Tribun Padang | Rara, Saksi Bisu Bencana, Bayi Dua Bulan yang Merekam Sejarah Kelam di Tengah Banjir Bandang Agam.
Senyap itu tiba-tiba digantikan oleh deru mengerikan. Bukan gempa, melainkan gelombang banjir bandang yang melumat permukiman. Buas dan tak kenal ampun. Di tengah kengerian yang mencekam itu, sebuah kisah tentang naluri bertahan hidup dan mukjizat kasih ibu terukir abadi.
Kisah itu adalah milik Zunaira Adreena. Bayi mungil berusia dua bulan, telah merasakan bagaimana mencekamnya malam di Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, dan berhasil selamat dalam dekapan sang bunda.
Jika kelak sang gadis kecil, yang disapa Rara, menatap kembali lembaran sejarah kelahirannya, ia akan mendapati dirinya menjadi pelaku sejarah termuda dalam fenomena yang menewaskan ratusan jiwa tersebut.
Sebuah takdir yang berat untuk dipanggul, sebuah trauma kolektif yang ia rasakan bahkan sebelum ia memahami makna kata bahaya.
Firasat Sang Bunda dan Tangis yang Tak Biasa. Kamis, 27 November 2025. Sejak pagi, ada yang janggal dari tingkah Rara. Etra Maiyeti, ibunya, merasakan keanehan yang tak biasa. Meskipun telah mendapatkan haknya ASI yang menenangkan, mandi yang menyegarkan, bahkan popok yang bersih, Rara tak henti merengek.
Ia menolak tidur dan hanya ingin berada dalam pangkuan orang tuanya.
Etra dan suaminya, Idris, bergantian menggendong Rara dalam estafet kasih sayang.
Waktu perlahan merangkak menuju pukul 15.00 WIB, satu jam menjelang Idris, sang kepala keluarga, harus berangkat menuju warungnya.
Kondisi cuaca di Salareh Aie saat itu pun terasa mencekam.
Langit memayungi dengan mendung tebal.
Hujan yang telah mengguyur wilayah itu selama lebih dari sepekan seolah bersiap kembali turun, namun tertahan dalam hembusan angin yang kencang, memberikan jeda aneh yang mendahului petaka.
Rara, yang masih mungil, terus rewel.
Ayahnya tak lelah menggendongnya, masuk dan keluar rumah, memberi waktu istri untuk beristirahat sebelum nanti ia harus fokus mengurus Rara seorang diri, saat Idris membuka warung yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah mereka.
Idris, atau yang akrab disapa Aris, sehari-hari mencari nafkah di warung kecilnya, menyediakan minuman hangat dan makanan ringan bagi para pekerja yang ingin bersantai.
Warung itu biasanya buka mulai pukul 16.30 WIB hingga larut malam, bergantung pada suasana hati atau sepinya pembeli.
Dahulu, warung itu diramaikan oleh kehadiran Etra yang menjual Mie Ayam.
Namun, sejak kelahiran Rara, bekas operasi sesar membatasi gerak Etra, membuatnya lebih banyak berada di rumah.
Saat waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB, Aris mencoba menenangkan sang anak yang rewel sebelum ia berangkat.
"Sabar ya nak, jangan rewel lagi. Tenang dulu sama mama di rumah. Ayah jualan dulu, supaya bisa beli kebutuhan kamu," bisiknya penuh harap.
Ajaib, seolah memahami makna ucapan ayahnya, Rara tiba-tiba terdiam.
Ia terlihat lebih tenang, seolah berusaha untuk tidak merepotkan ibunya.
Etra, melihat kesempatan itu, bergegas memandikan Rara.
Setelah itu, ia membawanya ke kamar untuk disusui, berharap kehangatan ASI dan usapan tangan ibu dapat membawanya terlelap.
Deru Misterius, Antara Alat Berat dan Gempa
Saat Etra sedang asyik menyusui Rara sambil bersenandung kecil, sekitar pukul 17.00 WIB lebih sedikit, tiba-tiba terdengar suara aneh dari luar.
Bunyi yang berderu-deru, berbeda dari suara biasa.
Bunyi itu bertahan lama, konsisten, dan semakin memekakkan.
Pikiran Etra sempat melayang pada alat berat yang beberapa waktu lalu melintas di depan rumahnya, menuju wilayah tetangga yang terdampak bencana.
"Mungkinkah ada alat berat lewat?" pikirnya.
Namun, keanehan terjadi.
Jika alat berat melintas, seharusnya suaranya semakin lama semakin menjauh.
Tapi ini tidak. Bunyi itu tetap ada, seolah kendaraan itu diam di tempat.
"Kalau alat berat lewat, harusnya melintas dan bunyinya semakin lama semakin jauh. Tapi ini tidak, bunyinya konsisten tidak pergi-pergi," ujar Etra, mengisahkan kembali momen mencekam itu, saat ditemui di rumah mertuanya, Selasa (9/12/2025).
Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatian.
Dengan gerakan super pelan, Etra menyibak tirai jendela kamarnya, berupaya agar Rara tidak terbangun.
Yang ia lihat di luar membuat jantungnya berdetak kencang kabel listrik sudah putus, terjuntai di jalanan.
Seketika, pikiran Etra langsung tertuju pada satu hal, gempa bumi.
Dengan sigap, ia memanggil putri sulungnya, Audrey Ramadhani, 17 tahun, yang masih rebahan di kamar lain.
"Dek, keluar dek, kita selamatkan diri dulu. Gempa-gempa," serunya panik.
Mereka bertiga bergegas keluar rumah, naluri bertahan hidup mengarahkan mereka untuk mencari tempat terbuka, tempat yang aman jika-jika rumah mereka roboh dihantam gempa susulan.
Di teras rumah, Rara mungil dalam gendongan Etra, sementara Audrey memapah keduanya.
Di belakang rumah terlihat sejumlah orang berlarian, Etra tidak tahu alasannya, ia berpikiran mungkin ada yang pingsan atau luka akibat bekerja di ladang sawit, pemandangan yang sering terjadi.
Namun, langkah cepat mereka seketika terhenti.
Di hadapan mereka, tiba-tiba muncul gelombang air.
Air berwarna cokelat tua, mengalir deras dengan kekuatan yang menakutkan.
Terjebak di Tengah Arus yang Mengganas
Etra dan kedua anaknya memilih berlindung di tempat yang lebih tinggi di samping rumah.
Namun, air itu tidak menunjukkan belas kasihan.
Debitnya makin deras, volumenya makin besar, membawa serta puing-puing mengerikan, pohon sawit, batang kayu, kasur, kulkas, dan orang.
Mereka bertiga beranjak lagi, bergerak menuju teras rumah tetangga yang posisinya sedikit lebih tinggi.
Tepat ketika mereka mencapai teras itu, pemandangan ngeri tersaji di depan mata, satu unit rumah di seberang mereka roboh.
Atapnya terlepas, terangkat oleh arus, dan meluncur deras ke arah mereka.
"Entah mukjizat Tuhan atau memang kebetulan, atap yang terbawa arus itu tersangkut di tiang rumah bagian depan. Kalau tidak, kami sudah luka-luka. Malah atap itu pula yang membuat aliran air tidak deras ke tempat kami berdiri," kenang Etra, suaranya bergetar.
Ibu dua anak itu terus bertahan, pasrah di tengah derasnya air.
Air semakin lama semakin tinggi, membenamkan kaki mereka.
Sampai akhirnya, tak jauh dari tempat mereka berdiri, muncul tumpukan kayu yang tersusun rapi, tersangkut dan terperangkap oleh puing-puing lain. Itu adalah pijakan penyelamat.
Mereka pun naik ke atas tumpukan kayu tersebut, berupaya keluar dari genangan air.
Saat memanjat, Etra harus merelakan sandalnya terlepas, tersedot dalam arus air yang kuat. Hanya Audrey yang masih mengenakan alas kaki.
Sementara itu, Rara, bayi dua bulan itu, menunjukkan keajaiban.
Di tengah guncangan dahsyat dan kengerian di sekitarnya, ia menjadi anak yang paling pendiam.
Dalam pangkuan ibunya, Rara tidak lagi rewel, ia tidur dengan tenang, sesekali hanya membuka mata seolah ia sedang menyaksikan sebuah tontonan bisu.
Apakah Ini Kiamat?
Di atas tumpukan kayu, bersama dua gadisnya, Etra menyaksikan pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan.
Ia melihat orang-orang hanyut terbawa arus.
Sesosok laki-laki, terombang-ambing dalam air setinggi pinggang, sempat hilang ditelan lumpur, lalu muncul lagi, hanya untuk hanyut kembali bersama arus.
Saat banjir bandang mulai mereda, dari belakang rumah Etra muncul sesosok anak SD yang seluruh tubuhnya sudah dilumuri lumpur.
Ia terseret banjir sekitar 10 meter.
"Anak itu berjalan sangat lunglai, sesekali ia jatuh, tapi berdiri lagi, lalu jatuh lagi, berdiri lagi," cerita Etra.
Ia sempat memanggil anak itu karena mirip dengan anak dari abangnya, namun anak itu melintas begitu saja ke arah atas, matanya kosong.
Laki-laki yang sempat hanyut keluar masuk lumpur tadi pun muncul, berjalan melewati Etra.
Ternyata ia seorang dewasa, berjalan sekuat tenaga melawan gumpalan lumpur yang membebani.
Dari arah berlawanan, terdengar suara anak-anak memanggil,
"Ayah! Ayah!"
Namun, Etra tidak bisa membedakan siapa mereka, karena seluruh tubuh mereka sudah tertutup lumpur.
Tak lama kemudian, muncul sepasang laki-laki dan perempuan dewasa dari belakang rumah Etra.
Mereka terlihat membawa kuali besar yang diletakkan di dekat tempat Etra dan anak-anaknya berdiri.
Ternyata, di dalam kuali tersebut ada seorang lansia yang sudah penuh lumpur, meringkuk kedinginan dan kelelahan.
Tiga orang ini ternyata mengenal Etra.
Pria dewasa itu menyapa Etra dan meminta izin masuk ke dalam rumah Etra yang entah bagaimana tidak terdampak parah oleh banjir.
Dari dalam rumah, pria itu membawa galon dan gelas, yang ia gunakan untuk membersihkan wajah dan badan si nenek dalam kuali.
"Lalu abang itu (pria dewasa) mengambil pakaian kerja suaminya, meminta izin untuk memberikannya pada nenek itu. Karena bajunya koyak, supaya tidak kedinginan," tuturnya, menginterpretasi tindakan pria tersebut.
Melihat adanya sosok laki-laki di antara mereka yang sedang bertahan, Etra awalnya sangat lega.
Namun, kelegaan itu hanya sesaat.
Laki-laki itu kemudian pergi, meninggalkan Etra dan kedua putrinya, ditemani perempuan dewasa dan nenek dalam kuali beserta anaknya.
Nenek dalam kuali itu sempat bercakap dengan putrinya.
"Rat (nama anaknya) dingin nak," pintanya lirih.
Sang anak menjawab, "Sabar mak, sabar, kita tidak ada pakaian lagi," sebuah dialog pilu yang terekam jelas dalam ingatan Etra.
Etra masih berdiri, terpaku bersama kedua putrinya di tengah kegelapan yang menyelimuti.
Dalam benaknya, hanya ada satu kata kiamat.
Ia hanya bisa pasrah dan berdoa, berharap suaminya masih selamat di warung.
"Kalau memang ini kiamat, setidaknya saya meninggal bersama kedua anak saya," ujarnya, suaranya bergetar, air mata sudah mengering.
Di tengah gelapnya malam dan rasa pasrah yang mematikan, Etra kembali melihat sesosok anak muncul, seluruh tubuhnya penuh lumpur, duduk di atas kasur hanyut yang tersangkut di dekat rumah Etra.
"Itu siapa nak?" tanya Etra, hatinya iba.
Anak itu menjawab, namanya Alif.
Nama yang sama dengan anak abang Etra, namun setelah ditanyai, ayahnya berbeda.
Di tengah obrolan singkat dengan anak itu, datang seorang perempuan dewasa, membawa seorang anak berusia sekitar empat tahun, meninggalkannya di teras tempat Etra dan rombongan kecilnya berdiri.
Anak itu ditinggalkan dalam kondisi penuh lumpur, anak tetangga perempuan yang mengantarkannya bertemu saat menyelamatkan diri.
Air mata Etra sudah tidak lagi mengalir, hanya menyisakan getar kepasrahan.
Muncul lagi seorang laki-laki paruh baya, terbawa air dengan tangan menyilang di dada.
Lelaki itu hanya mampu mengucap dzikir, menolak menjawab pertanyaan, badannya terbaring tak berdaya.
“Saya lihat sepertinya bapak itu, bagian kakinya tersangkut sehingga gerakkannya terbatas dan rasa sakit masih terasa,” ujarnya yang melihat bapak itu mengggil akibat mandi lumpur dan kondisi cuaca mulai berangin.
Sekarang sudah ada sebanyak lima korban bergelimang lumpur di dekat Etra, rasa pasrah terus menghinggapinya, gendongannya pada rara tidak berkurang sedikitpun, masih sama, sudah satu jam lebih, hanya arah kepala rara yang berubah-rubah.
Harapan di Tengah Pekat Malam, Persiapan Menghadapi Amukan Susulan
Di tengah pekat malam yang dingin, waktu seolah berjalan melambat, terasa tak berujung bagi Etra.
Ia berdiri kaku di atas gelondongan kayu yang licin dan basah, memeluk Rara, bayi mungil yang tak berdosa.
Kepasrahan memang sempat menghampirinya, namun semangat hidupnya kembali menyala, terinspirasi oleh perjuangan para korban yang bertahan di sekitarnya.
Terlebih lagi, Audrey, putri sulungnya, yang sudah lelah dan menggigil tanpa alas kaki di sampingnya, terus menyuntikkan kekuatan.
"Sabar, Ma, sabar. Nanti Om (suami Etra) pasti datang menjemput. Kita harus menunggu," ujar Audrey dengan suara yang sarat kelelahan, namun penuh keteguhan.
Kata-kata putrinya itu menjadi sumber energi baru bagi Etra.
Ia tersadar, hanya menunggu tanpa bertindak sama saja dengan menyerah.
Otaknya mulai berputar, menyusun strategi untuk bertahan jika sewaktu-waktu banjir bandang susulan datang tanpa peringatan.
"Hati-hati ya nak, perhatikan jalan. Jangan salah injak nanti luka," bisik Etra penuh kehati-hatian, melepas putrinya.
Dengan langkah yang sulit, Audrey menerobos masuk ke dalam rumah.
Ia harus berjalan di tengah genangan lumpur yang tingginya mencapai pinggang, mempertaruhkan diri demi keselamatan bersama.
Misinya: mengambil seluruh kain yang ada, sebanyak-banyaknya. Etra berencana menggunakan kain-kain itu sebagai tali darurat, mengikat Rara dan Audrey, dan bergelantungan di teralis rumah jika arus air kembali menggila.
Audrey kembali, napasnya terengah, membawa sekarung penuh kain dan satu unit telepon genggam.
Cahaya senter dari ponsel itulah yang kini menjadi satu-satunya penerangan, membelah kegelapan yang menaungi Etra dan lima korban lain yang menahan dingin, dibaluti lumpur tanah yang kaku.
Kain-kain itu tidak hanya untuk mereka, tetapi juga dibagikan kepada nenek yang meringkuk kedinginan di dalam kuali.
Sebuah simbol solidaritas yang lahir dari bencana.
Jejak Kaki Para Pencari dan Api Keteguhan Hati
Seiring berjalannya waktu, Etra perlahan mulai melihat pergerakan.
Satu per satu warga mulai berdatangan, mereka bukan tim penyelamat, melainkan para pencari yang putus asa mencari sanak saudara.
Seorang bapak-bapak melintas di dekatnya.
Etra memanggil, meminta pertolongan dengan harapan yang membuncah.
Namun, permintaannya tak diacuhkan. Bapak itu hanya lewat.
"Saya paham juga, mungkin bapak itu mencari keluarganya juga, jadi kami bukan prioritasnya," ujar Etra.
Ia mencoba memahami, bahwa di tengah kiamat lokal ini, setiap orang adalah korban yang berjuang untuk prioritasnya masing-masing.
Kemudian, muncul sesosok pemuda yang ia kenali, bernama Robert.
Etra sempat bercakap dengannya, menanyakan kabar suaminya, Idris, tetapi Robert tidak tahu.
Robert datang ke lokasi itu bukan untuk menyelamatkan mereka, melainkan untuk menyelamatkan adiknya yang terkurung adik yang belakangan diketahui selamat dengan bertahan di dalam rumah.
Lalu, giliran tiga pemuda lain melintas.
Etra memberanikan diri kembali meminta bantuan, tetapi permohonannya ditolak dengan permintaan maaf yang tulus.
Mereka juga sedang terburu-buru mencari sanak saudara yang hilang.
Meskipun permintaannya ditolak berkali-kali, Etra tidak lagi merasa takut.
Api keteguhan hatinya sudah menyala.
Kekuatan mental yang muncul dari insting keibuan membuatnya siap menghadapi apa pun.
Ia telah melakukan persiapan terbaiknya.
Di atas gelondongan kayu yang menjadi pulau kecilnya, Etra siap menunggu fajar, menunggu datangnya pertolongan yang pasti akan tiba.
Dalam dekapannya, Rara masih pulas tertidur, damai di tengah gejolak.
Dan di sisi kanannya, Audrey berdiri tegak, memancarkan cahaya senter ke arah lumpur.
Mereka telah melewati batas ketakutan, dan kini, mereka hanya menunggu akhir dari malam terpanjang dalam hidup mereka.
Dilema 50 Meter, Perjuangan Idris Melawan Naluri dan Arus Maut
Di sisi lain, Suami Etra, Idris, menjalani sore yang tegang dan mencekam.
Kamis (27/11/2025) itu, ia baru saja meninggalkan rumah, tempat ia menenangkan Rara bayi perempuannya yang baru berusia dua bulan bersama istrinya, Etra.
Hanya berjarak 50 meter dari kediamannya, Aris membuka warung kecilnya, sebuah tempat ia berharap bisa mengumpulkan pundi-pundi rezeki untuk menafkahi keluarga.
Sebelum berangkat, momen perpisahan itu terasa begitu personal.
Aris sempat menggendong anaknya yang rewel sejak pagi, menenangkannya, dan membisikkan janji perpisahan bahwa ia pergi berjualan demi memenuhi kebutuhan gadis mungilnya.
Di warung, ia baru selesai memarkir motor, membuka papan kayu penutup, dan menyusun dagangannya.
Warung minuman panas dan cemilan itu masih sepi.
"Kebetulan di warung itu belum ada pelanggan, saya duduk sendirian," kenangnya.
Pilihan Tersulit. Lari atau Kembali ke Keluarga?
Tak sampai satu jam sejak ia tiba dan membersihkan kedai, ketenangan itu dirobek oleh sorakan histeris dari kejauhan.
"Air besar datang! Air besar datang!"
Mendengar seruan yang penuh kepanikan itu, naluri Aris langsung menjerit.
Ia segera menghidupkan motornya, tujuannya hanya satu kembali ke rumah, menjemput Etra dan kedua anaknya.
Namun, laju motornya terhenti di tengah jalan.
Air bah berwarna cokelat tua itu sudah sangat dekat, suaranya memekakkan telinga.
Aris berada di persimpangan yang paling mengerikan apakah ia terus maju menuju rumah yang mungkin sudah terlanda, atau menyelamatkan dirinya?
"Tapi hati saya berkata, kalau saya tidak selamat, bagaimana nanti istri dan anak saya melanjutkan hidup?" ujarnya.
Keputusan harus dibuat secepat kilat. Aris memutar motornya 180 derajat.
Namun, putaran belum sempurna ketika derasnya air dan lumpur sudah terasa menyentuh kakinya.
Aris tidak punya pilihan. Ia meninggalkan motornya begitu saja, lari pontang-panting menuju tempat yang paling tinggi, sekitar 100 meter dari lokasi ia berdiri.
Air setinggi hampir lima meter menerjang, membawa lumpur tanah, pohon, bebatuan, perabotan, dan kendaraan.
Selama hampir tiga jam, Aris terperangkap di tempat yang lebih tinggi itu.
Hatinya tetap tidak karuan, melihat banyak orang terbawa arus dari atas, bayangan istri dan anak-anaknya terus menghantui.
Di tengah keputusasaan itu, ia bahkan sempat bertemu dengan adik kakek istrinya dan menyampaikan penyesalan terdalamnya, merasa gagal melindungi Etra dan cicitnya.
"Bahkan di tempat saya berdiri sudah ada yang pasrah akan kondisi keluarganya, jadi saya sudah pasrah juga. Merasa tidak berguna. Tidak bisa menjaga keluarga," ujarnya, rasa penyesalan dan kegagalan sebagai kepala keluarga membebani dadanya.
Menembus Samudra Lumpur dengan Cahaya Harapan
Arus deras air baru melambat sekira pukul 19.00 WIB.
Hatinya mendesak untuk segera turun, namun belum ada masyarakat yang berani bergerak.
Hingga akhirnya, ia mengajak sejumlah warga yang berada di dekatnya untuk turun bersama, terutama mereka yang ingin melihat kondisi anak-anak mereka
Sebelum menuruni bukit, Aris meminjam Head Lamp (lampu kepala) dari seorang warga.
Dengan tekad membaja, ia menjejakkan kaki ke medan yang kini telah berubah total.
Jalanan yang tadinya mulus, kini menjadi hamparan lumpur setinggi dada.
Aris harus mengandalkan instingnya yang tumbuh besar di daerah itu untuk menyusuri jalanan yang ia yakini adalah aspal.
Instingnya harus tajam, mengingat di kedua sisi jalan terdapat parit dalam yang bisa membuatnya terjembab dan tenggelam dalam lumpur.
Meski biasanya ia bisa berlari kurang dari lima menit ke rumahnya, malam itu ia harus berjalan lebih dari 15 menit, tanpa alas kaki, hanya berbekal head lamp dan pakaian yang basah.
Sepanjang perjalanan, ia mendengar banyak suara minta tolong yang memilukan, tetapi ia terpaksa menghiraukannya.
Ingatannya terkunci pada istri dan anak-anaknya.
Keberaniannya untuk menembus lumpur yang mematikan itu lahir dari cinta mendalam kepada dua orang terkasihnya.
Lalu, sebuah keajaiban kecil terjadi.
"Entah kenapa, saat saya kedipkan head lamp ke arah rumah, ada lampu juga yang menyala. Cahaya lampu itu membuat saya senang dan menghidupkan kembali keyakinan saya," ungkap Aris.
Itu adalah cahaya senter yang dipegang oleh putrinya, Audrey, yang sudah kembali dari mengambil kain.
Aris terus berjalan, hingga tiba di dekat rumahnya, tempat terakhir ia meninggalkan motor.
Di sana, ia bersorak memanggil istri dan anaknya.
Ternyata, mereka menyahut.
Semangat Aris kembali mekar, tenaganya bertambah, dan rasa bersalahnya perlahan sirna.
Penyelamatan dan Janji Pertolongan
Menapaki langkah menuju suara keluarganya, Aris melihat sejumlah orang tergeletak, seluruh tubuhnya penuh lumpur.
Seingatnya, ada sekitar lima korban di dekat tempat istrinya bertahan: anak-anak, orang dewasa, dan lansia.
Salah satunya terhimpit dan tidak bisa bergerak.
Kelimanya meminta tolong untuk diselamatkan.
Namun, Aris datang sendirian. Ia hanya bisa fokus menjemput tiga perempuannya.
Terlebih Etra saat dijemput sempat menolak, karena takut akan disapu banjir susulan.
Namun Aris meyakinkan, bahwa Etra tak perlu cemas, karena ia akan memastikan seluruh keluarga sampai dengan selamat.
Sekitar pukul 20.00 WIB, Aris kembali berkumpul bersama keluarganya.
Etra dan dua anaknya berhasil bertahan di tempat yang lebih tinggi, di sebelah rumah mereka, saling berpegangan.
"Saya hanya sampaikan pada para korban itu untuk sabar menunggu. Saya akan memberi informasi pada warga lain untuk membantu," ujar Aris.
Melihat kondisi lima korban yang kedinginan, Aris mengambil selimut dan kain panjang yang dibawa Audrey dari dalam rumah, membagikannya kepada empat korban yang tergeletak.
Ia terpaksa meninggalkan kelimanya, sambil menggendong Rara, memapah Etra yang baru selesai operasi, dan menggandeng Audrey.
Ia berjalan kembali ke tempat yang lebih aman, sehati-hati mungkin, yang terpenting selamat sampai tujuan.
Setibanya di tempat aman, kondisi kelima korban tadi langsung ia bagikan pada sejumlah warga yang sudah datang ke lokasi, meminta mereka untuk segera dievakuasi.
"Informasi terakhir yang saya terima, kelimanya selamat, meskipun kondisinya ada yang patah, memar, hingga ada yang meminum lumpur," tutupnya, bersyukur bahwa malam mencekam itu tidak berakhir dengan kehilangan yang menyakitkan.
Rara Harus Tumbuh Dalam Kondisi Bencana
Berhasil keluar dari cengkeraman air bah, perjuangan Etra dan keluarganya tidak lantas berakhir.
Mereka memang selamat dari maut, namun kini harus menghadapi kenyataan pahit sebagai penyintas.
Rara, bayi berusia dua bulan, harus tumbuh dalam bayang-bayang bencana, berpindah-pindah tempat tinggal selama kurang lebih satu pekan sebelum akhirnya mereka menetap sementara di rumah mertua.
Di lokasi yang kini dianggap aman rumah sepupunya Etra kembali dihadapkan pada realitas kebutuhan dasar.
Ia meminta Idris untuk membelikan sejumlah popok bayi untuk Rara.
Namun, uang sepeser pun tidak tersedia, dan yang lebih menyakitkan, seluruh pakaian bayi dan perlengkapan mereka tertinggal di rumah yang kini sudah tak bisa lagi ditapaki.
Pagi hari pasca kejadian (Jumat), Etra menyaksikan langsung pemandangan mengerikan itu.
Jalan menuju rumahnya telah berubah menjadi hamparan lumpur tebal yang menggunung. Ia sempat merenung, betapa tepatnya keputusan Idris untuk bergegas pergi.
"Saya sempat berpikir jika tidak mengikuti perkataan suami, mungkin tidak bisa keluar sampai dua hari dari lokasi," ujarnya getir.
Kondisi lumpur yang mulai mengeras membuat akses jalan kaki semakin sulit ditembus.
Bantuan alat berat pun belum bisa masuk akibat akses lalu lintas yang terputus total oleh tumpukan material banjir bandang dan longsor.
Logistik terhambat, dan kebutuhan mendesak menjadi ancaman baru bagi Rara.
Dalam kondisi darurat itu, kebutuhan Rara menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan segera.
Kebutuhan popok, susu, dan pakaian bersih adalah masalah hidup dan mati bagi bayi seusianya.
"Saya sempat berpikir untuk menelepon keluarga, meminjam uang. Soalnya kebutuhan bayi ini sangat mendesak. Lagi pula kondisi seperti ini, bayi gampang terdampak sakit," ungkap Etra.
Di tengah sisa-sisa kehancuran, ancaman penyakit dan infeksi mengintai setiap sudut, membuat Etra semakin was-was menjaga putri kecilnya.
Kisah Zunaira Adreena atau Rara, adalah kisah tentang awal kehidupan yang diwarnai oleh drama bertahan hidup.
Ia adalah representasi ketabahan dalam generasi baru, seorang pelaku sejarah termuda yang akan membawa memori kolektif bencana ini.
Rara mungkin tidak akan mengingat deru air yang mengancam nyawanya, atau dekapan ibunya yang seolah menjadi perisai terakhir.
Namun, ia akan tumbuh besar dengan cerita-cerita ini, menjadi pengingat abadi bahwa di tengah bencana paling gelap, mukjizat kecil bernama kehidupan akan selalu menemukan cahaya untuk bersinar.
Sumber: Tribun Padang
Tags: banjir
, minangkabau'sumbar
, west sumatera
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar