IG Sumbar Promotion | Kita mendengar ungkapan bahwa "Sedikit ilmu lebih baik daripada tidak sama sekali." Tetapi di Minangkabau, pandangan serupa itu justru dianggap bencana. Pernah tidak, tuan ngelihat proyek bangunan hancur karena tukangnya "abal-abal"? Atau hukum yang berantakan karena pengacaranya cuma lihai "berdalih"? Itulah yang disebut Alang: penyakit setengah-setengah yang lebih mematikan daripada ketidaktahuan total.
"Alang tukang binaso kayu, Alang cadiak binaso Adat, Alang arih binaso tubuah" (tanggung keahlian tukang bisa merusak kayu, tanggung kecerdikan bisa merusak adat, tanggung kearifan/ kebijakasanan bisa merusak diri sendiri).
Peribahasa ini adalah kritik pedas terhadap mediokritas (sikap merasa cukup dengan kemampuan rata-rata). Mari kita bedah lapisan maknanya:
Pertama kita tela'ah dahulu apa itu Tanggung, dalam Bahasa Minang dan Melayu bermakna orang yang memiliki kepandaian, pemahaman, pengetahuan, atau singkat kata 'ilmu' yang setengah-setengah. Orang tua di Minangkabau punya pengajaran mengenai hal ini: Kalau mengaji itu dari Alif sampai Ya, pelajari satu persatu huruf Hijayyiah itu beserta makna dibaliknya. Ini tidak, satu huruf sahaja belum selesai engkau mengkajinya, sudah pandai pula engkau 'Berhujjah'. Hujjah berasal dari Bahasa Arab yang bermakna dalil, bukti, alasan, atau argumentasi yang kuat atau valid.
Dampak Material (Alang Tukang): Ini soal profesionalisme. Di tangan orang yang tanggung, bahan baku yang berkualitas (kayu) akan menjadi tak berguna. Artinya, modal sebesar apa pun akan habis atau tak berguna kalau dikelola oleh orang yang tidak kompeten.
Dampak Sosial & Moral (Alang Cadiak): Ini yang paling menakutkan. "Cadiak" (cerdik) tanpa "Pintar" (bijak) akan menghasilkan orang-orang yang memanipulasi aturan untuk kepentingan pribadi. Adat dan norma dirusak hanya demi ego dan pembenaran sesaat.
Seperti kata Buya Hamka: Agama tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, Ilmu tanpa Agama bagaikan lentera di tangan pencuri.
Dampak Personal (Alang Arih): Ini soal mawas diri. Orang yang merasa sudah ahli padahal belum, biasanya akan ceroboh. Kecerobohan itulah yang akhirnya menghancurkan reputasi, kesehatan, bahkan nyawa dirinya sendiri.
Inti Filosofinya: Minangkabau menuntut totalitas.
Pilihannya cuma dua: Belajar sampai paham (tahu di nan ampek), atau diam sama sekali agar tidak merusak. Hal ini sesuai pula dengan pepatah; Kalau tak bisa menjernihkan, jangan memperkeruh - tak pandai menyelesaikan, jangan memperkusut.
Di zaman sekarang, lebih bahaya mana: Orang yang benar-benar tidak tahu, atau orang yang "merasa tahu" karena cuma baca judul berita di media sosial?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar