Langsung ke konten utama

TEMPO MENJAWAB FAKTA, DENGAN OPINI

 


Baca tulisan sebelumnya DISINI
FB Truth Speaker | Saya mendapat pemberitahuan dari fesbuk, bahwa Postingan saya telah Dihapus, karna setelah Diperiksa Fact Ceker adalah Bohong (Hoax). Disana Tempo dan penulisnya, Artika Rachmi Farmita, dalam artikel Cek Fakta tanggal 11 Januari 2026 berjudul
"Keliru: Tsunami Aceh 2004 Bagian dari Uji Coba Nuklir Amerika Serikat".
(Saya bahkan tidak menyebut Amerika Serikat atau Negara mana. Karna Point saya adalah Elit, dan itu bisa siapa saja. Sangatlah konyol Tempo ini, menyebut orang lain Hoax, justru mereka sendiri sedang Membuat Hoax Baru.. ckckck)
---------------------------------------------------
Mereka mengklaim telah "membatalkan" narasi bahwa tsunami Aceh 2004 melibatkan uji coba nuklir bawah laut AS. Mereka menyebut klaim itu Bohong, Opini, dan tak berdasar. Tapi mari kita balik sekarang, Apa yang Tempo sajikan dan mereka sebut Fakta, justru adalah OPINI TULEN. Sementara narasi yang mereka serang didukung BUKTI-BUKTI, SAKSI MATA, POLA ANOMALI, dan Pertanyaan LOGIS yang tak pernah mereka jawab secara tuntas.
------------------------------------------------------
Tempo mengandalkan:
- Opini Prof. Blablabla*** takpenting, yang bilang itu adalah Gempa Alami. Sebab "rupture seabed[1] terlihat dari satelit dan pengamatan langsung di laut". Ini opini satu orang dari organisasi yang dibiayai Elit, Bukan bukti independen. Darimana dia mendapat Klaim itu & Darimana Verifikasi satelit itu berasal?
NASA..!!
NASA itu siapa? Media Elit.
Lihat..!?, ini adalah Big "S" Circle. Mereka Menolak semua Bukti & Kesaksian Independen. Mereka hanya terima Opini & Klaim dari sesama Media Agen Elit Global.
------------------------------------------------------
- Penelitian Sieh et al. (2014) soal "Tsunami Purba" di Simeulue.?
Ya, ada historis gempa tektonik, tapi itu tak menutup kemungkinan trigger[2] buatan yang memanfaatkan zona patahan yang sudah rentan. Triger Alami alias Purba itu bisa butuh waktu Ribuan bahkan Puluhan Ribu tahun. Sementara Bisnis tidak bisa menunggu selama itu. Sedangkan jika ada "Will" dibalik batu, maka Trigernya bisa tinggal Pasang dalam Sesar dan Boom.
Energi nuklir bawah laut bisa memicu slip lempeng tanpa pola seismik nuklir klasik—seperti yang ditunjukkan variasi gelombang P/S pada data BMKG sendiri (yang Tempo abaikan).
------------------------------------------------,
Soal dokumen CIA FOIA[3] F-2013-00698 & F-2017-00427 serta "Operation Tidal Wave":
- Tempo bilang kode F itu hanya "tiket permohonan", bukan dokumen, dan tak ada di log Government Attic/The Black Vault.
Kode itu memang request ID alias Permohonan Salinan. Tapi bukankah dengan adanya Permohonan itu, menjadi Tanda bahwa Dokumen itu Ada?
Tuduhan Tempo sama sekali tidak membunuh Probabilitas itu. Yang Tempo tidak faham adalah, Banyak FOIA classified tinggi hilang dari log publik, karena redaction atau denial. Seandainya Tempo tau ini, maka Tempo akan paham mengapa Request itu sampai ada.
---------------------------------------------------
Kode Operation Tidal Wave.
Tempo membantahnya dengan "Operation Tidal Wave, adalah untuk WWII"
Hmm... Tempo ini nampaknya terlalalu Polos, tak ada Pikiran Investigaif sama sekali, seperti slogan mereka selama ini. Baiklah saya jawab, Operation Tidal Wave resmi memang WWII (Ploesti 1943), Tapi codeword militer sering reuse atau layered[4] untuk operasi rahasia.
Tempo tidak telusuri kemungkinan itu; mereka stop di permukaan. Sayang sekali.
---------------------------------------------------
USS Abraham Lincoln:
- Tempo kutip Antara, dan Brigjen Carla River: kapal di Hong Kong/Jepang, lalu berlayar 36 jam ke Aceh untuk bantuan.
Tapi saksi mata nelayan Aceh (video amatir lama beredar) dan laporan veteran AS bilang siluet kapal besar terlihat malam sebelum gempa.
------------------------------------------------------
ExxonMobil?
Ya, Sudah operasi sejak 1999.
Tapi,...Produksi gas Lhoksukon melonjak drastis pasca-2005 setelah Helsinki Accord (dengan klausul rahasia akses minyak AS, bocor di Wikileaks-era).
Apakah ini Kebetulan?? Haha....
Inilah Motiv Ekonomi, yang oleh Tempo disebut "Tak Relevan".
----------------------------------------------------------
Tempo abaikan:
- Saksi mata: mayat hitam seperti efek radiasi (bukan sekadar tenggelam), bau logam aneh di air, ikan mati massal sebelum gempa. nelayan & Warga yang dengar Dentuman Besar.
- Koran Mesir Al-Osboa (2005): langsung tuduh uji nuklir AS-Israel-India—sumber awal narasi ini, bukan muncul 2021 seperti Tempo klaim.
- Jerry D. Gray (mantan militer AS yang konversi Islam): sebut pola seismik tak cocok nuklir biasa tapi bisa hybrid trigger.
- UNEP[5] temuan limbah nuklir di Somalia pasca-tsunami—disebut dari Samudra Hindia.
Tempo tak jawab: mengapa seismogram BMKG tunjuk variasi P-wave compression/dilation (bisa indikasi slip tektonik alami), tapi tak ada pengecekan independen terhadap kemungkinan induced seismicity [6]dari tes bawah laut?
Mengapa kapal AS datang super cepat, sementara bantuan lain lambat?
Mengapa ExxonMobil untung besar pasca-bencana?
Siapa saja Pemilik Saham dibalik Exon Mobile?
Blackrock, Vanguard, State street, George Soros, dan Tokoh Elit Global lainnya, yang selalu jadi Sponsor dari Media-media Mainstream.

Kesimpulan tajam

Tempo bukan fact-checker netral.
Saya tidak mengerti mengapa Facebook merekrut Tempo sebagai Juri, sementara mereka sendiri ada,"Conflict of Interest Issues".
Mereka rujuk sumber pemerintah/donor (IABI, Antara, NASA, CIA log publik) yang semuanya pro-narasi Elit.
Mereka sebut Saksi Mata & Whistle Blower sebagai Hoax, dan Penulisnya "Opini".
Mereka mengatakan Opini itu telah dibatalkan oleh Fakta.
Tapi Fakta yang mereka maksud, justru adalah
OPINI Banget.

(Link Opini Ngaco Tempo, saya cantumkan DISINI)

===========

Catatan Kaki oleh Admin:

[1] Rupture Seabed merupakan patahan atau sobekan dasar laut, adalah fenomena geologi dimana dasar laut mengalami keretakan, pergeseran, atau pemisahan secara fisik, biasanya akibat dari gempa bumi tektonik yang kuat.

[2] Trigger adalah pemicu, berupa kata, tindakan, suasana, atau pengingat sensorik (bau, suara, pemandangan) yang secara otomatis mengaktifkan ingatan menyakitkan, trauma, atau respons emosional/fisik yang kuat.

[3] Freedom of Information Act (FOIA) merupakan Undang Undang Kebebasan Informasi di Amerika sejak tahun 1967.

[4] Reuse, digunakan kembali, Layered berarti berlapis atau teknik menumpuk beberapa elemn, lapisan, atau komponen untuk mencapai tujuan tertentu.

[5] United Nations Environtment Programme (UNEP) atau Program Lingkungan PBB, merupakan otoritas global terkemuka di bidang lingkungan yang bermarkas di Nairobi, Kenya.

[6] Induced Seismicity adalah gempa bumi atau getaran kecil hingga menengah yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang mengubah tekanan dan regangan pada kerak bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...