
Assalamu’alaikum wr.wb.
FB Gene Netto | Sengaja
hamba menggoreskan kalam ini, setelah bertemu dengan seorang dagang yang
merantau dari tanah Afghanistan dan ia mengabarkan bermacam-macam perkara yang
mengejutkan hati tentang hal-ihwal kehidupan di rantau Selandia Baru. Setelah
genap sepuluh tahun ia bermukim di sana, tiada sekali-kali ia mengecap bahagia,
bahkan ia menyuratkan bahwa kebanyakan sahabatnya yang seagama sangat menyesal
telah melangkahkan kaki ke negara ini. Adalah ia seorang tukang yang dipanggil
orang untuk kerja (bersalin rumah), sehingga kehidupannya amat bergantung pada
belas kasihan penduduk (anak negeri) setempat untuk menelepon dan memesan
jasanya. Melainkan, berselisih pula jadinya setelah ia menyebutkan namanya yang
berbau Islam; seketika itu juga sikap orang-orang itu berubah, dan bertukar
kata tiada lagi memerlukan perbantuannya.
Apabila
ia berjalan di lebuh raya atau di kedai-kedai, acap kali orang (anak negeri) di
sana bertanya kepada ia dan kaum kerabatnya, “Dari manakah asalmu?” Terlebih
pula istrinya, kerap benar disuruh menanggalkan kain tudung kepalanya! Setelah
dijelaskan bahwa mereka ini datang dari Afghanistan, bertanyalah pula
orang-orang itu, “Mengapa pula kamu berada (bermukim) di sini?” Sebagian
penduduk (anak negeri) asli rupanya tiada berkenan melihat bertambah-tambahnya
imigrasi (orang dagang yang merantau), lalu mereka kecewa (mengumpat) kepada
pemerintah sebab membiarkan lebih banyak “orang yang berkulit cokelat dan
hitam” datang ke sini. Kata mereka, sekolah (tempat belajar) dan rumah sakit
sudah “penuh (sesak) disebabkan imigran (kaum pendatang)”.
Tatkala
ia memasukkan surat permohonan untuk mencari nafkah dengan memakai nama Islam,
maka bertanyalah perusahaan itu, “Adakah anda seorang Muslim? Jadi, haruskah
anda berhenti kerja untuk shalat? Dan menjalankan shaum (menahan hawa nafsu)
pada bulan Ramadhan? Jadi hal-hal itu tentulah mendatangkan kerugian bagi
perusahaan kami, betul?” Padahal rupanya, sebagian dari perusahaan itu sangat
membutuhkan pekerja tambahan, dan hanya mau mempekerjakan Muslim karena
penduduk (anak negeri) asli yang berkulit putih tiada tersedia (didapati) lagi.
Termaktub
pula kisah satu keluarga (kaum kerabat) datang dari Afghanistan. Setelah
anak-anak mereka meningkat dewasa, si ibu lalu menceraikan suaminya. Seorang
anak perempuannya menikah (bersuami) pula dengan laki-laki non-Muslim (yang
tiada sealiran iktikad), lalu mengandung (hamil), kemudian bercerai pula.
Adapun anak-anak itu berhenti melaksanakan shalat karena tabiat hidupnya telah
meniru orang Barat, hidup tanpa agama (iktikad). Akibat perbuatan itu, orang
tua menjadi jatuh sakit merana karena masygul (depresi), demikian pula
anak-anaknya, sehingga menyesallah orang tua itu pernah datang ke sini.
Di
sana, ada tekanan yang keras agar kaum pendatang “berasimilasi (berbaur
bercampur)” dan menjadi serupa dengan anak negeri asli, hanya berbicara dalam
bahasa mereka, berpakaian seperti mereka, makan seperti mereka, meminum tuak
yang memabukkan (alkohol) dan berjudi
seperti mereka, menikmati kehidupan ini seperti mereka, dan mengganti adat resam
(budaya) sendiri dengan adat resam mereka. Jikalau anda mau melakukan itu,
barulah anda dianggap sebagai “imigran (orang dagang) yang baik”. Dan jika anda
ingin mendapatkan pekerjaan (mencari sesuap nasi), mungkin lebih baik mengubah
nama juga. Buanglah nama “Muhammad Salahuddin” dan jadilah “Dean”, supaya anak
negeri lebih mudah menerima anda.
Banyak
orang tua Muslim yang khawatir (amat masygul dan berdebar-debar hatinya)
memikirkan masa depan anak cucu mereka. Akankah mereka kehilangan jati diri (identitas)
mereka kelak? Berkatalah seorang laki-laki, “Lebih baik hidup miskin (melarat)
di negara asal (tanah air) saya di mana anak-anak saya beriman kepada Allah,
daripada tinggal dalam istana (mahligai indah) di Barat tetapi anak-anak saya
menjadi tersesat!” bak kata pepatah orang tua-tua dahulu “Hujan batu di negeri
sendiri, hujan emas di Rantau orang”
Jadi,
jikalau seseorang ingin tinggal di sini untuk dapat “kehidupan yang lebih baik”
di negara Barat yang bagus, bersih, dan maju (megah) itu, tetapi setelah
bertahun-tahun lamanya, anak-anaknya telah kehilangan iman, bahasa, dan adat
resam mereka, lalu apa sebenarnya yang didapatkan oleh orang tua itu? Faktanya,
mereka kehilangan segala yang penting (berharga) bagi mereka.
Seorang
insinyur IT Muslim memaklumkan (mengatakan) bahwa di hampir setiap pekerjaan
(perbuatan) yang dia lamar, pekerjaannya akan menguntungkan Amerika Serikat dan
Penjajah Israel. Semua sistem IT dan jaringan keamanan terhubung dengan
negara-negara tersebut. Jadi, dia berhenti kerja di bidang itu, lalu kesulitan
mendapatkan pekerjaan karena nama Muslimnya, dan kemudian menjadi sopir taksi saja.
Banyak
orang mengatakan ada kabar rutin tentang usaha kecil yang bangkrut di sini.
Setiap tahun, semakin sulit mendapatkan pekerjaan (mencari sesuap nasi), dan
banyak orang pindah ke Australia atau Amerika untuk mencari pekerjaan dan upah yang
lebih tinggi. Jadi, pemerintah mendatangkan lebih banyak imigran (orang dagang)
untuk melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan penduduk setempat (seperti
petugas kebersihan, sopir, dll.) dan kemudian juga mendatangkan dokter (Tabib) imigran
dan lainnya, setelah banyak dokter dan perawat setempat juga pergi ke luar
negeri untuk dapat gaji yang lebih tinggi. Semua orang yang saya ajak bicara
(baik penduduk setempat maupun orang dagang) mengeluhkan kondisi ekonomi, biaya
hidup yang tinggi, dan betapa sulitnya untuk maju. Selain kelas menengah atas
dan orang kaya (kaum hartawan), semua orang lain tampaknya “menderita” dan
tidak bahagia.
Berkata
seorang bapak, ketika dia berada di Afghanistan, ada bahaya lahir terus
disebabkan perang selama 20 tahun. Tetapi di Selandia Baru, ada "bahaya bathin
(spiritual)" terus, dan itu terasa lebih buruk daripada bahaya perang!!
Saat ada bahaya lahir dari perang, dia hanya dalam bahaya ketika bom jatuh di
dekat rumahnya. Tetapi di sini, ada bahaya bathin tanpa henti (mengintip tiada
berkeputusan). Setiap hari, keluarganya (kaum kerabatnya) menghadapi tekanan
untuk berbaur dan membuang hal-hal yang penting bagi mereka: Agama, bahasanya, adat
resam, dan bahkan nama mereka juga. Lalu, apa yang akan terjadi pada anak dan
cucu mereka di masa depan? Jadi, dia menyesal datang ke sini dan ingin kembali,
dan beberapa orang tua lain mengatakan hal yang sama kepada saya.
Semoga
tulisan ini bermanfaat bagi umat Islam di Indonesia agar bisa merenung kembali
tentang keinginan mereka untuk tinggal di negara Barat.
Wa
billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar