Ciloteh sejarah- Jika tidaklah ada radio yang mengikuti Gubernur Militer Mr.Muhammad Rasyid di Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh,Kabupaten Lima Puluh Kota , sejak 24 Desember 1948, tentu tak akan terjadi peristiwa bersejarah 77 tahun silam, tepatnya pagi Senin, 10 Januari 1949.
Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua di Indonesia. Dampak dari agresi itu adalah hampir seluruh pemimpin Republik Indonesia, termasuk Soekarno dan Hatta ditawan dan diasingkan. Belanda kemudian mengabarkan ke dunia internasional bahwa Republik Indonesia telah lenyap dari muka bumi karena para pemimpinnya telah ditangkap.
Saat peristiwa agresi tersebut Jenderal Besar Soedirman sebagai Panglima Angkatan Perang tidak tertangkap oleh pihak Belanda. Beliau memutuskan untuk melanjutkan perjuangan melalui gerilya. Dan sebelum memulai perjuangan gerilya tersebut, Jenderal Soedirman berhasil memberikan perintah kepada seluruh kekuatan TNI untuk melanjutkan perjuangan, yang kemudian dikenal dengan Perintah Siasat No. 1.
Selain itu Sjafruddin Prawiranegara yang pada waktu itu berada di Bukittinggi berhasil mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan membentuk kabinet darurat berdasarkan mandat yang dikirim oleh Soekarno dan Hatta sebelum ditangkap dan diasingkan Belanda. Keberadaan PDRI inilah yang menyelamatkan wajah Republik di mata internasional sekaligus membuat malu Belanda yang menyatakan bahwa Republik telah habis.
Bagaimana komunikasi dan informasi rahasia negara bisa disebarluaskan pada waktu itu? Inilah peran besar Dinas Kode, cikal bakal Lembaga Sandi Negara, sebagai jembatan komunikasi perjuangan gerilya di Jawa, PDRI di Sumatera dan para perwakilan Republik di negara-negara sahabat, yang terus menerus melakukan koordinasi sehingga dunia internasional mengetahui bahwa sebenarnya Republik Indonesia masih ada.
Untuk kita ketahui, Ada dua stasiun radio yang diperbantukan pada pimpinan PDRI di Sumatera Barat. Sebuah di antaranya mengikuti secara mobil rombongan Ketua PDRI Syafruddin Prawiranegara .
Stasiun yang satu lagi diperbantukan kepada Gubernur Militer Sumatera Barat M.Rayid yang juga salah seorang menteri pada Kabinet RI Stasiun radio tersebut berada semi menetap di wilayah Koto Tinggi, Stasiun radio di Koto Tinggi dipimpin oleh Jakub Lubis. Ia dibantu oleh telegrafis Sersan Mayor Udara Soesatyo, Sersan Udara Zainul Azis, Sersan Udara Herutomo, Kopral Udara Soegianto Suryo dan perwira sandi Wooryono Berta Kopral Udara Tobing sebagai tenaga teknisi. Seorang anggota Angkatan Darat, yakni Letnan Dua Syafiuddin diperbantukan sebagai tenaga administrasi.
Stasiun radio di Koto Tinggi ini pada mulanya ditempatkan dekat pasar Koto Tinggi. Jangkauan pesawat pemancar atau zendernya hampir sama dengan pesawat pemancar yang dipimpin oleh Dick Tamimi.
Stasiun radio ini mengudara dengan panggilan (Callsign) “ZZ” (singkatan nama telegrafis Zainul Aziz). Tugasnya tidak berbeda dengan stasiun radio Dick Tamimi, menerima dan mengirim radiogram (message) dan juga memonitor berita-berita (news) dari radio siaran dalam maupun luar negeri.
Sebagai seorang gubernur militer, sekaligus sebagai seorang menteri, M.Rasyid sangat sibuk berkomunikasi radio dengan satuan-satuan gerilya di wilayahnya dan dengan aparat pemerintahan lain di luar wilayah Sumatera Barat. Karena begitu aktifnya Rasyid menyelenggarakan komunikasi ini terbetik anggapan bahwa Syafroeddin pernah menegur Rasyid seolah-olah aktivitas Koto Tinggi melebihi aktivitas komunikasi radio yang dilakukan oleh Syafruddin Prawiranegara.
Rupa-rupanya dari sistim intelligence servicenya yang luas itu, mereka telah dapat mengetahui bahwa pusat pemerintahan Sumatera Barat berada di Koto Tinggi ± 50 km sebelah Utara Payakumbuh, dimana pemerintahan dipimpin oleh Gubernur Militer bersama stafnya lengkap dengan alat-alat radio dan lain-lain. Maka sesuai dengan sebuah pepatah ”Pukullah besi itu selagi hangat". Maka Belanda Pada pagi Senin tanggal 10 Januari 1949 melancarkan operasi besar-besaran ke Suliki dan Koto Tinggi. Belanda mengerahkan lebih dari satu batalyon tentera, yang diperkuat dengan beberapa buah Tank dan Pesawat Udara. Lobang dan pepohonan yang ditumbangkan bukan merupakan rintangan bagi tank untuk maju tak ada serangan, tak ada halangan dijalan-jalan, mereka jalan terus dari Suliki sampai di Koto Tinggi, kepusat Pemerintahan Darurat.
Sejak dari Payakumbuh keberadaan Belanda ini telah terpantau oleh pasukan Gerilya yang menjaga jalan menuju Koto Tinggi di Lampasi, sehingga pihak keamanan di Nagari-nagari dari Lampasi-Suliki mengambil inisiatif untuk membunyikan "tong-tong" tanpa henti, membuat penduduk setempat terkejut dan terbangun dari tidur pada subuh itu. Oleh karena cepatnya reaksi dinas intelijen tentera yang menangkap isyarat dan meneruskan beritanya ke Suliki, ke garis depan pertahanan Republik sebelum mencapai pusat PDRI di Koto Tinggi.
Pada pukul 5 pagi dini hari, Letkol Dahlan Ibrahim, Panglima militer Sumatera Barat yang segaligus menjabat Wakil Gubernur Militer yang sedang berada di sebuah surau tidak jauh dari Suliki segera di beri tahu. la buru-buru memutar Jeepnya ke arah Koto Tinggi . Di atas Jeep terlihat Letkol.Dahlan Ibrahim bersama ajudannya Mufni Nurdin, Mayor A.Thalib bersama ajudannya Muslim dan Sopir Jeep adalah Syarif memacu kendaraan arah Koto Tinggi memberitahu kepada pemimpin PDRI yang berada di Koto Tinggi. Sepanjang jalan mereka meneriakkan "Belanda Masuk". Orang Kampung terbangun oleh hebohnya dan segera menyingkir.
Dalam keadaan panik di pagi subuh itu, mereka terbirit-birit, lintang-pukang menyelamatkan diri. Di tengah jalan Jeep Dahlan Ibrahim beberapa kali terperosok ke dalam lubang berlumpur, sehingga ia terpaksa dibantu oleh orang kampung yang juga sedang ketakutan dan sedang bersiap-siap menyelamatkan diri. Di pendakian Kurai, Mufni dan Muslim diperintahkan untuk berpencar memberikan perlawanan yang merupakan tanda masuknya Belanda, dan Letkol.Dahlan Ibrahim dan Mayor A.Thalib bersama Sopir Syarif melanjutkan ke Koto Tinggi untuk segera memberitahukan kepada pimpinan Residen Sumatera barat M.Rasyid dan pimpinan PDRI lainnya yang berada di Koto Tinggi bahwa Belanda masuk menyerang.
Di titian Dalam Pandam Gadang Letkol.Dahlan Ibrahim dan Mayor A.Thalib memerintahkan kepada Syarif MP untuk merusak jembatan Titian Dalam . Syarif MP bersama masyarakat di subuh itu segera untuk merusak jembatan supaya Belanda tidak dapat masuk menuju Koto Tinggi yang merupakan markas Residen Sumatera Barat dan markas PDRI. Sedang mereka bekerja merusak Jembatan dibawah siraman hujan gerimis dipagi itu, tanpa diduga Belanda sudah datang dan menyerang, mereka memberikan perlawanan pada Titian Dalam Nagari Pandam Gadang tersebut. Perlawan tidak seimbang dan gugurlah sembilan suhada dipagi itu “Syarif. MP, Engku Kayo Zakaria, Dirin, Nuin, Radian, Manus, Abas, Nyia Ali dan Mak Nirin.
Penyatuan makam 9 Syuhada di Pandam Gadang
Pada hari Rabu , 22 Oktober 2014, saat penulis menjabat sekretaris Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, melakukan proses pemindahan sembilan orang pejuang dan syuhada menjadi korban pembunuhan oleh tentara Belanda di Titian Dalam itu, terdapat nama Syarif. MP, Engku Kayo Zakaria, Dirin, Nuin, Radian, Manus, Abas, Nyia Ali dan Mak Nirin. Korban kekejaman tentera Belanda dalam Agresi II atau semasa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (1948-1949) di Titian Dalam dibuatkan makam pejuangnya disatu tempat.
Prosesi pemindahan makam para pejuang yang semula terpencar-pencar dalam Jorong Koto Marapak, Kenagarian Pandam Gadang terlihat dengan penuh keharuan para ahli waris meteskan air mata selesai shalat jenazah yang disaksikan oleh tokoh masyarakat, Walinagari Pandam Gadang Khairul Hapid, Camat Gunuang Omeh Irwandi.SH, Kapolsek Suliki AKP. Yurnalis MP dan masyarakat ahli waris ke sembilan para syuhada tersebut.
Acara diawali oleh Tokoh Masyarakat Rusdi Dt.Rajo Imbang “Kami merasa berterimakasih atas perhatian Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang dapat merealisasikan harapan kami dari para ahli waris yang telah cukup lama untuk dapat menyatukan kuburan para pejuang yang telah berjuang dari rakyat dan untuk rakyat semasa PDRI di Nagari kami dengan dibuatkan makam pejuangnya “ ujar Rusdi Dt.Rajo Imbang."
Wali Nagari Khairul Hapid dalam sambutannya menyampaikan “Setiap tanggal 10 Januari sesuai dengan tanggal peristiwa, akan dilakukan upacara yang dihadiri oleh Pemerintah daerah Limapuluhkota di tempat makam para pejuang ini,“ kata Khairul Apid.
Sekarang mereka telah tenang dan damai, tinggal lagi kita sebagai generasi muda memberikan semangat terhadap perjuangan mereka,
Pemindahan Radio
Saat ada serangan Belanda ,stasiun radio sudah pindah ke Pua Data. Tembakan-tembakan Belanda yang dimulai sebelum dan sesudah berada di Koto Tinggi terdengar oleh awak stasiun radio "ZZ" di Pua Data. Segera para awak stasiun radio dibantu oleh penduduk setempat menarik generator seberat tiga setengah ton ke kandang kerbau, lalu ditutup dengan kotoran kerbau dan daun-daun kering. Peralatan lain termasuk pemancar radio (zender) dan antene disembunyikan di tempat lain. Setelah serangan Belanda berakhir tanpa hasil, peralatan stasiun radio dipindahkan ke desa Sungai Dadok.
Sesudah itu dipindahkan lagi ke tempat yang lebih aman di Mudik Dadok. Waktu dipindahkan dari Sungai Dadok ke Mudik Dadok, terjadilah sebuah peristiwa seperti yang dikisahkan oleh Jakub Lubis :
“…Ketika akan memindahkan generator set seberat tiga setengah ton itu melalui sebuah jembatan yang terbuat dari dua batang pohon kelapa di atas jurang yang cukup dalam, sampai di tengah-tengah jembatan, jembatan itu melengkung, tidak kuat menahan generator itu dan generator tersebut jatuh ke bawah.
Dengan bantuan berpuluh-puluh penduduk generator diikat dan dipegang, sampai malam tetap saya pegang. Waktu itu hujan dan air mengenai mata saya, sehingga seolah-olah saya menangis.
Orang menyangka saya menangis, sehingga jembatan itu diberi nama oleh penduduk "Titian Aia Mato Si Yakuik" (jembatan air mata si Yakub).
Ditulis kembali oleh Saiful Guci di Lapau Sumber Percakapan Ilmu Kasiah Bundo. 10 Januari 2026
Tags: agresi belanda II
, payakumbuh
, PDRI
, sumatera barat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar