Baca Bagian 1 DISINI | Bagian 2 DISINI | Bagian 3 DISINI | bagian 4 DISINI | Bagian 5 DISINI | Bagian 6 DISINI | Bagian 7 DISINI
FB Uli Kozok | Pada bagian-bagian sebelumnya telah ditunjukkan bahwa sejumlah klaim yang kerap beredar mengenai hubungan antara Karo, Melayu, dan Toba tidak dapat dipertahankan baik secara linguistik maupun genetik. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Klaim: Melayu hanyalah orang Karo yang masuk Islam.
Kesimpulan: Salah. Secara genetik, populasi Melayu berbeda cukup jelas dari Karo.
2. Klaim: Secara genetik, Toba dan Karo sangat jauh berbeda.
Kesimpulan: Salah. Keduanya justru tergolong cukup dekat.
3. Klaim: Karo adalah pendatang dari India.
Kesimpulan: Salah. Baik Karo maupun Toba memiliki proporsi DNA asal India yang kurang lebih sama.
4. Klaim: Batak (Toba) adalah suku Batak yang paling tua.
Kesimpulan: Salah. Tidak ada dasar ilmiah yang mendukung klaim ini. Data linguistik, budaya, sejarah, arkeologi, maupun genetika tidak menunjukkan adanya hierarki usia antarsuku Batak.
5. Klaim: Secara linguistik, bahasa Karo dan Toba sangat jauh berbeda.
Kesimpulan: Salah. Kerabat terdekat bahasa Karo adalah Pakpak dan Alas, disusul Simalungun dan Toba. Meskipun penutur Karo umumnya tidak memahami bahasa Toba, kedua bahasa ini masih memiliki tingkat kekerabatan sekitar 80%, yang, secara linguistik, tergolong cukup dekat.
Kisah Si Raja Batak, yang nama aslinya disebut Ompu Jolma, sering dipaparkan dengan cara yang menempatkan Batak Toba di puncak hierarki dan suku-suku Batak lainnya sebagai keturunannya. Model genealogis semacam ini tidak didukung oleh data linguistik maupun genetika.
Linguistik historis menunjukkan bahwa pada awalnya semua kelompok yang kini tergolong dalam rumpun bahasa Batak merupakan penutur satu bahasa purba. Bahasa ini bukan bahasa Toba atau “bahasa Batak”, karena dituturkan sekitar 1.000 tahun yang lalu, pada masa ketika identitas Karo, Toba, Mandailing, dan kelompok Batak lainnya belum terbentuk. Saat itu hanya ada satu komunitas penutur sebuah bahasa yang kemudian berkembang menjadi berbagai bahasa Batak.
Secara fonologis, bahasa purba ini paling dekat dengan bahasa Karo, Pakpak, dan Alas. Namun, dari segi adat, musik, pakaian, dan kebudayaan, kelompok awal ini sangat berbeda dari semua kebudayaan yang kini dikenal di Sumatra Utara. Bahkan besar kemungkinan bahwa mereka belum mengenal sistem marga seperti yang berkembang kemudian.
Dari kelompok awal inilah muncul dua cabang utama bahasa Batak:
1. Karo, Pakpak, Alas, dan Kluet
2. Simalungun, Angkola, dan Mandailing
Baik dari sudut pandang bahasa maupun genetika, tidak terdapat hierarki antarkelompok tersebut. Oleh karena itu, pertanyaan tentang “suku Batak mana yang paling tua” tidak memiliki dasar ilmiah.
Bersambung…
Tags: karo
, orientalis
, sejarah [history]
, sumatera
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar