ASAL USUL SUKU KARO (Bagian 1)

Baca Bagian 1 DISINI | Bagian 2 DISINI | Bagian 3 DISINI | bagian 4 DISINI | Bagian 5 DISINI | Bagian 6 DISINI | Bagian 7 DISINI

FB Uli Kozok | Tulisan berikut ini merupakan bagian dari artikel yang saya tulis mengenai hubungan Melayu dan Karo di Taneh Jawi (bagian Deli yang dihuni oleh suku Melayu) serta di Karo Jahe (bagian Deli yang dihuni suku Karo).
Silakan disimak:
==========================================
Istilah Karo pertama kali muncul dalam tulisan William Marsden (1811:311), yang menyebutnya sebagai “Carrow”. Marsden mencatat bahwa suku ini menyerupai orang Batak, namun terpisah oleh barisan pegunungan. John Anderson, seorang pejabat Inggris yang pada 1823 melakukan perjalanan ke wilayah Langkat dan Deli. Anderson menyebut suku Karo sebagai “Karau Karau Batta” (Batak Karo-Karo).|
Kemungkinan besar Anderson menggunakan istilah Karo-Karo karena ketika menanyakan identitas mereka, ia mendapat jawaban “merga Karo-Karo”. Di wilayah Deli pada masa itu, sebagian besar orang Karo memang berasal dari marga Karo-Karo, salah satu dari lima marga utama dalam masyarakat Karo.
Nama Karo tidak ditemukan dalam hikayat-hikayat Melayu maupun naskah-naskah berbahasa Melayu lainnya, dan juga tidak muncul dalam pustaha (buku kulit kayu) suku Toba, Pakpak, atau Simalungun. Bahkan dalam naskah berbahasa Karo sendiri, istilah "Karo" tidak pernah digunakan.

Hal tersebut dapat dimengerti mengingat pada masa lampau, hanya segelintir orang—umumnya pedagang dan guru (dukun)—yang melakukan perjalanan jarak jauh, sehingga identifikasi etnis secara eksplisit dalam teks tertulis jarang dilakukan. Selain itu, kesadaran akan adanya identitas kesukuan pada saat itu belum kuat.

Tidak disebutkannya istilah Karo sebelum abad ke-19 kemungkinan besar berkaitan dengan persepsi pihak luar terhadap masyarakat pedalaman Sumatra Utara. Dalam pandangan orang luar—baik orang Aceh, Melayu, maupun Eropa—semua suku di pedalaman secara umum disebut Batak. Akibatnya, informasi sejarah tertulis yang spesifik mengenai Karo baru tersedia melalui catatan-catatan pengamat Eropa, khususnya sejak kedatangan para penjelajah dan misionaris yang berusaha untuk merekonstruksikan sejarah Karo melalui kesaksian tradisi lisan. Tokoh penting dalam hal ini adalah Meint Joustra yang ditugaskan ke Tanah Karo pada tahun 1894, disusul oleh J.H. Neumann enam tahun kemudian.

Meskipun terdapat publikasi seperti Sejarah Karo dari zaman ke zaman karya Brahma Putro (1995) atau Sejarah Pijer Podi, adat Nggeluh suku Karo Indonesia karangan Sempa Sitepu (1995), isinya tidak dapat dijadikan rujukan akademis yang andal karena tidak mencantumkan sumber dan penulisnya bukan sejarawan terlatih. Sitepu, misalnya, mengklaim bahwa asal-usul orang Karo dari “India Selatan berbatasan dengan Myanmar”, padahal jarak antara Myanmar dan India Selatan sekitar 800 km dan kedua wilayah dipisah oleh negara Bangladesh serta tiga negara bagian India!

Karena tidak ada sumber sejarah mengenai Karo yang berasal dari sebelum abad ke-19, penulis sependapat dengan arkeolog Inggris McKinnon (1984:128) yang menyimpulkan bahwa “the Karo remain exasperatingly elusive.” Karena kurangnya data sejarah, Karo memang merupakan suku yang sulit dipahami secara menyeluruh, hingga menimbulkan kebingungan dan tantangan tersendiri dalam kajian ilmiah.

Satu-satunya teks Karo yang berisikan sejarah dalam bentuk legenda adalah Pustaka Kembaren yang menceritakan asal usul marga Sembiring Kembaren. Neumann yang menerbitkannya, menduga bahwa ceritanya adalah karangan baru:

“Beberapa waktu yang lalu saya menerbitkan sebuah Pustaka Ginting, [...] pustaka pertama yang saya temukan yang memuat keterangan-keterangan sejarah. Apakah ini kemudian menjadi dorongan bagi orang-orang lain untuk juga memiliki sebuah pustaka dari marga mereka? Mungkin saja.”
Neumann juga meragukan keaslian Pustaka Kembaren karena ia tidak pernah melihat naskah aslinya; yang ia terima hanyalah sebuah salinan yang ditulis di atas kertas. Isinya secara lengkap ditulis dan diterjemahkan oleh Neumann (1927) dan dapat diringkas sebagai berikut:

Berangkat dari Istana Pagaruyung dengan membawa surat kerajaan, sembilan cap dan pisau bala bari sebagai tanda kebesaran, seorang putra raja—namun dari ibu yang berbeda dengan putra sulung—pergi merantau. Ia tiba di Bangko, mendirikan sebuah kampung atau kerajaan, dan menjadi penguasanya. Ia memiliki tujuh orang putra: enam dari ibu budak yang konon dibawanya dari Mekah, dan seorang dari putri raja Kuala Air Batu. Setelah ia wafat, keenam saudara seibu budak itu menolak mengakui putra raja yang sah. Seorang tokoh keramat turun tangan; karena perselisihan tidak mereda, ia memunculkan air bah yang mengusir semuanya dari negeri itu..

Keenam orang itu merantau ke wilayah Pakpak (mungkin mengikuti aliran Sungai Renun) dan menjadi raja di sana. Di Silalahi dan Paropo (Kab. Dairi) di tepi Danau Toba, marga Ginting dikalahkan dan keluarga Kembaren berkuasa. Sementara itu, putra raja yang sah menyusuri Sungai Alas dan mendirikan Ketangkuhen. Setelah ia meninggal, anaknya tersingkir oleh “Manusia Layang-layang” yang jatuh dari langit; seorang putra yang lebih muda mendirikan Mabar di Sungai Petani, dan putra lainnya mendirikan Pertibi di Lau Biang (Sungai Wampu). Keturunannya lalu menyebar di kawasan Liang Melas dan Langkat Hulu.

Terlepas dari persoalan apakah Pustaka Kembaren merupakan karangan baru—sebagaimana diduga oleh Neumann—sulit dapat diterima bahwa merga Sembiring Kembaren berasal dari Pagaruyung. Nama Pagaruyung pada masa lampau begitu termasyhur sehingga bahkan suku Sakai di Riau dan suku Haloban di Pulau Banyak (Aceh Singkil) menganggap diri mereka keturunan Pagaruyung! Selain Pagaruyung, Pustaka Kembaren juga menyebut dua tempat asal bagi istri leluhur mereka yang tak kalah bergengsi, yakni Mekkah (!) di Tanah Arab dan Kuala Air Batu. Nama terakhir ini merupakan negeri legendaris yang disebut dalam Hikayat Malin Dewa sebagai tempat asal istri tokoh utama tersebut.
Karena sumber sejarah mengenai Karo begitu langka, maka untuk merekonstruksi asal-usul Karo, dalam bagian berikut kita akan memaparkan sejarah Karo sebagaimana diturunkan dalam tradisi lisan suku Karo. (Bersambung) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar