Hikayat Pilu Negeri Syam mengisahkan pertempuran tragis di Maysalun pada tahun 1920, di mana Menteri Peperangan Yusuf Pasha al-Azma gugur sebagai syahid demi membela kehormatan tanah air dari pendudukan Prancis. Berbeda dengan Yusuf Pasha yang dengan gagah berani menolak perintah menyerah, Raja Faisal I memilih melarikan diri dan menyerahkan negeri Syam. Kisah ini menyoroti kontras yang tajam antara kesetiaan mutlak seorang pahlawan sejati dan pengkhianatan martabat oleh seorang penguasa demi takhta.
Sejumlah gambar yang amat jarang ditemui mengenai Yusuf Pasha al-Azma, menteri peperangan di negeri Syam. Beliaulah seorang pahlawan yang menampik sama sekali titah berserah daripada Raja Faisal I—seorang pemimpin yang dipandang telah membelokkan setia karena menyuruh melepaskan tanah air ke tangan penjajah Prancis dengan tiada berlaga sedikit juapun.
Akan tetapi, Yusuf Pasha tiada sudi menerima putusan yang menjatuhkan marwah dan martabat bangsa itu. Beliau lebih suka berdiri di barisan paling muka untuk mempertahankan tanah Arab, walau jiwanya insaf benar bahwa laskar belianya kalah banyak dan kalah alat senjata.
Maka dipimpinnyalah kira-kira 3.000 orang bala tentara yang berhimpun daripada orang-orang yang berkhidmat dengan rida hati serta penduduk negeri yang mengangkat senjata untuk menuju medan perang, berhadapan dengan serdadu Prancis yang dikuasai oleh Jenderal Henri Gouraud dalam Peperangan Maysalun pada 24 Juli tahun 1920.
Di medan pertempuran itulah Yusuf al-Azma berpulang ke rahmatullah sebagai syahid. Beliau memahat rasi surat zaman sebagai satu-satunya menteri peperangan Arab yang mati berlaga di barisan paling muka demi membela tanah airnya—sementara pemimpin-pemimpin lain lebih suka membawa langkah melarikan diri.
Dengarlah ratap dagang yang malang,
Mengenang pahlawan yang telah hilang:
Pucuk rebung di tepi paya,
Patah pucuknya ditimpa batu;
Gugur pahlawan demi mulia,
Tinggallah laskar yatim piatu.
Asap kelam mengepung kota,
Syam menangis berkuah darah;
Menteri mati membela cinta,
Raja beralih menyembah kalah.
Di pihak yang lain, surat suram menyebutkan bahwa Raja Faisal tiada hanya membuang kehendak orang banyak, padahal sebelumnya beliau yang melaungkan suara kebangsaan Arab tatkala mendurhakai Kekhalifahan Utsmaniyah. Malah, beliau sampai hati menyuruh saudaranya, Zaid al-Hashimi, untuk menumpas orang-orang Suriah di Damaskus yang menampik takluk dan menuntut peperangan.
Sebab kelaliman itu, terjadilah huru-hara yang amat ngeri, menyebabkan 25 hingga 120 orang syahid serta 300 lainnya cedera. Keputusan untuk menerima kehendak keras Prancis itu menerbitkan amarah yang hebat di hati orang ramai di Damaskus. Bala tentara di bawah perintah Pangeran Zaid bertindak bengis menghalau orang banyak yang menyuarakan sanggahan serta penduduk tempatan yang meminta senjata untuk melawan Prancis. Sungguh, sebuah pengkhianatan yang tiada ampunan di bawah kolong langit ini.
Pelarian Sang Raja dan Kemuliaan yang Kekal
Maka Raja Faisal pun membawa langkahnya melarikan diri dengan menumpang kereta api Jalur Hijaz sesaat sebelum kota Damaskus jatuh ke tangan musuh. Setelah ikhtiar untuk melepaskan negeri Syam dengan tiada berlaga itu putus di tengah jalan dan tiada membuang hasil, beliau lalu berbalik muka meminta perlindungan kepada pihak Inggris. Hingga pada akhirnya, beliau diangkat menjadi Raja di negeri Irak. (Setelah Prancis memegang kuasa di Damaskus, Faisal angkat kaki meninggalkan Syam menumpang kereta api menuju Haifa, lalu berlayar ke benua Eropa. Pihak Inggris kemudian menegakkan beliau sebagai Raja Irak pada tahun 1921 sebagai bagian daripada timbang-rasa sesudah huru-hara pendurhakaan Arab).
Akan tetapi, di ujung segala cerita, Yusuf Pasha jua yang mendapat sebutan yang teramat mulia karena mati syahidnya. Nama beliau senantiasa hidup dengan segala puji-pujian dalam surat zaman, sementara nama baik sang raja tetap diselubungi jelaga silang sengketa yang tiada berkesudahan.
Telah tampak suratan takdir,
Antara pahlawan dengan sang menteri:
Roda besi membawa diri,
Raja lari ke benua seberang;
Yusuf Pasha mulia sendiri,
Namanya harum disebut orang.
Mahkota megah tiada berguna,
Jika martabat dijual murah;
Sang pahlawan mati di medan laga,
Kekal bertakhta di dalam sejarah.
======
Dialih bahasakan dari FB Turkinesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar