Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Si Kundur van Fort de Kock di Digulkan

[caption id="" align="aligncenter" width="1017"] Gambar: https://id.wikipedia.org [/caption]   President der “Indonesische Republiek”.      Geïnterneerd in Digoel. Zooals wij reeds meldden, is Koendoer, een Padanger, naar Digoel verbannen in veband met zijn politieke antecedenten.      Hij is nl. Een vooraanstaand lid van de “Partai Republiek Indonesia”, een zeer revolutionaire organisatie.      Tot heden zijn pas enkele leden gearresteerd. Hoewel de politie reeds lang die “beweging” nauwkeurig observeert, is het haar nog niet gelukt de eigenlijke verblijftplaats der hoofsbestuurs-leden van de “Pari” [Partai Indonesia Raya] waarschijnlijk hiet in Batavia (volgens andere berichten in Singapore te overvallen. […]      […] dat mitsdien, in overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië, krachtens artikel 37 der Indische Staatsregeling aan Koendoer gelar Soetan Rangkajo Basa, oud 27 jaar, geboren te Fort e Kock (Sumatra’s Westkust), in het belang der ope...

15. Istana Bung Hatta

Istana Bung Hatta berada di Jalan Istana No mor 1, Kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguak Panjang. Riwayat pembangunan gedung ini tidak diketahui dengan pasti, Sebelum diubah menjadi Istana Kepresidenan (Bung Hatta), bangunan ini bernama Gedung Negara Triarga. Sekarang gedung ini berfungsi sebagai rumah tamu negara bila berkunjung ke Bukittingi.

14. Hotel Centrum

Riwayat pembangunannya tidak diketahui dengan pasti , dimasa Kolonial Belanda komplek bangunan ini merupakan sebuah hotel dengan nama  "Hotel Centrum" yang merupakan hotel termegah di Bukittinggi pada masa sekitar tahun 1900-an. Masyarakat Kota Bukittinggi lebih mengenal kompleks ini dengan nama “BAHOLA”. Dalam catatan sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia , hotel ini dihubungkan dengan peristiwa insiden tiga orang anggota NICA dari Pekanbaru yang mengatas namakan Sekutu mencoba menaikkan bendera Belanda di Stasiun Kereta Api Bukittinggi. Akan tetapi, tindakan itu dapat dihalangi oleh para pemuda (pejuang) sehingga bendera Merah Putih tetap berkibar. Sementara ketiga orang Belanda itu kemudian diantar ke Hotel Centrum.

22. Studio Foto Agam

B angunan Studio Foto Agam berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 10, Kelurahan Bukit Cangang Kayu Ramang, Kecamatan Guguak Panjang. Toko yang pada masa kolonial merupakan rumah orang Belanda, pada saat  sekarang ini ditempati oleh keluarga Hajjah Raji'ah untuk keperluan Studio Foto "Agam" serta pada beberapa bagian dari rumah ini diberi sekat dan masing-masing ruangan disewakan kepada beberapa orang untuk dijadikan toko seperti toko foto kopi, baju khas Bukittinggi, dan toko-toko yang lain.  R iwayat pembangunan rumah ini tidak diketahui dengan pasti.  

18. Rumah Bekas Kepala Stasiun

Rumah ini berada di Jalan M. Syafei No. 4, Kelurahan Bukit Cangang Kayu R a mang, Kecamatan Guguak Panjang . Riwayat bangunan ini tidak diketahui dengan pasti, namun  Bangunan ini pernah difungsikan sebagai penginapan (Hotel Neo Dharma) sesuai dengan inskripsi yang terdapat di bagian gable .

19. SMP N 1 Bukittinggi

Gedung Sekolah SMP 1 berada di Jalan Sudirman No. 1, Kelurahan Bukit Cangang Kayu Ramang, Kecamatan Guguak Panjang. Tidak ada keterangan yang jelas mengenai riwayat bangunan ini, tetapi dilihat dari bentuk arsitekturnya tampak bahwa bangunan ini mewakili gaya yang khas pada masa kolonial yang ditunjukkan pada bangunan tembok yang kokoh dan balok-balok kayu yang besar serta ukuran pintu dan jendela yang relatif besar pula.  Sampai sekarang bangunan ini masih berfungsi sebagai sekolah (SMP 1).  Bangunan yang berada di kompleks ini terdiri dari 3 blok bangunan. Bangunan utamanya berada di tengah-tengah yang dipergunakan sebagai ruang belajar mengajar. Dua buah bangunan lain merupakan bangunan tambahan yang dibuat tahun 1985 yang difungsikan sebagai ruang majelis guru dan ruang tata usaha.

11. Tugu Kamang & Manggopoh

Tugu Kamang dan Manggopoh berada di Jalan Sudirman, Kelurahan Sapiran, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh .  Tugu ini dibangun untuk mempe ringati Perang Pajak yang terjadi di Nagari Kamang dan Nagari Manggopoh yang terjadi pada tanggal 15 Juni 1908. Tugu ini terbuat dari beton yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas berupa bentuk kerucut yang menjulang ke atas dan bagian bawah berbentuk segi empat. Tinggi keseluruhan tugu ini 4,60 m dan lebar 1 x 1 m. Tugu ini mempunyai tembok keliling berukuran 2,6 x 2,6 m. Pada bagian segi empat, di tengah-tengahnya terdapat inskripsi berbahasa Belanda yang berbunyi: " GEDENKNAALD TER HERDENGKING AAN GESNENVELDEN TE KAMANG EN MANGGOPOH OPSTAND 15 JUNI 1908 ", artinya : "Mengenang peristiwa perang Kamang dan Manggopoh yang terjadi pada 15 Juni 1908 ".

2. Rumah Direktur Sekolah Rajo

Bekas Bangunan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi  berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 9, Kelurahan Belakang Balok, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, sekitar 100 m ke arah utara dari Sekolah SMU 2 Bukittinggi. Pertama kali di dirikan gedung ini digunakan sebagai rumah  bagi Ke pala Sekolah Kweeksh c ool. Pasca kemer dekaan, sebe lum menjadi Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, bangunan ini berturut-turut menjadi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Kantor Pajak, dan Intitut Keguruan Ilmu Pendidikan[1] Bahasa Inggris dan Arab (sebelum dipindahkan ke Padang).

04. SMU N 2 Bukittinggi

Sekolah Rajo atau yang lebih dikenal dengan SMU 2 Bukittinggi (Sekarang SMA 2 Bukittinggi)  berada di jalan Sudirman, Kelurahan Sapiran, Kecamatan Aur Birugo XIII. Sekolah Rajo didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 1 Maret 1873 dengan tujuan untuk menghasilkan guru yang bermutu. Pada tahun 1878, Sekolah Rajo dipindahkan ke gedung baru, yaitu gedung yang sekarang menjadi SMU (SMA) 2 Bukittinggi. Direktur pertama Sekolah Rajo bernama G. Van der Wijk yang kemudian diganti oleh J. Van der Toorn hingga tahun 1895. Staf pengajar dari bangsa Indonesia yang paling terkenal adalah Guru Nawawi St. Makmur (1859-1928). Sekolah Rajo pernah ditutup pada tahun 1935 dan kemudian setelah kemerdekaan diaktifkan kembali dengan berbagai perubahan nama. Tahun 1946 bangunan ini dijadikan sebagai Sekolah Menengah Tinggi (SMT), tahun 1950 diubah menjadi SMA I B dan SMA II C, tahun 1960 SMA II AC dipecah menjadi SMA II C dan SMA A, dan tahun 1962, SMA II C diubah menjadi SMA 2 ...

Festival Silek 2017

Gambar:  https://www.facebook.com/pg/Bid.Kebudayaan Mendukung rencana Silek sebagai Warisan Dunia, Pemerintah Kota Bukittinggi menyelenggarana Festival Silat Tradisional Nusantara & Internasional dari tanggal 11 s/d 15 Oktober 2017. Harapan dari penyelenggaraan festival ini ialah untuk memelihara, menjaga, mempertahankan, serta menumbuhkan kesadaran dan kemauan dalam diri Anak Minangkabau untuk mempelajari, mempertahankan, dan menjaga warisan dari nenek moyang mereka.

Peninggalan Bersejarah di Bukittinggi

  Sebagai kota yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa, Bukittinggi memiliki banyak peninggalan bersejarah. Namun hanya 42 (empat puluh dua) yang baru berhasil didata. Ke-42 bangunan yang masuk kategori Cagar Budaya tersebut telah masuk dalam Perwako no.2 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Cagar Budaya di Kota Bukittinggi. Dan 24 diantaranya telah masuk ke dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.05/ PW. 007/ MKP/ 2010. Pada tahun 2014 dilakukan pendataan Cagar Budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata [1] dan berhasil didata 72 (tujuh puluh dua) bangunan Yang Diduga Cagar Budaya. Hasil pendataan 72 bangunan yang diduga Cagar Budaya tersebut telah disampaikan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar untuk ditindak lanjuti. Bukittinggi memiliki banyak tinggalan bersejarah yang patut untuk dilestarikan. Sebut saja beberapa bangunan los lama di Pasa Bawah yang masih bertahan hingga sekarang di tengah-tengah kepungan bangunan baru ...

1 Muharam 1439 H

[caption id="" align="aligncenter" width="600"] Gambar: http://updatebro.com [/caption] Meriah tak mesti berpesta pora atau bertanggang semalam suntuk, saling bertukar ucapan selamat, atau semacamnya. Karena Islam itu berbeda dengan yang lain, ada yang tidak percaya diri dengan agamanya lalu mencari-cari kesamaan Islam dengan agama lain. Sungguh sangat menyedihkan.

Perkumpulan Yahudi di Padang

[caption id="" align="aligncenter" width="1187"] Gambar: http://upload.wikimedia.org [/caption] “Erets Israel.”      Onder redactie – zoo lezen wij in her Alg. Ind. Dgbl. [Algemeen Indisch Dagblad] van 7 october – van S. I. van Creveld te Padang is op 9 September 1926 (1 Tischri 5687) verschenen het eerste nummer Erets Israel (“Het Joodsche Land”), orgaan van het secretariat voor Ned. Indië van het Palestina Opbouwfonds “Karen Hajesod”.      Het blad komt maandelijks uit een wordt gratis verspreid onder de Joodsche ingezetenen van Ned. Indië.      Het is het eerste blad in de geschiedenis van de Joden in Ned. Indië. […]” ***

Salah satu kunjungan Bung Hatta ke Sumatera

[caption id="" align="aligncenter" width="504"] Gambar: https://niadilova.wordpress.com [/caption] Sebuah media melaporkan bahwa “ tanggal 24 Agoestoes [1932] telah sampai di Djakatra sdr.  Mohammad Hatta, dengan kapal  Van der Heyden ( Fikiran   Ra’jat ,  Nomor 9, 26 Agoestoes 1932: 15 [ Kroniek Indonesia ]). Setelah sampai di tanah airnya lagi, sesudah tinggal di Eropa selama sekitar 11 tahun, Hatta berkali-kali pulang kampung ke Sumatera Barat, baik untuk urusan pribadi maupun untuk urusan dinas. Demikianlah umpamanya, sebulan lebih sedikit setelah sesampainya di Indonesia, pada tanggal 5 Oktober 1932 Hatta pulang ke Padang untuk sebulan lamanya. Ketika berkunjung ke kota kelahirannya, Bukittinggi, sebelum kembali ke Jakarta pada 25 November 1932, Hatta mendapat kecelakaan mobil, tapi untung ia hanya mengalami memar (lihat: Fikiran Ra’jat,   No. 20, 11 November 1932:12  [Kronik Indonesia]  dan   No. 21, 18   November 1932:15 [Kronik Indonesia]).

UU No.11 Th.2010

UNDANG UNDANG NO. 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; b. bahwa untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya; c. bahwa cagar budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan perlu dikelola oleh pemerintah dan pemerintah daerah dengan meningkatkan peran serta masyarakat untuk melindungi, mengemb...

Masjid Taluak dahulunya

[caption id="" align="aligncenter" width="497"] Gambar: https://niadilova.files.wordpress.com [/caption] Bila kita hendak mendiskusikan pertautan dan juga demarkasi antara adat dan agama (Islam) di Minangkabau, maka hal itu antara lain dapat dilihat dengan kentara pada arsitektur mesjid dan surau di Minangkabau, sebagaimana terefleksi dalam foto klasik yang kami turunkan dalam rubrik  Minang   saisuak  minggu ini. Judul foto ini, mengutip sumbernya, adalah: “Moskee met minaret bij Fort de Kock, S.W.K., Taluk, Padangse Bovenlanden (datering: 1910-1915)” (Mesjid dengan menara di Fort de Kock, Sumatra’s Westkust, [Nagari] Taluak, Padang Darat, tarikh: 1910-1915).