Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Rancangan Kehancuran Kesultanan

  𝗞𝗲𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗶 𝗞𝗵𝗶𝗹𝗮𝗳𝗮𝗵: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗢𝘁𝘁𝗼𝗺𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗜 FB Panca Prawira | Pada awal abad ke-20, Kesultanan Ottoman [1] sudah lama dijuluki "𝘀𝗶𝗰𝗸 𝗺𝗮𝗻 𝗼𝗳 𝗘𝘂𝗿𝗼𝗽𝗲" (𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗼𝗽𝗮). [2] Julukan itu bukan tanpa alasan—kekaisaran yang pernah berjaya ini tengah terpuruk dalam kemunduran selama satu abad. Kekalahan demi kekalahan di medan perang, kehilangan teritori di Afrika Utara dan Balkan, serta gejolak politik internal telah menggerogoti sendi-sendi kekaisaran. Di tengah situasi kritis inilah, sebuah keputusan diambil pada tahun 1914. Sebuah keputusan yang oleh sejarawan disebut sebagai "𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸" yang pada akhirnya akan menghancurkan Kekhalifahan Islam yang telah bertahan lebih dari enam abad, mengubur romantisme penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed [3] Al-Fatih, dan melahirkan Timur Tengah modern yang kita k...

Raja Faisal: Mutiara Keluarga al Saud

  Turkinesia | Pada Selasa pagi, 13 Rabiul Awal 1395 H, bertepatan dengan 25 Maret 1975 M, Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud —rahimahullah— menjadi korban pembunuhan saat sedang menerima kunjungan tamu di kantor Perdana Menteri di Riyadh. Keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid bin Abdulaziz, masuk menemuinya dan melepaskan tembakan yang mengenai beliau dengan peluru mematikan. Raja Faisal segera dilarikan ke rumah sakit, namun beliau wafat tak lama kemudian. Pelaku langsung ditangkap di lokasi kejadian, dipenjara, lalu diadili hingga dijatuhi hukuman qishas . Hukuman mati (pancung) dilaksanakan pada Rabu, 18 Juni 1975, di kota Riyadh. Mengenai motif di balik peristiwa tersebut, muncul berbagai penafsiran yang beragam namun belum terkonfirmasi sepenuhnya, di antaranya: • Tindakan tersebut dilakukan atas hasutan pihak asing sebagai reaksi atas keputusan Raja Faisal memutus pasokan minyak (embargo) ke Amerika Serikat dan Barat selama Perang Oktober 1973. • Ada yang menyebut...

Haji tidak menjamin Akhlak Penguasa

  Mengapa Sultan dan Khalifah Utsmaniyah Tidak Pergi Berhaji? FB Turkinesia | Pertama-tama, pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan yang mencurigakan dan aneh. Perlu diketahui bahwa Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi pun tidak pernah naik haji, padahal beliau berada jauh lebih dekat dengan Dua Kota Suci dibandingkan orang-orang Utsmaniyah. Hal yang sama juga terjadi pada Sulthan Nuruddin Zanki, serta hampir seluruh penguasa dinasti Ayyubiyah, Seljuk, Ghaznawiyah, Al-Murabitun, dan Al-Muwahhidun (kecuali Ibnu Tumart). Begitu pula dengan seluruh penguasa Umayyah di Andalusia dan kaum Mamluk (kecuali Al-Zahir Baibars yang terbukti berhaji secara rahasia pada tahun 667 H/1269 M). Lantas, mengapa pertanyaan yang sama tidak diajukan kepada mereka semua? (Jika memang tujuan pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan Khilafah Utsmaniyah). Adapun jawabannya adalah sebagai berikut : 1. Logistik dan Keamanan Negara : Setelah era Khalifa Harun Al-Rasyid, ibadah haji bagi para khalifah dan penguasa...

Jejak Darah Kekristenan

1. Inkuisisi Spanyol (tahun 1478 - 1834), didirikan pasangan Monarki katolik Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella dari Kastilia, para penguasa-penguasa Kristen sepanjang Zaman Inkuisisi Spanyol telah memerintahkan dan memaksa seluruh orang-orang Yahudi dan Muslim untuk murtad masuk Kristen jika menolak dia akan menyiksanya, menganiayanya dan membunuhnya atau mengusir mereka dari Spanyol. 2. Di Montenegro di Balkan, Pangeran-Uskup Danilo Petrovic memimpin kampanye pembantaian terhadap orang-orang non-Kristen, mereka memusnahkan "penduduk asli Turki" yang menolak dibaptis, ribuan orang dibantai pada Malam Natal, terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pembantaian tersebut, antara tahun 1702 dan 1709 - 1711. Pada hari-hari berikutnya, banyak umat islam yang diusir dari pemukiman sekitar. Pria, wanita dan anak-anak dibantai. 3. Raja Olaf I Tryggvason (995 - 1000 M) dan Raja Olaf II Haraldsson (1015 - 1030 M) dari Norwegia secara rutin menggunakan kekerasan untu...

Monumen Keresek, Banjir Air Mata dan Darah Akibat Kekejaman PKI di Bumi Madiun

FB Bumi Pusaka | Madiun, 23 Oktober 2025 – Berdiri tegak di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Monumen Keganasan PKI Tahun 1948 bukanlah sekadar tugu peringatan, melainkan sebuah saksi bisu yang mengoyak hati, merekam detail kekejaman tak terperi yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam peristiwa berdarah di Madiun. Monumen ini adalah sebuah ratapan batu yang mengabadikan trauma nasional. Patung dan Relief Penggambaran Kesadisan Monumen Kresek dibangun untuk mengenang sekitar 1.920 jiwa yang tewas selama Pemberontakan PKI 1948. Aura kesedihan dan kengerian segera menyergap pengunjung begitu melihat patung dan relief di area utama. Patung Musso dan Kiai Husen: Ikon utama monumen ini adalah patung yang menggambarkan dengan jelas kekejaman yang tak termaafkan. Patung tersebut menampilkan Musso, pemimpin PKI, dengan pedang terhunus siap memenggal kepala seorang lelaki tua. Lelaki tua itu adalah Kiai Husen, seorang ulama berpengaruh dan anggota DPRD Kabupaten ...

Legalitas Pemerintahan Jajahan atas Penobatan seorang Raja

  Cap dan tanda tangan Raja Assahan AKTA PENGESAHAN. Mengingat bahwa dianggap perlu untuk mengisi posisi Raja Assahan, yang kosong pada tanggal 27 Juni 1888, karena wafatnya Sultan Assahan terakhir, Tongkoe ACHMAD SJAH, dan dianggap perlu untuk mengangkat keponakan Sultan tersebut, Tongkoe NGAH bin Tongkoe ADIL, ke posisi ini; dan mengingat bahwa Tongkoe NGAH bin Tongkoe ADIL tersebut, pada hari ini, 6 Oktober 1888, berada di tangan saya. GUSTAAP ALBERT SCHERER, Residen Pantai Timur Sumatra, telah  menetapkan dan bersumpah atas kewajiban tertulis yang terlampir pada akta ini. Dengan ini, Tongkoe NGAH bin Tongkoe ADIL. dengan ini saya, dengan persetujuan lebih lanjut dari Yang Mulia Gubernur Jenderal Hindia Belanda, atas nama dan mewakili Pemerintah Hindia Belanda, diakui dalam martabatnya sebagai penguasa Assahan dan juga dengan nama Sultan MOHAMAD HOESIN SJAH, bahwa ia akan dipertahankan sebagai demikian selama ia tetap setia dan memenuhi kewajibannya kepada Pemerintah dengan...