Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

Jalan yang semakin sempit, Kereta Api hanya bayangan, & Tol yang semakin dekat

Gambar Ilustrasi: Tajdid   Sabtu tanggal 24 Desember 2022 menjadi hari yang penuh kemalangan, setidaknya yang terekam oleh kami terjadi tiga kecelakaan di jalan yang menghubungkan Bukit Tinggi - Padang dan satu di Padang Pariaman. Kemalangan pertama terjadi di jalan yang menghubungkan Lubuk Alung dengan Bandar Pariaman, terjadi antara onda dengan oto, sang pengemudi onda meninggal di rumah sakit. Kejadian ini berlaku pada pukul lima pagi hari, sejauh pengetahuan kami keadaan lalu lintas pada pagi hari memiliki tingkat keganasan sendiri. Banyak oto yang melaju dengan sangat kencang karena merasa pada waktu pagi - apalagi sebelum subuh - labuh lengang.  Kemalangan berikutnya berlaku pada pukul 2.15 (ada juga yang menyebutkan 2.55) di pendakian yang dikenal dengan 'belokan Semen Padang' [1], dimana satu buah oto terjepit diantara dua truk. Menurut sumber sementara, hal ini berlaku karena truk yang sedang ditarik mengalami putus tali derek di pendakian yang mengarah ke Padang Panj...

Adat Minang dimata yang baru Hijrah

Gambar Ilustrasi: IAIN Tuban FB: Al Fatah - Yang membuat hati ini bertanya, apa iya di Minang itu "Adat Bersendi Syara' - Syara' Bersendi Kitabullah"?? Ada orang meninggal, dibuat acara makan-makan untuk mengingat kalau dia telah meninggal sekian hari, sekian bulan, atau sekian tahun. Kalau tidak ada uang untuk menyelenggarakan acara tersebut, maka digadaikanlah harta, atau meminjam uang kepada jiran kiri dan kanan. Biarlah susah, asal yang meninggal tidak disebut mati hewan. [1] Padahal membuat acara memperingati kematian, termasuk kategori meratap. Siapa yang meratap maka jenazah kerabat yang meratap akan di azab dalam kubur kata hadis dari Imam Bukhari. Bisa diazab dalam makna sebenarnya, bisa pula azab dalam makna bahasa. [2] Mencoba berdalih dengan mengatakan "Kami membaca tahlil, shalawat dan mengaji, selepas itu berniat bersedakah, menghidangkan makanan ke orang datang"

Hindu Batak

FB Ridwan Selian - Hindu/batak - Debata Guru dan dewa pedalaman di tanah Batak pada masa hindu Menurut kisah-kisah penciptaan tersebut, Mula Jadi Nabolon, menurut namanya "Asal Mula Wujud (atau penjadian) Yang Agung", dianalogikan dengan Brahma (Hindu) dari Upanishad, All-Soul, yang dengan wahyu diri menciptakan dunia fenomena. Dewa tertinggi (debata, dari bahasa Sansekerta. dewata), memiliki tiga putra: Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan. Kedua nama depan berasal dari bahasa Sansekerta), dari yang ketiga bagian terakhir (Bulan: moon3)) Bahasa Indonesia. Dalam bahasa Sanskerta ada kata mangala (dilafalkan manggala) yang artinya 'keselamatan' dan konsep-konsep terkait, namun persamaannya dengan bagian pertama Mangala Bulan terlihat dari pernyataan Prof. dr. Van Ronkel tidak bisa dibenarkan. Mereka semua memainkan peran mereka dalam penciptaan tiga dunia, Banua Ginjang (dunia atas, tempat tinggal para dewa), Banua Tonga (dunia tengah, tempat tinggal orang, orang m...

Asal Usul Kesultanan Palembang Darussalam

Pict: Wikwand FB Bangsawan Kesultanan Palembang - Dari catatan sejarah tulisan tangan Arab yang dibuat oleh seorang priyayi di Palembang dapat dibaca sebagai berikut: “Telah diriwayatkan bahwa telah berpindah beberapa anak raja-raja dari tanah Jawa ke negeri Palembang di karenakan Sultan Pajang menyerang Demak dan adalah yang bermula menjadi raja di Palembang ialah Kiyai Geding. Kiyai Geding Suro wafat kemudian digantikan oleh Kiyai Geding Suro Mudo anak Kiyai Geding Ilir dan ketika itu, anak-anak raja yang berpindah dari tanah Jawa ke negeri Palembang yaitu 24 orang. Beberapa orang keturunan Pangeran Trenggono yang hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Kiyai Geding Suro Tuo yang menetap di perkampungan Kuto Gawang di daerah di sekitar kampung Palembang Lamo. Sebagaimana diketahui, Pangeran Trenggono adalah putra Raden Fattah bin Prabu Kertabumi Brawijaya V dari Majapahit dengan istrinya seorang putri dari Cina, lahir dan dibesarkan di Palembang di istana saudaranya lain ibu yaitu Ari...

Pertemuan 1926, Upaya Kaum Adat Identikkan Minangkabau dengan Sumatra Barat

Pict: Langgam.id   – Sebanyak 76 pangulu (tetua/pemuka adat) berkumpul di Bukit Tinggi. Mereka membahas rencana Pemerintah Hindia Belanda menggabungkan Keresidenan Pantai Barat Sumatra [1] dengan Keresidenan Tapanuli menjadi satu gouvernement yang dipimpin gubernur. Sejarawan Universitas Andalas Gusti Asnan dalam tulisannya ‘Regionalisme, Hitoriografi dan Pemetaan Wilayah’ dalam Buku ‘Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an’ menulis, rapat yang digelar sejak 23 April 1926 itu, diadakan dua hari sampai ditutup tanggal 24 April 1926, atau tepat 93 tahun yang lalu dari hari ini, Rabu (24/4/2019). Kesimpulan rapat, kaum adat menolak penggabungan dengan Tapanuli. Alasannya, tulis Gusti, karena hal itu dinilai akan menimbulkan kekacauan dalam negeri. Para pangulu tidak bersedia bila nanti ada orang Tapanuli yang akan menjadi demang atau asisten demang di Pantai Sumatra. [2] Dalam surat yang sama, kaum adat mengusulkan, “… daripada digabungkan dengan Tapanuli, lebih baik Minang...

PKM, MPAJA DAN TANAH MELAYU..

Pict: wikipedia Sumber:Polis Hutan FB Nurul Kejora Muhammad - APAKAH MPAJA (Malayan People’s Anti-Japanese Army) adalah sebahagian daripada sejarah pasukan keselamatan negara membebaskan Tanah Melayu daripada penjajahan? Riwayat MPAJA bersalasilah daripada PKM (Parti Komunis Malaya). MPAJA adalah sebuah gerakan bersenjata yang ditubuhkan BUKAN bertujuan untuk mempertahankan Tanah Melayu sebagai tanah air, tetapi kerana sentimen anti Jepun kaum Cina yang berakar umbi sejak konflik China-Jepun dan kerana layanan buruk tentera Jepun terhadap kaum Cina. Anggota MPAJA merupakan alat PKM untuk menentang Jepun bagi menubuhkan sebuah negara Komunis di Tanah Melayu ketika itu yang bekerjasama dengan British. Sentimen penentangan orang Cina terhadap penaklukan Jepun ke atas Manchuria dan Peristiwa Nanking 1937 yang mengorbankan 300 ribu orang Cina itu telah dibawa ke Tanah Melayu. Perjuangan MPAJA bukan perjuangan mempertahan Tanah Melayu, sebaliknya adalah perjuangan membalas dendam terhadap k...

"SEKILAS SEJARAH KERiNCI"

Gambar: Merawai FB Rma Alam - Lepas dari perkembangan dan peristiwa sejarah di Kerinci Rendah (melayu) maka menurut para ahli di Kerinci Tinggi (Kab. Kerinci sekarang) terdapat tiga buah koto pemukiman manusia. Yaitu: 1.KOTO LIMAU MANIS DI KAKI GUNUNG KERINCI 2.KOTO JELATANG HIANG TINGGI 3.KOTO JANGKANG DI MUAK DANAU KERINCI Pada saat itu Lembah Kerinci masih merupakan tanah berbencah-bencah, belum digarap menjadi tanah persawahan seperti sekarang. Lembah itu membentang dari kaki Gunung Kerinci sepanjang +_45 km dengan lebar +_5 km ke arah timur, merupakan hutan yang belum dihuni manusia.

Barus-Islam-Batak

FB R Pandjaitan -  Agama yang datang pertama ke Tanah Batak yaitu agama Islam tepatnya di Barus, pada masa kerajaan Raja Uti. Di Abad ke - 7. Pada masa Tahta kerajaan Raja Uti, aliran kepercayaan di anut masyarakat Batak Toba, s ama persis seperti ajaran Nabi Musa, bakar kemenyan, punya sawan, ada kurban kerbau di saat acara. Dimasa kerajaan Raja Uti suku Batak belum ada yang bermarga, Batak di sebut sebagai Proto Melayu Tua, [1] yang lebih dulu mendiami Pulau Sumatra. [2] Adapun Batak Proto Melayu Tua yaitu: Alas, Toba, Karo, Pakpak, Angkola, Mandailing, Simalungun. [3] Proto Melayu Tua meneruskan nama Ayahnya di belakang nama, yang menjadi Marga secara turun temurun. Masyarakat Batak Toba, yang meneruskan tahta kerajaan, dari keturunan Tuan Saribu Raja. Marga Pasaribu, di Barus.

Tapanuli tahun 1668

  Jumlah suku melayu di tapanuli bermarga pasaribu pada tahun 1668   ........................................................... FB Tanah Alas - (Tahun 1668) Di bagian dalam, Baros berbatasan dengan sejumlah penduduk Batta, diperintah oleh seorang Rajah yang sesuai dan delapan Panghulus (Raja huta). 4. Beberapa mil di selatan Baros seseorang datang ke Daerah Sorkam, yang memiliki populasi sekitar 1000 jiwa dan diperintah oleh seorang Raja dan dua Dato yang berada di bawah otoritas Pemegang Pos | minyak Tappan. Perjalanan sehari ke pedalaman berbatasan dengan lanskap ini dengan banyak populasi Battasche dari suku (marga)  Pasarieboe,  dan memasok sekitar 4.000 pi (kols Benzoin, 5 pikol kamper, dan 20 kuda setahun) untuk diperdagangkan. 5. Lebih jauh ke selatan datang ke Daerah Kolang, memiliki populasi sekitar 200 jiwa Batttas, yang menunjukkan subordinasi Raja-raja Sorkam,

Tambo Sultan nan Salapan

Picture: blogs.bl.uk FB Dhony Hendriko -  Pada tahun 1050 H (1680 M) Kerajaan Pagaruyung telah mengeluarkan satu keputusan berupa Sunnah 1050 yang berisikan penempatan Raja-Raja di Rantau ( Darat dan Laut ) di mana ada terdapat masyarakat yang berasal dari ketiga Luhak di Minangkabau. Naskah ini disebut juga Tambo Nan Salapan dengan isi sebagai berikut: 1) Adapun nan tingga di tanah Aceh ialah nan banamo Sultan Syariat berpangkat Rahim. Anak cucu Daulat yang dipertuan dalam Nagari Pagaruyung, asal mulonyo rajo-rajo di negeri Aceh, malimpah ka Patahan Batu, lalu ka tanah labuah kaliliang, lalu ke Deli. Adapun Deli taklukka Aceh. Itulah kebesaran Rajo Aceh nan turun tamurun, lalu sakarang kini, nan tiada marubah rubah, waris nan manjawek dek Rajo Aceh, nan di tarimo dari Niniak kito. Wallahualam. 2) Adapun nan tingga di dalam nagari Banten, malimpah lalu ka Batawi, Sultan Nan Banamo: Marhabat Maruhum Alam, anak cucu yang dipertuan di dalam nagari Pagaruyung, tatkala asa mulonyo Ra...

Petatah-petitih adat Rencong Telang

Pict: Kerinci Time FB Irwan Effendi - Petatah-petitih adat Rencong Telang, berisi: Induk Undang nan Delapan, Pintu Salah nan Tujuh, Pantang Larang nan Limo, Induk Undang nan Duo Puluh, Anak Undang nan Limo Puluh, dan Ranting Undang nan Seratus Anak Undang nan Limo Puluh 01. Luko dipampeh, mati dibangun, lembam ditepung, iram belembaga.

Rusjdi Hamka: Pesan Pak Nas kepada Buya

Gambar: okeZone Panji Masyarakat -   Jenderal A.H. Nasution, yang baru saja pulih setelah dirawat di RSPAD, Jakarta, rupanya punya kaitan sejarah dengan majalah ( Panji Masyarakat, red)   ini. Dalam bukunya   Memenuhi Panggilan Tugas   jilid 6, ia bercerita panjang sekitar pertarungan Angkatan Darat (baca ABRI) kontra PKI sekitar tahun 1960-an, yang berakhir dengan peristiwa G-30-S PKI. Di situ Pak Nas menguraikan usaha pihak Angkatan Darat mendekati ormas-ormas Islam, antara lain dengan menerbitkan koran dan majalah Islam. Tulisnya: “Tim untuk ormas Islam berhasil. Muhammadiyah mendirikan surat-surat kabar  Mercu Suar  dan pemimpin-pemimpin Islam berkumpul di rumah menjadi tamu SAB, antara lain saudara Subchan (NU), Aruji Kartawinata (PSII) untuk mendirikan suatu surat kabar  Suara  Islam.

Asal Nama 'Sumatra' dalam Catatan Penjelajah Barat dan Islam

  Pict: Geograpicus FB Akhirnya Aku Tahu - Tak selamanya Pulau Sumatra bernama Sumatra. Nama 'Sumatra' sejatinya tidak diketahui oleh penduduk di pulau itu. Berbagai nama dibubuhkan untuk pulau terbesar keenam di dunia ini oleh para penjelajah asing. Nama yang dikenal justru adalah Pulau Perca (atau Pritcho dalam dialek Melayu selatan) dan Indalas berdasarkan karya sastra Melayu yang merujuk pada pulau-pulau sekitar semenanjung Malaya. Namun, orientalis Inggris abad ke-19 yang pernah singgah ke Bencoolen (Bengkulu) William Marsden berpendapat 'Indalas' sangat mirip dengan nama 'Andalusia'—kekuasaan orang Arab di Spanyol di masa kejayaannya. Dalam The History of Sumatra, dia menemukan penggunaan nama ini sudah marak, bahkan Selat Malaka sebelumnya dikenal sebagai Laut Indalas. Konon, orang Sumatra masa itu yakin Selat Malaka dahulu memiliki jembatan yang dihancurkan oleh Iskandar Agung.

MARGA LINTANG.

Pict: Wikipedia FB St. Bandaro Sati - Marga Lintang bukanlah anak ataupun cabang dari marga Lubis. Lintang awalnya adalah sebuah Klan atau Suku kecil yang sudah ada di perbatasan antara Pakantan dan Muara Sipongi, Mandailing Natal, jauh sebelum lahirnya marga Lubis. Saat marga Lubis lahir, maka klan/suku Lintang ikut bergabung kedalamnya. Makanya kelompok itu disebut Lubis Lintang. Itu hanya penamaan yang merujuk asal usul, bukan anak ataupun cabang dari marga Lubis. Faktanya tidak semua warga klan Lintang yang bergabung ke marga Lubis. Maka sah-sah saja jika ada yang mengaku marganya Lintang tanpa menyertakan Lubis. Sama halnya dengan Marga/Suku Borotan yang sudah ada jauh sebelum lahirnya Marga Nasution. Saat Marga Nasution lahir, maka salah satu kelompok yang ikut bergabung adalah sebagian warga suku Borotan. Makanya kelompok itu disebut Nasution Borotan. Itu hanya penamaan yang merujuk asal usul, bukan anak ataupun cabang dari marga Nasution. Faktanya tidak semua warga klan Borota...

Tungkat Malekat dan Tungkat Tunggal Panalun.

FB Sutan Bandaro Sati - Ada dua tongkat mistik khas suku Karo yang biasa digunakan dalam ritual pengusiran makhluk halus pengganggu : 1. Tungkat Malekat. 2. Tungkat Tunggal Panalun (bukan Panaluan). Tingkat spritual dari Tungkat Malekat adalah lebih tinggi daripada Tungkat Tunggal Panalun. Tungkat Malekat digunakan oleh 'Guru Pakpak Pitu Pertandang'. Pakaian ritualnya adalah jubah berwarna putih. Sedang Tungkat Tunggal Panalun digunakan oleh bawahannya yakni 'Guru Simeteh Wari Telu Puluh'. Pakaian ritualnya adalah jubah berwarna merah. Kenapa harus pakai JUBAH.? Kenapa harus warna MERAH dan PUTIH.? Jangan berpikir pakaian jubah adalah budaya Arab.

Benarkah Terjadi Jawanisasi? (Hegemoni, Dominasi, dan Supremasi Suku Jawa di Indonesia)

FB Pulau Dayak - Apa yang dimaksud Jawanisasi ini sebenarnya sudah terwujud dalam berbagai aspek. Seperti fisik melalui penyebaran permukiman diaspora Jawa di luar tanah air tradisional mereka di Jawa. Dalam aspek spiritual dan perilaku, proses Jawanisasi meliputi penerapan budaya dan nilai-nilai Jawa; seperti obsesi akan kehalusan dan keanggunan, sopan santun, ketidaklangsungan, enggan berterus terang, pengendalian emosional dan perhatian akan status sosial seseorang. Nilai-nilai Jawa menjunjung tinggi keselarasan dan keteraturan tatanan sosial, mereka membenci konflik langsung dan perselisihan. Dalam aspek bahasa, seperti penggunaan bahasa, istilah, idiom, dan kosakata Jawa di luar wilayah bahasa tradisional Jawa. Misalnya, kini lazim bagi warga Indonesia menggunakan istilah Jawa untuk menyapa orang lain, seperti Mas dan Mbak. Hal ini kini dianggap lazim di Jakarta, yang sebelumnya memiliki padanan dialek lokal Betawi seperti Abang dan None / Mpok. Tetapi fenomena meluasnya pengguna...

Lidah Jawa yang Sangat Mengganggu

  FB Masrul Purba  -  Tolong jangan salah paham, saya tidak pernah membenci suku Jawa, saya hanya sekadar mengingatkan agar suku Jawa mau mengintrospeksi diri atas kekurangan mereka. Saya sudah lama merasa risih dengan banyaknya nama perkampungan di tanah leluhur saya yang mereka plesetkan. Manusia yang benar seharusnya mau introspeksi diri bukan malah merasa dipojokkan. Ini beberapa nama kampung di tanah leluhur saya di Kabupaten Simalungun yang mereka plesetkan.

EKSKLUSIFISME SUKU JAWA

FB Masrul Purba - Orang Batak, orang Karo, orang Simalungun Atas, orang Pakpak, orang Angkola dan orang Mandailing tidak merasa terusik dengan keberadaan orang Jawa, sebab di daerah mereka penduduk lokal masih mayoritas. Tapi coba tanah leluhur anda berada di Kabupaten Simalungun, di mana suku Jawa menempati posisi 46% dari total penduduk, suku Batak 31%, justru suku Simalungun yang tinggal di Kabupaten Simalungun hanya sekitar 17%. Bahkan Wakil Bupati Simalungun saat ini adalah suku Jawa bernama Jonni Waldi. Tanah Simalungun satu-satunya daerah di luar tanah Melayu yang jadi sasaran masuknya kuli kontrak Jawa, karena tanah Simalungun yang paling subur dari semua tanah suku bermarga di Sumatera Utara. Tanah Simalungun dari segi topografi terbagi 2, Simalungun Atas dataran tinggi dan berhawa sejuk. Suku Jawa di sini minoritas, sehingga suku Simalungun yang tinggal di Simalungun Atas merasa santuy. Lalu Simalungun Bawah dataran rendah di mana banyak berdiri perkebunan sawit dan karet. D...

Mengkritisi Chauvinistik Jawa dari Sudut Pandang Orang Jawa

  Gambar: Jalan Damai FB Wijanarko Abdi Prasojo - Saya Orang Jawa (Suku Jawa) Namun, saya bukanlah orang Jawa yang cuman tinggal di kampung halaman sendiri saja. Saya punya pengalaman hidup di banyak tempat di Indonesia ini. Mulai Bali, Jakarta, Madura, Aceh, Palembang, Kalimantan, Sulawesi dan NTB. Jadi, perasaan kesukuan saya tidak setinggi teman-teman saya orang Jawa yang hanya tinggal di daerahnya sendiri saja. Saya juga tidak seperti orang Jawa lainya yang merantau, baik itu sebagai transmigran atau perantau mandiri, tapi di perantauan suka kumpulnya ekslusif hanya dengan orang sekampung dari tanah asalnya di Jawa. Tidak mau berbaur atau mempelajari budaya setempat. Bukan, saya bukan orang Jawa yang seperti itu. Sebagai orang Jawa, kadang saya sedih kalau melihat rekan-rekan orang Jawa lain yang terlalu mengagungkan sukunya sendiri. Menganggap suku sendiri paling hebat . Ini namanya sukuisme. Saya juga sedih kalau ada orang Jawa yang suka mengklaim banyak hal itu milik orang ...

Perihal Nasab Tuanku Imam Bonjol

Gambar: Jagad.ID FB Afri Swandi -  Dalam Kitab Syamsuzh Zhahirah yang menerangkan tentang nasab fam bin Syahab, nama Imam Bonjol tidak tercantum dalam nasab bin Syahab. Ternyata, nama Syahab dari nama Tuanku Imam Bonjol adalah nama gelar, dan tidak terhubung dengan nasab dari fam Syahab Ba’alawi Al-Husaini. Kalau begitu kemana nasab Tuanku Imam Bonjol, Jika ia bukan bin Syahab? Mengapa Tuanku Imam Bonjol memakai gelar Syarif Muhammad Syahabuddin?. Dari sumber otentik lain ditemukan dikatakan bahwa Tuanku Imam Bonjol juga seorang pengamal tarekat, jadi beliau bukanlah penganut paham wahabi seperti yang ditulis dalam buku sejarah atau berbagai sumber. Dalam hal ini Almarhum KH. Ali Maksum (Sesepuh NU) menjelaskan bahwa, “Meskipun Tuanku Imam Bonjol bukan dari fam bin Syahab, namun ia adalah masih termasuk Ahlulbait dari Sayyid Muhammad Syahabuddin Al-Husaini seorang Ulama Minangkabau yang lahir tahun 1492 M, dan sampai saat ini keturunannya masih ada”.

"DENDAM TAK SUDAH" lambang sebuah perjuangan.

Gambar: anak-anak minang FB Swara Taruna - Pada 31 Ogos 1957 bertempat di stadium yang baru dirasmikan iaitu Stadium Merdeka, Kuala Lumpur telah menyaksikan peristiwa bersejarah bagi Tanah Melayu iaitu secara rasminya penyerahan pemerintahan Persekutuan Tanah Melayu daripada pemerintahan British kepada warganegara Tanah Melayu. Majlis Peristiharan yang diumumkan oleh Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman Putra itu turut dihadiri oleh DYMM Tuanku Abdul Rahman ibni Almarhum Tuanku Muhammad selaku Yang diPertuan Agong yang pertama serta Raja-Raja dan Sultan dalam negeri-negeri Persekutuan Tanah Melayu. Ciri-ciri menarik dalam busana Raja-Raja Melayu adalah bentuk dan jenis tengkolok yang berbeza untuk setiap negeri. Tengkolok Diraja yang dipakai oleh Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong pada Hari Peristiharan Kemerdekaan itu adalah berwarna hitam bersulam benang emas. Soleknya dinamakan 'Dendam Tak Sudah' yang berasal dari Negeri Sembilan. Dendam Tak Sudah membawa maksud tersir...