Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Pertumbuhan menjadi bahasa resmi

Gambar: https://upload.wikimedia.org Dalam sebulan-dua bulan yang akhir ini bahasa Melayu menjadi buah perbincangan umum. Hampir tiap surat kabar memuatkan pikirannya. Orang-orang yang mencintai bahasa berunding dan bermusyawarah, bagaimana jalan yang sebaik-baiknya untuk memajukan bahasa itu dan untuk menjaga supaya bahasa itu jangan rusak oleh pengaruh yang tiada baik. Perkumpulan dan komisi didirikan orang berhubung dengan bahasa Melayu. Sesungguhnya sekaliannya itu [adalah] tanda-tanda yang baik.

Athar, Hatta

[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Schippol, 24 Desember 1949 [/caption] Mohammad Athar atau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta lahir pada tanggal 7 Jumadil Awal 1320 yang bertepatan dengan 12 Agustus 1902 di Kampung Aua Tajungkang  pada rumah berlantai dua yang di seberangnya terdapat jalan kereta api dengan latar Gunung Merapi & Singgalang yang selalu mengamati. Bung Hatta adalah anak kedua, kakaknya bernama Rafi’ah. Adapun dengan ayahnya bernama H. Mohammad Djamil anak dari Syech Batu Ampa dan ibunya bernama Saleha yang merupakan anak sulung dari tiga orang bersaudara. Kakek beliau (Pak Gaek) Ilyas Gindo Marah, Nenek beliau (Mak Gaek) Aminah, dan Saleh St.Sinaro serta Idris yang merupakan mamak (saudara lelaki ibu) beliau. Sang ayah meninggal tatkala Bung Hatta berumur 8 bulan sedangkan sang kakak baru berumur 2 tahun. Sang ibu kemudian dinikakan oleh sang kakek dengan seorang saudagar berdarah Palembang yang bernama Mas Agus H Ning. ...

Kekuatan Perempuan Minang

[caption id="" align="aligncenter" width="2652"] Gambar: https://i2.wp.com/jejakislam.net [/caption] Bahkan dalam batas-batas dunia Melayu, Minangkabau adalah budaya yang terkenal akan kekuasaan Kaum Perempuannya. Perempuan mengontrol rumah tangga dan sawah; moralitas borjuasi Belanda dan sopan santun Jawa yang masih terkungkung masih belum masuk ke dataran tinggi Minangkabau. Jadi, perhatian perempuan Minangkabau tidak sepenuhnya cocok dengan Feminisme Jawa dan Eropa yang lebih tertindas dan bersikap menentang. [Jeffrey Hadler. Sengketa Tiada Putus. Freedom Institut. Jakarta, 2010. Hal.251] Perempuan Minangakabau pada masa dahulu dipanggilan dengan panggilan Rangkayo yang bermakna Orang Kaya. Suatu panggilan yang amat mulia sekaligus menggambarkan posisinya dalam masyarakat Minangkabau. Kaum perempuanlah pemilik sekalian harta pusaka serta berkat restu darinya pulalah  senator (Penghulu/datuk) dapat diangkat yang akan mengemban tanggung jawab membawa a...