FB Uli Kozok | Dari pembahasan sebelumnya menjadi jelas bahwa semua suku di Sumatra Utara memiliki keragaman genetika. Komponen terbesar—sekitar 65%—berasal dari populasi Austronesia yang bermigrasi ke Nusantara sekitar 4.000 tahun yang lalu.
Komponen terbesar kedua, sekitar 25%, berasal dari populasi Austroasiatik yang berakar di Asia Tenggara daratan. Komponen ketiga, sekitar 10%, menunjukkan asal India. Di samping itu, masih terdapat jejak genetik Negrito, yaitu populasi manusia modern paling awal yang menetap di Nusantara sejak sekitar 40.000 tahun yang lalu.
Jika dilihat dalam konteks Sumatra secara umum, komposisi DNA orang Toba dan Karo tidak berbeda secara mencolok dari suku-suku lain. Perbedaannya terutama terletak pada persentase DNA India yang relatif lebih tinggi pada orang Batak dan Karo. Hal ini menunjukkan adanya kontak intensif dengan dunia luar, baik melalui pantai barat Sumatra (Bongal dan Barus) maupun pantai timur (Kota Cina), yang sejak lama merupakan pusat perdagangan internasional.
Dari sudut pandang linguistik, diketahui bahwa bahasa Alas, Angkola, Karo, Kluet, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Toba pernah merupakan satu bahasa proto (bahasa purba) yang dituturkan sekitar 1.000 tahun yang lalu. Bahasa purba ini kemudian terpecah dan berkembang menjadi delapan bahasa tersebut, dengan tingkat kekerabatan sekitar 70–90%. Dengan demikian, secara linguistik kedelapan bahasa ini memiliki induk bahasa yang sama. Hubungan kekerabatan antarmereka relatif dekat, tetapi cukup jauh jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya, seperti Melayu, Minangkabau, Gayo, Aceh, atau Nias.
Namun perlu diingat bahwa bahasa dan keturunan biologis tidak selalu berjalan seiring. Meski demikian, data genetika yang tersedia saat ini juga menunjukkan bahwa Karo dan Toba—sementara untuk suku-suku Batak lainnya data masih terbatas—kemungkinan memiliki leluhur yang sama. Akan tetapi, hal ini belum dapat dipastikan sepenuhnya, dan sebelum menarik kesimpulan yang tegas, kita perlu menunggu hasil penelitian genetika lanjutan.
Sekilas mengenai Si Raja Batak dan Pusuk Buhit. Hampir dapat dipastikan bahwa Si Raja Batak tidak pernah ada sebagai tokoh historis. Ia lebih mungkin merupakan kiasan atau simbol bagi kelompok manusia awal yang bermigrasi ke Sumatra Utara. Sangat mungkin kelompok ini mendarat di pantai barat Sumatra dan kemudian bergerak ke daerah pegunungan yang lebih cocok untuk pertanian sawah. Dari sudut pandang geografis, wilayah yang paling strategis tentu adalah lembah-lembah subur di sekitar Pusuk Buhit. Bisa jadi dari kawasan inilah populasi tersebut berkembang. Namun perlu ditekankan bahwa, jika hipotesis ini benar, kelompok awal tersebut bukan “Batak”, karena istilah Batak pada masa itu belum ada, dan bahasa, adat, serta budaya mereka sangat berbeda dari yang dikenal sekarang.
Semua itu, pada akhirnya, tetap bersifat hipotesis. Yang jelas, narasi yang menempatkan satu kelompok Batak—misalnya Toba—sebagai sumber atau “induk” dari semua Batak tidak dapat diterima secara ilmiah.
Anda mungkin sudah sering mendengar berbagai “teori” tentang asal-usul suku-suku di Sumatra Utara. Sempa Sitepu (1995), misalnya, mengklaim bahwa orang Karo berasal dari “India Selatan yang berbatasan dengan Myanmar”, padahal secara geografis India Selatan dan Myanmar berjarak sekitar 800 kilometer dan dipisahkan oleh Bangladesh serta beberapa negara bagian India. Demikian pula, orang Batak kadang dikatakan berasal dari Yunnan, bahkan ada pula yang mengaitkannya dengan Israel. “Teori Israel” sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah, sementara teori Yunnan sangat lemah dan tidak didukung oleh kajian sejarah mutakhir.
Jika Anda berharap rangkaian tulisan ini diakhiri dengan kesimpulan tegas seperti “Karo berasal dari …”, saya harus mengecewakan Anda. Seperti yang terlihat dari pembahasan genetika, komposisi genetik setiap suku bersifat majemuk, dan jelas tidak menunjuk pada satu tempat asal tunggal.
Di antara suku-suku di Indonesia, Karo termasuk yang paling miskin sumber sejarah primer, sehingga para sejarawan hingga kini masih belum dapat memastikan asal-usulnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Pakpak, Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing.
Sementara itu, masyarakat tentu ingin mengetahui asal-usulnya. Kekosongan pengetahuan inilah yang kemudian diisi oleh berbagai teori spekulatif dan tidak ilmiah, yang beredar luas di media sosial dan sering diterima begitu saja oleh mereka yang tidak memiliki akses atau pemahaman memadai terhadap kajian ilmiah.
Tamat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar