Langsung ke konten utama

Tentang Hari Bela Negara

 


BERCERITA TENTANG DASAR HARI BELA NEGARA SETIAP TANGGAL 19 DESEMBER
Ciloteh Sejarah | Asalamulaikum Engku Saiful Guci Dt. Rajo Sampono, perkenalkan engku, nama kami Yandra Habibilah asal Piladang, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang jurusan TV dan Film. Yandra bersama teman kuliah: Fino, Aidil Akbar, Wahyumov dan Pardhan bermaksud berkunjung ke Lapau eSPe Kasiah Bundo apakah boleh engku?“ Tanya Yandra dalam kotak percakapan

“Jika datang ke Lapau eSPe Kasiah Bundo harus membawa buku cetak atau dalam bentuk pdf dan tentukan topik percakapannya supaya kita berdiskusi tidak mengelantur kemana-mana “jawab saya.

"Saya selalu mengikuti setiap status yang engku tulis di facebook, terutama tentang sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), makanya kami ingin berdiskusi dengan engku di Lapau eSPe Kasiah Bundo memperdalam informasi tentang sejarah PDRI dan latar belakang penetapan hari Bela Negara, situasi Kota Bukittingi saat di bom Belanda, deklarasi PDRI, Payakumbuh diserang Belanda dan kisah Jembatan ratapan ibu“ jawab Yandra.

Setelah kami berkumpul, saya berciloteh: ”Latar belakang penetapan Hari Bela Negara 19 Desember adalah untuk mengenang peristiwa bersejarah saat Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Belanda melancarkan serangan mendadak dengan Operasi Kraai (Operasi Gagak) ke Yogyakarta, ibu kota RI saat itu, dan berhasil menangkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Mohammad Hatta bersama tokoh lain asal Sumatera Barat, seperti : H Agus Salim, St. Syahril yang kemudian diasingkan ke Brastagi, dan Parapat dan berakhir di Pulau Bangka.

Sebelum pimpinan tertangkap, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta me nggelar Sidang Kabinet Darurat yang hasilnya; mengirimkan kawat ke Syafruddin Prawira Negara yang sedang berada di Bukitting untuk melanjutkan perjuangan melalui pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.

Sementara situasi di Kota Bukittinggi, pada hari Minggu pagi itu 19 Desember 1948 di Istana Wakil Presiden di depan Jam Gadang Bukittinggi atau Gedung Istana Bung Hatta Bukittingi, para pemimpin sedang melakukan pertemuan yang diketuai oleh Menteri Keuangan R.I Mr. Syafruddin Perawiranegara yang dihadiri oleh Ketua Komisaris Pemerintahan Pusat (Kompempus) Mr. Teunku M. Hasan, PanglimaTentera Terr. Sumatera Kolonel Hidayat, Gubernur Sumatera Tengah. Mr. Nasroen dan lain-lainya.

Karena adanya serangan Belanda yang membom Kota Bukittinggi, maka dalam Pertemuan itu diambil ketetapan bahwa Propinsi Sumatera Tengah buat sementara dibekukan dan Dewan Pertahanan Daerah (DPD) Keresidenan di hidupkan kembali dan diberi kekuasaan penuh untuk melancarkan Pemerintahan dan perjuangan dalam Keresidenan masing-masing. Dan Gubernur Sumatera Tengah ditetapkan sebagai koordinator dari tiga DPD dalam Propinsi Sumatera Tengah itu. Dan dengan demikian, maka Dewan Perwakilan sejak dari DPRST sampai DPR Kabupaten dan Wilayah yang baru dibentuk, maupun DPR negeri-negeri yang lama, dinon aktifkan.
Dan para anggota dari semua DPR ini lalu menerjunkan diri kedalam perang kemerdekaan di dalam susunan-susunan yang dibentuk oleh Pemerintahan Militer seperti MPRN, MPRK,PMT, BPNK dan lain-lain bergabung dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Pembentukan PDRI: Untuk menjaga kesinambungan pemerintahan dan eksistensi NKRI, Presiden dan Wakil Presiden memberikan mandat kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Pembentukan PDRI menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih ada dan berjuang, meskipun ibu kota di Yogyakarta telah jatuh.

Peringatan ini ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006. Peringatan ini bertujuan untuk mengenang perjuangan, membangkitkan semangat kebangsaan, serta menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab seluruh warga negara untuk bela negara, baik secara fisik maupun nonfisik.

Besok kita lanjutkan “19 Desember 1948 Kota Bukittinggi di Serang Bom Belanda “
Di tulis oleh Saiful Guci di sudut Lapau eSPe (SP) kasiah Bundo Jorong Pulutan Nagari Koto Tuo Kecamatan Harau.-Lima Puluh Kota 18 Desember 2025
1.anggota Komisariat Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kabupaten Lima Puluh Kota dan
2. Anggota Kepengurusan Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Kabupaten Lima Puluh Kota Masa Bakti 2025-20230.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...