PUSTAKA NA JATI | PUSTAHA TUMBAGA HOLING
FB Uli Kozok | Dalam tradisi Karo dikenal seorang guru mahakuasa bernama Guru Pakpak Pitu Si Dalanen, yang diyakini menguasai ilmu gaib tertinggi. Guru Pakpak, yang dalam versi ini bermerga Sembiring, dikatakan memiliki sebuah buku lipat dari kulit kayu. Menurut tradisi, Pustaka na Jati ini bahkan terbuat dari emas.
Di Toba terdapat pula sebuah kitab mitologis bernama Pustaha Tumbaga Holing, yang berarti “pustaka tembaga Keling”. Sama halnya dengan Pustaka na Jati, kitab ini dipercaya sebagai pustaka gaib paling ampuh sekaligus sumber segala pengetahuan.
Perhatikan bahwa dalam tradisi TOBA dan KARO kedua kitab mitologis terbuat dari logam: emas dan tembaga.
Kedua tradisi—Pustaka na Jati maupun Pustaha Tumbaga Holing—hampir dapat dipastikan berkaitan dengan tradisi prasasti logam yang menggunakan tembaga, emas, atau timah, sebagaimana ditemukan di berbagai tempat di Nusantara, dari Sumatra hingga Filipina.
Di Sumatra sendiri, prasasti pada keping logam banyak dijumpai, terutama di Jambi dan Sumatra Selatan. Teks-teks tersebut umumnya ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan aksara Sumatra Kuno. Temuan terbaru memperlihatkan kesinambungan tradisi ini: lima keping timah beraksara Melayu Kuno ditemukan di situs arkeologi Bongal, sekitar 90 km di selatan Sibolga (Soedewo dkk. 2023).
Hal ini menunjukkan bahwa pada masa lampau pernah berkembang tradisi tulis yang memiliki banyak kesamaan, baik dalam hal bahan, aksara, maupun isi naskah yang dituliskan.
Kini, orang Batak dan Karo hanya mengenal istilah pustaha dan pustaka yang berasal dari bahasa Sanskerta. Padahal, dalam tradisi Batak istilah ini jarang digunakan. Istilah yang jauh lebih umum adalah lopian di Toba, Simalungun, dan Angkola-Mandailing, lepiin di Pakpak, serta lapihen di Karo. Menariknya, di Jawa juga pernah dikenal bentuk buku lipat serupa dengan sebutan lepihan!
Hal tersebut mestinya juga menjadi pelajaran bagi kita. Kini, terutama di medsos, ada kecenderungan untuk memecah-belah kita. Banyak orang Karo berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa mereka berbeda dari suku Melayu, dan terutama berbeda dari suku Batak. Mencari perbedaan tidak salah, tetapi alangkah baiknya bila diiringi pula dengan upaya untuk mencari kesamaan.
Foto: Prasasti emas dari situs Padang Candi (Kerajaan Malayu-Jambi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar