BERCERITA TENTANG ALIRAN SILEK HARIMAU KUMBANG SINGGALANG
Ciloteh Tanpa Suara “ Pagi jam 8.00 berdering HP saya, terdengar suara “Mak Saiful Guci, saya dapat nomor mamak dari Supratman Muncak Pandai Sikek, dan nama saya Hariadi asal Nagari Padang Laweh babako[1] ke Pandai Sikek, sekarang dalam perjalan dari Pekan Baru, bermaksud singgah ke tempat mamak, apakah ada mamak di rumah ?” tanya Hariadi
Saya jawab “ Jika hari ini, saya ada di rumah, dan apa topik percakapan jika bertemu dengan saya?" Tanya saya ke Hariadi.
“Bertanya tentang Silek Tuo Pandai Sikek “ Jawabnya.
Setelah kami bertemu di Lapau eSPe Kasiah Bundo, kami mulai membuka percakapan. Anak muda tersebut memperkenalkan diri “Nama Hariadi ,kelahiran 1997 tamatan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang tahun 2021, dia berprofesi swasta di Pekan Baru dan membuka sasana[2] Silek di Pekan Baru mengembangkan Silek Tuo Pandai Sikek yang diperoleh kepandaian dari ayahnya bernama Nasrul Sutan Talembang suku Koto Limo Paruik Koto Tinggi.
Kemudian saya bertanya “ Jika Hariadi kuliah di ISI Padang Panjang, apakah pernah membaca buku karangan Drs.Mid Jamal yang berjudul “Filsafat dan Silsilah aliran –aliran silat Minangkabau, terbitan Padang Panjang tahun 1986. Jika pernah coba sebutkan anama-nama aliran silat Minangkabau?" tanya saya.
“ Yaa, saya pernah membaca bukunya dan telah saya kopikan, dalam buku itu disebutkan aliran silat Minangkabau : Aliran Silat Kucing Siam, aliran Silat Harimau Campo, Aliran Silat Kambiang Hutan, Aliran Silat Anjiang Mualim” Jawab Hariadi.
“Benar sekali, itulah aliran silat yang pertama kali datang ke Minangkabau, dalam Tambo Minangkabau disebutkan bahwa nama-nama seperti Harimau Campo (Champa) Kucing Siam (Siam), Anjing Mualim (Muangthai), Kambing Hutan (Bhutan)[3] adalah tentara kerajaan mereka para pesilat-pesilat berilmu tinggi, murid - murid dari para pengawal Sri Maharaja Diraja dahulu. Dari sekian banyak pengawal yang paling di takuti dan di segani adalah Harimau Campo yang mendiami daerah Luhak Agam sekarang ini. Pandai Sikek dahulunya masuk wilayah Luhak Agam dan sejak turun temurun mengajarkan silek tuo Harimau Kumbang Gunuang Singalang."[4]
Ciri Khas gerak silek tuo Harimau Kumbang Gunuang Singgalang Gerak pembuka telapak tangan seperti harimau akan mencekam mirip huruf hijaiyah ‘Ain. Maka dalam.buku Arab -Melayu disebutkan gerak “ain-Ba-Syin, Syin-Ba-Kaf (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, atau kekuatan- kecepatan dan ketangkasan-Ketangkasan-kecepatan-keberanian percaya diri karena Allah)
Filosofinya adalah menekankan pengendalian diri, sportivitas, dan nilai-nilai luhur seperti kesabaran, disiplin, serta budi pekerti, dengan penekanan bahwa penggunaan ilmu silat hanya untuk melindungi diri dan yang lemah. Ilmu silat juga merupakan perwujudan budaya Minangkabau yang erat kaitannya dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, di mana gerakan dan nilai-nilai dalam silat menyelaraskan ajaran Islam dan nilai adat, serta menautkan identitas masyarakat Minang yang bersifat berpasangan, seperti raso (perasaan) dan pareso (pikiran).
Filosofi hidup juga tercermin dalam silat, di mana setiap gerakannya merupakan cara menautkan antara adat dan agama serta identitas Minang. Mengendalikan terhadap anasir sifat buruk dalam pembentukan tubuh manusia dan sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti :
a. Sifat pantang kalah dari api atau sifat kebinatangan Harimau Kumbang (Campo-Champa)
b. Sifat pantang kekurangan dari tanah atau sifat kebinatangan Kambiang Hutan (Bhutan)
c. Sifat pantang kerandahan dari air atau sifat kebinatangan Kuciang Siam. (Siam)
d. Sifat pantang kelintasan dari angin atau sifat kebinatangan Anjiang Mualim (Muangthai)
Tujuan utama belajar silat adalah untuk membela diri dan melindungi orang yang membutuhkan, bukan untuk menyalahgunakan kekuatan.
Seorang pesilat harus memiliki sikap sportif, menghargai teman latihan, serta selalu rendah hati, sesuai dengan prinsip; jiko mamancak[5] di galanggang, kalau basilek di muko musuah (jika menampilkan tarian di gelanggang, jika bertarung saat menghadapi musuh). Silat juga simbol identitas, maka mengamalkan silek berarti menautkan antara adat dan agama, antara kampung halaman dan perantauan, sebagai bagian yang membentuk identitas masyarakat Minang.”Terang saya.
Kemudian saya mengeluarkan dua macam permainan asah otak orang Pandai Sikek yang berpikir dulu baru bertindak.
Pertama tentang permainan silek bagaimana cara mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan. Frasa "silek mancari kawan hakikat mencari Allah" merupakan pepatah dari adat Minangkabau yang menjelaskan dua aspek dari silek atau pencak silat. Maknanya adalah bahwa di permukaan (lahia), silek berfungsi untuk mencari teman, berunding, dan mempertahankan diri atau nagari. Namun, pada hakikatnya (batin), silek merupakan sarana untuk mencari Tuhan, dengan menginternalisasi ajaran dan nilai-nilai spiritual melalui latihan.
Kedua permaian asah otak Kerabit bagaimana mengeluarkan 4 (empat) cicin yang tersangkut di dalam benang sebagai 4 (empat) simbol sifat manusia yang harus dihilangkan:
"Kemarahan dapat menghilangkan akal, hasud (dengki) dapat menghilangkan agama, tamak dapat menghilangkan malu, mengumpat (ghibah) dapat menghilangkan amal saleh.”
Motto dari aliran Silek Harimau Kumbang Gunuang Singgalang adalah “Gantuang tinggi di buang jauah, gantuang diri pado Allah, buang sifat sombong dalam diri" Tutur saya
Kemudian Hariadi bertanya “Mamak tau kisah guru-guru dari aliran Silek Tuo Harimau Kumbang Gunuang Singgalang Ini ?" Tanya Hariadi.
Kemudian saya jawab “Menurut cerita Anduang saya bernama Anduang Kari gelar Sutan Sampono (suku Guci). Silek aliran Harimau Kumbang Singgalang telah ada sejak zaman Dahulu, dan di zaman Belanda (sebelum kemerdekaan) ada tokoh pandeka Pandai Sikek yang terkenal 'orang bagak' dan ditakuti waktu itu di alam Minangkabau, namanya Pajok atau Pijok bersuku Si Kumbang. Tubuhnya gempal, alis tebal, mata merah dan suaranya bergelegar seperti auman Harimau atau orang marah bernama Pijok gelar ….. diluar daerah Pandai Sikek orang menyebutnya Pandeka Marah Pajok dan kemana pergi selalu berdeta hitam.
Anduang Marah Pajok banyak istrinya dari alam Minangkabau sampai ke Mentawai. Kenapa dia mempunyai istri orang Mentawai?, ceritanya begini, saat Anduang Pandeka Marah Pajok pergi ke Mentawai, ia diserang oleh penduduk suku Mentawai dengan anak panah, seluruh anak panah dapat di elakan dengan gerakan langkah tigo 'kekuatan, kecepatan dan keberanian' sehingga anak panah yang mengarah ke dirinya dapat ditangkap dengan tangan. Sehingga anak suku Mentawai tunduk dan menyembah kepada Anduang Pandeka Marah Pajok. Akhirnya dia memperistri salah satu anak perempuan ketua suku Mentawai.
Salah seorang istrinya berasal dari Jorong Kubu Nagari Padang Laweh, mungkin nenek dari Hariadi. Sementara Anduang Kari Sampono menikah dengan salah satu kemenakan sepasukuan dari Marah Pijok bernama Nasibah mempunyai anak: Syamsul, Dt.Rajo Nando, Ijun Muncak,Zamrul Si Kumbang, dan Waidal Si Kumbang. Anduang Kari Sampono menurut informasi mempunyai istri 23 orang termasuk orang Bunian Gunuang Singgalang.
Saat merantau ke Jambi, beliau bertemu dengan anak suku Anak Dalam, Kubu. Disana beliau diserang dengan anak panah, juga dengan tiga gerakan silek, anak panah yang mengarah kepada dirinya dapat di tangkap dengan tangan kosong sehingga Suku Anak Dalam, Kubu tunduk kepadanya. Maka beliau memperistri salah satu anak perempuan tetua suku Kubu Jambi. Terakhir dia menetap di Muaro Tebo Jambi.
Dua orang Pandeka Marah Pijok dan Pandeka Kari Sampono (Mamak rumah dan Sumando) terkenal orang bagak dari Ampek Koto (Pandai Sikek, Koto Baru, Koto Laweh, Aie Angek, Panyalaian, dan Singgalang). Keduanya terkenal dengan pandeka yang mempunyai ilmu silat tinggi dan ilmu kebal serta mempunyai akuan Harimau Kumbang dan selalu memakai ikat kepala (deta) kain hitam.
Sepengetahuan saya aliran Silek Harimau Kumbang Gunuang Singgalang dikembangkan, diantaranya :
1.Aduang Ade – Malin Marajo ( guru tuo di pandai sikek) juga yang kuat ilmu tasauf’.
2..Aduang Ipin Taha Luhuang Tanjuang Pandai Sikek.
3.Anduang Pandeka Sinaro ( urang guci koto tinggi,Bukik Panjang)
4.Aduang Mak Sutan Kayo
5.Nasrul St. Talembang Suku Koto, anak dari Pandeka Sinaro yang meneruskan aliran Silek Tuo Pandai Sikek dan Aliran Silek Harimau Kumbang Singgalang.
Dulunya seluruh anak silek dari aliran Harimau Kumbang Gunuang Singgalang, memutus kaji bersilat galuik harimau atau galuik tangkok Harimau di gelanggang Harimau Kumbang di tepi Telaga Kumbang puncak Gunuang Singgalang.
Ditulis di Lapau eSPe Kasiah Bundo, oleh Saiful Guci Dt. Rajo Sampono ,28 September 2025
==========
Catatan kaki oleh Admin:
[1] Keluarga ayah, atau ayah berasal dari Nagari Pandai Sikek
[2] Sasana, sebagian lagi menggunaan kata 'Sasaran' yang berarti Perguruan Silek
[3] Harimau Champo dan Kucing Siam, disebutkan dengan jelas dan merujuk kepada satu bangsa tertentu. Sedangkan Anjinga Mu'alim dan Kambing Hutan tidak disebutkan dengan terang, hanya terletak pada kemiripan pelafasan dan itu masih dapat diperdebatkan.
[4] Syaiful Guci Dt. Rajo Sampono ialah seorang penghulu dari Nagari Pandai Sikek, kami memang sangat penasaran dengan nagari yang satu ini. Kami pernah berdebat dengan anak nagari Pandai Sikek yang bersikeras bahwa mereka 'Orang Luhak Nan Tuo'. Kami merujuk ke penggalan kisah tentang tiga orang ulama yang pulang dari Mekah yakni Haji Sumanik dari Luhak Tanah Data, Haji Miskin dari Luhak Agam, dan Haji Piobang dari Luhak Limo Puluah. Haji Miskin berasal dari Nagari Pandai Sikek dan makam beliau ada disana. Pembagian wilayah administratif moderen tidak mengacu kepada wilayah adat atau kebudayaan, yang menjadi petaka pada generasi mendatang. Contoh yang paling vulgar ialah orang-orang di Riau Daratan yang menolak mengaku sebagai orang Minang, walau mereka memakai Adat Minang.
[5] Mamancak, Pencak, acap disamakan dengan Silat, padahal ianya dua hal berbeda. Di Minangkabau, Pencak merupakan salah satu 'tarian' dimana yang ditampilkan ialah keindahan gerakan, bukan jurus silat. Bagi masyarakat Minangkabau, jurus-jurus silat harus dirahasiakan, bahkan kepandaian bersilatpun harus disembunyikan. Pantang menunjukkan diri di hadapan orang lain, sangat sumbang dipandang apabila kita memperlihatkan potensi diri, dianggap sombong dan congkak. Suatu nilai yang sangat bertolak belakang dengan masa sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar