Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2023

Kerajaan di Aceh

  Gambar: Marjinal Kerajaan Aceh Darussalam Kerajaan Aceh berdiri menjelang keruntuhan Samudera Pasai. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada tahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majapahit, [1] dan sejak saat itu, kerajaan Pasai terus mengalami kemudunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya abad ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Pasai, dan sejak saat itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut. Bisa dikatakan bahwa, sebenarnya kerajaan Aceh ini merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya. Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naih tahta menggantikan ayahny...

TEGAKNYA SURAU KAMI

Gambar: sumbarsatu.com  Oleh: Bahren Nurdin (Mahasiswa Western Sydney University, Australia) Berdirinya Surau Sydney Australia (SSA) merupakan sebuah tonggak bersejarah bagi komunitas orang Minang yang tinggal di luar negeri, khususnya di kota Sydney. Surau ini bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, keberagaman, dan identitas bagi orang Minang dan komunitas Muslim di wilayah ini. Surau Sydney kemudian hadir sebagai wadah untuk menyatukan orang-orang Minang yang merindukan kampung halaman dan ingin mempertahankan warisan adat dan agama mereka. Kehadiran surau ini mencerminkan betapa kuatnya ikatan kebersamaan dan semangat menjaga akar budaya, terutama ketika mereka berada di tanah yang jauh dari tanah leluhur. Di bawah kepemimpinan Bapak Novri Latif dan dukungan penuh dari semua pengurus, ikatan keluarga Minang Saiyo, dan Niniak Mamak, Surau Sydney mengalami perkembangan yang inovatif dan mengambil langkah maju dengan pemanfaatan teknologi inform...

Meurah Pupok Sang Putera Mahkota Yang Difitnah

Gambar: Aceh News Meurah adalah julukan raja-raja di Aceh sebelum datangnya agama Islam. Setelahnya, gelar Meurah berganti dengan Sultan. Meurah Pupok memiliki nama panggilan sayang, yaitu Poteu Tjoet (Pocut). Poteu artinya “raja”, sedangkan Tjoet artinya “kecil”. Meurah Pupok adalah putra kesayangan Sultan Iskandar Muda. [1] Kematian Meurah Pupok adalah salah satu malapetaka terbesar dalam Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika para pembantunya menanyakan kepada Sulan Iskandar Muda, mengapa hingga sampai hati melaksanakan hukuman pancung pada anak laki-lakinya yang telah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai Sultan Aceh nantinya, maka Sultan menjawab, 

Perihal Malakok

  Gambar: Kata Omed MALAKOK atau BOLOAN FB YN Warman St. Bandaro Kayo - Nagari di Minangkabau merupakan suatu wilayah yang independent, yang tidak terikat dengan nagari lain. Sedangkan dilain pihak terdapat mobilitas penduduk yang bebas antara satu nagari dengan nagari lain. Hampir tidak ada hambatan mengenai mobilitas orang per orang ini dan inilah yang sangat mendorong pola perpindahan orang dari satu nagari ke nagari lain, bahkan kewilayah di luar Luak Nan Tigo. Fakta menunjukan bahwa orang Minang yang sesuku, tidak selalu terdiri dari orang-orang seniniak, hal ini dibuktikan oleh kenyataan sebagaimana tampak dalam tiap nagari, dimana suku yang ada tidak terbatas pada keempat suku asal, yang terdiri dari suku Koto – Piliang – Bodi – Caniago saja, tapi malah sudah sebanyak 96 buah suku, kiranya akan merupakan sarana yang amat strategis bagi Adat Minang untuk dapat menyesuaikan diri dengan tantangan gelombang modernisasi Indonesia dewasa ini.

MALAM TERAKHIR P.RAMLEE

  28 May 1973. FB N9 Radar - Dalam jam 9.00 malam, P.Ramlee duduk termenung di satu sudut di rumahnya sambil memetik bibir meja seolah-olah berfikir sesuatu. Tiba-tiba beliau bangun terus menuju ke telefon lalu mendail nombor telefon seseorang. "Boleh kita jumpa malam ini di Shah Motel, kerana saya ingin berbincang dengan saudara mengenai skrip filem Azizah yang saudara tulis itu". Disebabkan ada perkara yang lebih penting, individu itu tidak dapat bertemu P.Ramlee pada malam itu dan meminta untuk bertemu dengan P.Ramlee pada keesokkan harinya dan P.Ramlee juga bersetuju. Sebelum mengakhiri perbualan sempat P. Ramlee menyanyikan lagu Azizah buat temannya itu.