Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Murid & Guru Sekolah Raja 1888

Minang Saisuak #295: Murid-murid Kweekschool Fort de Kock, 1888 Foto klasik untuk rubrik Minang Saisuak kali ini membawa pembaca ke Bukittinggi 129 tahun lalu. Foto ini mengabadikan murid-murid Kweekschool Fort de Kock dengan guru-guru mereka pada ‘HET JAAR 1888’ (tahun 1888). Di latar depan terlihat tiga orang guru Eropa dan tiga guru pribumi. Pada tahun itu tercatat: J.L. van der Toorn (duduk, no. 3 dari kanan) sebagai Direktur, J. Ennen (no. 3 dari kiri) sebagai Guru Kelas 2/ Tweede Onderwijzer ), G.J.F. Biegman (no. 2 dari kiri)  dan Nawawi St. Makmoer (no.1 dari kiri)  sebagai Europesche Onderwijzers/Guru Eropa; Nawawi mendapat keistemawaan: ia digolongkan sebagai Guru Eropa karena kacakapannya yang sudah dianggap selevel dengan guru-guru Eropa), Si Daoed Radja Medan (no. 1 dari kanan) dan Dt. Pada Besar (no. 2 dari kiri) sebagai Inlandsche Onderwijzers (Guru Pribumi). Menulis Nawawi dan Kramer dalam sumber yang disebutkan di bawah: Setelah 35 tahun berdiri, pada 1873 Kweekschool...

Murid2 Sekolah Raja angk.1907

Minang saisuak #294: Murid-murid Kweekschool Fort de Kock, 1908 Kodak klasik ini mengabadikan pelajar Kweekshool Fort de Kock tahun 1908. Jadi, foto ini dibuat setahun setelah dua orang muridnya yang kemudian menjadi terkenal karena menjadi aktivis pergerakan politik memasuki sekolah ini. Mereka adalah Ibrahim Tan Malaka dan Baginda Dahlan Abdoellah. Sangat besar kemungkinan Ibrahim dan Dahlan Abdoellah ada di antara rombongan murid-murid yang terlihat dalam foto ini. Di halaman 71 buku yang menjadi sumber foto ini, nama Ibrahim tercatat bersama kawan-kawan sekelasnya sebagai murid yang mendaftar di Kweekschool Fort de Kock tahun ajaran 1907 (lihat gambar di bawah). Mereka adalah: Ibrahim [Tan Malaka], Djalin, Dahlan [Abdoellah], Bermawi (dari Gouvernement S.W.L. [Sumatra’s Westkust]), Padjar, Ma’az (dari Tapian-na-oeli/Tapanuli), T. Oesman, Nja Oemar (dari Atjeh), Djamal, Doeng (dari Lampong), Abd. Gani (dari Palembang), Moh. Daoed, Moestafa (dari Bengkoelen), Ahmad (dari W[est] Borne...

Kenangan tentang Buya Natsir

Kenangan Seorang "Pembawa Tas" Muhammad Natsir Oleh: H.M.S Dt. Tan Kabasaran* Pict:  FB Intelektual Minang Dalam Tigo Tungku Sajarangan Agak “istimewa” dari yang lain. Pertama kali bertemu, bukan saya yang mendatangi, tapi pak Natsir yang datang ke Bukittinggi di awal Januari 1950. Beliau mengundang saya bertatap-muka. Saya baru berusia 22 tahun tapi sudah bekeluarga, ketika mengayuh sepeda menginggalkan rumah di Birugo menuju jalan Luruih untuk memenuhi undangan bertemu pak Natsir di Markas Masyumi Sumatera Tengah. Saat itu beliau baru jadi Ketua Partai Masyumi. Memang, sejak usia mantah (muda) saya sudah berkecimpung di markas GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Di sini saya mulai dari tukang sapu, hingga jadi Pengurus Wilayah GPII Sumatera Tengah. Usia saya saat Ananda (reporter) datang ini, sudah 83 tahun. Peristiwa pertamakali bertemu dengan pak Natsir sudah sangat-sangat lama berlalu. Sehingga saya tak begitu ingat lagi bagaimana kesan pertama bertemu dengan beliau....

MENGENANG BUKITTINGGI DI SERANG 19 DESEMBER 1948

[caption id="" align="aligncenter" width="500"] PIcture: https://zurrahmah.wordpress.com [/caption] Oleh Saiful Gucci.   18 Desember 2014 pukul 6:04 Lewat tulisan, kita kenal sejarah PDRI CILOTEH TANPA SUARA- Kemarin siang, saya sebagai juri cerdas cermat peringatan Hari Bela Negara yang ke-8 dilaksanakan oleh Badan Kesbanglinmas Kabupaten Limo Puluah Koto bertempat di SMP N I Koto Tinggi Gunuang Omeh. Diakhir acara,seorang peserta bertanya “ bagaimana peristiwa Kota Bukit Tinggi di serang Belanda dan dimana sebenarnya tempat deklerasi PDRI apakah di Bukittinggi atau di Halaban ?” tanya mereka. Pada masa Perang Kemerdekaan, Bukit Tinggi dijuluki sebagai “ Ibu Kota Kedua Republik Indonesia"  Selama beberapa bulan, pada tahun 1947 Wakil Presiden RI Drs. M. Hatta berkedudukan di kota ini. Dari Bukittinggi, Wakil Presiden memimpin dan menggendalikan  pemerintahan dan perjuangan untuk seluruh Sumatera. Pada saat Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua, ...

WISATA TUGU BERSEJARAH DI BUKITTINGGI

[caption id="" align="alignleft" width="300"] Tugu Jam Gadang di Batas Kota-Gadut [/caption] Saat pulang ke Bukittinggi beberapa saat lalu, saya sempat iseng melakukan wisata kecil-kecilan disana. Wisata yang saya lakukan kali ini bukan sekedar wisata biasa. Bukan wisata yang bisa dilakukan oleh banyak orang seperti berkunjung ke Jam Gadang, menikmati indahnya Ngarai Sianok, wisata sejarah ke Lobang Jepang, ataupun wisata kuliner di Los Lambuang. Bermodalkan satu kamera poket digital, saya mulai mengiatari kota Bukittinggi di sore hari untuk berwisata menikmati tugu-tugu bersejarah di Kota Bukittinggi. Pada awalnya, ide ini terpikirkan saat malam harinya saya bersama pacar menikmati keindahan Jam gadang. Saat asik mengambil gambat Jam Gadang, terpikirkan kenapa saya tidak mengabadikan semua tugu bersejarah yang ada di Bukittinggi. Ya, dan akhirnya saya memutuskan besok harinya untuk berwisata mengelilingi kota Bukittinggi mengabadikan keindahan tugu-tugu ...

Langgam Berpakaian Lelaki Minangkabau

Walau kejadiannya di Luhak Limo Puluah namun tulisan ini mencoba menggambarkan kehidupan orang Minangkabau (laki-laki) pada masa dahulu terutama sekali cara inyiak-inyiak kita berpakaian yang berlainan sangat dengan langgam berpakaian orang sekarang. ____________________________________ This picture told us about the Minangkabau Man Fashion Style in the past. This is can not we find to day. The picture told us about situation in the market at Payakumbuah City in Luhak Limo Puluah Koto. ____________________________________ Minang saisuak #292:Payakumbuh: Pengangkutan kopi di masa lalu Setiap foto lama tentu akan menghadirkan nostalgia. Foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini mengabadikan pedati-pedati yang sarat dengan muatan kopi di pasar Payakumbuh. Di mana ada pedati, di sana tentu ada lelaki yang kebanyakan agak parewa . Diperkirakan foto ini dibuat sekitar 1920 atau 30an. Baju dan celana kepar , kain sarung, ikat pinggang kulit yang agak lebar (yang me...

Demang Fort de Kock Wafat

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Picture: https://adhimagnifico.wordpress.com [/caption] “ Soetan Aboe Bakar gelar Soetan Pangeran, mantan demang Fort de Kock, meninggal tgl 25 Juni 1935 dalam usia 75 thn. [Berita kematian ini dipasang oleh] Poetri Siti Anjer, atas nama kaoem famili serta anak-anak, berlamat di Belakang Olo No. 26 – Padang .” (a) “ Pedagang ternama di Pasar Gadang, Zainoen gelar Bagindo Soetan Soempoer, meninggal tanggal 3 jalan 4 Juli 1935 kira2 pukul 9 malam dalam usia kira2 50 tahun. Anggota keluarga: Oemi (iboe); Saini gl. Bagindo Batoeah (adik); Djamaliah (adik); Bahar Moenaf dengan adik2 (kemenakan); A.M. Datoek Sinaro (Ipar) Di pihak anak2: Iljas (anak); Anwar dengan iboe dan saudara2 (anak); Boejoeng Ketek (anak); Maimoenah (anak); Zoeraidah dengan Iboe (anak) .” (b) ***

