Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Lawatan Bung Hatta ke Sumteng_1952

Minang saisuak #304: Kunjungan Bung Hatta ke Air Santok, Pariaman (1952) Pada hari Sabtu, 10 Mei 1952 Bung Hatta terbang dari Jakarta ke Padang untuk memulai apa yang disebut oleh koran-koran Belanda sebagai ‘ oriëntatie – reizen ’ ke Sumatera Tengah. Surat kabar Het nieuwsblad voor Sumatra (terbit di Medan) edisi 23 April dan 13 Mei 1952 melaporkan bahwa Wakil Presiden itu mengunjungi beberapa daerah, antara lain Kerinci, Pariaman, Padang Mengatas, Sawahlunto, Pekanbaru, Jambi, Indarung (dan pabrik semennya), Kayu Aro, Solok, Singkarak, dan juga Kepulauan Mentawai. Seperti ditulis oleh koran di atas (lihat juga De nieuwsgier [Batavia/Jakarta], 12-05-1952; Java – bode , 13-05-1952): “ Van officiële zijde in Padang vernam Aneta dat de vice-presient, drs. Mohammad Hatta, ongeveer 10 Mei in Padang zal aankomen voor een verblijf van circa 12 dagen in Midden-Sumatra. De vice-president zal verchillende plaatsen bezoeken, zoals Kerintji, Pariaman, Padangmangatas, Sawahlunto, Pakanbaru en...

Perayaan Hari Jadi Bukit Tinggi ke-100 (Versi Belanda)

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Picture: Here [/caption] “ Fort-de Kock 100 jaren oud! Van 3 tot 9 Juni [1926] a.s. zullen te Fort-de-Kock groote feesten plaats hebben, seint onze correspondent te Padang, ter gelegenheid van het 100-jarig bestaan van deze plaats. Het initiatif tot de viering werd genomen door Maleische en Chineesche ingezetenen .” *** Laporan surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia) edisi 7 April 1926 yang memberitakan pesta besar-besaran yang akan digelar di Fort de Kock dalam rangka memperingati 100 tahun usia kota terpenting di datarang tinggi Minangkabau itu. Seperti dapat dibaca dalam kutipan di atas, pesta itu akan berlangsung selama seminggu, dari 3 sampai 9 Juni 1926 yang diselenggarakan atas inisiatif penduduk Fort de Kock, baik pribumi maupun warga Tionghoa (disebut ‘ Maleisch en Chineesche ingezeten ’). Bedasarkan laporan ini, dapat diketahui bahwa hari kelahiran kota Fort de Kock...

Kecintaan Minang atas Bahasa Melayu

[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Gambar: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com [/caption] Penolakan orang Minangkabau atas diberlakukannya Bahasa Minangkabau dijadikan sebagai bahasa pengantar sungguh menarik hati. Rupanya hal tersebut tidak terlepas dari adat kebiasaan yang telah berlaku di Minangabau semenjak dahulunya. Kini adat tersebut telah berubah, bak kata pepatah: Jalan dialiah urang lalu // Jalan di geser orang lewat Cupak dialiah urang panggaleh // Takaran ditukar orang pedagang _______________________ “Bahasa Minangkabau, jang daholoe dimaksoed akan diadjarkan disekolah kl. II sekolah désa dan sekolah Normaal, sebagai bahasa pengantar (voertaal) moelaï permoelaan th. pengadjaran j. a. d. ini ta’ djadi dilangsoengkan. Boléh djadi akan ditoenda beberapa tahoen lagi.”

Nasionalisme Bahasa

Gambar: http://koleksitempodoeloe.blogspot.sg Kilas balik: BAHASA MELAJOE, Besar harapannja akan berkembang Diwaktoe jang achir ini bahasa Melajoe mendjadi soäl: boléhkah dipergoenakan dalam sidang gementeraad atau tidak? Soäl itoe moela 2 dalam gemeenteraad Betawi timboelnja. Beberapa lid Boemipoetera menjatakan kehendaknja akan memakai bahasa Melajoe dalam permoesjawaratan. Kemoedian soäl itoe timboel poela dalam sidang gemeenteraad Soerabaja, Semarang dan achirnja djoega di Médan. Bahkan tidak moestahil, bahwa soäl itoe timboel djoega dalam sidang gemeente jang ketjil-ketjil ditempat lain. Karena sedjak adanja gemeenteraad dinegeri ini dalam persidangan selaloe dipakai bahasa Belanda, ketika dipergoenakan orang bahasa Melajoe, orang terkedjoet; setidak-tidaknja orang merasa tjanggoeng; teroetama dipihak anggota bangsa Eropah. Ada poela orang jang tidak sadja merasa tjanggoeng, tetapi dianggap aksi memakai bahasa Melajoe itoe aksi politik. Sebab itoe pemandangan orang tentang so...

Tari di Minangkabau

Indra Utama, Tari Minangkabau: Dari Pancak dan Pamenan ke Tari Persembahan . Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2017, xx + 260 hlm., ISBN: 978-983-100-871-3; peta, ilustrasi , bagan , catatan kaki , bibliografi, indeks Buku ini adalah salah satu kajian ilmiah terkini yang paling komprehensif mengenai tari Minangkabau. Penulisnya, Indra Utama, adalah seorang scholar dan keroegrafer tari Minangkabau. Ayahnya, Boestanoel Arifin Adam (1923-1995), adalah penggesek biola kenamaan lulusan Conservatoire Royal de Musique Gent, Belgium, dan bibinya, Hoerijah Adam, adalah seorang koreografer tari Minangkabau yang terkenal. Buku ini, yang berasal disertasi PhD penulisnya (Universiti Malaya, 2012), menapaktilasi perkembangan tari Minangkabau yang berakar dari seni pancak dan pamenan berbasis nagari menjadi sebuah tari persembahan untuk dipentaskan yang kemudian menjadi salah satu penanda identitas etnik Minangkabau di pentas nasional dan global. Proses tumbuhnya tari-tari Minangkabau ...