FB Uli Kozok | Kita sudah lama tahu bahwa Surat na Sampulu Sia (aksara Batak) berasal dari sistem tulisan Kuno yang disebut Paleo-Sumatra dan yang digunakan terutama untuk menulis prasasti-prasasti berbahasa Melayu di seluruh Sumatera, termasuk Padang Lawas, Barus, dan Bongal.
Di antara anak ni surat (tanda diakritik penambah vokal) ada yang hanya digunakan di Simalungun dan di Karo, dan yang sejarahnya terbentang hingga ke Jawa. Silakan disimak:
ᯆᯭ
Anak ni surat ini hanya dijumpai dalam Surat Karo dan Simalungun dengan nama hatulungan di Simalungun dan kĕtolongĕn di Karo. Kata dasarnya masing-masing adalah tulung dan tolong.
Anak ni surat ini menandai bunyi /o/ di Karo, dan diftong /ou/ di Simalungun. Diftong /ou/ juga terdapat di beberapa daerah di Karo, tetapi hanya Simalungun memiliki diakritik tersendiri untuk bunyi tersebut.
Di Karo, diakritik ini juga sering ditulis ᯆᯨ. Bahkan dalam satu naskah dapat ditemukan bentuk ᯆᯨ dan ᯆᯭ. Keduanya bernama kĕtolongĕn dengan kata dasar tolong yang berarti ‘bantu’ atau ‘tolong’.
Pada umumnya anak ni surat ini dianggap sebagai satu diakritik, namun sesungguhnya terdiri atas dua bagian. Garis horisontal di sebelah kiri menyerupai bentuk dan posisi diakritik ᯩ /e/ yang di Simalungun disebut hatalingan dan di Karo kětelengěn dengan kata dasar taling dan teleng. Unsur kedua menyerupai diakritik ᯨ yaitu kětolongěn dengan arti bahwa kětolongěn itu membantu membentuk diakritik /o/ dengan menambahkannya pada diakritik hatalingan ᯩ.
Dalam aksara Jawa Baru (Hanacaraka) diakritik untuk /e/ memiliki nama yang sama seperti di Surat Batak, namun tanpa imbuhan apit, yaitu taling. Sementara diakritik untuk /o/ bernama taling-tarung. Tarung artinya sama dengan bahasa Indonesia ‘bertarung’, tetapi dalam konteks aksara maknanya lebih ke ‘berhadapan’ atau ‘berpasangan’. Diakritik taling tarung juga terdiri dari dua bagian, satu yang diletakkan di depan (taling), dan satu di belakang aksara, yaitu tarung yang mengubah /e/ menjadi /o/.
Persis yang sama terjadi juga dalam kĕtolongĕn. Dalam aksara Sunda Kuno, diakritik untuk /e/ bernama peneleng (dari akar kata teleng), dan aksara untuk /o/ bernama panolong (dari akar kata tolong). Sama seperti di Karo dan di dalam aksara Jawa, panolong berfungsi sebagai pasangan untuk peneleng untuk menghasilkan bunyi /o/.
Kesamaan antara kĕtolongĕn di Karo, taling-tarung di Jawa, dan panolong di Sunda, tentu bukan kebetulan, tetapi menunjukkan adanya keterkaitan secara historis. Kita tahu bahwa aksara Jawa Baru (Hanacaraka) berasal dari aksara Jawa Kuno, dan bahwa tradisi tulisan Surat berasal dari tulisan Sumatera Kuno. Kita juga tahu bahwa tulisan Sumatera Kuno dan Jawa Kuno hanya berbeda sedikit karena keduanya berasal dari sistem tulisan yang sama, yaitu Pallawa atau Brahmi Selatan Akhir.
Gunawan dan Griffith (2014:134) menduga bahwa istilah untuk diakritik vokal baru muncul sejak terbentuknya aksara Jawa Hanacaraka, namun, menurut kami, nama untuk diakritik seharusnya sudah ada dalam tulisan Jawa Kuno dan Sumatera Kuno karena tidak mungkin tulisan-tulisan Surat memperolehnya dari aksara Jawa Baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar