Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022

Asal usul Bukit Seguntang Maha Biru

Ilustrasi Gambar: bungfei  Disalin dari FB Mahamada Al Mahadaya Basama Allaha Al Rahamana Al Rahayama Wa Baha Nasataa’yana Ba Allaha A’laya. Ini hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat berbuat kebaktian kepada tuannya. Sekali sepertua ada seorang raja keinderaan raja itu terlalu besar kerajaannya pada segala raja2 indera seorangpun tiada menyamai dia sekelian menurut titahnya. Adapun baginda itu lagi teruna bujang. Syahdan apabila baginda keluar diadap oleh segala raja dan menteri hulubalang maka berapa pedang yang sudah terhunus kepada kiri kanan baginda itu dan beberapa puluh bentara yang memangku pedang yang berikatkan emas bertatahkan ratna mutu manikam. Maka apabila baginda bertitah pada segala raja-raja dan menteri maka baginda pun memandang ke kanan dan maka segala raja-raja dan menteri yang di kananlah menyampaikan titah raja itu. Maka apabila baginda itu memandang ke kiri maka segala raja-raja dan segala menteri yang di kiri semuanya menyembah ...

Orang Minang ialah Melayu

  Gambar Ilustrasi: kompas regional FB Bagindo Rio Chaniago - Tahun 1895 Belanda Mengeluarkan Peraturan baru bahwa Tak lagi menyebut penduduk Kerajaan Pagaruyung/ Minangkabau dengan sebutan Orang Melayu tapi menyebut orang Minang. [1] Setelah peraturan tersebut Belanda menerbitkan banyak buku tentang Minangkabau yang menyebut orang Minang itu pemberontak, pemalas seperti kerbau, licik dan tidak mau diatur. Sebelum pemisahan Minang dengan Melayu diabad 19 terjadi banyak pemberontakan, karna rata-rata mayoritas orang Melayu Pagaruyung tidak mau kerja tanam paksa serta menolak pajak dan memang orang Pagaruyung terkenal dengan semamgat egaliternya. [2]

“ PUTROE IJO “ RATU KARAJAAN ARU DELI TUA

  Ilustrasi Gambar: syehaceh Pengantar FB Melawan Lupa - Putroe ijo (Green Princess) adalah ’kisah’ kepahlawanan (folkhero) yang dikenal dan berkembang luas, paling tidak pada dua kelompok suku yakni Melayu Deli dan Karo. Sebagai folktale, kisah Putri Hijau pada awalnya merupakan tradisi lisan (oral) milik bersama masyarakat (communal), berasal dari satu daerah (local) dan diturunkan secara informal (Toelken, 1979:31). Kisah ini memiliki sifat oral dan informal sehingga cenderung mengalami perubahan baik penambahan maupun pengurangan. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila dikemudian hari terdapat versi cerita yang berbeda-beda. Wan Syaiffuddin (2003) mengemukakan versi cerita dimaksud seperti: Syair Puteri Hijau (A. Rahman, 1962); Sejarah Putri Hijau dan Meriam Puntung (Said Effendi, 1977); Puteri Hijau (Haris M. Nasution, 1984) dan Kisah Puteri Hijau (Burhan AS, 1990) Adanya unsur-unsur pseudo-historis, yakni anggapan kejadian dan kekuatan yang digambarkan luar biasa dalam k...

KETIKA SAMUDRA PASAI MENGALAHKAN KERAJAAN MAJAPAHIT

  Gambar Ilustrasi: Sejarah Cirebon FB Melawan Lupa - Para ahli sejarah mungkin akan menolak pernyataan diatas, karena dalam sejarah tidak pernah terjadi sebuah Kerajaan Islam di Acheh menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit yang terkenal kemegahan dan kebesarannya itu. Bahkan dalam sejarah, sebagaimana disebutkan ”Kronika Pasai”, bahwa Kerajaan Majapahitlah, dibawah Mahapatih Gadjah Mada yang telah menaklukkan Kerajaan Pasai. Namun jika kita lebih teliti dan jeli, maka akan terungkap sebuah sejarah yang selama ini ditutupi dengan rapi oleh para penjajah dan antek-anteknya untuk mengecilkan peran Kerajaan-Kerajaan Islam di Acheh dalam proses Islamisasi di Nusantara. Fakta yang akan mengungkap bahwa Kerajaan Islam Pasai-Acheh telah berhasil menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit adalah dengan meneliti dan mengungkap dari mana asal sebenarnya ”Puteri Champa” yang menjadi istri Raden Prabu Barawijaya V, Raja terakhir Kerajaan Hindu Majapahit, yang telah melahirkan Raden Fatah, S...

Naskah asli Kemerdekaan Atjeh Sumatra

  Ilustrasi gambar: markijar FB Melawan Lupa - Naskah asli Kemerdekaan Atjeh Sumatra SURAT PEUNJATA KEULAI ATJÈH MEURDÉHKA Atjèh, Sumatra, 4 Désèmbèr, 1976 DEUNGON NAN ALLAH KEU BANSA-BANSA DÔNJA, SALEUËM: Kamoë, Bansa Atjèh, Sumatra, ateuëh neuduëk Hak bak peuteuntèë nasib droë lagèë bansa-bansa laén, dan ateuëh neuduëk Hak kamoë bak peulindông tanoh pusaka éndatu, deungon njoë kamoë peunjata droë kamoë meurdéhka dan lheuëh nibak bandum ikatan keukusaan politék nibak peumeurintah aséng di Djakarta, Djawa. Nangroë pusaka éndatu kamoë njoë na saboh Nanggroë njang sabé meurdéhka dan meudèëlat mulai dônja teudong, Keuradjaan Beulanda nakeuëh keukuasaan aséng njang phön that djak tjuba djadjah kamoë, watèë djipeunjata prang ateuëh neugara Atjèh njang meurdéhka dan meudèëlat , bak uroë 26 Mart, 1873, dan bak uroë njan ladju djipeu-ék prang ateuëh kamoë deungon djibantu lé sipa-i Djawa . Peu keuneulheuëh nibak seurangan Beulanda njoë ka meutuléh bak ôn phôn dalam surat-surat haba ban sa...

NESTAPA PUTRA MAHKOTA ACEH

  Gambar: Kompasiana Oleh: M. Adli Abdullah FB Melawan Lupa - SEJARAH Sultan terakhir Kerajaan Aceh Darussalam, sudah saya nukil minggu lalu. Kali ini, mengulas kegetiran Tuanku Raja Ibrahim putra Mahkota Kerajaan Aceh yang boleh dikatakan dia hidup luntang lantung bersama ayahnya Sultan Muhammad Daud Syah (1878-1939). Riwayat getir kehidupan pejuang Aceh ini bermula ketika Kapten Van Der Maaten menyandera dan menangkap ibunya pada tanggal 26 November 1902, Teungku Putroe Gambo Gadeng bin Tuanku Abdul Majid. Saat itu, Ibrahim berusia enam tahun ketika disandera di Gampong Glumpang Payong Pidie. Gubernur Sipil dan Militer van Heutsz mengultimatum; “Jika dalam sebulan Sultan menolak menyerah, maka anak dan istrinya dibuang dari Aceh.”

Asal Nama Minangkabau

Sengaja Belanda memasukkan unsur adu domba, apakah memang selicik itu orang Minangkabau? Bisa menipu saudara kita dari Jawa. Nama Minangkabau itu berasal dari kata-kata  Mukminan kanabawi yah , lama-lama disebut Minangkabau .   Yang artinya suatu negeri atau kerajaan Mukmin yang tatanan sosial, kemasyarakatan, dan pemerintahannya sama dan seperti tatanan  sosial, kemasyarakatan, dan pemerintahan di zaman nabi-nabi memerintah. Dan ini kalau dikaitkan dengan filosofi orang Minangkabau "Adat Bersendi Syara' - Syara' Bersendi Kitabullah", dia akan klop (cocok). Tidak seperti yang ada dalam Tambo yang sudah dibuat oleh Belanda. ==============

Tatkala Perempuan Minang Tak Faham Adat Minang

Ilustrasi Gambar: luxurylaucher Joget Goyang Mak Taci di Monas Jakarta Dihentikan TOPSATU – Bunyi musik berbahasa Minang yang mengajak orang berjoget terdengar keras. “Goyang Mak Taci, goyang ban, Sarawa lapang Mak Taci, Baju lah cabiak.." itulah kalimat lagu joget yang dilantunkan seorang artis asal Sumbar di DKI Jakarta. Sebagian ibu-ibu yang mamakai pakaian adat Minang berjoget-joget. Tiba tiba musik dan lagu goyang Mak Taci serta joget joget itu dihentikan. Siapa yang berani menghentikan joget goyang Mak Taci? bukan Hansip, tidak pula Satpam, apalagi polisi dan tentara. Siapa yang bagak dan berani menghentikan lantunan musik dan lagu yang telah lama populer bagi orang Minangkabau di seluruh Nusantara? Dialah seorang Bundo Kanduang Jakarta, Suherni Syam namanya. Suherni Syam adalah ketua Bundo Kanduang DKI dan Sekitarnya, termasuk Bogor, Tanggerang dan Bekasi (Botabek). Tokoh Perempuan Minang DKI yang baru saja menjadi ketua Organisasi Bundo Kanduang Minangkabau di DKI itu ad...

Kerajaan Aru di Deli Tua, Kisah Kerajaan Bajak Laut di Dunia Nyata

  Ilustrasi gambar: Medan Bisnis Daily phinemo.com - Kerajaan Aru merupakan sebuah negeri yang pernah berdiri di kawasan pantai timur Sumatera Utara sekarang pada abad ke-13 hingga 16 Masehi. Keberadaan negeri ini masih simpang siur, beberapa literatur menyebut lokasinya berada di Telok Aru di Kaki Gunung Seulawah (Aceh Barat), kemudian Lingga, Berumun, bahkan di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Berdasarkan temuan aktivitas arkeologi, Kerajaan Aru sempat berpindah-pindah. Pada abad ke-13 sampai 14 Masehi, Kerajaan Aru berpusat di Kota Rentang (Hamparan Perak) di  Kabupaten Deli Serdang , sebelum akhirnya berpindah ke Deli Tua dari abad ke-14 hingga 16 Masehi setelah diserang oleh Kesultanan Aceh yang murka dengan Kerajaan Aru. Kerajaan Aru merupakan negeri yang buruk dan dipandang tidak baik oleh kerajaan lain di sekitarnya. Seorang pelaut Portugis, Tome Pires, pada lima abad lalu menggambarkan sosok raja dari negeri Aru sebagai penguasa terbesar di Sumatera yang memiliki ba...

Kerajaan Haru, Penguasa Maritim Yang Terlupakan

  Gambar Ilustrasi: Phinemo Karo Gaul  - Mungkin tidak banyak orang mengenal Kerajaan Aru (Karo); nama kerajaan ini sedikit asing di telinga kita. Berbagai alasan mulai bermunculan kenapa nama kerajaan tersebut seolah-olah hilang dari pendengaran kita.  Padahal sejarah mencatat bahwa Kerajaan Aru (Karo) pernah berkuasa di Sumatra antara abad ke-13 sampai ke 15 M. Kebesaran Kerajaan Aru (Karo) mungkin tidak sebesar kerajaan Seriwijaya dan Majapahit, namun yang jelas Nagarakretagama menyebutkan bahwa Kerajaan “Haru” telah tunduk kepada Kerajaan Majapahit. Istilah “tunduk kepada Majapahit”  di sini bisa bermakna bahwa Kerajaan Aru (Karo) pernah menjadi sebuah kerajaan yang merdeka.  Suma Oriental menyebutkan bahwa kerajaan ini merupakan “Penguasa Terbesar di Sumatra” yang memiliki wilayah kekuasaan luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing.

Kerajaan Aru di Sungai Barumun, Kerajaan Batak, Kerajaan Islam Pertama, Suksesinya ialah Kerajaan Batak Deli (di Deli Tua), dan Kesultanan Melayu Deli (Laboehan Deli)

  akhirmh.blogspot - Fakta lama, interpretasi baru:  Ambuaru (Haru), Dilli (Deli) dan Aru (de Aru atau d'Aru atau Daru) adalah tiga tempat yang berbeda (lihat peta 1619, 1750, 1752 dan 1862). Sementara penulisan nama Dilli (Portugis) menjadi Delli (Inggris) dan kemudian Deli (Belanda) adalah nama tempat yang sama di dalam tiga era yang berbeda (lihat peta 1750, laporan Anderson 1826 dan peta 1862).  Sedangkan tiga bandar penting yang ditaklukkan oleh Majapahit adalah bandar Tandjongpura di Haru (di muara sungai Wampu di Langkat), bandar Sampei (di muara sungai Boeloe Tjina/Hamparan Perak) dan bandar Panai (di muara sungai Baroemoen di Aru). Lantas apa hubungan Kerajaan Aru di Baroemoen dengan Tiongkok dan apa pula hubungan bandar Sampei di Boeloe Tjina dengan bandar 'Kota Tjina' di Maryland/Marelan? Mari kita lacak! . Kerajaan Aru, menurut laporan Pinto (1539) dibatasi oleh lautan dan laut pendalaman (danau Toba) dan pertambangan Menangkabau (Ophir) ibukotanya Panaju yan...

Pandangan Orang Luar Tentang Orang Melayu (zaman dahulu)

  Gambar Ilustrasi: Toko Pedia FB Nur Farhana - Isabella Bird, (The Golden Chersonese, Oxford University Press) seorang pengembara Inggeris telah menceritakan tentang orang Melayu Perak semasa beliau melawat negeri itu pada abad ke 19. Beliau menerangkan orang Melayu tinggal di kampung menumpukan kepada pekerjaan bertani dan menangkap ikan. Mereka tidak suka tinggal di bandar. Rumah dan perkampungan mereka di tepi hutan dan di tepi sungai. Mereka sukakan kebebasan untuk bergerak. Rumah mereka dibina agak berjauhan antara satu dengan yang lain. Rumah dibina di atas tiang, dinding rumah diperbuat dari kayu yang telah diketam, bumbung rumah dari daun nipah yang disirat. Bumbung rumah agak tinggi dan curam. Rumah orang miskin dan orang kaya tidak jauh berbeza, kecuali tangga rumah orang miskin dibina dari kayu dan rumah orang kaya dari batu. Rumah mereka tidak banyak ruang, didapati ruang tamu juga digunakan sebagai tempat tidur. Dalam rumah tidak banyak perabot. Tikar digunakan sebag...

Marga di Sumatera Selatan

  Gambar: Berita Musi FB Alif Teguh Fairuzan - Marga marga Orang Melayu [1] di Sumatera Selatan a. Daerah Ogan Ulu: 1) Adji 2) Marga B. Langit L. Kulon 3) Marga Lubai Suku II 4) Marga Lubuk Batang 5) Marga Ngabihi IV 6) Marga Proatin IV Suku I 7) Rambang K. Tengah Samikrian 9) Semidang 10) Sosoh Buah Rajap 11) Temenggung b. Daerah Komering Ulu 1) Belitang 2) Buai P. Pangsaraja 3) Buai Pem. Peliung 4) Buai Pemaca 5) Bungamayang 6) Kiti 7) Lengkayap Madang Suku 1 9) Madang Suku 2 10) Pakusengkunyit 11) Semendawai Suku 1 12) Semendawai Suku 2 13) Semendawai Suku 3 c. Daerah Muara Dua 1) Aji 2) Buai Rawan 3) Buai Runjung 4) Buai Sandang 5) Kisam Ilir 6) Kisam T. Suku 2 7) Kisam T. Suku I

Minangkabau telah ada semenjak 1039 SM

  "The Empire originated with Manancambin, the first Emperor, who was choosen in the year 1039 before the Birth of Christ, during the Reign of Solomon, when the latter was building the Temple of Jerusalem; the succession has always remained in the same house and family down to Rajagaro..." ~ Manuel Godinho de Erédia Dinyatakan bahwa Manancambin (Minangkabau) adalah the first Emperor—Raja pertama. Apakah Minangkabau itu sesungguhnya nama (gelar) seorang raja? Lebih jauh disebutkan, bahwa suksesi raja yang terpilih selalu berasal dari keturunan keluarga Rajagaro. Siapakah yang dimaksud dengan Rajagaro? Erédia malah menggiring linimasa sejarah Minangkabau ke tahun 1039 SM, lebih-kurang 10 abad sebelum kelahiran Yesus Kristus, tepatnya di zaman Sulaiman pertama kali membangun Haikal (Kuil Suci) di Yerusalem.

Nagur-Aru Barumun-Panei-Aru

  Gambar: Karo gaul FB Ken Alfarezi Nasution - Empat kerajaan ini memiliki Keunikan nya masing-masing, sebelum itu kita bahas demografi dari ke-4 kerajaan ini °Nagur kerajaan dari Batak Simalungun °Aru Barumun kerajaan dari Batak Pardembanan °Panai kerajaan dari Batak Angkola & Batak Mandailing °Aru Kerajaan Dari Batak Karo Keunikan Pertama dari Ke-4 Kerajaan ini adalah bahwasanya pendiri/Raja dari ke-4 Kerajaan ini berasal klan Naimarata, dan Memiliki Panglima yang berasal dari Klan Naiambaton/Parna(Khususnya Munthe Tua) -Kerajaan Nagur Didirikan oleh Marga Damanik (Naimarata:Silau Raja) lalu memiliki Panglima bermarga Saragih Garingging [T.n Si pinangsori:Munthe tua] -Kerajaan Aru Barumun didirikan oleh Marga Harahap (Naimarata:Borbor marsada) lalu memiliki Panglima bermarga Munthe [Patuan Munthe/Panglima Haro:Munthe Tua] -Kerajaan Panai didirikan oleh Marga Harahap (Naimarata:Borbor Marsada) lalu memiliki Panglima bermarga Dalimunthe[Op.Jelak Maribur:Munthe Tua] -Kerajaan A...

ARU/HARU SAMAKAH DAN APAKAH INI KERAJAAN MELAYU ISLAM ATAU BATAK?

Gambar: akhrm FB Juandaha Raya Pruba Dasuha - Dua naskah otentik tentang Kerajaan Aru sunber China dan Sejarah Melayu menjelaskan: 1. Sumber China tahun 1416 menyebutkan letak Kerajaan Aru 4 hari 4 malam berlayar dari Malaka ke Aru. Malaka letaknya sangat dekat dengan Teluk Aru. Mungkinkah 4 hari 4 malam? Groeneveldt dalam peta bukunya ini meletakkan Aru di tepi Sungai yang disebut sumber China ini "Fresh Water", dekat dgn Riau sekarang ini. Atau di antara Labuhan Batu dengan perbatasan Riau - Sumut sekarang ini. Mungkinkah ini Aru-Barumun? Sumber lain menyebutkan di Teluk Aru Langkat sekarang ini. Budaya Aru : cara berpakaian/busana, upacara pernikahan, pemakaman dan lain-lain sama dgn di Jawa dan Malaka. Agama orang Aru disebut mulai raja dan rakyatnya beragama Islam.

Tentang Pulau Sumatera

  Gambar: apa arti dari Laporan sumber lokal ttg Sumatra dibaca lagi baik-baik . Parihal Pulau Perca FB Babai Racdmal - Adapun duduknya Pulau Perca itu tengah2 dengan Khatulistiwa atau Equitor maka yang setengahnya sebelah utara itu sampai lima (5) degree jatuhnya bersamaan dengan Pulau Pinang dan separuh sebelah selatan Pulau Perca itu lima (5) degree juga jatuhnya bersamaan dengan Bantam. Maka panjangnya 925 mil dan lebarnya lebih kurang 90 mil maka sebelah baratnya adalah lautan besar yang di namai laut India dan sebelah timur iaitulah Selat Melaka. Maka rupanya Pulau Perca itu seakan tanah besar Melayu tetapi berlainannya itu iaitu oleh sebab tengah2 Pulau Perca itu adalah kebanyakan tanahnya tinggi tiga (3) kali terlebih tinggi daripada gunung2 yang berbanjar di tanah Melayu. Jikalau ada banyak jadi gunung2 berapi dalam negeri Perak dan Terengganu dan Patani maka rupanya sama juga seperti keadaan Pulau Perca. Maka gunung tinggi yang berbanjar di sebelah barat sekali itulah t...

Kota Padang Dalam Tinjauan Tradisi

Gambar Ilustrasi: Wikipedia Oleh : Emral Djamal Dt.Rajo Mudo PENDAHULUAN Sekilas Sejarah dan Asal Usul Padang Dari penelitian Asal Usul Nagari Padang, Ninik Mamak  Delapan Suku, ada simpul kecil yang menarik. Abad ke 17 Nagari Padang mencapai puncak kehadirannya sebagai sebuah Bandar Pelabuhan. Kejayaannya ditempa dan berkembang karena pertarungan berbagai konflik menjadi kota pantai yang tumbuh dan berkembang dengan percepatan. Pernah menjadi ajang perebutan global berbagai kepenting an bangsa-bangsa asing seperti Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan pendatang-pendatang asing lainnya di pantai barat Sumatera, berbenturan pula dari dalam negeri sendiri berhadapan dengan kepentingan Aceh, serta berkaitan pula dengan masalah pertahanan wilayah Minangkabau bagian Pesisir Barat Sumatera Barat yang dipimpin Kesultanan Kerajaan Indrapura. Sekaligus memperlihatkan citra dan karakter spesifik sebagai kota pantai yang tangguh dan tegar dalam menghadapi berbagai konflik global di zamanny...

Indra Pura, banyak negeri memakai namanya

  Ga,bar: Unkris INDRAPURA, Ada di Mana-Mana. - Sebuah catatan refleksi perjalanan sejarah. Alif.ID - Indrapura, nama indah ini ada di mana-mana. Ada Siak Sri Indrapura di Riau, Indrapura Air Putih di Batubara, atau Indrapuri di Aceh. Pahang yang kita kenal sekarang dulu bernama Indrapura, termasuk ibukota Champa (Vietnam). Nama-nama tempat India kuno pun banyak memakai nama Indrapura. Indrapura, artinya lebih kurang yakni tempat bertahta raja Indra (raja tertinggi), demikian pernah ditulis budayawan prolifik Emral Djamal Datuak Mudo. Tapi bukan kebetulan jika Indrapura di ujung selatan Sumatera Barat juga ada di mana-mana. Dalam buku Rusli Amran, Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang (1981), Kesultanan Indrapura jadi pumpunan teks setebal 652 halaman tersebut. Gusti Asnan dalam Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007), membicarakan Indrapura sebagai pelabuhan penting penghasil lada hitam (merica) dan emas. Dalam buku yang lain, Kerajaan Indrapura (2013), Gusti Asnan (editor) ber...

Abdoel Moeis: Penentang Peraturan Pajak Kolonial

Foto: niadilova.wordpress niadilova.wordpress.com - Abdoel Moeis adalah nama yang tidak asing lagi bagi kita. Lahir di Sungai Puar, 3 Juli 1883, Moeis dikenal sebagai sastrawan, wartawan dan politikus. Ayah Moeis, Datoek Toemanggoeng Soetan Soelaiman, adalah laras Sungai Puar yang kritis kepada Belanda (lihat   Minang   saisuak , 6 Februari 2011). Sebagai sastrawan, Moeis menjadi kondang karena novelnya Salah Asoehan (1928) yang difilmkan Asrul Sani tahun 1972. Novel-novelnya yang lain adalah  Pertemuan   Jodoh  (1933),  Surapati  (1950), dan  Robert   Anak   Surapati  (1953). Ia juga menerjemahkan beberapa novel asing ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagai wartawan, Moeis berpengalaman bekerja sebagai anggota redaksi beberapa surat kabar, antara lain  Bintang   Hindia ,  Preanger   Bode , dan  Neratja . Sebagai politikus, kiprah Moeis di  Sarekat   Islam  (SI) sudah dicatat dalam sejarah. Ia ada...

HAMKA: KEMERDEKAAN SEBAGAI JEMBATAN EMAS MENUJU CITA-CITA KEBAHAGIAAN ROHANI DAN JASMANI

  Foto: FB Mahmud Budi Setiawan Transkripsi Berita, silahkan klik DISINI FB Mahmud Setiawan - Dalam acara resepsi Tanwir Muhammadiyah (Sabtu, 14 Februari 1953), yang diselenggarakan di gedung Sasono-Suko, Lodjiwetan, Solo, ada pesan menarik yang disampaikan Buya Hamka mengenai kemerdekaan. [Acara ini dimuat dalam koran Kedaulatan Rakjat (No. 39, 17 Februari 1953) dengan judul "Hamka: Merdeka tidak Berarti Bertindak Tanpa Aturan". Sebuah konferensi yang dilangsungkan konsul-konsul Muhammadiyah (tanwir) seluruh Indonesia.]

KEDAH IBU KOTA PEMERINTAHAN SRIVIJAYA

  Ilustrasi Gambar:  National Geographic FB Nur Farhana - Tahu tak kalian, nama Srivijaya lebih dulu disebutkan dalam rekod dinasti Cina pada tahun 638M, jauh sebelum keberadaan Srivijaya di Palembang dan Sumatera pada tahun 683M di abad ke 7 masehi : "The History of Ming Dynasty (the Ming Shih) says that San-fo-chi (三佛斉 - Srivijaya) was formerly called Kan-da-li(or Kan-tuo-li,干陀利 - Kedah) and started tributary mission in the Liang times." 「三佛斉、古名干陀利。劉宋孝武帝時、常遣使奉貢。梁書武帝時数至。宋名三佛斉、修貢不絶。」 Sumber rekod China itu tidak mampu dibantah yang mengesahkan bukti Srivijaya diasas mula oleh Kan-da-li iaitu Kedah. Kata 'Srivijaya' juga awalnya dari nama seorang Raja Melayu beragama Budha bernama Qu-tam (Chudam) yang memerintah kerajaan Tanah Merah (Chih-tu) yang menguasai wilayah utara 'semenanjung Melayu asal' mengitari Kedah, Kelantan hingga Segenting Kra. Penemuan prasasti Budhagupta di Seberang Prai yang dulunya wilayah Kedah, menguatkan bukti bahawa kerajaan Chih-tu ber...

Dikutuksumpahi adat, dikibuli modernitas

Gambar: Suara merdeka Apa guna adat di zaman ini? niadilova.wordpress - Kita sering mendengar kalimat sinis seperti itu keluar dari mulut orang-orang yang menyembah London dan New York, Mekah, dan Madinah – mereka yang menganggap dirinya lahir dari rahim modernitas atau para pengapling sorga. Dalam setiap zaman, orang-orang seperti itu datang silih berganti. Mereka memandang adat negerinya sebagai penghalang kemajuan. Orang-orang seperti itu ada dimana-mana, juga di Minangkabau. Dan kronik Minangkabau adalah kisah panjang persitegangan antara mereka yang mencintai adat dan yang ingin membuangnya. Namun, sejarah mencatat, mereka yang ingin mengenyahkan adat itu selalu jatuh menjadi pecundang. Di tahun 1925, setelah mengunjungi Sumatra Barat, Parada Harahap, wartawan prolifik kelahiran Tapanuli itu menulis: “ Saja rasa tidak ada satoe bangsa dimoeka boemi ini jang paling koeat memegang adat, selain dari bangsa Minangkabau ditanah airnja. Saja maoe bilang 99% dari segala kehidoepannja da...

Konspirasi Terhadap Melayu di Malaysia

Ilustrasi gambar: wikipedia FB Sarah Zakaria -  Yap Ah Loy mendapat kebenaran dari Frank Swettenham membangunkan Kuala Lumpur pada 1881 selepas banjir besar melanda pada tahun tersebut. Tetapi pejabat pemerintahan Selangor telah dipindahkan dari Klang ke Kuala Lumpur pada tahun 1880. Malah pada 1882, jalan raya utama ialah Jalan Damar Sara (Damansara) telah ada malah mengunjur ke Pudu dan Ampang. Jalan tak berapa utama juga telah ada menuju Batu Caves. Nak buat jalan elok yang rentas hutan berbelas batu masa tu tak mungkin makan hanya beberapa bulan. Tambahan lagi, berapa sangtlah duit geran Malay States sumbangan Frank Swettenham untuk Ah Loy membina pekan kecil yang boleh mengatur rumah-rumah candu di kluster kampung berbagai sub etnik Melayu yang kini dipenuhi pekerja lombong imigran negara tirai bambu. Damar Sara merupakan sebutan Mandailing bagi kawasan pendamaran iaitu tempat mengutip damar. Ia tentu sekali sama dengan 'pandamaran' dalam sebutan Minang.

dr. Anas dkk. yang pro Belanda bertemu dengan Perwakilan Tertinggi Mahkota Kerajaan Belanda (1949)

  “ Padangs delegatie bij de HVK Eind vorige week is een uit Padang afkomstige delegatie in audiëntie ontvangen bij de HVK, Z. Exc. Lovink. Zij bood namens het Komite Dewan Perwakilan Padang de op 25 Maart in een volksmeeting te Padang aangenomen resolutie aan de HVK aan. In deze resolutie wordt aangedrongen op de vorming van een Raad voor Padang en de Padangsche Benedenlanden. De delegatie bestond uit dr. Anas, dr. Hakim en de heer Gidi [Sidi?] Samsoeddin .” *** niadilova.wordpress.com - Laporan koran  De Locomotief  (Semarang) edisi 26 Juni 1949  tentang audiensi antara “ Komite Dewan Perwakilan Padang ” dengan  Wakil Tertinggi Mahkota Kerajaan Belanda  ( De Hooge Vertegenwoordiger van de Kroon , disingkat  HVK )  H.M.J. Lovink  di Jakarta. HVK  dibentuk untuk menampung aspirasi-aspirasi yang muncul dari kelompok-kelompok yang masih menginginkan kehadiran Belanda di Indonesia menyusul agresi Belanda ke Indonesia setelah Soekarno-Hatta...

Hari ibu dan Ranah Bunda, tentang Malin Kundang, Hanafi, Muhamad Radjab dan KAU!

Foto: kompas niadilova.wordpress - Peringatan Hari Ibu telah datang lagi. Dan, seperti tahun-tahun sebelumnya, di zaman media sosial (medsos) yang kian menyiksa orang-orang mata manusia ini, orang-orang mengucapkannya dengan antusias di dinding-dinding Facebook mereka. Sebagian yang lain memasang foto-foto lama  mereka bersama ibunya, ketika mereka masih kecil atau masih dalam gendongan. Adakah mereka sempat pulang ke rumah ibu mereka? Adakah mereka sempat sungkem dan minta maaf kepada sang bunda? Adakah mereka sempat menelepon ibunda mereka untuk sekedar menyenangkan hatinya? Entahlah. Dan seperti biasa pula,  media sosial adalah tempat untuk menyerakkan kritik, cemooh, dan pelesetan. Banyak yang lucu, tak sedikit yang sinis dan sarkastis, tak terkecuali tentang peringatan Hari Ibu. “Kau kira ibumu punya  ipad  di kampung?” kata satu kritik; “Kalo bilang selamat Hari Ibu cepat kali mulutmu itu, tiba mamak suruh cuci piring banyak kali ceritamu”, kata kritik yang la...

ASAL MULA SUKU BATAK ALAS DAN PENYEBARANNYA DI TANAH ALAS, KABUPATEN ACEH TENGGARA

Ilustrasi Gambar: Lembah Alas By  Agussyah Putra Keruas  on  Wednesday, 2 November 2011 at 00:11 Oleh:   Dr. Thalib Akbar, M.Sc.(USA)  SEKRETARIS MAJELIS ADAT ACEH (MAA) Kabupaten Aceh Tenggara    PENDAHULUAN Menyingkap tabir tentang sejarah dan asal muasal suku Batak Alas tidak dapat dipisahkan dari adat dan budaya Batak Alas itu sendiri mengingat hal ini mempunyai korelasi positif antara etiologi dengan antropologi budayanya yang telah menjadi manifestasi gerak jiwa dalam kehidupan sehari-hari mereka.   Oleh sebab itu kuranglah lengkap bila hanya membahas tentang Sejarah Asal Mula Suku Batak Alas dan Penyebarannya di Tanah Alas, Aceh Tenggara.  Sehingga dalam tulisan ini juga dibahas marga-marga, sekilas adat Batak Alas, Penerapan dan Landasan hukum adatnya secara juridis formal.   Ukhang Alas atau Khang Alas atau Kalak Alas telah bermukim di Lembah Alas (Alas Valley)  jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indones...