OMPU PULO BATU
FB Uli Kozok | Kini Ompu Pulo Batu, Singamangaraja yang terakhir, lazim disebut sebagai Singamangaraja kedua belas. Namun, di antara para penulis yang selama ini membahas Singamangaraja, belum pernah ada upaya untuk secara kritis mengevaluasi keakuratan data mengenai jumlah Singamangaraja.
Menurut Pale van Dijk (1895), jumlah Singamangaraja sepuluh, sementara menurut Beck (1917: 455) malah hanya tujuh. Ompu Pulo Batu untuk pertama kali disebut sebagai Singamangaraja XII oleh Arsenius Loembantobing (1931). Buku Arsenius kemudian dibahas oleh Johannes Hoetapea di dalam surat kabar Soara Batak (cf. Joustra 1926: 214). Baik Joustra maupun Hoetapea, yang menggunakan nama pena Baharadja di dalam berbagai artikel yang diterbitkan di majalah Partungkoan, menolak gagasan Arsenius, dan tetap menyebut Ompu Pulo Batu sebagai Singamangaraja kesepuluh (Baharaja 1939).
Baru menjelang zaman kemerdekaan bermunculan buku dan artikel yang menyebut adanya dua belas Singamangaraja, misalnya Okamura (1945) dan Adniel Lumbantobing (1953), sehingga sekarang sudah ada semacam “kesepakatan” bahwa memang ada 12 Singamangaraja walaupun “kesepakatan” tersebut tidak pernah dipertanyakan secara kritis.
------------
TANGGAL KELAHIRAN OMPU PULO BATU
Menurut Wikipedia berbahasa Jerman dan Belanda, Ompu Pulo Batu—Singamangaraja terakhir—lahir tahun 1849. Menurut Wikipedia Malaysia dan Jepang ia lahir tahun 1845. Namun, Wikipedia Indonesia ternyata lebih akurat. Menurutnya tanggal kelahiran 18 Februari 1845. Wikipedia berbahasa Inggris hingga beberapa minggu yang lalu masih mencatat 1849 sebagai tahun kelahirannya, namun belakangan ini diubah menjadi 18/2/1845. Siapa yang mengubahnya? Ya, tentulah mereka yang juga "menentukan" tanggal kelahirannya di Wikipedia Indonesia.
MANA YANG BENAR?
Kita tidak tahu tahun maupun tanggal kelahiran yang pasti. Kemungkinan besar antara 1845 dan 1849. Kita malahan tidak tahu hari ulang tahun anak-anaknya karena dulu orang Batak tidak mencatatnya. Jika sekiranya kita sempat bertanya pada Ompu Pulo Batu sendiri tahun berapa ia lahir, dan apakah ia Singamangaraja ke-7 atau ke-12, jawabannya pasti "tidak tahu" karena hal-hal yang sedemikian dulu tidak dianggap penting sehingga tidak dicatat.
Kini, kita menjadi terobsesi dengan angka. Masak ada Pahlawan Nasional yang tanggal kelahirannya tidak diketahui! Begitulah banyak orang pikir, dan cepat-cepat mereka menentukan tanggal kelahiran. Dan karena siapa-siapa bisa mengubah postingan di Wikipedia, dan kontrolnya sangat terbatas, maka seolah-olah tanggal kelahirannya sudah menjadi fakta – bagi mereka yang tidak pernah belajar berpikir secara kritis.
Dasarnya apa? Yang jelas, dasar sejarah tidak ada. Kalau menurut saya, dasarnya tak lebih daripada isapan jempol.
----------------
PUSTAHA SINGAMANGARAJA
Pada 1907, Singamangaraja terakhir, Ompu Pulo Batu, tewas dibunuh oleh pasukan KNIL di bawah komando Hans Christoffel. Harta bendanya dirampas dan kini tersimpan di Museum aan de Stroom (MAS) Antwerpen, bersama ratusan benda hasil rampasan Belanda dari Aceh, Sulawesi, dan Kalimantan. Di antaranya terdapat dua pustaha, salah satunya saya bahas dalam artikel di jurnal BKI, dengan membandingkannya dengan Pustaha Batipuh (Minangkabau) dan Pustaha Agung koleksi van der Tuuk. Artikel ini dapat diunduh gratis di brill[dot]com/view/journals/bki/181/2-3/article-p191_2.xml
Tags: batak
, sejarah [history]
, sisingamangaraja
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar