
Adapun tabiat memihak kepada kaumnya sendiri secara membabi buta itu, sesungguhnya hanyalah akan membawa manusia ke lembah kedunguan yang amat sangat. Mereka berani berkorban dan membela dengan mati-matian, semata-mata karena menganggap diri sehina dan sealiran. Padahal, jikalau ditilik dengan pandangan yang jernih, mereka itu keluar dari satu liang pabrik yang sama, hanya saja bercabang di ranting yang berbeda. Agama Islam itu sejatinya satu, tiada ia terbagi-bagi menjadi golongan Sunni, Syiah, Muhammadiyah, NU, ataupun nama-nama lainnya. Segala bentuk perselisihan yang timbul di kemudian hari tidak lain hanyalah bersumber dari perbedaan tafsir dan jalan pikiran para ulama yang kita jadikan suluh dan imam dalam kehidupan ini.
Perbedaan yang demikian itu, jika dipandang dengan mata hati, semestinya menjadi rahmat yang menghidupkan alam. Wahai, jikalau sekiranya seluruh isi dunia ini dijadikan seragam dan serupa, masakan ada lagi keindahan dan keasyikan dalam menempuh jalan hidup? Tentulah segalanya akan terasa amat menjemukan batin. Maka, sesungguhnya kita ini telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta untuk senantiasa berbeda-beda. Sayang seribu kali sayang, tabiat manusia itu acap kali dihinggapi penyakit ingin menguasai dan mendominasi sesamanya. Mereka merasa bahwa golongannyalah yang paling mulia di atas segalanya, lalu mulailah timbul rasa saling bermusuhan, semata-mata karena berlainan agama atau mazhab yang dianut.
Adapun jalinan hubungan di antara pemeluk agama atau sekte yang berbeda itu, adakalanya dapat berjalan dengan elok selama di dalamnya terdapat pertalian yang saling mendatangkan maslahat dan keuntungan. Namun, manakala saling menguntungan itu telah sirna, yang tersisa hanyalah tabiat saling menjatuhkan dan saling menghinakan antara satu dengan yang lain.
Lihatlah sebagai tamsil, apa yang tengah bergolak di antara Kerajaan Arab Saudi dan Iran pada masa ini. Sejak meletusnya revolusi di negeri Iran yang berdiri tegak menentang kaum Zionis dan negeri Amerika, maka pemimpin-pemimpin Arab tidak lagi sudi mengulurkan tangan persahabatan kepada Iran. Bahkan, mereka mengerahkan segala daya upaya untuk meruntuhkan wibawa Iran, seraya menyebarluaskan fatwa ke seantero dunia Islam bahwa kaum Syiah itu telah sesat lagi menyimpang dari jalan yang benar.
Kaum Wahabi dari tanah Arab telah berhasil menanamkan pengaruhnya ke dalam negeri-negeri di dunia yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, termasuk pula ke dalam pangkuan ibu pertiwi, tanah air Indonesia. Mereka mendirikan surau-surau yang megah dan mengadakan berbagai jalinan amal sosial. Dengan cara yang demikian, Arab Saudi ingin bersolek di mata dunia agar dipandang sebagai sang penolong bagi agama Islam, sebuah negeri yang paling murni ketauhidannya. Namun, sungguh malang, pada hakikatnya perbuatan mereka itu tidak lain hanyalah merusak tatanan adat asli di Indonesia yang elok ini.
Kerajaan Arab Saudi telah berhasil meracuni jiwa dan pikiran generasi muda Islam dengan paham Wahabi yang Takfiri dimana gemar mengafirkan sesama muslim, yaitu mereka yang berada di luar golongannya. Bahkan, yang lebih memilukan hati, paham ini telah melahirkan tindakan-tindakan teror yang kejam, seperti peledakan rumah-rumah ibadah, pengeboman bunuh diri, dan perbuatan nista lainnya.
Adapun Arab Saudi itu sendiri, sesungguhnya adalah sahabat karib dan sekutu setia bagi negeri Amerika dan kaum Zionis. Oleh sebab itu, mustahil rasanya jikalau Arab Saudi akan berdiri tegak membela nasib bangsa Palestina, sedang mereka sendiri berkasih-kasihan dengan Kaum Penjajah Israel. Apa yang mampu mereka lakukan hanyalah melontarkan cemooh dan kutukan yang hambar manakala rakyat Palestina yang tiada berdosa dihujani peluru dan rudal oleh Israel. Tiada pernah akan terjadi mereka berangkat berjihad melawan Penjajah Israel, sebagaimana kelakuan gagah berani yang diperlihatkan oleh negeri Iran. Bahkan, perbuatan jihad yang demikian itu malah dijatuhi fatwa haram oleh ulama-ulama mereka.
Jikalau sekiranya Arab Saudi mengulurkan bantuan berupa harta benda kepada Palestina, hal yang demikian tentulah sudah sepatutnya, mengingat mereka adalah negeri yang dilimpahi kekayaan materi. Lagipula, sesungguhnya banyak di antara rakyat Arab Saudi sendiri yang jalan pikirannya tidak seiring dan sejalan dengan kemauan pemerintahnya. Namun, barang siapa yang berani mengangkat suara dan menentang, tentulah ajalnya akan segera disudahi dengan kejam. Maka, rakyat yang tertindas itulah yang sesungguhnya banyak mengalirkan bantuan bagi keselamatan Palestina.
Janganlah Tuan bermimpi dalam tidur yang nyenyak bahwa Allah Yang Maha Kuasa akan tegak berpihak kepada kemauan Arab Saudi. Allah tidak sekali-kali akan memberikan pertolongan kepada kaum yang munafik, kaum yang bersekongkol dengan Kaum Zionis dan Amerika yang menyokongnya. Mustahil bagi Allah untuk menempati barisan mereka; tuhan yang demikian hanyalah tuhan ciptaan yang sehina-hinanya bagi kaum pembela Arab Saudi.
Janganlah sekali-kali Tuan menyamakan negeri Arab pada masa sekarang dengan negeri Arab pada zaman Junjungan Kita, Nabi Muhammad SAW. Keadaan mereka kini telah jatuh kembali ke dalam lembah kegelapan zaman jahiliyah, sebagaimana yang telah diramalkan oleh Baginda Nabi dalam sabdanya. Oleh karena itulah, di akhir zaman kelak, Sang Imam Mahdi akan memaklumkan perang terhadap jazirah Arab, dan bukannya terhadap negeri Iran ataupun Yaman.
Janganlah Tuan salah dalam menerima sangkaan, karena sesungguhnya kami tiada menaruh rasa benci terhadap bangsa Arab sebagai manusia. Kami hanyalah berdiri menentang pemerintah Arab yang penuh dengan kemunafikan. Pemerintah yang membiarkan saudara seagamanya di tanah Palestina disembelih dengan kejam oleh kaum Zionis, dan yang dengan ringannya meminjamkan tanah air mereka sebagai pangkalan militer Amerika guna memasok senjata-senjata pembunuh bagi kepentingan Penjajah Israel. Bahkan, Arab Saudi pulalah yang menghalang-halangi rudal-rudal dari negeri Iran yang hendak memusnahkan pangkalan tersebut, agar senjata-senjata itu tidak sampai ke tangan Penjajah Israel.
Arab Saudi sesungguhnya bukan lagi bertindak sebagai penjaga bagi dua kota suci yang mulia, melainkan mereka memanfaatkan kesucian kota tersebut demi mengejar kemegahan dan kemewahan duniawi semata. Hal itu juga dipergunakan sebagai perkakas untuk memancing rasa iba dan simpati dari dunia Islam, manakala kaum Houthi melancarkan serangan ke tanah Arab.
Kaum Houthi tiada sekali-kali akan menaruh niat untuk menggempur tempat-tempat yang suci. Mereka adalah kaum muslimin yang taat kepada perintah agama, tiada akan sudi merusak rumah ibadah, rumah sakit, ataupun sekolah tempat anak-anak belajar. Perangai mereka amat berbeda dengan bala tentara Arab yang secara membabi buta menjatuhkan bom ke atas oto bus yang sarat dengan anak-anak sekolah di Dahyan, Yaman Utara, pada tanggal 9 Agustus tahun 2018 yang lalu. Peristiwa yang menyayat hati itu telah merenggut nyawa empat puluh anak-anak yang tiada berdosa.
Pengeboman yang keji itu dilakukan oleh pihak Arab dengan penuh kesadaran dan kesengajaan. Pada masa itu, dunia Arab tiada melontarkan kutukan yang keras atas kekejaman tersebut. Namun, manakala kaum Houthi secara tidak sengaja melepaskan bom ke bandar udara Riyadh yang mengakibatkan tewasnya tujuh belas rakyat sipil, maka gemparlah seisi dunia melontarkan kutukan yang amat sangat.
Ingatlah olehmu sekalian, bahwa bandar udara itu sesungguhnya adalah daerah peperangan. Wilayah yang amat penting fungsinya bagi pengerahan logistik perang. Oleh sebab itu, sudah menjadi hukumnya dalam peperangan bahwa tempat yang demikian harus dihancurkan guna melumpuhkan kekuatan musuh.
Kaum Houthi di negeri Yaman bukanlah gerombolan pemberontak yang kejam dan gemar berbuat anarki seperti Kaum PKI yang membunuh manusia dengan sesuka hatinya. Sebaliknya, mereka mendapat sokongan penuh dari mayoritas rakyat Yaman yang tiada sudi diperintah oleh pemimpin boneka bentukan Arab Saudi. Rakyat Yaman merindukan kedaulatan penuh untuk menentukan nasib negerinya sendiri, terlepas dari cengkeraman kuku Arab yang bersekutu dengan Kaum Zionis dan Amerika.
Meskipun kaum Houthi itu menganut Mazhab Syiah, namun mereka dengan gagah berani berdiri tegak membela tanah air, martabat, dan harga diri bangsa, walaupun hanya bersenjatakan alat yang serba bersahaja. Mereka dikeroyok oleh persekutuan negeri-negeri yang bersenjatakan serba canggih dan modern. Pemandangan yang demikian sesungguhnya mendatangkan rasa haru di hadapan Sang Pencipta. Ingatlah Tuan akan hukum alam yang berlaku di alam semesta ini: barang siapa yang dianiaya dan tertindas, dialah yang pada kesudahannya akan beroleh kemenangan yang gemilang.
Agama itu sejatinya membawa kebenaran, menjadi penuntun bagi manusia untuk melahirkan kebajikan. Jikalau Tuan rajin mendirikan shalat dan mengaji, hal itu memanglah suatu kebenaran, namun segalanya akan menjadi sia-sia belaka jikalau tidak membuahkan perbuatan yang baik dalam pergaulan hidup. Orang yang berbudi baik tentulah akan dihimpunkan bersama orang-orang yang baik pula, dan bukannya malah berpihak kepada Kaum Zionis yang jahanam itu.
Bisa jadi mazhab Sunni adalah jalan yang paling benar, namun kebenaran yang demikian itu akan gugur dan sirna seketika karena dihinggapi penyakit kesombongan—merasa diri paling benar di atas bumi. Terlebih lagi, kaum Wahabi di Arab telah menjadikan negeri Amerika dan Kaum Zionis sebagai payung pelindung tempat mereka berlindung. Janganlah Tuan memaksa Allah untuk berdiri di dalam barisan yang demikian. Tuhan tiada akan sudi bersekongkol dengan kaum jahanam. Oleh sebab itu, hamba amat percaya bahwa tiada lama lagi, kekuasaan Keluarga Saud pastilah akan runtuh dan tumbang ke bumi.
Hamba sendiri bukanlah seorang pemeluk mazhab Syiah, namun hamba menaruh keyakinan yang kukuh bahwa negeri Iran dan kaum Houthi di Yamanlah yang kelak akan mempersatukan kembali umat Islam, yang selama ini senantiasa dibenturkan oleh hasutan perselisihan Sunni dan Syiah. Sesungguhnya, kaum Salafi Wahabili yang telah berhasil mencuci otak generasi muda Islam, teristimewa di negeri Indonesia, dengan tiada henti-hentinya menanamkan benih kebencian terhadap Kaum Syiah.
Kaum Salafi Wahabili yang paling banyak melahirkan generasi-generasi perusak dan teroris. Tiada pernah bersua seorang teroris yang keluar dari aliran Syiah; kebanyakan dari mereka tumbuh dari persemaian paham Salafi Wahabi. Mustahil rasanya pelaku pengeboman bunuh diri itu lahir dari rahim Muhammadiyah ataupun NU. Maka dari itu, hentikanlah segala kabar isapan jempol yang mengatakan perihal bahaya kesesatan Syiah. Sesungguhnya, yang jauh lebih mendatangkan bahaya bagi keselamatan umat adalah paham Salafi Wahabi.
Sejak meletusnya Revolusi Iran pada tahun 1979, negeri Arab Saudi secara besar-besaran telah mencetak dan menyebarluaskan kitab-kitab keagamaan yang bermuatan ajaran Salafi Wahabi ke seluruh penjuru dunia, demi membendung arus pengaruh dari Ajaran Syiah. Kitab-kitab yang diterbitkan itu sengaja digubah dengan maksud yang nyata, yaitu untuk memperkukuh kedudukan ajaran Salafi Wahabi sekaligus mencap ajaran Syiah sebagai perbuatan yang sesat lagi menyesatkan.
Arab Saudi mengalirkan dana yang tiada bersukat kepada lembaga-lembaga antarbangsa, seperti Liga Dunia Islam (MWL) dan Majelis Pemuda Islam Dunia (WAMY). Melalui perantara badan-badan inilah, berjuta-juta buku dan literatur Islam dihadiahkan secara cuma-cuma ke surau-surau, universitas, sekolah, dan pondok-pondok pesantren di seluruh muka bumi, termasuk pula ke negeri Indonesia.
Perbuatan yang demikian itu telah menyalakan api perpecahan mazhab yang amat tajam di panggung Islam internasional—sebuah persaingan geopolitik antara Sunni dan Syiah—serta mempercepat jalannya perluasan pengaruh paham Salafi Wahabi di berbagai negeri. Pada akhirnya, paham yang bercirikan celana menggantung di atas mata kaki ini tumbuh subur bagaikan cendawan di musim hujan di tanah Indonesia. Mereka gemar benar berteriak dengan lantang, "Syiah sesat! Laknatullah!" Padahal mereka itu hanyalah orang-orang culun yang telah berhasil dicuci otaknya oleh Kaum Wahabi.
Maka, tinggallah kesimpulan yang dapat kita petik: sesungguhnya kaum Salafi Wahabi itu tiada lain adalah golongan pemecah belah persatuan umat Islam. Kaum Wahabi ini benar-benar telah kehilangan akal budinya, sehingga mendatangkan aib dan malu bagi nama baik agama Islam. Mereka berpakaian dengan celana yang cingkrang dan mengenakan baju jubah laksana pakaian abad ketujuh masehi, seraya memaksakan diri memelihara jenggot yang tumbuhnya hanya belasan helai belaka.
Wahai segenap sidang pembaca, berpenampilanlah Tuan-tuan sekalian sebagaimana adat dan kebiasaan di mana Tuan dilahirkan ke dunia. Janganlah bertingkah laku laksana orang Arab Wahabi, karena sesungguhnya Islam itu bukanlah kepunyaan bangsa Arab Wahabi semata.
==========
Disalin dari kiriman FB Roby Gandamana di alih bahasakan ke Bahasa Melayu oleh Admin via Google AI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar