RUSLI AMRAN WARTAWAN PERTAMA SUMATERA BARAT
Ciloteh Sejarah-Kemarin ,Saya menulis nama Rusli Amran wartawan pertama Indonesia asal Sumatera Barat, tulisan ini bertujuan untuk memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang telah muncul pada masa pemerintahan Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Keppres tersebut menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional, bertepatan dengan hari lahir PWI. Penetapan ini juga mencerminkan pengakuan negara atas peran vital pers dalam pembangunan dan pengamalan Pancasila.
Sebelum Keppres itu, ide memperingati Hari Pers telah muncul dalam Kongres PWI ke-28 di Padang tahun 1978 dan disepakati oleh Dewan Pers dalam sidangnya pada 19 Februari 1981 di Bandung. Sejak itu, HPN diselenggarakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi di Indonesia, melibatkan sinergi antara insan pers, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Tahun 2026 ini , HPN digelar pada 7–9 Februari 2026 di Kota Serang, HPN tak hanya menjadi ajang peringatan, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat profesionalisme, integritas, dan peran pers yang edukatif serta bertanggung jawab.
Sebutan Rusli Amran sebagai salah satu sosok penting dalam dunia pers di Sumatera Barat tidak terlepas dari kiprahnya sebagai jurnalis senior yang memiliki pengaruh besar pada masanya. Karena Rusli Amran dikenal sebagai tokoh wartawan di Sumatera Barat . Ia pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi koran "Berdikari" di Padang dan berkontribusi besar dalam menghidupkan kembali semangat pers lokal di Sumatera Barat. Selain menjadi wartawan, ia dikenal sebagai sosok intelektual yang menjembatani dunia pers, diplomasi, dan sejarah. Kariernya di dunia jurnalistik menjadi pondasi baginya untuk melakukan riset mendalam yang kemudian melahirkan buku-buku sejarah monumental.
Meskipun ia kemudian lebih dikenal sebagai sejarawan (penulis buku legendaris Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang), identitas awalnya sebagai wartawan memberinya kemampuan untuk mengumpulkan data lapangan secara kritis, yang jarang dimiliki oleh penulis sejarah sezamannya.
Ia termasuk dalam generasi awal wartawan Indonesia asal Minangkabau yang berpendidikan modern (lulusan AMS Yogyakarta) dan menggunakan pena sebagai alat untuk mencatat dinamika sosial-politik di daerahnya Sumatera Barat.
Rusli Amran lebih sering dikategorikan sebagai salah satu wartawan terkemuka dari generasi awal setelah Indonesia merdeka, sementara tokoh seperti Dja Endar Moeda sering disebut sebagai pionir pers di Sumatera (pendiri koran pertama).
Pada 6 September 1945 ia bersama Sidi Muhammad Sjaaf dan Suraedi Tahsin menerbitkan Harian Berita Indonesia, yang merupakan surat kabar pertama setelah Indonesia merdeka, dan kemudian menjadi pemimpin harian tersebut. Pada awal tahun 1950 ia terlibat dalam birokrasi pemerintah, pertama pada Departemen Pertahanan dan kemudian Departemen Keuangan hingga akhirnya pada Departemen Luar Negeri. Selama puluhan tahun Rusli Amran menjadi wakil Indonesia di Moskow dan Paris. Setelah pensiun pada tahun 1972, ia mulai mendedikasikan dirinya pada proyek sejarah berskala besar yaitu menulis tentang sejarah Sumatera Barat dalam bentuk yang bisa dimengerti dan dijangkau oleh para pelajar Indonesia.
1. Buku pertama yang ditulis oleh Rusli Amran berjudul Sumatera Barat hingga Plakat Panjang yang diterbitkan oleh Sinar Harapan pada tahun 1981 buku pertama saya beli tahun 1985 di toko buku Hijra Payakumbuh.
2. Buku Kedua berjudul Sumatera Barat Pemberontakan Pajak 1908,, yang saya punyai hanya kopian
3. Buku Ketiga berjudul Sumatera Barat Plakat Panjang;
4. Buku Keempat berjudul Padang Riwayamu dulu;
5. Buku Kelima berjudul Cerita-cerita Lama dalam lembaran Sejarah “, saya punya foto copy.
Rusli Amran lahir di Pulau Karam, Padang, pada tanggal 14 September 1922. Ayahnya bernama Marah Amran dan Ibunya bernama Siti Fatimah. Berpendidikan, HIS MULO di Padang, AMS jurusan kesusastraan Barat di Yogyakarta dan tamat SMT Jakarta tahun 1944, meneruskan ke Sekolah Tinggi Kehakiman hingga Proklamasi RI, dilanjutkan pada Fakultas Kehakiman Universitas Republik, Jakarta. Kemudian pindah ke Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Politik di Amsterdam dan akhirnya tamat pada Fakultas Ilmu- ilmu Sosial dan Ekonomi di Praha tahun 1953, meninggal pada tahun 1996 dalam usia 74 tahun.
Rusli Amran banyak menguasai bahasa terhitung 5 bahasa yang ia kuasai yakni Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Belanda, Bahasa Perancis, dan Bahasa Ceko. Ia merupakan pensiunan Departemen Luar Negeri RI.
Semasa hidup Rusli Amran menjalani pernikahan dua kali, yang mana di pernikahan pertama cerai hidup. Pernikahan pertama dengan Halyani Junus yang dikaruniai dua orang putra, antara tahun 1946-1952.
1. Haidar Amran - wafat 2019
2. Rama Krisna Amran
Pernikahan yang kedua dengan Siti Alwiyah tahun 1956 dikaruniai dua orang putri.
1. Moskwita Ruswiyanda
2. Kartina Ruswiyanti
Ketika muda Rusli Amran mendirikan surat kabar yang bernama “Berita Indonesia”. Ia juga sempat menjadi wartawan dan pada akhirnya menjadi pensiunan Departemen Luar Negeri RI.
Rusli Amran hingga akhir hayatnya telah menulis lima buah buku tentang sejarah Sumatera Barat. setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai diplomat pada tahun 1972, ia mulai banyak melakukan penelitian dan menulis buku-buku tentang sejarah Sumatera Barat. Sementara istri dan anaknya mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta sebagai tempat belajar dan pusat dokumentasi koleksi dan arsip Rusli Amran.
Sedang asiknya menulis, masuk dari WhatsApp, saya :
Assalaam Pak Saiful Guci, Saya Ibu Yanti Amran tinggal di Jakarta putri almarhum Rusli Amran sejarawan Sumbar.Bapak penggemar buku2 alm ayah saya ya?. Saya membawa posting di FB Bapak. Dan saya mendapat nomer WA Bpk dr Pak Gusti Asnan, Unand.Senang bisa berkenalan dg Bpk. “tulis buk Yanti Amran
Inilah yang disebut dalam peribahasa Minangkabau "Pucuak dicinto, ulam pun tibo" (Pucuk dicinta, ulam pun tiba) memiliki arti:Mendapatkan sesuatu yang diinginkan, atau sesuatu yang sudah lama dinanti-nantikan akhirnya terwujud.
Kemudian saya jawab “ Alhamdulillah senang berkenalan buk, saya tinggal di Jorong Pulutan Nagari Kototuo Kecamatan Harau kabupaten limapuluh kota, Sumatera Barat asal saya nagari Pandai Sikek Kecamatan X Koto Tanah Datar. Seandainya ada buku lain karangan alamarhum Rusli Amran saya juga ingin dan buku yang saya cari sampai sekarang buku Perang kamang Bagian ke-2 “ balas saya.
Tak lama kemudian masuk balasan “Sayang sekali Buku Perang Kamang Bagian Ke-2: tinggal 1 dan mohon maaf untuk arsip kami.J adi tidak bisa asya kirim.Mendiang ayah sempat meninggalkan buku/manuskrip dg banyak foto/peta dlm dwi bahasa yang belum sempat dipublikasikan:. Untuk Perang Kamang Bagian 2 saya usahakan juntuk mengkopinya dan mengirimkan kepada bapak”Balas buk Yanti Amran.
“Alhamdulillah, saya ingin benar buku perang Kamang bagian 2 dalam bentuk apa saja apakah foto copy atau pdf, karena saya habis sakit stroke maka obatnya menulis di Facebook setiap hari “ jawab saya.
“Saya juga tidak bisa keluar rumah sudah 5tahun sakit kronis dan sudah mulai sulit keluar rumah dan nanti akan saya usahakan fotokopi buku almarhum ayah ya Pak.Insyaallah lekas sembuh ya Pak Saiful “ Tulis buk Yanti Amran
Kemudian saya mengirimkan foto bapak Rusli Amran dengan seorang Putri dan saya tanya “ Ini apakah Ibuk Yanti Amran ?” Tanya saya
“Bukan Pak.Itu putri saya, Namanya “Rulianna Aprilia” waktu umur 8 tahun, dan saya putri bungsu mendiang “ jawab buk Yanti Amran
Saya menunggu kopian buku karangan bapak almarhun Rusli Amran seraya berdoa Semoga Allah menerima segala amalannya dan mengapuni segala dosanya.Aamiin.
Ditulis oleh Saiful Guci, SP di sudut Lapau eSPe Kasiah Bundo, 7 Februari 2026
Tags: minangkabau
, Sejarah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar