Langsung ke konten utama

Postingan

Jalur Asli Orang Minang Tanpa Melewati Lembah Anai

Tutup Saja Jalan Lembah Anai, Ada Jalur Lain Sejak Zaman Belanda   Penulis: Khairul Jasmi  |  Kamis, 14/05/2026 | 15:42 WIB Langgam.id – Seenaknya ngomong tutup. Jangan asal melontong saja ya ndak? Tapi, begini, siapa bisa menjamin Lembah Anai bebas bencana galodo? Titik terendahnya sampai Silaing Bawah, Padang Panjang, itu tinggi. Jika ditegakkan benang, satu kilometer tingginya. Bagaimana kalau waduk? Melontong juga sepertinya. Apapun jalur itu layak ditutup, kalau mau. Kalau tidak, mari kita “nikmati” saja segenap masalahnya. Kawan saya lulusan Belanda, S2 pula, punya catatan. Novelia Musda namanya, menulis di Harian Singgalang 17 Desember 2025 dengan judul “ Alternatif untuk Zaman Kini – Jalan Kayu Tanam ke Tambangan Sudah Ada Sejak Zaman Lampau ” . Biar panjang tulisan saya ini, dikutipkan saja mana yang perlu. Sebagai berikut: Jalur lama itu bukan dongeng. Satu jalur historis dari pesisir barat Sumatera ke pedalaman Minangkabau adalah dari Kayu Tanam ke Tambangan, ...

Jalur Penghubung Darek & Pesisir Barat sebelum Belanda

Alternatif untuk Zaman Kini - Jalan Kayu tanam ke Tambangan Sudah Ada Sejak Zaman Lampau Oleh:  Novelia Musda  |  ASN Kanwil Kemenag Sumbar |  Rabu, 17 Desember 2025, 15:36 WIB   Harian Singgalang | Satu jalur historis dari pesisir barat Sumatera ke pedalaman Minangkabau adalah dari Kayu Tanam ke Tambangan, Batipuh, via Bukit Ambacang. Informasi tentang jalan ini antara lain dapat dibaca dalam tulisan EB Kielstra Sumatra’s Westkust 1819-1825 (Sumatera Barat 1819-1825). Rujukan Kielstra salah satunya HM Lange (1852): Het Nederlandsch Oost Indisch Leger van Westkust van Sumatra (1819-1845) [Pasukan Hindia Belanda di Sumatera Barat]. Awalnya pada Desember 1821 komandan militer Belanda di Sumatera Barat, Letnan Kolonel Antonie Theodore Raaff, untuk menghadapi Kaum Paderi berupaya menemukan perhubungan paling efektif untuk operasi militer dari Padang ke pos Belanda di Simawang, sebab jalur bukit via Saning Bakar yang pernah dilewati Raffles dipandang sangat buruk, ...

Aceh: Pemimpin Alam Melayu

IG ygaaditama | Sejak kemunculannya di aliran Sungai Krueng Aceh pada akhir abad ke-15, Kesultanan Aceh pelan namun pasti meluaskan pengaruhnya sampai ke Pantai Barat Sumatera dan Pantai Timur serta Semanjung Malaya hingga mencapai zaman kegemilangannya pada pertengahan abad ke-17. Oleh karena pengaruh dan wilayahnya sebagai penguasa jalur lintas Selat Melaka, Aceh berubah menjadi negara muslim maritim terkuat, terkaya dan paling disegani. Aceh menyebut dirinya sebagai Pemimpin Alam Melayu, Pemimpin Negeri-Negeri di bawah Angin, serta mendapat gelar sebagai "Serambi Mekkah" karena daulat dirinya sebagai Pelindung Islam dan kontribusinya dalam menyebarkan dan mengembangkan ajarannya. Dalam cengkeramannya, berbagai negeri di Sumatera dan Semenanjung Malaya disatukan di bawah perintah Kutaraja. Para Duta Besar asing hilir mudik menawarkan persahabatan. Mengikuti role model negeri muslim adidaya: Turki, Persia, dan India, Aceh menjadi negeri muslim besar, agung, serta bergengsi ...

Kebudayaan yang Berhenti di Panggung

Kaba " Catuih Ambuih" " Kebudayaan yang Berhenti di Panggung ” Oleh Bagindo Ishak Fahmi Kita tidak kekurangan karya budaya. Kita kekurangan sistem yang membuatnya bernilai. Setiap tahun, “dapur kebudayaan” Indonesia bekerja tanpa jeda. Negara menggelontorkan anggaran, program dijalankan, karya dilahirkan, dan festival digelar dengan meriah. Melalui Dana Indonesiana yang kini berada di bawah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, ratusan kegiatan budaya dibiayai mulai dari riset, tari,film, musik, hingga pertunjukan. Di daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) bersama Dinas Kebudayaan memperkuatnya melalui pelatihan, kajian, dan festival. Secara fiskal, ini bukan investasi kecil. Dana Indonesiana dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran ratusan miliar rupiah per tahun. Di tingkat daerah, termasuk Sumatera Barat, anggaran kebudayaan dan pariwisata mencapai puluhan miliar rupiah setiap tahun. Namun, besarnya investasi tersebut belum berbanding lurus dengan t...

Basrah: Nenek Moyang orang Minangkabau

Dari Basrah [1] ke Pariangan: Menelusuri Jejak Hebat Nenek Moyang Ranah Minang yang Melegenda FB Nasrul Koto PSU | Membicarakan Minangkabau bukan sekadar membahas keelokan Ranah Minang atau kelezatan kulinernya yang mendunia. Jauh di balik itu, tersimpan narasi besar tentang migrasi panjang, kecerdikan strategi, dan filosofi hidup yang kokoh. Dari mana sebenarnya akar bangsa yang dikenal sebagai petarung intelektual ini berasal? Diplomasi Anak Kerbau: Kemenangan Tanpa Darah Legenda penamaan "Minangkabau" yang tercatat dalam Tambo bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah manifestasi pertama dari prinsip cadiak pandai (kecerdikan). Kisah ini bermula saat ancaman invasi dari kerajaan di Jawa tiba di depan mata. Alih-alih memilih jalur perang terbuka yang berisiko menumpahkan darah, para tokoh adat—Datuak Maharajo Dirajo, Datuak Suri Dirajo, dan Cati Bilang Pandai—menawarkan tantangan yang tak terduga: adu kerbau. [2] Strategi mereka sungguh di luar nalar. Menghadapi ke...