Mak Itam di Anai

Minang saisuak #291: ‘Mak Itam’ di Lembah Anai (1977) Foto yang kami turunkan dalam rubrik Minang saisuak kali ini mengabadikan jembatan kereta api di Lembah Anai di akhir 1970an. Di gambar itu terlihat ‘Mak Itam’ – sebutan untuk lokomotif uap oleh orang Minang – yang sedang menarik rangkaian gerbong yang membawa batu bara dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Padang. Kekhasan jalan kereta api di Lembah Anai itu telah tersohor ke mana-mana: terekam dalam banyak laporan perjalanan, foto-foto klasik, dan cerita-cerita dalam roman-roman dan buku-buku sekolah. Di sanalah rel kereta memakai roda gigi karena tanjakan yang cukup curam antara datarang rendah Kayu Tanam dengan Padang Panjang yang menjadi kota transit ke wilayah darek yang umumnya berada di pinggang Bukit Barisan. Rel bergigi buatan Belanda itu konon tak ada di tempat lain di Indonesia, dan masih awet sampai sekarang. Dinas Perkeretaapian Sumatera Barat sudah memperbaiki jalur kereta api peninggalan zaman kolonial in...

Penghoeloe-penghoeloe Minangkabau dan peperangan

[caption id="" align="aligncenter" width="220"] Picture: http://sopopanisioan.blogspot.co.id [/caption] Boekittinggi (B. Shinbun): Baroe-baroe ini di Soematera Barat telah dilangsoengkan pertemoean Penghoeloe-penghoeloe seloeroeh Minangkabau. Dengan soeara boelat pertemoean itoe mengambil kepoetoesan-kepoetoesan sbb: Pendoedoek seloeroeh Minangkabau akan menoeroet sjarat-sjarat Agama Islam dan dengan segenap tenaga beroesaha oentoek membela Tanah Air. Segenap lapisan pendoedoek Minangkabau akan bekerdja menjokong Pemerintah menambah tenaga perang sampai kemenanagan achir tertjapai. Menghemat penghidoepan dan beroesaha memadjoekan taboeangan oeang. Oemmat Islam akan mempersatoekan tenaga, menginsjafkan arti peperangan ini dan menjebarkan agama. *** Laporan majalah Soeara Moeslimin Indonesia [semula Soeara M.I.A.I . ), No. 20, TAHOEN II, 27 SJAWAL 1363 H/ 15 OKTOBER 2604 [1944]: 15 [rubrik ‘DALAM NEGERI’] tentang pertemua para penghulu Minangk...

Konfrensi Para Penilik Sekolah

Minang Saisuak #224 - Konferensi Schoolopzieners di Fort de Kock 8 Jun 2015 - 06:00 WIB [caption id="" align="aligncenter" width="602"] Picuture: http://niadilova.blogdetik.com [/caption] Gambar: Konferensi Schoolopzieners di Fort de Kock Sejarah pendidikan sekuler di Indonesia dimulai dari paroh kedua abad ke-19. Mungkin pada masa yang sedikit lebih awal ada beberapa sekolah yang diusahakan oleh misi-misi misionaris. Walau sudah berusia cukup panjang, tapi belum banyak studi historis yang mendalam tentang sejarah pendidikan sekuler di Indonesia. Salah satu disertasi di Leiden University, ‘ The breach in the dike: regime change and the standardization of public primary-school teacher training in Indonesia (1893-1969)’ (2012) oleh Agus Suwignyo, dosen UGM, khusus memfokuskan perhatian pada Sekolah Pendidikan Guru sejak zaman kolonial sampai akhir 1960-an. Sedangkan disertasi Elzabeth E. Graves ‘ The ever-victorious buffalo: how the Minangkabau of Indonesi...

Menjelajah Rumah Kelahiran Bung Hatta

[caption id="" align="aligncenter" width="320"] Picture: http://setiawan-andri.blogspot.co.id [/caption] Menjelajah Rumah Kelahiran Bung Hatta, ”Soekarno Hatta 37 Itu Masih Sakral” Selasa, 12 Agustus 2008 Dahulu, warga Bukittinggi tempo doeloe menyebutnya Jalan Aua Tajungkang Tangah Sawah. Tapi karena di jalan tersebut dahulu telah lahir seorang putera terbaik bangsa dan dicatat sejarah sebagai Bapak Proklamator, maka pemerintah mengubah nama jalan tersebut menjadi Jalan Soekarno-Hatta. Pada rumah bernomor 37 itulah, seorang anak bangsa dilahirkan sebagai cikal bakal munculnya tokoh perintis kemerdekaan RI. Alhamdulillah, jika telah berkunjung atau pernah meluangkan waktu singgah ke rumah kelahiran Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi. Bagi yang belum, setidaknya feature ini bisa menggambarkan seperti apa suasana dan kesakralan yang terasa ketika menapak jengkal per jengkal salah satu bukti sejarah perjalanan hidup seorang anak bangsa yang sangat berjasa...

Pemandian di Melambus

Minang Saisuak #280 – Permandian di Air Melamboes, Tilatang, S.W.K Judul foto ini, seperti dapat dibaca di atas, ditulis sebagaimana aslinya. Kalau diejakinikan tentu jadinya: “Pemandian di Air Malambus, Tilatang, Sumatera Barat”. Jadi, tampaknya “Air Malambus” (atau “Aia Malambuih” dalam bahasa Minang ragam lisan) adalah nama sebuah korong atau kampung di KenagarianTilatang. Mungkin orang Tilatang sekarang masih dapat memperkirakan letak tempat pemandian ini dulunya. Kata “malambuih” (malambus) mungkin berarti memancur atau mambosek . Foto ini dikirimkan ke majalah Pandji Poestaka oleh D. R. Intan (Datuk Rajo Intan?). Di bawah foto ini tertulis keterangan sbb:

= Nasib Pasa Lamo Awak =

(foto: Pasa Bawah Bukittinggi) Pasa bawah market, there was a Heritage building made by the Dutch. We can find this kind of market on this time, not only on Bukit Tinggi but also in another city or market in Minangkabau or West Sumatera. But many one doesnt realize about this heritage and most like destroy that and make a new building were (they considered) more better than the old. The awareness about heritage in few city has not yet appeared. Most of the leader think that the modern city should be build by change the old building with the new one were more economic valuable and can increase city/regency/ state income. _______________________________ Pasar ini dibagun oleh Belanda pada awal abad 19, pasar ini dulunya sangat rapi, teratur dengan pembagia n los-los (hall besar yg dibagi2) yang jelas kelompok 'galeh' nya.. Bangunan utama struktur baja yang kokoh dengan atap2 seng tebal sudah sangat mewah kala itu.. Soal drainase, kebersihan, pemeliharaan, keamanan, ketertiban dan...

Dubes Mr. Datuk M. Nazir St. Pamuncak

Visual Klasik Nusantara #66 – Duta RIS Mr. Nazir St. Pamuntjak dan Presiden Perancis Vincent Auriol (1950) Sumber : Madjalah Merdeka , No.21, Th. III, 27 Mei 1950: 10 Catatan : Di sebelah foto ini terdapat laporan berikut: “ Duta Tetap . Sesudah beberapa lamanja di-ibukota dunia, Paris, Mr. Datuk M. Nazir Sutan Pamuntjak , duta RIS di Perantjis baru-baru ini telah mengundjungi presiden Vincent Auriol. Ada mulut jang mengenal duta kita ini mengatakan bahwa sebenarnja dia lebih tepat memangku djabatan duta keliling karena pengalamannja jang 20 tahun lamanja keliling-keliling Eropah. Dan karena sjarat-sjarat mendjadi duta keliling tidak hanja keliling-keliling sadja maka beliau ditetapkan di Perantjis.” Nazir Pamuntjak [kadang-kadang ditulis “Pamontjak”) adalah salah seorang dari rombongan duta Republik Indonesia Serikat (RIS) yang pertama (9 orang) yang dikirim ke luar negeri. Mereka adalah: Mr. Ali Sastroamidjojo (Amerika Serikat), Dr. Sudarsono (India), Dr. Subandrio (Inggris), Sukardj...