MEMPERINGATI 77 TAHUN LALU SUBUH BERDARAH DI LURAH KINCIE NAGARI SITUJUAH BATUR
Ciloteh Sejarah | Hari ini Kamis 15 Januari 2026, dilapangan bola Situjuah Batur orang melaksanakan upacara memperingati 77 tahun lalu 'Subuh Berdarah' Di Lurah Kincia Nagari Situjuah Batur, sebuah peristiwa mata rantai sejarah di masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang di deklarasikan di Nagari Halaban 22 Desember 1948.
Berdasarkan keputusan rapat hari Selasa 11 Januari 1949 di Koto Kociak Nagari Tujuah Koto Talago, Kecamatan Guguak rapat dilanjutkan di Situjuah Batur pada hari Sabtu 15 Januari 1949 dengan agenda rapat membicarakan tentang pemerintahan, merebut kembali salah satu kota yang diduduki Belanda guna menunjukkan eksistensi Indonesia di mata dunia, dan tentang perbekalan perang.
Dalam rapat di Koto Kociak, Gubernur Militer Mr. Sutan Mohammad Rasjid menunjuk Khatib Sulaiman (Ketua MPRD) yang masih berada di Koto Tinggi untuk mewakilinya dalam rapat yang akan diadakan di Situjuah tersebut. Selanjutnya pada pagi hari Rabu tanggal 12 Januari 1949 sebelum berangkat, Khatib Sulaiman shalat dahulu di tempat kediaman Gubernur Militer di Koto Tinggi. Selesai shalat, kawan-kawanya bergurau seputaran shalat tersebut.
“Nah kok berbeda sekali ini, Khatib,” tanya kawannya.
“Apa yang berbeda, Awak masih Khatib Sulaiman “ Jawabnya.
“Ya , tidak biasanya bung[1] shalat sebelum berangkat tugas” gurau kawanya.
“Kewajiban terhadap Tuhan di atas segala-galanya, itu tak boleh dilupakan. Umur kita berada dalam gengamanannya,” Jawabnya tenang.
Kemudian selesai shalat, berangkatlah rombongan Khatib Sulaiman dari Koto Tinggi. Petang harinya sampailah mereka di Koto Kociak Tujuah Koto Talago, rombongan bertemu dengan Bupati Militer Arisun St. Alamsyah yang saat itu bermukim di kediaman keluarga Anwar ZA, Sekretaris Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Setelah beristirahat sejenak, rombongan meneruskan perjalanan meninggalkan Koto Kociak, rombongan tersebut terdiri dari: Khatib Sulaiman,Dahlan Ibrahim, A.Thalib, Arisun St. Alamsyah, Sofyan Kamil, Syamsul Bahri, Abdullah dan lain-lain, serta satu regu pengawal.
Pada Kamis tanggal 13 Januari 1949 rombongan Khatib Sulaiman sampai di Sariak Laweh dan bermalam disana, sambil beristirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan. Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan. Menjelang senja hari Jumat 14 Januari 1949, rombongan tersebut sampai di Situjuh Batur, tempat rapat diselenggarakan. Kemudian menyusul rombongan Sidi Bakaruddin Bupati Militer Kabupaten Tanah Datar, rombongan Mayor Syafei dan Kapten Kamaruddin Dt. Machudum, rombongan mayor Sofyan Ibarahim Perwira Intelijen Divisi Banteng, rombongan Letkol Munir Latif ex Komandan K.M.K. Bukittinggi yang datang dari Painan, serta rombongan Kapten Zainuddin alias Kapten Tembak.
Rapat dimulai tepat pukul 23.00 WIB, dipimpin oleh Chatib Sulaeman selaku ketua MPRD. Rapat berjalan dengan lancar sekitar tiga setengah jam, rapat tersebut telah dapat menghasilkan beberapa keputusan, antara lain:
1. Para pejuang harus menyerang Kota Payakumbuh dari segala jurusan dan berusaha mendudukinya Aktifitas itu meyakinkan dunia luar bahwa bangsa Indonesia tetap berjuang mengusir penjajah, karena pihak Belanda telah menyiarkan bahwa Indonesia telah diamankan.
2. Mengatur dan menyempurnakan persenjataan dan logistik di setiap komando pertempuran.
3. Mengorbankan semangat perang gerilya di dada masyarakat dan menanamkan rasa benci terhadap penjajah.
Setelah selesai rapat, sebagian ada yang meninggalkan tempat rapat dengan segera karena banyak tugas yang harus diselenggarakan. Sedangkan sebagian lainnya beristirahat sampai sembahyang subuh. Kebanyakan pemimpin tertidur dengan nyenyaknya tanpa rasa khawatir karena pasukan pengawal telah disiapkan sebelumnya.
Tanpa disadari oleh mereka, rupa-rupanya Belanda telah mengetahui adanya rapat tersebut. Dan hal itu merupakan kesempatan yang paling baik bagi Belanda untuk menangkap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia.
Pasukan Belanda itu bergerak dari Payakumbuh mengepung Lembah Situjuah dari empat jurusan:
1. Melalui Limbukan-Situjuah Banda Dalam
2. Melalui Padang Jariang - Situjuah Gadang
3. Melalui Tangah Padang - Bumbung
4. Melalui Piladang – Tungka
Tentara kita yang ditugaskan untuk menjaga sekitar tempat itu tidak mengetahui kedatangan Belanda. Akhirnya peristiwa tragis yang tidak bisa kita lupakan itu terjadilah. Diwaktu subuh serombongan peserta yang terdiri dari Abdullah, Syamsul Bahar, Arifin Alip, Dt. Baharuddin Gagok, Yahya Jalil, dan Sidi Bakaruddin, mendengar suara dari seorang penjaga yang mengatakan adanya Belanda. Dengan cepat turunlah rombongan itu dari rumah, berjalan beriringan ditepi sebuah tebat [kolam ikan] dan berjumpa dengan Mayor Makinuddin HS, yang sedang mengambil wuduk. Sementara itu rombongan melihat dua orang berpakaian seragam tegak lurus seperti patung". Serta merta rombongan memberi kode, dan dijawab oleh kedua patung itu dengan gerakan yang berbeda. Melihat keadaan itu rombongan itu lari, kedua patung itu mulai melepaskan tembakan dan terdengarlah letusan pertama di pagi subuh itu.
Pintu-pintu keluar dari lurah tempat pertemuan itu telah dijaga oleh pasukan Belanda. Walaupun demikian sebagian dari peserta dapat meloloskan diri dengan melompat tebing yang cukup tinggi. Diantaranya lolos adalah rombongan Abdullah, Makinuddin Hs. A. Thalib, Dahlan Ibrahim dan lain-lain.
Waktu A. Thalib melompat ia ditembak oleh Belanda sehingga kena kakinya dan tidak dapat lari lebih jauh. Untung ada semak-semak yang cukup rimbun sehingga ia dapat bersembunyi dan berlindung dari peluru dan bayonet Belanda. Syamsul Bahar yang tidak mungkin melompat lagi mencari perlindungan di Bandar Kincir yang tidak berair dengan menutupi tubuhnya dengan tangkai-tangkai padi yang kebetulan teronggok di sana. Sebagin besar dari peserta tidak dapat menyelamatkan diri. Karena tidak mungkin lari atau bersembunyi lagi, diputuskan untuk berjibaku dengan menggunakan apa yang ada. Yang mempunyai pistol akan mempergunakan pistolnya, dan yang tidak bersenjata akan berkelahi sampai titik darah yang penghabisan.
Mendengar ada keributan di luar, adanya tembakan pistol yang diiringi dengan bunyi senapan mesin, Khatib Sulaiman terbangun, bahwa itu adalah serangan musuh. Secepat kilat ia mengambil pistolnya, dan mencoba melawan serangan itu. Ia mengejar musuh sampai ke tebing bukit itu. Disana pulalah ia kehabisan peluru dan disana pulalah peluru musuh merengut nyawanya. Darahnya mencurat membasahi tanah Minangkabau. Ia pergi masih dalam pakaian tidur. Rupanya ia tak sempat berpakaian bahkan mungkin tak sempat memikirkan pakaian. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menyelamatkan dokumen dan kawan-kawannya. Bersamanya telah gugur pula beberapa orang syuhada dengan berbagai posisi, diantaranya :
1. Mayor Zainuddin Tembak, dengan kepala bercerai dengan badan, Komandan KIA Bataliyon Singa Harau.
2. Letkol Munir Latif; Komandan Bataliyon.
3. Letda Syamsul bahri, staf Gubernur Militer.
4. Kapten Tantawi,Bataliyon Merapi.
5. Lettu Azinar,Komandan Kie Bataliyon Merapi.
6. Arisun Sutan Amasyah, Bupati Militer Lima Puluh Kota .
7. Rusli Supir PT,
8. Syamsuddin dari PMT.
Sedang Khatib Sulaiman sendiri, terkapar di atas tanah keras di tepi tebing. Ia hanya mengunakan celana dalam putih dan singlet. Ditangannya masih mengengam pistol yang sudah kosong. Badannya penuh dengan lubang-lubang tusukan bayonet. Badanya sudah membiru.
Syuhada-syuhada yang gugur di kuburkan tanpa dimandikan maupun dikafani sesuai dengan syariat Islam. Cuaca saat itu ikut menangis. Cuaca berkabut di barengi gerimis. Terasa menusuk tulang. Dingin mayat kata orang.
marilah kita baca sebuah sajak ciptaan Khatib Sulaiman yang ditulisnya menjelang subuh pada pagi berdarah itu.
Situjuah Batua, 15-1-1949 pagi-pagi.
CINTA
Kekasihku............
Siapa kuasa memecah cinta
Tubuh murni antara kita
Biar aku kecam diasing
Dipaksa suruh beralih kasih
dan..... dikau kini jauh tiada
Hilang dimusnahkan orang
Namun..........
Namun wahai kekasihku
Bagai api dipendam sekam
Cintaku mustahil akan padam
Dalam derita relaku menanti
Kuyakin dikau akan kembali
Sebab mana manusia dapat menindas
Kekasih kudus hikmat Illahi
Ditulis kembali oleh Saiful Guci di sudut Lapau eSPe Kasiah Bundo, Kamis 15 Januari 2026.
===============
Catatan kaki oleh Admin:
[1] Sapaan 'bung' merupakan kata sapaan yang lazim digunakan sesama lelaki kepada kawan/rekan sebaya atau sepantarannya pada masa itu. Kemungkinan sapaan ini sudah ada semenjak masa-masa akhir kolonialisme Belanda..
Tags: limo puluah koto
, minangkabau
, perang
, revolusi
, Sejarah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar