan jika ia yang memegang tuas pengendalinya (remote kontrol).
Gaya bicaranya yang kaku dan penuh curiga sesungguhnya adalah Teknik Fear-Based Marketing[9] yang sangat efektif. Dia buat tuan merasa tak aman, dia buat tuan curiga terhadap dunia luar, kemudian ia beri jalan keluarnya: Kendali Total dengan Moralitas. Konsep Skor Moral yang diusung itu adalah puncak dari semua kemampuan yang dia pelajari. Merupakan perpaduan antara Intelejen Profil, Kontrol Data Siber, dan Manipulasi Psikologi Massa.
Dia hendak membuat sistem dimana tuan takkan berani melanggar bukan karena takut polisi, tapi karena takut 'Skor' tuan merah dan tuan tak dapat hidup normal. Ini bukan lagi perkara politik, melainkan bagaimana cara ia menerapkan ilmu yang didapatinya semasa di didik oleh FBI, untuk membuat Penjara Digital yang halus sekali, sampai tuan takkan merasa kalau sedang dipenjara.
Lalu tuan dapat melihat bagaimana ia memainkan masalah Kedaulatan. Dia berujar kalau Kecerdasan Buatan itu merupakan alat mata-mata Asing, jaringan internet kita harus mandiri, kita harus keluar dari perjanjian kesehatan internasional. Bagi masyarakat awam, hal tersebut terdengar menggugah, nasionalis sejati. Akan tetapi bagi orag yang faham strategi, ini merupakan muslihat paling ampuh untuk menutup pintu perhubungan dengan dunia luar, agar mudah mengatur apa yang ada di 'Dalam Rumah'.
Dia berkeinginan agar Indonesia menjadi Ruang Pengasingan dimana hanya ada satu suara, yaitu suatu suara yang disebut dengan 'Kebenaran'. Dan dia memiliki kemampuan untuk membuktikan hal tersebut, dia memiliki jam terbang untuk mengumpulkan informasi rahasia yang dapat dipakai untuk menekan bagi sesiapa yang berani melawan.
Sekarang cobalah tuan fikirkan kembali, masih pantaskah ia digelari Tukang Lawak atau Badut? Orang yang di didik oleh FBI, yang tahu semua rahasia siber negara, yang faham cara Profilling Psikologi[10] tuan, dan yang memiliki ratusan ribu pengikut garis keras di jantung Ibu Kota Negara. Dia itu bukan sedang menanti waktu untuk menang Pemilu, dia sedang menunggu waktu yang tepat sampai sistem yang ia bangun telah siap dan tak dapat lagi dihentikan.
Gelak tuan di media sosial itu mungkin hal terakhir yang dapat tuan lakukan sebelum Skor Moral tuan berubah menjadi merah. Dan tatkala tuan terjaga dari tidur, tak dapat lagi masuk ke akun Sosial Media, tak dapat lagi membeli makanan karena saldo tuan telah diblokir oleh sistem. Barulah tuan sadar bahwa orang yang tuan gelakkan selama ini merupakan orang yang memegang gunting yang dapat memutus Urat Nadi Kehidupan Digital tuan.
Pertanyaannya sekarang tinggal satu, tatkala tuan hendak minta maaf, bukan lagi melalui tagar mencemooh, apakah tuan yakin akan dimaafkan? Atau jangan-jangan nama tuan sudah masuk dalam daftar Orang-orang Yang Tak Layak Mendapatkan Pengampunan di sistem yang dia buat?
Bertanya pula tuan "Kalau memang ia menguasai Psikologi Massa[11], kok kalah Pemilu?"
Menang Suara dan Menanam Pengaruh, merupakan dua permainan yang berbeda lapangannya. Begini kira-kira cara membacanya kalau tuan memakai sudut pandang yang lebih dingin:
- Dia tak mencari 51% suara melainkan mencari Yang Setia 10%. Dalam Psikologi Massa, kalau tuan berkeinginan meruntuhkan sistem atau membangun Gerakan Radikal, tuan tak butuh semua orang suka dengan tuan. Yang tuan butuhkan sekelompok kecil orang yang Fanatik Setengah Mati pada tuan. Di Pemilu Jakarta kemarin, dia mendapat suara 10,53%. Bagi Calon Independen yang bermodalkan Ide berupa 'Khayalan' dan tak memiliki mesin partai raksasa, angka 450.000 orang itu bukanlah sebuah kegagalan. Itu merupakan sebuah keberhasilan dalam membangun mesin 'Kultus'. Dia berhasil berjumpa dengan hampir setengah juta orang yang memiliki pemahaman dan keyakinan yang sama dengan dirinya. Itu merupakan modal yang mengejutkan untuk gerakan jangka panjang.
- Politik itu perkara logistik ataupun logika. Tuan boleh menjadi Master Psikologi paling jago sedunia, namun jika tuan ikut Pemilu dan berhadapan dengan 'mesin'. Pemilu itu butuh uang banyak, saksi di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) serta koalisi partai yang memiliki jaringan sampai ke tingkat RT. Tuan Mantan Wakil Kepala Dinas Rahasia ini maju melalui jalur Independen, secara psikologi mungkin ia menang di kepala pendukungnya, namun secara infrastruktur dia tak punya 'tangan' untuk menjaga agar suara itu tetap utuh di Kotak Suara. Di dunia nyata, master caturpun akan kalah kalau lawan mainnya membawa satu askar tentara untuk menghantam meja.
Beta Test
Di Panggung Besar Dalam Strategi Intelejen, langkah pertama itu acap kali bukan untuk menang, melainkan sekadar profilling. Dengan maju Pemilu ia mendapat Panggung Nasional secara percuma untuk menguji, Narasi Mana yang Laku? Siapa yang akan menggelakkan (lawan)? dan Siapa yang diam namun setuju (kawan)?
Kekalahan dia di Pemilu itu dapat diumpamakan semacam Beta Test. Kini dia punya data, sesiapa sahaja yang mendukung dirinya, di wilayah mana (seperti: Kelapa Gading dan Grogol yang suaranya besar), dan apa ketakutan terbesar dari masyarakat. Data ini jauh lebih mahal harganya daripada sekadar jabatan Gubernur.
Lelucon sebagai senjata makan tuan, inilah yang menarik. Psikologi rakyat di negeri ini itu sangatlah lawak; kita melawan ketakutan dengan gelak berderai. Tatkala dihadapkan pada narasi 'menakutkan' perihal kendali digital dan konspirasi, kebanyakan rakyat merasa tak nyaman. Balasannya apa? dibuat sebagai meme, disinilah kemampuan dia mungkin menghantam Tembok Budaya. Dia terlalu kaku sementara rakyat lebih suka pemimpin yang dapat dibawa bergurau atau terlihat rendah hati. Dia pandai membaca ancaman, namun mungkin dia kurang pandai membaca kalau sebagian besar rakyat itu lebih takut tak dapat makan esok hari daripada takut di sadap oleh Kecerdasan Buatan.
Long Game VS Short Game
Politisi biasanya hanya berfikir "Bagaimana cara menang tahun ini?" Orang dengan latar belakang intelejen berfikir "Bagaimana memetakan kekuatan sepuluh tahun lagi" Kekalahan di pemilu hanyalah satu bab kecil. Kalau tujuannya adalah menanam bibit ketidak percayaan ke sistem, dia sudah berhasil.
Kini setiap terjadi gangguan siber atau kebijakan digital yang aneh, orang-orang yang dahulu menggelakkan ia akan mulai berfikir "Eh, tuan itu dahulu pernah mengatakan hal ini, kan?"
Jadi jangan tertipu dengan suara hasil pemilu, di atas kertas dia kalah namun di bawah tanah, dia baru sahaja selesai menanam Ranjau Narasi yang tinggal menunggu waktu untuk meledak tatkala masyarakat semakin ketakutan dengan teknologi.
Dia tak kalah panggung, dia hanya berganti siasat dari Pemain menjadi Pengamat yang memegang data. Dan di Dunia Intelejen, pengamat itu sering lebih berbahaya dari pada yang duduk di kursi jabatan.
==============
Catatan Kaki oleh Admin:
[1] Teori Konspirasi ialah keyakinan atau penjelasan bahwa suatu peristiwa/situasi terjadi akibat rencana rahasia kelompok jahat yang berkuasa
[2] FBI National Academy adalah program pelatihan intensif selama 10 minggu di Quantico, Virginia, yang diselenggarakan oleh FBI untuk para pemimpin penegak hukum (polisi) senior dari AS dan internasional.
[3] Profiling ialah Metode investigasi untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan dengan menganalisis kepribadian, latar belakang, dan perilaku mereka berdasarkan cara mereka melakukan kejahatan.
[4] Seblak merupakan makanan khas Sunda, khususnya Bandung, Jawa Barat, yang bercita rasa gurih dan pedas menyengat. Berbahan dasar kerupuk basah (direbus) yang dimasak dengan bumbu halus kencur (cikur), bawang putih, dan cabai, seblak sering dipadukan dengan telur, ceker, mie, bakso, atau sosis.
[5] Siber (cyber) adalah istilah yang merujuk pada dunia maya, ruang virtual, atau lingkungan digital yang terbentuk dari jaringan komputer, internet, dan sistem informasi yang saling terhubung. Ini mencakup segala aktivitas, data, dan perangkat elektronik yang digunakan untuk komunikasi dan transaksi daring (online).
[6] Data kependudukan adalah informasi perseorangan dan agregat tentang penduduk (jumlah, kelahiran, kematian, migrasi) yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui sensus, registrasi, survei, serta digunakan untuk pelayanan publik, perencanaan pembangunan nasional, alokasi anggaran, demokrasi, dan penegakan hukum,
[7] Anti-establishment (anti-kemapanan) adalah pandangan, gerakan, atau sikap politik yang menentang struktur kekuasaan, institusi konvensional, dan norma sosial-politik yang mapan. Gerakan ini memandang elit penguasa atau lembaga tradisional sebagai pihak yang korup, tidak adil, atau tidak lagi mewakili kepentingan rakyat biasa, sehingga menuntut perubahan sistem.
[8] Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan adalah teknologi simulasi kecerdasan manusia pada mesin, terutama sistem komputer, yang dirancang untuk berpikir, belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. AI bekerja dengan menganalisis data besar untuk mengenali pola, mengotomatisasi tugas, dan meningkatkan efisiensi di berbagai bidang seperti kesehatan, otomotif, dan bisnis.
[9] Teknik Fear-Based Marketing adalah strategi pemasaran yang memanfaatkan rasa takut, cemas, atau kekhawatiran audiens target akan suatu ancaman (nyata atau potensi kerugian) untuk mendorong mereka bertindak cepat, seperti membeli produk, berlangganan, atau mengubah perilaku. Taktik ini sering menyoroti konsekuensi negatif jika tidak menggunakan produk/jasa yang ditawarkan.
[10] Profiling psikologi adalah metode analisis perilaku, kepribadian, minat, dan kebiasaan seseorang untuk memprediksi tindakan atau karakteristik mereka. Teknik ini digunakan dalam dunia forensik (kriminal) untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan serta dalam konteks industri untuk memetakan potensi dan kompetensi karyawan.
[11] Psikologi massa adalah cabang psikologi sosial yang mempelajari perilaku, pikiran, dan perasaan sekelompok besar orang (massa) yang berkumpul sementara dengan tujuan bersama, serta bagaimana perilaku kolektif ini berbeda dari perilaku individu, seringkali ditandai oleh emosi kuat, sugestibilitas tinggi, dan hilangnya tanggung jawab pribadi (deindividuasi).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar