Turkinesia | Pada Selasa pagi, 13 Rabiul Awal 1395 H, bertepatan dengan 25 Maret 1975 M, Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud —rahimahullah— menjadi korban pembunuhan saat sedang menerima kunjungan tamu di kantor Perdana Menteri di Riyadh.
Keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid bin Abdulaziz, masuk menemuinya dan melepaskan tembakan yang mengenai beliau dengan peluru mematikan. Raja Faisal segera dilarikan ke rumah sakit, namun beliau wafat tak lama kemudian.
Pelaku langsung ditangkap di lokasi kejadian, dipenjara, lalu diadili hingga dijatuhi hukuman qishas. Hukuman mati (pancung) dilaksanakan pada Rabu, 18 Juni 1975, di kota Riyadh.
Mengenai motif di balik peristiwa tersebut, muncul berbagai penafsiran yang beragam namun belum terkonfirmasi sepenuhnya, di antaranya:
• Tindakan tersebut dilakukan atas hasutan pihak asing sebagai reaksi atas keputusan Raja Faisal memutus pasokan minyak (embargo) ke Amerika Serikat dan Barat selama Perang Oktober 1973.
• Ada yang menyebutkan bahwa ia ingin menuntut balas atas kematian kakak laki-lakinya, Khalid bin Musaid, pada tahun 1965 setelah upaya penyerbuan gedung televisi Saudi.
• Dikatakan pula bahwa hal ini terkait dengan latar belakang keluarga dari pihak ibunya yang berasal dari keluarga Al-Rashid, yang secara historis merupakan saingan dinasti Al Saud di wilayah Najd.
Terlepas dari berbagai riwayat tersebut, wafatnya Raja Faisal tetap menjadi salah satu peristiwa paling mengguncang dunia Islam dan Arab. Beliau dikenal luas karena sikapnya yang sangat tegas dalam mendukung isu-isu umat, terutama keberaniannya menggunakan senjata minyak dalam Perang Oktober.
Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, memberikan penghormatan terakhir dengan berkata:
"Sesungguhnya Faisal adalah pahlawan dalam pertempuran penyeberangan (crossing battle), ia akan menempati halaman-halaman utama dalam sejarah perjuangan Arab, dan ia adalah sosok yang paling berjasa dalam 'Perang Minyak'."
Kebijakan Embargo Minyak 1973 bukan sekadar urusan dagang, melainkan salah satu manuver geopolitik paling berani dalam sejarah modern. Raja Faisal menggunakan minyak sebagai "senjata" untuk menekan negara-negara Barat agar tidak memihak Isr*el dalam Perang Oktober (Yom Kippur).
Berikut adalah detail dari kebijakan yang mengubah peta kekuatan dunia tersebut:
1. Latar Belakang: "Minyak Tidak Lebih Berharga dari Darah"
Ketika perang pecah antara koalisi Arab (Mesir & Suriah) melawan Isr*el, Presiden AS Richard Nixon memberikan bantuan militer besar-besaran senilai $2,2 miliar kepada Isr*el.
Merespons hal ini, Raja Faisal memimpin negara-negara produsen minyak Arab (OAPEC) untuk mengambil langkah ekstrem:
• Penghentian total ekspor minyak ke Amerika Serikat dan Belanda.
• Pemotongan produksi bulanan sebesar 5% hingga tuntutan penarikan mundur Isr*el dipenuhi.
2. Dampak Global yang "Mengerikan" bagi Barat
Dunia Barat yang sangat bergantung pada minyak murah tiba-tiba lumpuh. Dampaknya meliputi:
• Krisis Energi: Harga minyak dunia melonjak hingga 400% (dari $3 menjadi $12 per barel) hanya dalam beberapa bulan.
• Antrean Panjang: Di Amerika Serikat dan Eropa, kendaraan harus mengantre berjam-jam di pom bensin. Muncul aturan penghematan energi, seperti larangan menyalakan lampu hias dan pembatasan kecepatan kendaraan.
• Resesi Ekonomi: Inflasi meroket di negara-negara maju, memicu ketidakstabilan ekonomi yang berlangsung bertahun-tahun.
3. Keberanian Diplomatik Raja Faisal
Di tengah krisis, Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger, mencoba membujuk (bahkan sedikit mengancam) Raja Faisal. Jawaban sang Raja menjadi sangat ikonik:
"Kami dan leluhur kami dulu hidup dengan kurma dan susu, dan kami siap untuk kembali ke gaya hidup itu lagi demi martabat kami."
Pernyataan ini menegaskan bahwa Raja Faisal tidak takut kehilangan kekayaan minyaknya jika taruhannya adalah kedaulatan dan keadilan bagi Pal3stina.
Saat tiba di Riyadh pada tahun 1973, Kissinger mencoba mencairkan suasana yang kaku dengan selera humornya yang khas. Namun, Raja Faisal menanggapinya dengan sangat serius.
Kissinger: "Pesawat saya saat ini sedang terparkir di bandara dalam keadaan kehabisan bahan bakar. Apakah Yang Mulia bersedia memerintahkan agar pesawat itu diisi bensin? Kami bersedia membayarnya dengan harga internasional."
Raja Faisal (tanpa tersenyum): "Dan saya adalah seorang pria tua yang hanya memiliki satu keinginan sebelum mati: yaitu mengerjakan salat dua rakaat di Masjidil Aqsa (Yerusalem). Bisakah Anda membantu saya mewujudkan keinginan itu?"
Jawaban ini langsung membungkam Kissinger, karena Raja Faisal menegaskan bahwa masalahnya bukan soal "harga minyak", melainkan soal keadilan bagi Palestina dan status Yerusalem.
4. Konsekuensi dan Teori Konspirasi
Keberanian ini membuat Raja Faisal menjadi pahlawan di dunia Islam, namun di sisi lain, ia menjadi "musuh nomor satu" bagi stabilitas ekonomi Barat.
Banyak sejarawan dan analis politik berteori bahwa pembunuhan beliau pada tahun 1975 bukanlah sekadar dendam pribadi keponakannya, melainkan ada campur tangan intelijen asing yang ingin menyingkirkan pemimpin yang berani menggoyang dominasi ekonomi dunia. Meskipun begitu, bukti keterlibatan asing ini tidak pernah terbukti secara resmi di pengadilan.
Warisan Raja Faisal
Berkat langkah ini, OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan secara politik, bukan sekadar organisasi ekonomi. Raja Faisal membuktikan bahwa negara-negara berkembang bisa mendikte kebijakan global jika mereka bersatu.
Semoga Allah merahmati Raja Faisal dan menempatkannya di surga-Nya
Komentar
Posting Komentar