Disalin dari FB Kalakay Kalakay alih bahasa oleh Admin

Adalah menjadi suatu kehairanan bagi kita yang hidup pada masa sekarang, tatkala menyigi kandungan kitab roman klasik Salah Pilih yang dizahirkan oleh Nur Sutan Iskandar pada tahun 1928. Pada halaman 149, pengarang telah menyisipkan sebuah nota di kaki halaman, menyatakan bahwasanya adat memberikan jamuan dan upah mengaji bagi orang yang telah berpulang ke rahmatullah itu telah lama ditinggalkan orang, karena tiada muafakat dengan hukum syara‘. Hal yang demikian diulangnya pula tatkala menceritakan kematian Rangkayo Saleha.
Sangkaan orang banyak pada masa ini, gerakan memurnikan iktikad dan ibadah daripada ragi adat yang dipandang bidaah itu, barulah tersiar di tanah air kita semenjak gelombang Salafi marak pada tahun 70-an dan 80-an. Akan tetapi, timbangan yang demikian adalah kurang periksa. Jauh sebelum masanya kaum Salafi kontemporer itu menjelma, faham yang hendak memulangkan umat kepada kesucian kitab Al-Quran dan Sunnah telah lama berakar di tanah Melayu.
Sesungguhnya, semenjak awal abad ke-19, tanah Minangkabau telah bergolak dengan meletusnya Perang Padri, yang tiada lain merupakan gerak pertama dalam menyuci-murnikan agama daripada adat yang tiada berpatokan pada syara‘. Kemudian daripada itu, pada awal abad ke-20, berdirilah perhimpunan-perhimpunan Islam Modernis seperti Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), dan Persatuan Islam atau Persis (1923). Sekalian perhimpunan ini berdiri di atas tiang pemikiran yang sama, yakni hendak membuang segala bid’ah, khurafat, dan taklid buta yang melekat pada tubuh umat.
Nur Sutan Iskandar, yang dilahirkan di Sungai Batang, Maninjau, sesungguhnya ialah seorang anak zaman yang menghirup udara perubahan itu. Beliau termasuk ke dalam golongan muslim modernis yang memandang tradisi-tradisi usang tiada lagi dapat dipertahankan apabila nyata-nyata berselisih dengan dalil agama. Oleh sebab itu, penyisipan nota kaki dalam karangannya bukanlah suatu perkara yang ganjil, melainkan cerminan daripada kemajuan faham keagamaan yang sedang rancak di Sumatera Barat dan Betawi pada masa itu.
Adapun tentangan dan duka cita yang timbul pada masa sekarang—di mana orang-orang yang bercakap tentang pemurnian agama senantiasa dituduh sebagai pengikut Wahabi atau Salafi kontemporer—sesungguhnya hanyalah akibat daripada kurangnya pengetahuan sejarah. Mereka tiada menyadari bahwa perselisihan antara Kaum Muda (kaum pemurni) dan Kaum Kuno (kaum tradisionalis) telah menjadi bagian daripada riwayat panjang umat Islam di kepulauan ini semenjak beratus tahun yang lalu.
==========
Catatan Admin:
Pergerakan Kaum Muda (Mula Abad Kedua Puluh): Adapun pergerakan ini didorong oleh himmah para ulama yang mulia, seperti Syeikh Muhammad Jamil Jambek, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), dan Haji Abdullah Ahmad. Mereka itu sekaliannya ialah murid kepada Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang mufti Mazhab Syafi’i di tanah suci Mekkah. Perihal haluan berpikirnya: Jalan paham Kaum Muda ini amat tebal dipengaruhi oleh pergerakan pembaruan Islam cara Abduhisme (yakni yang dibawa oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di negeri Mesir). Mereka menyerukan pembersihan agama daripada segala bid’ah, bersamaan pula dengan memajukan kecerdasan zaman (ijtihad). Ada pun Kaum Muda itu tiadalah menolak mazhab dengan membabi buta, melainkan mereka amat menentang tabiat taklid buta.
Manhaj Salafi Wahabi (Masa Kini): Adapun pergerakan ini telah masuk dengan amat luasnya ke tanah Sumatera Barat setelah berlalunya zaman Orde Baru. Hal ini disebabkan oleh bertemunya pikiran-pikiran para ulama dari Universitas Islam Madinah dengan mazhab khusus dari tanah Najd (termasuklah di dalamnya Syekh Bin Baz, Syekh Al-Utsaimin, dan Syekh Al-Albani). Perihal haluan berpikirnya: Jalan pahamnya amat bersandar kepada bunyi surat yang tersurat (skripturalis-literalis). Mereka itu menolak sekalian cara tafsir modern, serta lebih mendahulukan jalan paham tekstual yang murni terhadap Kitabullah dan Hadis. Ada pun ijtihad pada pemandangan mereka tiadalah lebih daripada tarjih belaka (yakni memilih dalil yang dipandang paling sahih menurut timbangan ilmu hadis mereka sendiri), dan bukannya ijtihad yang mendatangkan rupa-rupa pikiran baru guna menjawab segala perubahan pergaulan hidup manusia.

Rujukan Sejarah:

  1. Iskandar, Nur Sutan. (1928). Salah Pilih. Weltevreden: Balai Pustaka.
  2. Noer, Deliar. (1973). The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900–1942. Oxford University Press.
  3. Ricklefs, M.C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press. [1, 2]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar