Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Ummi Siti Raham

Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka menikahi Siti Raham pada 5 April 1929. Saat itu usia Hamka 21 tahun, usia Siti Raham 15 tahun. Dari pernikahan ini lahir 10 anak yang masih hidup sampai dewasa. Ada dua anak yang meninggal saat kecil dan dua anak yang keguguran. Menikah dengan Hamka, Siti Raham tetap tegar mengarungi hidup dalam kekurangan. “Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa bergantian karena di rumah hanya ada sehelai kain sarung. Tapi, Ummi kalian memang seorang yang setia. Dia tidak minta apa-apa di luar kemampuan Ayah,” tutur Buya Hamka yang direkam Rusydi dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka (1981). Dalam keluarga, Siti Raham dipanggil Ummi. Sedangkan Siti Raham memanggil Hamka dengan sebutan Angku Haji. Kendati mendampingi Hamka berkeliling berbagai daerah, logat Sungai Batangnya tak hilang. Selain di Padang Panjang, Siti Raham membersamai Hamka di Makassar selama 3 tahun, di Medan selama 11 tahun, dan di Jakarta selama 22 tahun.

ABS-SBK bukan 'Islam Nusantara'

Ilustrasi Gambar: saribundo.biz MINANGKABAUNEWS.COM , PADANG — Pernyataan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj [SAS] Falsafah Adat Minang ABS-SBK [Adat Basandi Syara' - Syara' Basandi Kitabullah] Merupakan Islam Nusantara memantik polemik di kalangan tokoh Ranah Minang, salah satunya datang dari Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Dt. Palimo Basa . Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal mengungkapkan Pertama, ini menunjukkan bahwa yang berbicara tak mengerti etika ilmiah karena berbicara tentang sesuatu yang tak dimengertinya.   Kedua, bagi siapa yang mengerti ABS-SBK, malah akan menolak Islam Nusantara, karena kalau sesuai dengan Islam Nusantara tentu sudah lahir Islam Minangkabau. Yang terjadi malah sebaliknya. Implementasi Islam Nusantara saat ini yang mengarah kepada sinkritisme, malah dalam sejarah menjadi pemicu gerakan pembaharuan di Minangkabau yang pada akhirnya melahirkan ABS-SBK-ABSB-SMAM. “Saya sarankan agar Aqil Siradj mengurus adatnya saja, tak usah mengurus adat orang lain,” tut...

Jangan Memahat di Luar Garis

Ulama diam dan berbicara dengan ilmu. Menyetujui maupun menginkari sikap penguasa, dalam hamparan tikar bernasehat. Mereka bukan hanya mewarisi ilmu dari Rasulullah S.A.W tapi juga sikap pembawa risalah, sebagaimana garisan firman Allah S.W.T;

Alam Melayu/ Jazirah Melayu

Gambar: People UTM BAHASA MELAYU Pada yang tak suka mendengar perkataan "Alam Melayu" bole di ubah kepada Nusantara atau Austronesia Berkurun lamanya orang yang tinggal di Alam Melayu ini hidup berkelompok tanpa berhubungan dengan kelompok yang lain. Mereka dipisahkan oleh gunung-ganang dan lautan yang luas. Walaupun pada mulanya mereka satu asal tetapi kerana terputusnya hubungan di antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam masa yang sangat lama, maka setiap kelompok mengatur cara hidup dan menggunakan pertuturan mereka sendiri sesuai dengan keadaan alam dan keperluan hidup mereka masing-masing. Akibat keadaan inilah timbulnya suku bangsa dan bahasa yang terdapat di Indonesia dan pelbagai loghat/dialek bahasa Melayu di Tanah Semenanjung. Sebelum ditemui bukti sejarah berupa tulisan pada batu bersurat tentulah Bahasa Melayu telah digunakan untuk masa yang panjang kerana didapati bahasa yang ada pada batu bersurat kemudiannya sudah agak tersusun pembinaan kata dan p...

Sultan Isa Mudayat Syah ibn Sultan Husin Inayat Syah

Sultan Isa Mudayat Syah adalah Putra dari Sultan Husin Inayat Syah dg Istrinya bernama Kopik Lembut, salah seorang isteri dari Sultan Husin yg bukan dari keturunan Gahara/bukan dari keturunan Raja/bangsawan, yg di tabalkan sebagai Sultan Indragiri pada 8 Oktober 1885. Sultan Isa menjabat sebagai Sultan selama 17 tahun, mangkat pd tahun 1902 di Rengat. Sultan Isa mempunyai 2 orang keturunan dg Isterinya Tengku Embih binti Sultan Ismail Syah Indragiri,yaitu -Tengku Mahmud (Pada tahun 1912 di tabalkan sebagai Sultan Indragiri. -Tengku Puteri (Engku Tori),wafat di Mekkah, isteri dari Tengku Ismail ibn Tengku Muhammad Saleh (Engku Togok).

Kerajaan Sontang , Pasaman

Kerajaan Sontang adalah salah satu kerajaan di Provinsi Sumatera barat, bergabung menjadi Republik Indonesia pada tahun 1945, dengan pernyataan oleh raja Sontang ke-11, sehingga tidak menimbulkan revolusi sosial. Terletak di kabupaten Pasaman (perbatasan Provinsi Sumatera utara dengan Provinsi Sumatera barat), meliputi kecamatan Duo Koto dan kanagarian Sontang di kecamatan Panti. Raja-rajanya bermarga Nasution keturunan raja Gumanti Porang dari Pidoli Lombang Panyabungan, sehingga berbahasa Mandahiling tapi masih bertalian darah dengan raja-raja Pagaruyung. Kerajaan Sontang ini berbatasan: sebelah utara berbatas dengan kerajaan Pakantan, sebelah selatan dengan Negeri Talu dan Sinurut, sebelah barat dengan kerajaan Parit Batu, sebelah timur dengan kerajaan Rao.

Kementerian NU

Foto dari FB Suduik Minang Buya Gusrizal: “Kalau Hanya Untuk NU, Jadikan Saja Kemenag NU, Kami di Luar !!!” Ketum MUI Sumbar yang juga Penggagas Gerakan Buya Baliak Basurau, Buya Gusrizal angkat suara soal pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menyatakan Kementerian Agama (Kemenag) merupakan hadiah untuk Nahdlatul Ulama (NU), bukan umat Islam secara umum. “Bila pernyataan Yaqut diamini oleh NU, umat Islam di luar NU harus segera mengambil sikap karena kemerdekaan yang diperjuangkan seluruh umat bukanlah untuk menyerahkan kendali leher kita kepada sekelompok orang”.

ADUHAI SEDIHNYA JADI MELAYU.

Gambar: Twitter   Kami telah menyertakan 'catatan kaki' pada tulisan ini, kesedian sidang pembaca untuk membacanya Bila ada kisah atau peristiwa negatif tentang Melayu dalam sejarah, maka semua etnik rumpun Melayu yang lain tumpang sekaki mengutuk bangsa Melayu dengan tak malunya. 'Eh teruk betul orang Melayu dulu ek...dah la pelupa, bodoh, suka berperang dan tak bersatu, sebab itu mudah kena jajah '. Si Bugis pun cakap , Aah betul tu, semua Melayu macam tu, lembik dan lemah, tak macam orang Bugis yang hebat belaka. Si Minang pula cakap, Iyo batui tu Melayu ni tak pandai, orang Minang banyak yang cerdik pandai banyak cendekiawan. Si Banjar pula cakap, Melayu panakut, masa komunis mengamuk dahulu Melayu lari manciput, Banjar haja yang timpas. Si Jawa pula cakap, Melayu pemalas, semua kerja kita orang Jawa yang sental sebab Jowo memang rajin. Tapi bila kita bercerita tentang sejarah yang gemilang tentang bangsa Melayu dan sejarah yang membanggakan tentang Melayu, maka sem...
Foto Dari, klik DISINI Kongres II M.T.K.A.A.M Hoofd (sic) Coemite Congres Alam ke II M.T.K.A.A.M, 17-20/1941, Padang Pandjang (Komite pusat Kongres Alam Minangkabau ke-2) Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau, 17-20 Januari 1941 di Padang Pandjang). Sejarah Minangkabau telah mencatat bahwa para datuk di seluruh negeri pernah membentuk sebuah organisasi yang bernama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau yang biasa disingkat MTKAAM. Ketuanya yang mula-mula adalah R. Datuak Simarajo Nan Kuniang yang berpikiran progresif. Namun beliau kemudian didepak dari MTKAAM tahun 1940 karena dituduh telah menyeret organisai itu ke kancah politik praktis. Namun ia bergabung lagi dengan MTKAAM setelah tidak diterima dalam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), tapi ia keluar lagi dari organisasi adat itu menyusul keterlibatannya dalam pemroklamiran Partai Adat Rakyat di akhir tahun 1950-an (Gusti Asnan (2007:55,70).

NEGERI SUNGAI PAGAR, KAMPAR KIRI

Foto: Riau Daily Photo NEGERI SUNGAI PAGAR ( Negeri terakhir yang dibentuk secara adat (Menurut Hukum Adat) di Rantau Kampar Kiri ). Negeri Sungai Pagar secara Geografis terletak di Muara Sungai Kampar Kiri sebelah Kanan darat, pada hari ini terletak di Kecamatan Kampar Kiri Hilir. Secara Administrasi Pemerintahan Negara NKRI, Sungai Pagar ini berstatus awalnya Desa Sungai Pagar semenjak tahun 1980-an kemudian berkembang menjadi kelurahan Sungai Pagar pasca terbentuknya Kecamatan Kampar Kiri Hilir melalui Pemekaran Kecamatan Induk Kampar Kiri yang awalnya beribu Kota di Kelurahan Lipatkain tahun 1999. Setelah menjadi Ibu Kota Kecamatan Kampar Kiri Hilir, Desa Sungai Pagar Berubah Status menjadi Kelurahan Sungai Pagar. Setelah menjadi ibu Kota Kecamatan Kampar Kiri Hilir, Desa Sungai Pagar mengalami pemekaran Desa yaitu Desa Sungai Potai dan Desa sungai Simpang Dua. Penamaan Sungai Pagar ini berkaitan dengan Sejarah Adat Kerajaan Gunung Sailan di Rantau Kampar Kiri. Nama Sungai Pagar in...

PUTI SARI DUNIA, MUARA TAKUS, dan ANDIKO NAN 44.

Ilustrasi Foto Riaumagz Sebuah alternatif pemahaman sejarah tentang Kampar dan Muara Takus. Istilah 'Muara Takus' itu sebenarnya adalah istilah pembodohan dari para sejarawan modern. Istilah 'Muara Takus' hanya pergeseran yang serampangan dari istilah lokal 'Muotakui'. Sama halnya dengan istilah 'Minangkabau' yang oleh sejarawan tukang copas diklaim berawal dari peristiwa adu kerbau jantan raksasa milik prajurit Majapahit melawan anak kerbau yang masih menyusu milik orang Minang. Anak kerbau minang itu sebelumnya oleh datuak minang dipasangi dua bilah pisau runcing di bagian tanduknya. Lalu karena lapar ingin menyusu maka anak kerbau itu langsung menyeruduk perut si kerbau jantan raksasa yang langsung tembus dan lalu matilah si kerbau jantan raksasa itu. Sejak kapan pula binatang kerbau tidak punya naluri untuk membedakan mana kerbau jantan dan mana kerbau betina.? Apalagi anak kerbau secara naluri akan tau mana induknya dan mana yang bukan induknya. Apa...

Rumah Sakit di Andalusia dahulunya

  Sumber foto DISINI Foto ini adalah foto patung ahli bedah muslim dimasa keemasan Islam di Andalusia yaitu Shekh Qurtubi Muhammad bin Aslam Al-Ghafiqi di sebuah plaza katedral Salazar kota Cordoba (Qurtubah) Al Ghafiqi adalah ahli bedah, apoteker dan ahli penyakit mata, Al Ghafiqi adalah dokter pertama dimuka bumi yang melakukan operasi katarak di mata manusia. Dalam kurun 10 tahun ini, bangsa Spanyol berusaha menghidupkan kebanggaan sejarah mereka yang berakar dari kejayaan masa Islam. Maka mereka membuat dan merestorasi banyak patung patung tokoh ilmuan Islam Ada cerita menarik dari patung ahli bedah muslim yang juga ulama ini, seorang sejarawan Prancis Van Brussel merilis sebuah surat lama seorang pasien Perancis yang sempat dirawat dirumah sakit yang didirikan oleh ahli bedah Al Ghafiqi : Ini adalah surat seorang pemuda Prancis yang dirawat di rumah sakit Qurtubah (Cordoba) selama pemerintahan Islam khilafah Umayyah di Andalusia, yang dikirimkan kepada ayahnya di Paris sekita...

ASAL NAMA NEGERI SEMBILAN.

Foto: Quora Sa-telah Raja Melewar sampai ka-Seri Menanti, maka bersemayam-lah Baginda di-sabuah istana sementara yang di panggil "Barong2" di-satu tempat bernama Ampang Rambai (tempat ini terletak di-saberang sawah yang bertentangan dengan istana yang ada sekarang, tapak bekas bangunan-nya maseh kedapatan lagi hingga sekarang ini.) Saperti kesah yang di-sebutkan terdahulu, bahwa sa belum Raja Melewar menjadi Raja Negeri Sembilan, daerah yang di-sebut Negeri Sembilan itu ada-lah di-bawah pemerentahan Sultan Johor dan masing-masing Luak telah sedia ada Penghulu-penghulu, Undang dan Orang2 Besar-nya yang di-beri kuasa oleh Sultan Johor memerentah di-Luak masing-masing. Daerah Kelang dan Naning Penghulu-nya yang pertama ada-lah orang yang datang dari Minangkabau, kemudian-nya baharu-lah ber ikut dari anak-anak tempatan sendiri. Sa-telah Raja Melewar di-beri kuasa penuh oleh Sultan Johor merajai daerah-daerah Negeri Sembilan itu maka Dato¹-dato Penghulu Luak dan Dato'-dato Und...

Salah SatuTanda Pemerintahan Komunis

Foto: Soearamoe Aceh "Kalau kuasa telah jatuh ke tangan kaum komunis, yang lebih dahulu dicukur (musnahkan) habis ialah segala pengaruh rasa percaya kepada Tuhan, dan agama dilumpuhkan. Manusia hanya menjadi alat yang tidak boleh mempunyai kepribadian sendiri. Agama itu ditukar dengan memuja-muja manusia, mengarak-arak gambar pemimpin di jalan raya, bahwa pemimpin itulah yang selalu benar, sabdanya (ucapan) sama dengan sabda Tuhan dalam pandangan kita yang memeluk agama." -------

Rumah Melayu kenapa tinggi-tinggi?

Foto: Kompas .com Korang perasan tak mengapa kebanyakan rumah tradisional melayu semuanya tinggi-tinggi. Tak kiralah rumah Melaka, Rumah Pahang, Rumah Perlis atau mana-mana rumah tradisi, semuanya dibina tinggi dari tanah. [1] Ketinggian Rumah Melayu lama selalunya akan bermula dari batu alas/ batu tapak dimana batu ini bertujuan supaya tiang kayu rumah tidak dimakan anai2 dan mudah kena lembab tanah. [2] Selepas itu tiang-tiang rumah akan diletakkan diatas alas/tapak dan selepas itu ruang lantai rumah akan dibina tinggi dari tanah sekurang-kurangnya ukuran tinggi badan lelaki (suami). Jadi kalau suami tu tinggi maka tinggilah rumah tu, kalau rendah comel, maka rendah comel lah rumah tu jadinya. [3]

𝗦O𝗘𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢, 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗛𝗜𝗔𝗡𝗔𝗧𝗔𝗡, & 𝗥𝗔𝗡𝗔𝗛 𝗠𝗜𝗡𝗔𝗡𝗚

Foto:  https://kelasonlinepelajar.web.app/ 𝗦O𝗘𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢, 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗛𝗜𝗔𝗡𝗔𝗧𝗔𝗡, & 𝗥𝗔𝗡𝗔𝗛 𝗠𝗜𝗡𝗔𝗡𝗚 𝘏𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘛𝘦𝘳𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘢𝘵𝘪 𝘔𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘔𝘐𝘕𝘈𝘕𝘎 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘏𝘢𝘭 𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘶 𝘚𝘖𝘌𝘒𝘈𝘙𝘕𝘖. ➖➖➖➖ Soekarno memang sempat populer dan memikat hati masyarakat Minang pada masa pergerakan kemerdekaan. Barangkali karena banyak sahabat seperjuangannya Bangsa  yang berasal dari RANAH MINANG. Seperti: Buya Hamka, Tan Malaka, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Muhammad Yamin, Muhammad Natsir dan masih banyak lagi. Ketika khabar Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Ranah Minang rakyat dan pemuka masyarakat Minang lansung menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia yang baru lahir ini, tanpa pikir panjang. Seperti yang terjadi di Sumatera Timur, sempat terjadi pergolakan sosial akibat beberapa Kesultanan masih enggan bergabung dengan Republik yang baru berdiri. Hal ini karena akan menggangu kekuasaan para bangsawan ...

SYEIK ABDULLAH RAQIE (Datuk Karamah)

Foto. palukota SYEIK ABDULLAH RAQIE (Datuk Karamah) Penyiar Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah Kedatangan orang Minangkabau ke Lembah Palu pertama sekali ditandai oleh kedatangan rombongan Datuk Karamah pada kurun waktu abad ke XVII seperti diberitakan dalam buku “Mengenal Tanah Kaili”. Nama lengkap beliau adalah Syeik Abdullah Raqie yang datang ke lembah Palu tahun 1650 menggunakan perahu layar (Sadi , 2021). Menurut penuturan Bpk Ihsam Djahidin Djoremi Yeko Pue Mamua Pue Busi Lembah (50 tahun), seorang budayawan Kaili dari Museum Budaya Palu, bahwa Syeik Abdullah Raqie (Datuk Karamah) datsng bersama rombongan yang jumlahnya lebih kurang 50 orang. Tersebut pula Datuk Santari (Datuk Santri) yang bersama-sama dalam rombongan. Selain itu terdapat tokoh adat dan budaya, juru masak dari tanah leluhur di Minangkabau pulau Sumatra yang terdiri atas orang tua, anak muda dan juga pengikut-pengikut yang berasal dari tempat dimana pelabuhan tempat kapal mereka singgah mampir.