Majalah Elipsis | JEMBATAN kereta api yang membelah jalan nasional Padang–Padang Panjang di kawasan Lembah Anai bukan sekadar rangka besi tua yang melintang di atas aliran sungai. Ia adalah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada awal abad ke-20 dengan Kerja Rodi, oleh tangan-tangan pribumi yang banyak di antaranya meregang nyawa. Rel dan jembatan itu berdiri di kawasan yang kini ditetapkan sebagai cagar alam dan hutan lindung, sebuah lanskap yang menyimpan lapisan sejarah, penderitaan, sekaligus kemajuan transportasi di Sumatera Barat. Sejak masa kolonial, Lembah Anai dikenal dunia melalui jalur kereta api pegunungan yang menghubungkan Padang dengan Padang Panjang dan Sawahlunto. Jalur ini bukan jalur biasa. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari jaringan rel Sawahlunto–Teluk Bayur (dulu Emmahaven), yang kemudian hari dicatat UNESCO sebagai Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, sebuah Situs Warisan Dunia. Nilainya tidak dapat diukur dengan uang, sebab yang melek...
Berkaum, bersuku, berbangsa