IG Balqis Humaira | Gue mau mulai dari satu fakta yang bikin lo harus berhenti sebentar: di negeri ini, seorang nenek bisa hampir dibunuh cuma karena dia ganggu mesin duit orang kaya. Namanya Nenek Saudah. Umurnya 68 tahun. Bukan aktivis. Bukan politisi. Bukan siapa-siapa. Cuma pemilik tanah yang lagi diinjak-injak tambang emas ilegal di Rao, Pasaman.
Dan lawannya siapa?
Bukan satu orang. Bukan tetangga. Bukan preman kampung. Lawannya itu sebuah industri.
Iya, INDUSTRI. Jangan salah sebut. Karena kalau ini cuma tambang liar receh, gak mungkin ada alat berat, gak mungkin ada solar ribuan liter, gak mungkin ada shift kerja, dan gak mungkin ada keamanan.
Ini bukan kerjaan orang lapar. Ini kerjaan orang rakus.
Kamis malam, 1 Januari 2026. Nenek Saudah udah datang siang-siang, minta mereka berhenti. Mesin mati sebentar. Tapi habis magrib? Nyala lagi. Dan di situ kelihatan jelas: mereka gak takut sama siapa pun. Malam itu, nenek ini jalan sendirian. Cuma bawa senter. Jaraknya 300 meter dari rumah.
Bayangin: umur segitu, malam-malam, jalan ke arah suara mesin. Itu bukan nekat. Itu putus asa. Dan apa yang dia dapet?
Bukan omongan. Bukan ancaman. Tapi batu. Pukulan. Keroyokan.
Dia dihajar. Dia tumbang. Dia diseret. Dan yang paling bangsat: Dia dibuang ke semak-semak karena mereka ngira dia sudah mati.
Ini bukan ribut. Ini usaha pembunuhan. Kalau dia gak sadar jam satu pagi, kalau dia gak merangkak pulang, hari ini kita lagi ngomongin mayat.
Sekarang gue mau lo mikir. Orang normal, kalau panik, mukul, terus kabur. Tapi ini?
Mereka nyeret tubuhnya. Mereka buang ke semak. Itu artinya apa?
Itu artinya di kepala mereka, dia sudah dianggap sampah. Barang bukti.
Dan itu artinya lagi: mereka terbiasa sama kekerasan.
Besok-besoknya, polisi datang.
Dan seperti biasa di negeri ini: Alat berat hilang. Lokasi bersih. Lalu keluar kalimat sakti: “Ini konflik tanah keluarga.”
Gue mau tanya jujur: Sejak kapan konflik tanah diselesaikan dengan membuang nenek ke semak-semak? Ini bukan bodoh. Ini sengaja menurunkan level kejahatan.
Kalau disebut PETI (Perusahaan Emas Tanpa Izin), itu kejahatan negara. Kalau disebut sengketa keluarga, itu cuma ribut kampung. Satu kalimat bisa menyelamatkan banyak orang besar. Dan sekarang kita masuk ke bagian yang paling bikin muak: siapa yang mukul?
Yang ketangkep: IS alias Mk, 26 tahun, mahasiswa. Gue ulang: MAHASISWA. Kenapa selalu pemuda lokal? Kenapa selalu anak-anak kampung? Karena mereka murah, bisa dikorbankan, dan kalau ketangkep tinggal bilang: pelaku tunggal. Padahal semua orang waras tau: Mahasiswa ini bukan pemilik alat berat. Bukan pemilik solar. Bukan pemilik emas. Dia cuma centeng.
Sekarang kita ngomongin duit. Biar lo paham kenapa nenek ini harus “disingkirkan”. Satu alat berat di sungai-sungai Rao itu bisa ngasilin: 50 sampai 100 gram emas per hari. Harga emas? Sekitar sejuta per gram. Artinya? 50 sampai 100 JUTA PER HARI. PER HARI.
Kalau ada 5 mesin? 250 sampai 500 juta per hari. Sekarang jawab jujur: Kalau lo pegang mesin duit segede itu, terus ada satu nenek ganggu… Di dunia yang sudah gak punya nurani, nenek itu dianggap lebih murah daripada mesin berhenti. Dan di sinilah kita harus mulai nyebut nama.
Di lapangan, warga nyebut satu nama: Rohom atau Rokom. Diduga pemilik alat berat di Rao. Orang yang, kata warga, “Tuhan pun tak ditakutinya”. Kalimat itu bukan puisi. Itu deskripsi mentalitas orang yang merasa kebal hukum. Di Pasaman Barat, muncul nama lain: Najjar Lubis. Mantan TNI. Tokoh masyarakat. Suka bangun jalan pakai duit pribadi. Anaknya duduk di DPRD. Di media, dia dermawan. Di berbagai laporan media independen, dia disebut toke PETI. (Semacam bos besar tambang ilegal) Inilah tipe manusia paling menurut gue mencurigakan di republik ini:
Pola orang kayak dia umumnya Ngerusak alam, tapi bangun jalan. Ngeracuni sungai, tapi nyumbang masjid.
Ngerampok masa depan, tapi senyum di baliho. Ini bukan kebaikan. Ini cuci dosa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar