SYAHADAN PERKARA NAGARI SUNGAI KAMUYANG

FB Saiful Guci — “Menilik kepada timbangan pikiran Engku Rajo Sampono yang telah mendengar serta menelaah risalah sengketa nagari Sei Kamuyang, apakah gerangan yang menjadi hulu tumpak dari segala kusut masai ini?” demikian tanya Juniarti K tatkala ia datang hendak berobat sedekah.

Arkian, sembari melakukan pengobatan sedekah, kami pun bertutur kisah: Tiap-tiap perkara tentulah ada sebab-musababnya. Jikalau hamba ditanya peri hal hulu tumpaknya, niscaya teramat banyak ragamnya:

Pertama, di dalam maklumat Monografi Nagari Luhak Limo Puluah Sumatera Tengah tahun 1951 yang ditulis oleh Tuan H. Mursyidin pada 3 April 1951, gelaran sah bagi nagari ini ialah Sei Kamuyang. Adapun asal-muasal gelaran nagari ini, menurut perundingan Rajo Malano, Rajo Kayo, Rajo Basya, dan Rajo Mangkuto, mereka mengisahkan bahwasanya para tetua terdahulu menjumpai sebatang pohon Muyang yang teramat gadang lagi tinggi, rebah tatkala angin puyuh melanda. Pangkal pohonnya berada di Lurah Tanjung dan tumbangnya condong ke arah Sungai Kapo. Pada zaman itu, Sungai Kapo masih berupa rawa-rawa belaka. Lantaran teramat gadangnya batang Muyang tersebut, pucuknya menjangkau hingga ke Tarok. Sapanjang dahan maleba, sapanjang pucuak manjulai. Kembang-kembangnya beterbangan ditiup angin menuju ke arah utara. Hingga kala ini, baki teras batang Muyang yang telah menghitam masih dapat didapati di Batu Capuak Lurah Bandar Dalam, dan kerap kali diambil orang guna dijadikan ubat penawar sakit.

Maka segenap khalayak mufakat menamai daerah tersebut dengan Sei Kamuyang. Syahdan, selain dari batang Muyang yang rebah itu, mereka pun mendapati sebuah mata air besar yang melonjak-lonjak keluar dari perut bumi. Mata air itu kemudian mereka sekat dengan batu gadang bersengaja supaya airnya mengalir melebar serta dapat dipergunakan untuk mengairi sawah-sawah. Menurut peri hikayat dari mulut masyarakat, mata air itu disekat menggunakan kancah atau lesung batu yang amat lebar lagi besar. (Tempat ini digelari Batang Tabit. Pada tahun 1910, tatkala Pohon Kamuyang yang tumbuh di tebingnya kian membesar, maka alam sekitarnya pun diperelok, hingga masyhurlah tempat itu menjadi bandar tamasya alam Batang Tabik yang masyhur).

Adapun syarat untuk mendirikan sebuah Nagari, daerah itu mustilah genap syarat serta rukunnya, yakni memiliki dusun, taratak, dan koto, barulah sah dikata Nagari. Ditambah pula dengan syarat-syarat yang lain, yaitu ba Balai, ba Musajaik, balabuah, batapian, bapucuak, ba ampek suku, ba Datuak ampek di padusunan, bagalanggang mato nan rami.

Kira-kira pada tahun 1834, atas isyarat dari Dt Rajo Malano, Sungai Kamuyang dipandang perlu menetapkan susunan masyarakat yang tertib lagi muntazam. Oleh karena itu, diresmikanlah Rajo Basa selaku Lantak Nagari, Rajo Kayo selaku Tambangan Adat, dan Rajo Indo Mangkuto selaku Peti Bunian. Guna memperteguh rukun din (agama), maka dimintalah kesediaan Tuanku Marajo dari Sungai Tarab untuk berkhidmat selaku Rajo Ibadat di Balai Karambia. Akan tetapi, beliau merasa berat hati sebab menganggap dirinya tiada memenuhi syarat rukun untuk menjadi seorang Rajo Ibadat. Atas dasar mufakat, maka diutuslah Palimo Kando menuju Sungai Tarab demi menjemput Rajo Mudo, dunsanak dari Tuanku Marajo, guna dijadikan Rajo Ibadat di Sei Kamuyang. Demikian pula dijemput Dt Rajo Malano dari Aia Tabik untuk diangkat menjadi Rajo Adat di Sei Kamuyang, dengan bersemayam di Parak Karambia. Hingga saat ini, masih terdapat tanda nyata berupa Batu Sandaran Rajo.

Demi memperlancar jalannya warta dan khabar, maka diputuskanlah tempat untuk bermusyawarah dan bermufakat pada:

  • Balai Kaco di Anam Kampuang (Balainya Dt Rajo Basa / pasukuan Mandahiling)
  • Balai Kaciak di Salapan Kampuang (Balainya Dt Rajo Kayo / pasukuan Patopang)
  • Balai Karambia di Duo Baleh Kampuang (Balainya Tuanku Marajo / pasukuan Piliang)

Pada tahun 1837, pihak kompeni Belanda mengintai daerah-daerah Luak Limo Puluah yang kian makmur. Mereka lalu menanam budi dengan menyerahkan amanah kepemimpinan kepada seorang tetua. Pemerintah Kolonial Belanda mengangkat Dt. Musaid selaku Tuk Palo (Angku Kepalo) dari tahun 1837 hingga 1879, yang memegang tampuk kemudi pemerintahan kurang lebih selama empat puluh dua tahun.

Pada tahun 1892 sampai 1926, Pemerintah Kolonial Belanda mengganti Dt. Musaid dengan Cauah Dt. Bagindo Simarajo. Di bawah siasat kekuasaan Cauah Dt. Bagindo Simarajo, Sungai Kamuyang mengalami kemajuan yang amat pesat. Beliau berikhtiar sungguh-sungguh supaya Sungai Kamuyang menegakkan kembali Aturan Adat.

Atas rintisan beliau, didirikanlah jalan lintas menembus sawah tangah, guna memudahkan perhubungan menuju Aia Tabik dan Payakumbuah. Syahdan pada tahun 1918, sehabis kekuasaan Tuanku Lareh ditiadakan dan diganti dengan Demang, maka dilewakanlah para Penghulu baru sebanyak dua puluh tiga orang. Di antara mereka termasuklah keturunan Kertowongso, seorang Temenggung yang dahulu menyokong Sentot Alibasya dalam memerangi kaum Paderi, yang anak-cucunya kemudian menjadi Tuanku Lareh dan Demang.

Para Penghulu tersebut lazim digelari tangah tigo puluah dengan sebutan Datuk, yang kelak akan bermusyawarah di Balai masing-masing. Pada sidang, para Penghulu itu memaklumkan bahwasanya Sungai Kamuyang telah sah menjelma menjadi sebuah Nagari, oleh sebab syarat dan rukunnya telah genap.

Demi mencukupkan segala syarat, dicapailah mufakat untuk menetapkan Balai Rajo Kayo yang bertempat di Kaciak menjadi Balai Adat Sungai Kamuyang, serta mendirikan sebuah Surau Gadang bertiangkan dua puluh tiga batang sebagai tanda bagi 23 Penghulu, ditambah satu tiang lurus di tengah-tengah sebagai perlambang tiangnya Rajo. Hal ini guna mengabulkan permintaan masyarakat yang dipimpin oleh para Penghulu, serta bersendikan atas pengetahuan dan faham pengaturan negeri dengan aturan bajanjang naik batanggo turun sebagaimana yang dirintis oleh Dt Katamanggungan dan Dt Perpatiah Nan Sabatang.

Pada zaman itu, jorong barulah tiga tegaknya, yakni Enam Kampung, Delapan Kampung, dan Dua Belas Kampung. Lambat laun, seiring bertambahnya anak-cucu kian ramai, maka terbitlah dusun-dusun baru semisal Rageh, Madang Kadok, Subaladung, Tabing, dan Tanjung Kaling. Adapun pusat perniagaan bertempat di Koto Baru (sekarang) yang digelari Pakan Jum’at Bungo Setangkai yang dibuka pada tiap hari Jum’at. Hal yang demikian teramat patut, lantaran tempat Pemandian Alam Batang Tabit mulai tersiar khabarnya dan disukai orang, sehingga khalayak dari pelbagai daerah berduyun-duyun datang berkunjung. Lama-kelamaan, Bungo Setangkai itu menjelma menjadi sebuah koto  dan dinamai Koto Baru.

Pada tahun 1925, Sungai Kamuyang dengan resmi diakui menjadi sebuah Nagari dengan Wali Nagarinya Cauah Dt. Bagindo Simarajo, serta membagi lingkungan daerah menjadi sembilan Jorong, yaitu Enam Kampung, Delapan Kampung, Dua Belas Kampung, Rageh, Madang Kadok, Tabing, Tanjung Kaling, dan Koto Baru. Pengukuhan Nagari ini diramaikan dengan walimah keramaian Baralek Penghulu bagi 27 orang Penghulu Kaum.

Selanjutnya, diadakan pula Baralek Penghulu pada tahun 1957 di bawah kepemimpinan Wali Nagari S. Dt. Bagindo Basa, guna mendudukkan kembali para Penghulu yang sempat tercerai-berai tatkala zaman pendudukan Jepang. Terakhir pada tahun 1986, di bawah pimpinan S. Dt. Bagindo Basa selaku Ketua KAN Sungai Kamuyang, walimah Penghulu kembali digelar, yang menurut khabar berita merupakan keramaian terbesar di Sumatera Barat, dengan enam puluh Penghulu dilewakan oleh Ketua LKAM Sumatera Barat serta dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Tuan Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Sulaiman.

Kedua, pada Balai Bunga Setangkai terdapat lambang Bintang Daud atau lambang Yahudi berupa ‘Bintang bersegi enam’, yang ditengarai faham kaum Yahudi pernah menyusup ke dalam Nagari Sungai Kamuyang. Faham atau ajaran Yahudi (Yudaisme) pada hakikatnya senantiasa menimbulkan perkara. Pangkal dari segala perselisihan yang melibatkan penganut sisa faham ini lebih disebabkan oleh ihwal sejarah, perebutan wilayah, dan perkelahian siasat politik. Dan di Nagari Sei Kamuyang, perselisihan itu berupa perebutan lingkungan daerah serta jabatan kepenghuluan.

Ketiga, kira-kira pada tahun 1811 M, Haji Miskin pernah bermukim di kaki Gunung Sago bersama para pengikutnya. Tuanku Nan Pahit yang bergelar Malin Putiah mendirikan surau di atas sebuah bukit, yang kelak dinamai Benteng di Bukit Qawiy (Qawiy dalam Bahasa Arab diartikan Kuat) di Air Tabit. Hal ini bersandar pada sebuah guratan lama kepunyaan Datuk Rajo Makhudum dari Suku Bendang, Nagari Aia Tabit, dalam kitab “Mesin Ketik Tua” karangan Engku Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie. Haji Miskin bersama Tuanku Nan Pahit bergelar Malin Putiah kian hari kian bertambah ramai pengikutnya.

Oleh sebab kian melimpahnya pengikut Haji Miskin dan Tuanku Nan Pahit bergelar Malin Putiah di sekeliling Luhak Limo Puluah, mereka berniat mendirikan surau di tanah yang agak landai, yang di kemudian hari dinamai Sungai Landai. Haji Miskin mematahkan ranting kayu lalu (mancuekkan) membenamkannya ke dalam tanah sebagai isyarat dimulainya pembangunan surau. Seketika terjadilah keajaiban, memancarlah mata air (Aia Tabik) pada bekas ranting tadi, laksana ungkapan “sumur digali, air datang”. Maka digalilah tanah itu untuk dijadikan sumur guna keperluan berwudu, dan dari sanalah bermulanya gelaran Aia Tabik (Aia Tobik).

Nagari ini tersusun atas lima persukuan, yaitu: Suku Patapang, Suku Mandailing, Suku Caniago, Suku Piliang, dan Suku Payobada. Nagari ini termasuk ke dalam persekutuan “Urang balimo badunsanak” (orang berlima bersaudara), yang terdiri atas:

  • Dt. Rajo Malikan dari Mungo
  • Dt. Marajo Basa dari Andaleh
  • Dt. Rajo Malano dari Sungai Kamuyang
  • Dt. Paduko Sinaro dari Aua Kuniang
  • Dt. Paduko Alam dari Limbukan

Kelima-limanya berada di dalam kesatuan adat yang digelari “Luhak”, yang terletak di dalam perbatasan adat “dari Mungo mudik hingga Limbukan ke hilir”. Kendati demikian, menurut khabar keterangan, Nagari Aia Tabik termasuk pula ke dalam persekutuan adat tersebut yang diwakili oleh Dt. Paduko Rajo Lelo, Penghulu Pucuk adat nagari Aia Tabik.

Adapun Penghulu Pucuk adat nagari ini ialah Dt. Rajo Malano. Adat yang dipakai ialah adat Bodi Caniago. Akan tetapi, menurut catatan RPJM Nagari Sungai Kamuyang (2022–2028), gelaran nagari yang semula bernama Sei Kamuyang pada tahun 1951 telah bertukar menjadi Sungai Kamuyang.

Tersurat kembali oleh H. Saiful Guci Dt. Rajo Sampono di sudut Pengobatan Sedekah Kasiah Bundo, hari Jum’at 19 Juni 2026.

=====

Baca Juga: Sejarah Nagari Sungai Kamuyang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar