Langsung ke konten utama

Kisah Haji Hasan Mustapa dan Jejak Snouck Hurgronje di Tanah Sunda Seri.4

 


SAHABAT HAJI ABDUL GHAFFAR
Kisah Haji Hasan Mustapa dan Jejak Snouck Hurgronje di Tanah Sunda

Oleh M. Basyir Zubair

SERI 4: PUJANGGA, POLEMIK, DAN WARISAN (1902–1930)
Menulis 10.000 Bait, Dituduh Sesat, dan Wafat dalam Sunyi

BAGIAN I
Pujangga Besar yang Menulis dalam Sunyi
FB Mohammad Basyir's | Tahun 1895. Hasan Mustapa sudah empat puluh tiga tahun. Sudah terlalu banyak yang ia lihat, terlalu banyak yang ia alami. Aceh telah meninggalkan luka yang tidak sembuh. Bandung memberinya posisi, tetapi juga beban yang semakin berat setiap hari.
Di tengah semua itu, di tengah tugas sebagai penghulu, di tengah diplomasi dengan pemerintah kolonial, di tengah menjadi saksi dari permainan kekuasaan yang tidak pernah ia minta, ada satu hal yang membuat Hasan tetap merasa hidup: Menulis.
Bukan menulis laporan resmi. Bukan menulis surat untuk Snouck atau pejabat kolonial. Tetapi menulis puisi. Menulis dalam bahasa Sunda, bahasa ibu yang terasa paling jujur di lidahnya, bahasa yang membawa kenangan gunung Garut, suara ibunya, aroma tanah basah setelah hujan.

Malam-Malam di Beranda
Hampir setiap malam, setelah semua orang tidur, Hasan duduk di beranda rumahnya. Lampu minyak menyala redup. Di hadapannya, kertas dan tinta. Di kepalanya, lautan kata-kata yang menunggu untuk dituangkan.
Ia menulis dalam bentuk dangding, puisi tradisional Sunda dengan aturan metrum yang ketat, dengan irama yang mengalun seperti nyanyian. Setiap bait harus mengikuti pola suku kata tertentu, nada tertentu. Tidak ada ruang untuk sembarangan. Tetapi justru dalam keterbatasan bentuk itulah, Hasan menemukan kebebasan.
Ia menulis tentang hal-hal yang tidak bisa ia katakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tentang rindu kepada Tuhan yang terasa begitu dekat namun begitu jauh.
Tentang perjalanan spiritual yang penuh kegelapan dan cahaya bergantian.
Tentang bagaimana dunia ini hanyalah bayangan dari realitas yang lebih dalam.
Tentang wihdatul wujud, kesatuan wujud, konsep tasawuf yang mengajarkan bahwa segala yang ada adalah manifestasi dari Yang Satu.
Tentang fana pelenyapan ego, pembubaran diri dalam Sang Pencipta.
Tentang bagaimana manusia sering kali hidup dalam ilusi, mengejar yang fana, melupakan yang kekal.
Puisi-puisinya tidak mudah dipahami. Ia tidak menulis untuk massa. Ia menulis untuk jiwa-jiwa yang haus, untuk orang-orang yang mencari makna di balik ritual, untuk mereka yang tidak puas dengan jawaban-jawaban dangkal. Dan ia menulis untuk dirinya sendiri, sebagai cara untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin gila.
10.000 Bait
Tahun demi tahun, tumpukan kertasnya semakin tebal. Sepuluh tahun. Dua puluh tahun. Tiga puluh tahun.
Ia menulis tanpa henti. Kadang sebuah bait dalam satu malam. Kadang sepuluh bait. Kadang ia menulis hingga subuh, lupa bahwa tubuhnya lelah, lupa bahwa ia harus bangun pagi untuk tugas sebagai penghulu.
Ketika akhirnya seseorang mencoba menghitung, bertahun-tahun setelah kematiannya, mereka menemukan bahwa Hasan Mustapa telah menulis lebih dari sepuluh ribu bait puisi. Sepuluh ribu.
Itu bukan angka yang kecil. Itu adalah sebuah samudra kata-kata, sebuah ensiklopedia jiwa, sebuah rekam jejak perjalanan spiritual yang mungkin tidak pernah ada bandingannya dalam sastra Sunda. Tetapi hampir tidak ada yang tahu. Karena Hasan tidak pernah menerbitkannya.

Aji Wiwitan: 18 Jilid yang Tak Pernah Dicetak
Selain puisi, Hasan juga menulis karya prosa monumental: Aji Wiwitan, sebuah ensiklopedia Islam dan tasawuf dalam bahasa Sunda. Delapan belas jilid. Ditulis dengan tangan, satu halaman demi satu halaman, dalam tulisan Arab-Melayu yang rapi.
Isinya mencakup hampir semua aspek Islam: akidah, fiqh, tasawuf, akhlak, sejarah Nabi, penjelasan tentang tarekat-tarekat, tentang nama-nama Allah, tentang perjalanan ruhani dari maqam ke maqam.
Tetapi yang membuat Aji Wiwitan istimewa bukan hanya cakupannya yang luas, melainkan pendekatannya yang dalam. Hasan tidak hanya menyalin dari kitab-kitab Arab. Ia merenung, ia merenungkan, ia menyaring semua yang ia pelajari di Mekkah, semua yang ia alami dalam hidupnya, dan menuangkannya dalam bahasa yang bisa dipahami oleh orang Sunda. Ia ingin Islam tidak hanya dihafalkan, tetapi dipahami. Tidak hanya diritual, tetapi dihayati. Tetapi karya sebesar itu tidak pernah dicetak semasa hidupnya.
Hanya beberapa orang dekat yang tahu keberadaannya. Hanya beberapa santri yang pernah membacanya secara langsung dari tangan Hasan. Mengapa?
Karena Hasan takut. Takut akan Kontroversi
Hasan bukan orang bodoh. Ia tahu bahwa apa yang ia tulis terutama tentang tasawuf, tentang wihdatul wujud adalah hal-hal yang bisa membuatnya dituduh sesat.
Di Mekkah, ia pernah menyaksikan perdebatan sengit antara ulama yang pro-tasawuf dan yang anti-tasawuf. Ia tahu betapa mudahnya seseorang dikafirkan hanya karena perbedaan interpretasi.
Di Jawa, situasinya tidak jauh berbeda. Golongan ulama tradisionalis sangat curiga pada tasawuf falsafi, terutama ajaran tentang kesatuan wujud. Bagi mereka, itu berbau pantheisme, berbau menganggap diri sebagai Tuhan, sebuah kesesatan yang harus diberantas.
Hasan tidak ingin terlibat dalam polemik seperti itu. Ia sudah terlalu lelah dengan konflik. Hidupnya sudah cukup penuh dengan ketegangan antara melayani pemerintah kolonial dan melayani umat. Ia tidak butuh tambahan musuh dari kalangan ulama. Maka ia memilih untuk menulis, tetapi tidak menerbitkan. Menulis untuk melepaskan apa yang ada di jiwanya, tetapi menyimpannya rapat-rapat, agar tidak menjadi bahan fitnah.
Tafsir Al-Qur'an dalam Bahasa Sunda
Salah satu karya terbesar Hasan adalah tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Sunda. Tafsir, bukan sekadar terjemahan. Ia menjelaskan makna ayat-ayat, konteksnya, pelajaran yang bisa diambil, dan kadang-kadang interpretasi tasawuf yang mendalam.
Ini adalah proyek yang sangat berani. Pada masa itu, Al-Qur'an hampir selalu ditafsirkan dalam bahasa Arab atau Melayu. Tafsir dalam bahasa daerah masih sangat jarang, dan sering dianggap merendahkan kesucian teks.
Tetapi Hasan percaya: bagaimana orang Sunda bisa benar-benar memahami Al-Qur'an jika mereka hanya membaca terjemahan harfiah tanpa mengerti konteks dan maknanya?
Maka ia menulis tafsir itu dengan penuh kehati-hatian, dengan rasa hormat yang mendalam pada teks suci, tetapi juga dengan keberanian untuk menjelaskan dalam bahasa yang akrab di telinga rakyat Sunda. Tetapi lagi-lagi, ia tidak menerbitkannya.
Naskah itu ia simpan. Hanya beberapa orang yang dimintai pendapat. Hanya beberapa santri yang membacanya dalam halaqah tertutup. Hasan ingin karyanya bermanfaat, tetapi ia lebih ingin menghindari fitnah. Menulis untuk Siapa?
Suatu malam, Muhammad Su'eb datang berkunjung. Mereka duduk di beranda seperti biasa. Su'eb melihat tumpukan kertas di meja Hasan.
"Kiai menulis lagi?" tanya Su'eb.
"Selalu," jawab Hasan dengan senyum tipis.
"Kapan akan diterbitkan?"
Hasan terdiam. Lalu menggeleng pelan. "Mungkin tidak pernah."
Su'eb terkejut. "Mengapa? Karya-karya Kiai sangat berharga. Orang-orang perlu membacanya."
"Orang-orang belum siap, Su'eb. Dan saya... saya tidak kuat untuk menghadapi tuduhan sesat."
Su'eb menatap Hasan dengan sedih. Ia tahu apa yang dimaksud Hasan. Ia tahu betapa kejamnya dunia terhadap orang-orang yang berpikir berbeda.
"Lalu untuk siapa Kiai menulis?" tanya Su'eb pelan.
Hasan menatap langit malam yang penuh bintang. Lalu menjawab dengan suara yang hampir berbisik:
"Untuk Allah. Dan untuk diri saya sendiri. Agar suatu hari nanti, jika ada orang yang menemukan tulisan ini, mereka tahu bahwa ada seseorang yang pernah mencoba memahami, yang pernah berjuang dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama."
Su'eb tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Mereka duduk dalam diam yang panjang, ditemani cahaya lampu yang redup dan suara jangkrik di kejauhan. Warisan yang Tersembunyi
Selama lebih dari tiga puluh tahun, Hasan Mustapa menulis tanpa berhenti.
Ia menulis di sela-sela tugasnya sebagai penghulu.
Ia menulis setelah pulang dari pertemuan-pertemuan yang melelahkan dengan pejabat kolonial.
Ia menulis di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur karena dilema moral yang menghantui.
Ia menulis ketika ia merasa paling dekat dengan Tuhan, dan ketika ia merasa paling jauh.
Dan semua tulisan itu, puluhan ribu bait puisi, delapan belas jilid ensiklopedia, tafsir Al-Qur'an, tersimpan rapi dalam peti kayu di rumahnya.
Tidak ada yang tahu berapa besar harta karun intelektual yang tersembunyi di sana.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang penghulu kolonial yang dianggap kompromis, yang dituduh terlalu dekat dengan Belanda, sesungguhnya adalah salah satu pujangga dan pemikir Islam terbesar yang pernah lahir di tanah Sunda. Hasan tidak peduli apakah dunia tahu atau tidak. Ia menulis bukan untuk ketenaran. Ia menulis karena jika ia tidak menulis, ia akan kehilangan dirinya sendiri.
Dan dalam menulis itulah, ia menemukan satu-satunya ruang di mana ia bisa benar-benar jujur, tidak kepada pemerintah kolonial, tidak kepada Snouck, tidak kepada umat yang mengharapkan terlalu banyak darinya. Hanya kepada Allah dan kepada dirinya sendiri.


BAGIAN II
Tuduhan Sesat dari Sayyid Uthman

Tahun 1902. Hasan Mustapa berusia lima puluh tahun. Ia mengira bahwa dengan menyimpan tulisan-tulisannya, dengan tidak menerbitkan karya-karyanya, ia bisa menghindari konflik. Ia mengira bahwa selama ia menjalankan tugasnya sebagai penghulu dengan baik, tidak ada yang akan mempersoalkan keyakinan spiritualnya.
Ia salah.
Karena dalam dunia ulama seperti juga dalam dunia politik, tidak ada yang benar-benar tersembunyi. Rumor selalu bocor. Bisikan selalu menyebar. Dan musuh selalu mengintai.
Suatu pagi, seorang utusan datang ke rumah Hasan dengan membawa sebuah surat kabar dari Mesir: Misbah al-Shara. Utusan itu tampak gugup, tidak berani menatap mata Hasan.
"Kiai," katanya dengan suara gemetar, "ada tulisan tentang Kiai di surat kabar ini."
Hasan menerima surat kabar itu dengan tangan yang tenang, meskipun hatinya sudah mulai berdesir. Ia membuka halaman yang dilipat, dan matanya langsung tertuju pada sebuah artikel panjang.
Judulnya menggelegar:
"Penghulu Bandung: Menyebarkan Bid'ah dan Wihdatul Wujud yang Sesat"
Penulisnya: Sayyid Uthman bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi.
Serangan dari Betawi
Hasan membaca artikel itu perlahan. Setiap kalimat seperti tamparan.
Sayyid Uthman menulis dengan nada yang keras, penuh tuduhan. Ia menulis bahwa Hasan Mustapa, meski menjabat sebagai Penghulu Besar Bandung, sesungguhnya adalah penyebar ajaran sesat. Bahwa dalam pengajian-pengajiannya, Hasan mengajarkan konsep wihdatul wujud, kesatuan wujud, yang dalam pandangan Sayyid Uthman adalah ajaran yang menyamakan makhluk dengan Khalik, ajaran yang berbau hulul (inkarnasi) dan ittihad (penyatuan), ajaran yang membawa kepada kekufuran.
Sayyid Uthman juga menulis bahwa Hasan terlalu dekat dengan kaum sufi yang ekstrem, yang sering melalaikan syariat demi mengejar hakikat. Bahwa ia mengajarkan hal-hal yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur'an dan Hadits. Bahwa ia membahayakan akidah umat Islam di Priangan.
Dan yang paling menyakitkan: Sayyid Uthman menulis bahwa Hasan Mustapa, karena posisinya sebagai penghulu kolonial, dilindungi oleh pemerintah Belanda sehingga ia bisa menyebarkan ajarannya tanpa takut ditegur oleh ulama lain.
Hasan meletakkan surat kabar itu perlahan. Tangannya tidak gemetar. Wajahnya tetap tenang. Tetapi di dalam dadanya, ada badai yang mengamuk.
Siapa Sayyid Uthman?
Sayyid Uthman bin Yahya al-Alawi bukan orang sembarangan. Ia adalah keturunan Arab, seorang ulama besar yang menjadi Mufti Betawi, penasihat agama tertinggi untuk pemerintah kolonial di Batavia. Ia punya pengaruh besar, punya jaringan luas, dan punya otoritas yang diakui oleh pemerintah Belanda.
Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat anti-tasawuf falsafi. Baginya, Islam harus bersih dari pengaruh filsafat, bersih dari interpretasi yang terlalu bebas. Syariat adalah segalanya. Hakikat tanpa syariat adalah kesesatan. Dan kini, ia mengincar Hasan Mustapa.
Hasan tidak tahu persis apa yang memicu serangan ini. Mungkin ada santri yang membocorkan isi pengajian Hasan. Mungkin ada ulama lokal yang iri pada posisi Hasan dan melaporkannya kepada Sayyid Uthman. Atau mungkin Sayyid Uthman memang sudah lama mengawasi Hasan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Yang jelas, serangan ini bukan serangan kecil. Ini adalah serangan yang dipublikasikan di surat kabar internasional, yang dibaca oleh ulama-ulama di seluruh dunia Arab dan Nusantara. Ini adalah serangan yang bisa menghancurkan reputasi Hasan selamanya.
Guncangan di Bandung
Kabar tentang artikel itu menyebar cepat di Bandung. Dalam hitungan hari, semua orang tahu. Ulama lokal mulai berbisik-bisik. Santri-santri mulai bingung: apakah pengajaran Kiai Hasan memang sesat? Apakah mereka harus berhenti belajar darinya?
Pemerintah kolonial juga mendengar. Residen Bandung memanggil Hasan untuk klarifikasi. Pertemuan itu formal, dingin.
"Penghulu," kata residen dengan nada yang menginterogasi, "ada tuduhan bahwa Anda mengajarkan ajaran yang kontroversial. Ini bisa menimbulkan keresahan. Pemerintah tidak ingin ada konflik agama di Bandung."
Hasan menjawab dengan tenang:
"Saya mengajar Islam, Tuan. Islam yang saya pelajari di Mekkah, dari ulama-ulama yang diakui di seluruh dunia. Jika ada yang tidak setuju dengan interpretasi saya, itu adalah perdebatan ilmiah, bukan kriminal."
Residen menatapnya tajam. "Tetapi Sayyid Uthman adalah Mufti Betawi. Pendapatnya didengar oleh pemerintah pusat. Kami tidak bisa mengabaikan tuduhannya."
Hasan tidak menjawab. Ia tahu apa yang sedang terjadi: pemerintah kolonial tidak peduli pada kebenaran teologis. Yang mereka pedulikan adalah stabilitas. Dan jika Hasan menjadi sumber konflik, mereka akan membuangnya tanpa ragu.

Percakapan dengan Muhammad Su'eb
Malam itu, Muhammad Su'eb datang ke rumah Hasan. Wajahnya cemas. "Kiai, seluruh Bandung membicarakan artikel itu."
Hasan hanya mengangguk.
"Apa yang akan Kiai lakukan?"
Hasan menatap ke kejauhan. "Saya akan menulis bantahan."
Su'eb terkejut. "Menulis? Di surat kabar yang sama?"
"Ya. Jika saya diam, orang akan menganggap tuduhan itu benar. Saya harus membela diri. Bukan untuk saya, tetapi untuk orang-orang yang percaya pada ajaran yang saya sampaikan."
Su'eb terdiam. Lalu berkata dengan hati-hati:
"Kiai, jika Kiai menulis bantahan, Sayyid Uthman akan membalas. Ini bisa menjadi polemik panjang. Dan Kiai tahu... dalam polemik seperti ini, yang menang bukan yang paling benar, tetapi yang paling keras."
Hasan tersenyum pahit. "Saya tahu. Tetapi saya tidak punya pilihan lain."
Menulis "Injazu'l-Wa'd fi Ithfa-i-r-Ra'd"
Selama beberapa minggu, Hasan mengurung diri di rumahnya. Ia menulis sebuah risalah panjang dalam bahasa Arab, berjudul "Injazu'l-Wa'd fi Ithfa-i-r-Ra'd", yang berarti kurang lebih: "Memenuhi Janji dalam Memadamkan Guntur".
Judulnya sendiri adalah sindiran: "guntur" di sini adalah serangan Sayyid Uthman yang keras tetapi tanpa substansi. Dalam risalah itu, Hasan membantah tuduhan-tuduhan satu per satu dengan argumen yang rapi, dengan rujukan kepada kitab-kitab klasik, dengan logika yang tajam.
Ia menjelaskan bahwa *wihdatul wujud* yang ia ajarkan bukan ajaran yang menyamakan makhluk dengan Khalik, melainkan pemahaman bahwa segala yang ada adalah manifestasi dari sifat-sifat Allah, bukan bahwa segala yang ada adalah Allah. Ini adalah perbedaan yang sangat tipis, tetapi sangat penting.
Ia mengutip Ibnu Arabi, al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan ulama-ulama sufi besar lainnya yang juga mengajarkan konsep serupa, namun tetap diterima dalam tradisi Islam.
Ia juga menegaskan bahwa ia tidak pernah mengajarkan untuk meninggalkan syariat. Justru sebaliknya: syariat adalah dasar, sedangkan hakikat adalah pemahaman yang lebih dalam. Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Risalah itu panjang puluhan halaman. Hasan menulis dengan hati-hati, dengan kehati-hatian seorang ulama yang tahu bahwa setiap kata bisa disalahpahami. Ketika selesai, ia mengirimnya ke Misbah al-Shara di Mesir.
Reaksi yang Dingin, Risalah Hasan diterbitkan. Tetapi responsnya tidak seperti yang ia harapkan. Beberapa ulama yang membacanya mengakui kekuatan argumen Hasan. Mereka mengirim surat dukungan, mengatakan bahwa Hasan benar dan Sayyid Uthman terlalu keras dalam menghakimi. Tetapi lebih banyak yang diam. Atau lebih buruk lagi: lebih banyak yang memihak Sayyid Uthman.
Karena Sayyid Uthman punya kekuasaan. Ia punya akses ke pemerintah. Ia punya jaringan yang luas. Sementara Hasan, meskipun juga seorang penghulu, tidak punya basis politik yang kuat seperti Sayyid Uthman.
Dan yang lebih penting: dalam dunia ulama, tuduhan sesat adalah sesuatu yang sangat mudah melekat, tetapi sangat sulit dibersihkan. Sekali seseorang dituduh sesat, bahkan jika ia membela diri dengan argumen yang kuat, stigma itu akan tetap mengikutinya.
Hasan menyadari hal ini. Dan ia mulai mengerti: tidak ada yang akan ia menangkan dari polemik ini.

Keputusan untuk Berhenti Publikasi
Beberapa bulan setelah risalahnya diterbitkan, Hasan membuat keputusan yang sangat sulit: Ia akan berhenti mempublikasikan apa pun.
Tidak akan ada lagi artikel di surat kabar. Tidak akan ada lagi risalah yang dikirim ke Mesir atau Mekkah. Bahkan karya-karya besarnya Aji Wiwitan, tafsir Al-Qur'an, ribuan bait puisinya, akan tetap tersimpan rapat.
Ia akan menulis, tetapi hanya untuk dirinya sendiri dan untuk lingkaran kecil santri yang ia percayai.
Muhammad Su'eb mencoba membujuknya: "Kiai, jangan biarkan orang seperti Sayyid Uthman membungkam Kiai. Karya-karya Kiai sangat berharga."
Hasan menggeleng pelan. "Saya sudah terlalu lelah untuk berperang, Su'eb. Saya sudah berperang dengan pemerintah kolonial, dengan nurani saya sendiri, dengan posisi yang tidak pernah saya minta. Saya tidak punya energi lagi untuk berperang dengan sesama ulama."
"Tetapi ini tidak adil!"
Hasan tersenyum pahit. "Keadilan bukan milik dunia ini, Su'eb. Keadilan sejati hanya di akhirat."
Luka yang Tak Terlihat
Polemik dengan Sayyid Uthman meninggalkan luka yang dalam pada Hasan.
Bukan luka fisik, tetapi luka spiritual.
Ia merasa dikhianati bukan oleh musuh, tetapi oleh sesama ulama. Orang-orang yang seharusnya mencari kebenaran bersama, malah saling menjatuhkan. Orang-orang yang seharusnya menjaga persatuan umat, malah menciptakan perpecahan.
Dan yang paling menyakitkan: tuduhan itu datang bukan karena Hasan melakukan kesalahan nyata, tetapi karena ia berpikir terlalu dalam, karena ia mencari pemahaman yang lebih dari sekadar hafalan, karena ia berani menjelajahi dimensi spiritual Islam yang banyak orang takuti.
Sejak saat itu, Hasan semakin menarik diri. Ia masih menjalankan tugasnya sebagai penghulu dengan baik. Tetapi ia tidak lagi terlalu terbuka dalam pengajiannya. Ia lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata, lebih waspada terhadap siapa yang mendengarkan.
Dan ia menulis lebih banyak lagi, tetapi semua tulisan itu disimpan, menunggu zaman yang lebih siap untuk memahaminya.
Pelajaran yang Pahit
Suatu malam, Hasan duduk sendirian di beranda. Ia menatap tumpukan naskah yang ia simpan dalam peti kayu. Ribuan halaman. Puluhan tahun kerja keras.
Dan hampir tidak ada yang membacanya.
Ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apa gunanya semua ini? Apa gunanya menulis jika tidak ada yang membaca? Apa gunanya mencari kebenaran jika kebenaran hanya membawa masalah?
Tetapi lalu ia teringat pada sesuatu yang pernah diajarkan gurunya di Mekkah bertahun-tahun lalu:
"Ilmu itu seperti menanam pohon. Kau tidak akan melihat buahnya hari ini. Mungkin tidak tahun ini. Mungkin tidak di masa hidupmu. Tetapi suatu hari nanti, seseorang akan berteduh di bawah pohon yang kau tanam, dan mereka akan bersyukur."
Hasan tersenyum tipis.
Ia akan terus menulis.
Bukan untuk hari ini. Bukan untuk dirinya sendiri.
Tetapi untuk suatu hari nanti, ketika dunia lebih siap untuk mendengar.
BAGIAN II
Tuduhan Sesat dari Sayyid Uthman
Tahun 1902. Hasan Mustapa berusia lima puluh tahun. Ia mengira bahwa dengan menyimpan tulisan-tulisannya, dengan tidak menerbitkan karya-karyanya, ia bisa menghindari konflik. Ia mengira bahwa selama ia menjalankan tugasnya sebagai penghulu dengan baik, tidak ada yang akan mempersoalkan keyakinan spiritualnya.
Ia salah.
Karena dalam dunia ulama seperti juga dalam dunia politik, tidak ada yang benar-benar tersembunyi. Rumor selalu bocor. Bisikan selalu menyebar. Dan musuh selalu mengintai.
Suatu pagi, seorang utusan datang ke rumah Hasan dengan membawa sebuah surat kabar dari Mesir: Misbah al-Shara. Utusan itu tampak gugup, tidak berani menatap mata Hasan.
"Kiai," katanya dengan suara gemetar, "ada tulisan tentang Kiai di surat kabar ini."
Hasan menerima surat kabar itu dengan tangan yang tenang, meskipun hatinya sudah mulai berdesir. Ia membuka halaman yang dilipat, dan matanya langsung tertuju pada sebuah artikel panjang.
Judulnya menggelegar:
"Penghulu Bandung: Menyebarkan Bid'ah dan Wihdatul Wujud yang Sesat"
Penulisnya: Sayyid Uthman bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi.
Serangan dari Betawi
Hasan membaca artikel itu perlahan. Setiap kalimat seperti tamparan.
Sayyid Uthman menulis dengan nada yang keras, penuh tuduhan. Ia menulis bahwa Hasan Mustapa, meski menjabat sebagai Penghulu Besar Bandung, sesungguhnya adalah penyebar ajaran sesat. Bahwa dalam pengajian-pengajiannya, Hasan mengajarkan konsep wihdatul wujud, kesatuan wujud, yang dalam pandangan Sayyid Uthman adalah ajaran yang menyamakan makhluk dengan Khalik, ajaran yang berbau hulul (inkarnasi) dan ittihad (penyatuan), ajaran yang membawa kepada kekufuran.
Sayyid Uthman juga menulis bahwa Hasan terlalu dekat dengan kaum sufi yang ekstrem, yang sering melalaikan syariat demi mengejar hakikat. Bahwa ia mengajarkan hal-hal yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur'an dan Hadits. Bahwa ia membahayakan akidah umat Islam di Priangan.
Dan yang paling menyakitkan: Sayyid Uthman menulis bahwa Hasan Mustapa, karena posisinya sebagai penghulu kolonial, dilindungi oleh pemerintah Belanda sehingga ia bisa menyebarkan ajarannya tanpa takut ditegur oleh ulama lain.
Hasan meletakkan surat kabar itu perlahan. Tangannya tidak gemetar. Wajahnya tetap tenang. Tetapi di dalam dadanya, ada badai yang mengamuk.
Siapa Sayyid Uthman?
Sayyid Uthman bin Yahya al-Alawi bukan orang sembarangan. Ia adalah keturunan Arab, seorang ulama besar yang menjadi Mufti Betawi, penasihat agama tertinggi untuk pemerintah kolonial di Batavia. Ia punya pengaruh besar, punya jaringan luas, dan punya otoritas yang diakui oleh pemerintah Belanda.
Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat anti-tasawuf falsafi. Baginya, Islam harus bersih dari pengaruh filsafat, bersih dari interpretasi yang terlalu bebas. Syariat adalah segalanya. Hakikat tanpa syariat adalah kesesatan.
Dan kini, ia mengincar Hasan Mustapa.
Hasan tidak tahu persis apa yang memicu serangan ini. Mungkin ada santri yang membocorkan isi pengajian Hasan. Mungkin ada ulama lokal yang iri pada posisi Hasan dan melaporkannya kepada Sayyid Uthman. Atau mungkin Sayyid Uthman memang sudah lama mengawasi Hasan, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Yang jelas, serangan ini bukan serangan kecil. Ini adalah serangan yang dipublikasikan di surat kabar internasional, yang dibaca oleh ulama-ulama di seluruh dunia Arab dan Nusantara.
Ini adalah serangan yang bisa menghancurkan reputasi Hasan selamanya.
Guncangan di Bandung
Kabar tentang artikel itu menyebar cepat di Bandung. Dalam hitungan hari, semua orang tahu. Ulama lokal mulai berbisik-bisik. Santri-santri mulai bingung: apakah pengajaran Kiai Hasan memang sesat? Apakah mereka harus berhenti belajar darinya?
Pemerintah kolonial juga mendengar. Residen Bandung memanggil Hasan untuk klarifikasi. Pertemuan itu formal, dingin.
"Penghulu," kata residen dengan nada yang menginterogasi, "ada tuduhan bahwa Anda mengajarkan ajaran yang kontroversial. Ini bisa menimbulkan keresahan. Pemerintah tidak ingin ada konflik agama di Bandung."
Hasan menjawab dengan tenang:
"Saya mengajar Islam, Tuan. Islam yang saya pelajari di Mekkah, dari ulama-ulama yang diakui di seluruh dunia. Jika ada yang tidak setuju dengan interpretasi saya, itu adalah perdebatan ilmiah, bukan kriminal."
Residen menatapnya tajam. "Tetapi Sayyid Uthman adalah Mufti Betawi. Pendapatnya didengar oleh pemerintah pusat. Kami tidak bisa mengabaikan tuduhannya."
Hasan tidak menjawab. Ia tahu apa yang sedang terjadi: pemerintah kolonial tidak peduli pada kebenaran teologis. Yang mereka pedulikan adalah stabilitas. Dan jika Hasan menjadi sumber konflik, mereka akan membuangnya tanpa ragu.
Percakapan dengan Muhammad Su'eb
Malam itu, Muhammad Su'eb datang ke rumah Hasan. Wajahnya cemas.
"Kiai, seluruh Bandung membicarakan artikel itu."
Hasan hanya mengangguk.
"Apa yang akan Kiai lakukan?"
Hasan menatap ke kejauhan. "Saya akan menulis bantahan."
Su'eb terkejut. "Menulis? Di surat kabar yang sama?"
"Ya. Jika saya diam, orang akan menganggap tuduhan itu benar. Saya harus membela diri. Bukan untuk saya, tetapi untuk orang-orang yang percaya pada ajaran yang saya sampaikan."
Su'eb terdiam. Lalu berkata dengan hati-hati:
"Kiai, jika Kiai menulis bantahan, Sayyid Uthman akan membalas. Ini bisa menjadi polemik panjang. Dan Kiai tahu... dalam polemik seperti ini, yang menang bukan yang paling benar, tetapi yang paling keras."
Hasan tersenyum pahit. "Saya tahu. Tetapi saya tidak punya pilihan lain."
Menulis "Injazu'l-Wa'd fi Ithfa-i-r-Ra'd"
Selama beberapa minggu, Hasan mengurung diri di rumahnya. Ia menulis sebuah risalah panjang dalam bahasa Arab, berjudul "Injazu'l-Wa'd fi Ithfa-i-r-Ra'd", yang berarti kurang lebih: "Memenuhi Janji dalam Memadamkan Guntur".
Judulnya sendiri adalah sindiran: "guntur" di sini adalah serangan Sayyid Uthman yang keras tetapi tanpa substansi.
Dalam risalah itu, Hasan membantah tuduhan-tuduhan satu per satu dengan argumen yang rapi, dengan rujukan kepada kitab-kitab klasik, dengan logika yang tajam.
Ia menjelaskan bahwa *wihdatul wujud* yang ia ajarkan bukan ajaran yang menyamakan makhluk dengan Khalik, melainkan pemahaman bahwa segala yang ada adalah manifestasi dari sifat-sifat Allah, bukan bahwa segala yang ada adalah Allah. Ini adalah perbedaan yang sangat tipis, tetapi sangat penting.
Ia mengutip Ibnu Arabi, al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan ulama-ulama sufi besar lainnya yang juga mengajarkan konsep serupa, namun tetap diterima dalam tradisi Islam.
Ia juga menegaskan bahwa ia tidak pernah mengajarkan untuk meninggalkan syariat. Justru sebaliknya: syariat adalah dasar, sedangkan hakikat adalah pemahaman yang lebih dalam. Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Risalah itu panjang puluhan halaman. Hasan menulis dengan hati-hati, dengan kehati-hatian seorang ulama yang tahu bahwa setiap kata bisa disalahpahami.
Ketika selesai, ia mengirimnya ke Misbah al-Shara di Mesir.
Reaksi yang Dingin
Risalah Hasan diterbitkan. Tetapi responsnya tidak seperti yang ia harapkan.
Beberapa ulama yang membacanya mengakui kekuatan argumen Hasan. Mereka mengirim surat dukungan, mengatakan bahwa Hasan benar dan Sayyid Uthman terlalu keras dalam menghakimi.
Tetapi lebih banyak yang diam. Atau lebih buruk lagi: lebih banyak yang memihak Sayyid Uthman.
Karena Sayyid Uthman punya kekuasaan. Ia punya akses ke pemerintah. Ia punya jaringan yang luas. Sementara Hasan, meskipun juga seorang penghulu, tidak punya basis politik yang kuat seperti Sayyid Uthman.
Dan yang lebih penting: dalam dunia ulama, tuduhan sesat adalah sesuatu yang sangat mudah melekat, tetapi sangat sulit dibersihkan. Sekali seseorang dituduh sesat, bahkan jika ia membela diri dengan argumen yang kuat, stigma itu akan tetap mengikutinya.
Hasan menyadari hal ini.
Dan ia mulai mengerti: tidak ada yang akan ia menangkan dari polemik ini.
Keputusan untuk Berhenti Publikasi
Beberapa bulan setelah risalahnya diterbitkan, Hasan membuat keputusan yang sangat sulit:
Ia akan berhenti mempublikasikan apa pun.
Tidak akan ada lagi artikel di surat kabar. Tidak akan ada lagi risalah yang dikirim ke Mesir atau Mekkah. Bahkan karya-karya besarnya Aji Wiwitan, tafsir Al-Qur'an, ribuan bait puisinya, akan tetap tersimpan rapat.
Ia akan menulis, tetapi hanya untuk dirinya sendiri dan untuk lingkaran kecil santri yang ia percayai.
Muhammad Su'eb mencoba membujuknya:
"Kiai, jangan biarkan orang seperti Sayyid Uthman membungkam Kiai. Karya-karya Kiai sangat berharga."
Hasan menggeleng pelan. "Saya sudah terlalu lelah untuk berperang, Su'eb. Saya sudah berperang dengan pemerintah kolonial, dengan nurani saya sendiri, dengan posisi yang tidak pernah saya minta. Saya tidak punya energi lagi untuk berperang dengan sesama ulama."
"Tetapi ini tidak adil!"
Hasan tersenyum pahit. "Keadilan bukan milik dunia ini, Su'eb. Keadilan sejati hanya di akhirat."
Luka yang Tak Terlihat
Polemik dengan Sayyid Uthman meninggalkan luka yang dalam pada Hasan.
Bukan luka fisik, tetapi luka spiritual.
Ia merasa dikhianati bukan oleh musuh, tetapi oleh sesama ulama. Orang-orang yang seharusnya mencari kebenaran bersama, malah saling menjatuhkan. Orang-orang yang seharusnya menjaga persatuan umat, malah menciptakan perpecahan.
Dan yang paling menyakitkan: tuduhan itu datang bukan karena Hasan melakukan kesalahan nyata, tetapi karena ia berpikir terlalu dalam, karena ia mencari pemahaman yang lebih dari sekadar hafalan, karena ia berani menjelajahi dimensi spiritual Islam yang banyak orang takuti.
Sejak saat itu, Hasan semakin menarik diri. Ia masih menjalankan tugasnya sebagai penghulu dengan baik. Tetapi ia tidak lagi terlalu terbuka dalam pengajiannya. Ia lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata, lebih waspada terhadap siapa yang mendengarkan.
Dan ia menulis lebih banyak lagi, tetapi semua tulisan itu disimpan, menunggu zaman yang lebih siap untuk memahaminya.
Pelajaran yang Pahit
Suatu malam, Hasan duduk sendirian di beranda. Ia menatap tumpukan naskah yang ia simpan dalam peti kayu. Ribuan halaman. Puluhan tahun kerja keras.
Dan hampir tidak ada yang membacanya.
Ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apa gunanya semua ini? Apa gunanya menulis jika tidak ada yang membaca? Apa gunanya mencari kebenaran jika kebenaran hanya membawa masalah?
Tetapi lalu ia teringat pada sesuatu yang pernah diajarkan gurunya di Mekkah bertahun-tahun lalu:
"Ilmu itu seperti menanam pohon. Kau tidak akan melihat buahnya hari ini. Mungkin tidak tahun ini. Mungkin tidak di masa hidupmu. Tetapi suatu hari nanti, seseorang akan berteduh di bawah pohon yang kau tanam, dan mereka akan bersyukur."
Hasan tersenyum tipis.
Ia akan terus menulis.
Bukan untuk hari ini. Bukan untuk dirinya sendiri.
Tetapi untuk suatu hari nanti, ketika dunia lebih siap untuk mendengar.
BAGIAN III
Hubungan dengan Muhammad Su'eb dan Keluarganya
Setelah polemik dengan Sayyid Uthman, dunia Hasan Mustapa menjadi lebih sempit. Ia lebih sering menolak undangan pertemuan ulama besar. Ia lebih jarang berbicara di forum-forum publik. Ia menarik diri, tidak karena takut, tetapi karena lelah.
Tetapi ada satu tempat di mana ia selalu merasa aman, satu tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura, tidak perlu berhati-hati dengan setiap kata yang ia ucapkan:
Rumah keluarga Su'eb.
Muhammad Su'eb dan keluarganya telah menjadi lebih dari sekadar rekan kerja atau kenalan. Mereka telah menjadi keluarga yang tidak sedarah, tetapi sejiwa.
Persahabatan yang Melampaui Jabatan
Hubungan Hasan dengan Muhammad Su'eb dimulai sebagai hubungan atasan-bawahan. Hasan adalah Penghulu Besar, Su'eb adalah penghulu bawahannya. Tetapi seiring waktu, hierarki itu menghilang.
Yang tersisa hanya dua pria yang saling mengerti, dua pria yang sama-sama hidup di persimpangan yang sulit, yang sama-sama harus menjalankan tugas yang sering kali bertentangan dengan nurani, yang sama-sama mencari cara untuk tetap menjaga integritas di tengah sistem yang bengkok.
Mereka tidak perlu banyak bicara untuk saling memahami. Kadang-kadang, hanya duduk berdampingan di beranda, menyeruput teh yang sudah dingin, sudah cukup.
Su'eb tahu kapan Hasan sedang bergumul dengan dilema moral. Ia tidak bertanya. Ia hanya ada di sana, memberikan kehadiran yang menenangkan.
Hasan tahu kapan Su'eb sedang tertekan oleh beban pekerjaan atau masalah keluarga. Ia tidak memberi nasihat yang muluk-muluk. Ia hanya mendengar, dan kadang-kadang berbagi pengalaman serupa.
Persahabatan mereka adalah persahabatan yang dibangun bukan dari kata-kata besar, tetapi dari keheningan yang saling menguatkan.
Keluarga Su'eb sebagai Pelabuhan
Rumah keluarga Su'eb menjadi tempat Hasan sering berkunjung, terutama di hari-hari ketika beban hidupnya terasa terlalu berat.
Di sana, ia disambut bukan sebagai Penghulu Besar yang harus dijaga sopan santunnya, tetapi sebagai "Kiai Hasan", seorang paman, seorang teman, seorang yang dihormati tetapi juga dicintai dengan tulus.
Anak-anak Su'eb berlarian di halaman, kadang-kadang menghampiri Hasan dengan pertanyaan polos yang membuatnya tersenyum, senyum yang jarang muncul di tempat lain.
Istri Su'eb menyiapkan makanan sederhana, tetapi selalu disajikan dengan kehangatan. Kadang Hasan makan bersama mereka, kadang hanya minum teh. Yang penting bukan makanannya, tetapi perasaan bahwa ia diterima apa adanya.
Di rumah itu, Hasan tidak perlu menjadi siapa-siapa. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.
Setelah Tragedi Snouck dan Siti Sadijah
Hubungan Hasan dengan keluarga Su'eb menjadi semakin dekat setelah kepergian Snouck ke Belanda pada tahun 1906, meninggalkan Siti Sadijah, putri Su'eb dan cucunya, Raden Jusuf.
Hasan merasa bertanggung jawab. Bukan karena ia yang menyebabkan pernikahan itu terjadi meski ia adalah salah satu saksinya, tetapi karena ia merasa ia seharusnya bisa melindungi keluarga ini lebih baik.
Ia sering mengunjungi Siti Sadijah, bertanya tentang kabarnya dan kabar Jusuf. Ia memastikan bahwa mereka mendapat dukungan yang cukup, baik secara materi maupun emosional.
Kadang-kadang, Hasan hanya duduk di ruang tamu, menemani Sadijah dalam keheningan. Tidak ada yang perlu dikatakan. Mereka berdua tahu bahwa luka yang ditinggalkan Snouck tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.
Muhammad Su'eb menghargai perhatian Hasan terhadap putrinya. Suatu hari, ia berkata dengan suara yang bergetar:
"Kiai, terima kasih sudah menjaga Sadijah dan Jusuf. Saya tahu Kiai juga merasakan beban dari semua ini."
Hasan hanya mengangguk. "Kita semua merasakan beban yang sama, Su'eb. Kita hanya bisa saling menguatkan."
Mengajar Raden Jusuf
Hasan mengambil peran khusus dalam mendidik Raden Jusuf. Anak itu cerdas, penuh rasa ingin tahu, tetapi juga membawa beban identitas ganda yang berat, anak dari seorang ibu Jawa-Sunda dan ayah Belanda yang tidak pernah benar-benar ada.
Hasan mengajarkan Jusuf tentang Islam, tentang bahasa Arab, tentang sejarah. Tetapi lebih dari itu, ia mengajarkan sesuatu yang lebih penting: bagaimana hidup dengan identitas yang kompleks tanpa kehilangan diri sendiri.
"Raden," kata Hasan suatu hari, "kau tidak perlu memilih antara Jawa atau Belanda. Kau adalah keduanya, dan itu bukan kelemahan. Itu adalah kekayaan. Yang penting adalah kau tahu siapa kau di hadapan Allah."
Jusuf mengangguk, meskipun Hasan tidak yakin apakah anak itu benar-benar mengerti.
Tetapi benih itu ditanam. Dan Hasan berharap suatu hari nanti, benih itu akan tumbuh.
Masa Tua yang Semakin Rapuh
Tahun-tahun berlalu. Hasan semakin tua, tubuhnya semakin lemah. Pekerjaannya sebagai penghulu tetap ia jalani, tetapi dengan energi yang semakin berkurang.
Muhammad Su'eb dan keluarganya mulai mengambil peran yang lebih aktif dalam merawat Hasan. Ketika Hasan sakit, Su'eb yang memastikan ia mendapat perawatan. Ketika Hasan butuh sesuatu, keluarga Su'eb yang membantu.
Hubungan mereka telah berubah. Yang tadinya atasan-bawahan, kini menjadi saudara. Yang tadinya formal, kini menjadi sangat personal.
Hasan tidak punya anak kandung yang bisa merawatnya di hari tua, anak pertamanya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tetapi ia punya keluarga Su'eb, yang memperlakukannya seperti ayah mereka sendiri.
Percakapan Terakhir yang Bermakna
Suatu sore, ketika Hasan sudah sangat tua dan tubuhnya semakin lemah, ia duduk bersama Muhammad Su'eb di beranda untuk terakhir kalinya.
Mereka tidak tahu bahwa ini akan menjadi percakapan terakhir mereka yang bermakna. Tetapi ada sesuatu dalam udara yang membuat keduanya lebih hening dari biasanya.
Su'eb yang membuka pembicaraan:
"Kiai, jika suatu hari nanti Kiai sudah tidak ada... apa yang Kiai ingin kami lakukan?"
Hasan tersenyum tipis. "Jangan buat upacara besar. Jangan buat pidato panjang. Cukup doakan saya, dan kuburkan saya dengan sederhana."
Su'eb mengangguk. "Dan tulisan-tulisan Kiai? Ribuan halaman itu?"
Hasan terdiam lama. Lalu berkata:
"Simpan dengan baik. Suatu hari nanti, mungkin ada orang yang membutuhkannya. Tetapi jangan dipaksakan. Biarkan waktu yang memutuskan."
"Kiai tidak ingin diterbitkan?"
"Saya sudah belajar, Su'eb, bahwa tidak semua yang ditulis harus dibaca oleh semua orang. Ada tulisan yang hanya untuk orang-orang tertentu, pada waktu tertentu. Biarkan Allah yang mengatur."
Su'eb merasakan air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak menyeka. Ia hanya duduk di sana, memegang tangan Hasan yang keriput dan dingin.
"Terima kasih, Kiai," bisik Su'eb. "Terima kasih sudah menjadi guru, teman, dan keluarga bagi kami."
Hasan menekan tangan Su'eb dengan lembut. "Terima kasih juga, Su'eb. Kau dan keluargamu adalah hadiah terindah yang Allah berikan kepada saya di tahun-tahun terakhir ini."
Mereka duduk dalam diam yang panjang, menyaksikan matahari terbenam di ufuk Bandung, mendengar suara adzan Maghrib yang mengalun pelan dari kejauhan.
Dua sahabat yang telah melewati begitu banyak hal bersama, kegembiraan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan, harapan dan kekecewaan kini duduk berdampingan, menunggu akhir yang mereka tahu tidak akan lama lagi.
Janji yang Ditepati
Ketika Hasan Mustapa akhirnya wafat pada tahun 1930, Muhammad Su'eb menepati janjinya.
Tidak ada upacara besar. Tidak ada pidato panjang dari pejabat pemerintah.
Hanya doa, air mata, dan ribuan orang, rakyat biasa yang pernah dibantu Hasan, santri-santri yang pernah belajar darinya, keluarga-keluarga yang pernah ia dampingi, berjalan mengikuti jenazahnya menuju Astana Anyar.
Dan di sana, Hasan dimakamkan dengan sederhana, sesuai wasiatnya.
Tidak jauh dari makamnya, kelak akan ada makam Muhammad Su'eb sahabat sejatinya, yang setia sampai akhir.
Dua makam yang berdekatan, dua jiwa yang tetap bersama bahkan setelah kematian.
Karena persahabatan sejati tidak diukur dari jabatan atau keuntungan, tetapi dari kesetiaan di saat-saat paling gelap, dari kehadiran di saat-saat paling sulit, dan dari cinta yang tetap bertahan meski dunia berusaha memisahkan.
Warisan yang Tersimpan
Setelah kematian Hasan, keluarga Su'eb menyimpan semua tulisannya dengan hati-hati. Ribuan halaman puisi, delapan belas jilid Aji Wiwitan, tafsir Al-Qur'an, catatan-catatan pribadi, semuanya disimpan dalam peti kayu yang sama seperti yang Hasan gunakan.
Mereka tidak langsung menerbitkannya. Mereka tahu, seperti yang Hasan katakan, bahwa tidak semua tulisan harus segera dibaca.
Mereka menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu orang yang tepat.
Dan puluhan tahun kemudian, ketika Indonesia sudah merdeka, ketika dunia sudah lebih siap untuk menghargai kedalaman pemikiran Hasan Mustapa, barulah tulisan-tulisan itu mulai diterbitkan, dipelajari, dan dihargai.
Tetapi itu semua terjadi jauh setelah Hasan tiada.
Di masa hidupnya, ia hanya punya satu keluarga yang benar-benar memahami dan menghargainya: keluarga Su'eb.
Dan itu, baginya, sudah lebih dari cukup.
[Bersambung ke Bagian IV: Surat Terakhir dari Leiden]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...